
Nico baru sampai di rumah
" Tadaima"
" okaeri"
kenapa hanya suara papa saja, mama kemana ya
" mama sama Jess pada kemana pah?"
" mama sama Jess lagi keluar dulu, katanya mau belanja pakaian"
" ouh, tumben papa pulangnya cepet"
" kamu kayak ga suka aja papa pulang cepet"
dengan datarnya Nico berkata, " emang pah"
papa sekejap terkejut melihat ekspresi anaknya bicara seperti itu.
"……"
" berarti waktu di Indonesia kamu seneng papa ga pulang pulang" saut papa dengan menundukkan kepalanya
" engga kok pah bercanda hehehe…"
aku jadi terbawa dingin karena mengobrol dengan wanita itu
" ohh iya pah kenapa ga di anter sama papa?"
" papa pengen istirahat jadi nyuruh mama sama Jess naik kereta cepat"
" eh iya pah, ada barang yang harus aku beli…"
" teruss??" tanya papa
" aku mau minta tambahin soalnya tabungan aku kurang buat belinya"
" nanti kalau aku ada uang aku ganti, janji"
" emang dulu waktu di Indonesia kamu ga punya barangnya?"
" punya kok pah cuman susah kalau di bawa ke sini jadi aku biarin di sana"
" emang apa yang mau kamu beli?"
" aku mau beli komputer pah"
" kenapa ga bilang di kantor papa ada"
" kalau yang di kantor kan kayaknya spesifikasinya biasa-biasa aja"
" emang kamu butuh yang kaya apa?"
" yang bisa di pakai buat belajar, edit, main game, dan yang lainnya"
" kamu ini dari dulu suka banget main game"
" iya tapi kan aku juga imbangi sama belajar, jadi masih balance kan"
" iya deh iya, nanti bilang aja ke mama sama minta uangnya"
" yah kalau gitu bakalan susah, sama papa aja ya"
" nanti papa yang dimarahin sama mama"
" iya sekali-sekali pah, jarang jarang kan aku minta sama papa"
" masalahnya kalau mama kamu marah itu susah di bujuknya, kamu ga tau sih mama dulunya gimana"
" papa tinggal bilang aja, suruh kasih uang ke aku buat beli keperluan"
" kalau marah gimana?"
" iya kalau itu aku ga ikutan hehe…"
" atau kalau enggak papa beliin mama barang yang disuka sama mama, pasti marahnya ga akan lama kalau papa beliin"
" ya udah nanti papa coba"
__ADS_1
" makasih sebelumnya pah, aku ke atas dulu ya pah"
" iya"
Nico masuk ke kamar dan segera mengganti pakaiannya, Nico diam sebentar sampai ia mendengar suara Jess dan mama yang
sudah pulang
Jess dan mama " tadaima"
" okaeri" saut papa
" ma, papa udah laper. mama beli makanan?"
" mama beli bahan bahannya aja, sebentar lagi mama masak"
" ya udah, cepet ya ma"
" oh iya Nico udah pulang belum pah?" tanya mama
" udah, lagi di atas di kamarnya"
ma
" syukurlah kalau udah pulang, dari tadi mama hubungi ga bisa soalnya"
Mama pun segera memasak untuk makan malam.
sementara Jess masuk ke kamarnya dan menyisakan mama dan papa di dapur
setelah beberapa saat mama sudah selsai memasak
" Nico, Jess, ayo makan"
" iya ma" saut Jess
Nico keluar dari kamar dan menuju meja makan.
mereka makan bersama-sama
" oh iya Jes, kamu kapan masuk sekolah?" tanya nico
" oh iya Nico tadi gimana di sekolah?"
Nico terkejut sehingga ia tersendak makanan, karena mama nya menanyakan hal yang Nico tidak ingin mendengar nya.
" ohok…ohok…"
" eh kamu kenapa, makannya pelan-pelan"
setelah minum Nico menjelaskan hari pertamanya.
