
"hahahaha..." suara ami terbahak mendengar cerita dari sarah tentang kebodohan nya kemarin
"seneng banget kamu" sungut sarah
"iya iya maaf" habis nya kamu lucu, ada ada aja masa bakar kertas dalem kamar emang nya ngga bisa di tempat sampah depan rumah gitu
"ngga tau lah, namanya orang gabut"
"yaudah gapapa, masa lalu emang harus di kubur, yang penting masa depan ya kan?"
"he em" jawab sarah singkat.
"sar, ketemuan yu" ajak ami, sarah diam
"hey buuuuu... kok sepi?"
"hmmmm gimana ya?" sarah masih ragu
"gimana apa nya, masa mau terus2an lewat hp tanpa ketemu"
"yaudah kalo gitu, dimana?"
"terserah kamu aja mau nya dimana"
sarah menyebut sebuah plaza dekat rumah nya, dia sedikit antisipasi buat jaga-jaga takut nya ami sama seperti laki2 sebelumnya yang kemarin janjian ketemu tapi malah hilang entah kemana, kalau misal terjadi lagi seengga nya sarah ngga perlu jauh-jauh buat menuhin sebuah janji yang ngga ditepati.
"ok kalo gitu, minggu depan ya"
"kamu pake baju apa?" tanya ami
sarah berfikir sejenak teringat kembali kenangan pahit sebelum nya, "rahasia dong, ntar aja ya kalo dah disana langsung telpon aja"
"ok bu bos" jawab ami semangat
×××
ami menutup telpon nya, tidak lama kemudian ibu masuk ke kamarnya
"mi anterin ibu ya sore ini ke rumah mas mu, ibu mau nginep disana beberapa hari, kamu ngga apa-apa kan dirumah sendirian?"
"iya bu ngga apa-apa, kapan ibu mau di antar nya?"
"nanti aja abis zuhur, kamu ngga apa dateng ke toko telat?
" iya bu, nanti aku antar ibu sekalian jalan ke toko, tadi aku sudah telpon mas fadli untuk buka dan jagain toko dulu sebelum aku dateng"
"yasudah kalo gitu, ibu siap-siap dulu ya"
×××
ami membunyikan klakson mobil nya di depan rumah mas toriq, ngga lama kak salma keluar membukakan pintu gerbang, ibu segera turun dari mobil disambut ghina cucu tercinta yang segera menghampiri dan mencium tangan nenek nya.
__ADS_1
"perjalanan nya lancar kan mi?" tanya mas toriq
"alhamdulillah mas ngga macet" jawab ami sambil menurunkan barang2 bawaan ibu
"masuk yu bu, mas ami, aku sudah masak banyak buat kita makan bareng" ajak mba salma sambil menggandeng tangan ibu di ikuti ami dan mas toriq di belakang.
×××
"gimana bu enak?" tanya salma kepada ibu, ibu mengangguk pelan
"ini bukan enak lagi mba, tapi nikmat" jawab ami sambil menambahkan sambal ijo ke piring nya
ibu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat ami yang lahap menikmati ayam sambel ijo, ikan nila bakar dan tumis kangkung di meja makan
"makanya cepat-cepat cari istri biar ada yang masakin" mas toriq ikut nimbrung
"mas, selera makan ku lagi bagus jadi please jangan rusak moment ini" jawab ami cuek
"emang sejak kapan kamu punya selera makan yang buruk?" tanya ibu menggoda
"hmmmm iya ya selama ini aku ngga pernah bisa menolak masakan ibu" ucap ami sambil tersenyum ke arah ibu
"ah kamu kan memang ngga pernah bisa menolak makanan" seloroh mas toriq
"nah, bener tuh mas apalagi kalo gratis" jawab ami cengengesan
mba salma senyum senang melihat ibu dan adik iparnya begitu menikmati makanan yang dihidangkan nya
×××
"hai.... bengong aja" suara kak nada mengagetkan sarah dan membuyarkan lamunan nya
"ah lu po, bikin gue kaget aja"
"mikirin siapa emang?" tanya kak nada sambil menimbang tepung
"ngga mikirin siapa-siapa" kata sarah berbohong
"kalo ngga mikirin siapa-siapa