" tadi aku keliling sekolah, cuman… tadi aku… belum dapet buku pake jadi liat temen sebelah"
" ohh jangan lupa besok minta bukunya ke guru kami"
" iya mah"
Nico tidak menjelaskan yang sebenarnya karena ia tidak ingin mendapatkan masalah baru dengan mamanya.
setelah selsai makan Nico kembali ke kamar dan saat ia di kamar, secara tidak sadar ia memikirkan gadis yang tadi bersamanya.
sepertinya dia memang tidak pernah ingin di ajak bicara dan sulit di ajak berteman seperti nya
apa dia punya teman dengan sifatnya yang seperti itu, di kelas pun ia hanya diam sendirian dan tidak ada orang yang mengajaknya berbicara
apakah ada hal di masa lalu yang membuatnya sulit untuk berbaur dengan orang lain
sebentar kenapa aku tiba tiba memikirkan dia, lebih baik aku tidur dari pada aku terus memikirkan nya.
*****
pagi pun tiba, Nico segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah beberapa saat berjalan Nico melihat murid wanita itu sedang berjalan sendirian ke stasiun kereta cepat.
ternyata seperti yang kupikirkan dia memang tidak memiliki teman
apa aku coba panggil dia
tidak,tidak, dia pasti tidak akan menghiraukan ku.
__ADS_1
Nico berjalan di belakang gadis itu dan tidak mendekatinya sampai stasiun. Nico masuk dari pintu yang berbeda karena tidak ingin ia di ketahui, Nico hanya melihat dari kejauhan.
dia itu berpenampilan polos dan dia tidak terlalu memperhatikan pakaiannya
jika dia sedikit memprihatinkan penampilannya pasti dia akan terlihat cantik
sebentar kenapa aku memikirkannya lagi, lupakan saja dan jangan dipikirkan kembali.
Setelah sampai di stasiun berikutnya Nico segera menuju ke sekolah.
" Tanaka-kun, kamu baru sampai" saut Mirai yang sedang duduk
" oh Mirai-san, ada apa?"
" tadi Mako-sensei menyuruhmu untuk datang ke ruang guru"
" ehh, kenapa?"
"aku tidak tahu. Dia hanya bilang untuk menyuruhmu ke ruang guru"
" ouh gitu ya"
" kalau begitu, aku ke ruang guru dulu"
Nico segera berjalan ke ruang guru
argh apakah masalah kemarin belum selsai. padahal sensei sudah memberikan hukuman, kenapa aku di panggil lagi.
" permisi sensei"
" oh Tanaka, ke sini"
" ini buku paket mu"
" o-ohh, aku kira tentang masalah kemarin"
" ohh apa kamu mau di kasih hukuman lagi?" sensei menatap dan menggodanya
" tidak tidak, yang kemarin sudah cukup"
" oh iya sensei apa kamu tahu murid yang duduk di sebelahku?"
" tau, dia kan murid ku. Memangnya kenapa?"
" tidak, hanya saja ia terlihat selalu sendiri dan sifatnya yang dingin. apakah dia tidak mempunyai teman?"
" kalau tidak salah saat dia masih kelas 11 ia memiliki teman di ekskul membaca yang ia ikuti, tapi mereka sekarang sudah lulus"
" ohh, memangnya tidak ada anggota lain lagi di ekskul itu?"
" ekskul itu hanya menyisakan gadis itu, karena tidak ada yang tertarik untuk mengikutinya"
" pantas saja ia selalu terlihat sendiri"
" Tanaka… sepertinya kamu sangat peduli pada gadis itu "
" tidak aku hanya ingin tahu saja"
" ehh… mungkinkah kamu menyukainya"
" tidak sama sekali sensei"
" tapi Tanaka, aku minta untuk coba berteman dengannya"
"…?"
" aku hanya kasihan, melihatnya sendirian terus aku takut akan ada hal buruk yang akan terjadi padanya"
" tapi sensei sepertinya terlalu sulit untukku jika harus berteman dengannya, kenapa sensei tidak coba memintanya ke mirai-"
obrolan mereka terhenti karena bell masuk.
-
-
-
-
__ADS_1
TO BE CONTINUED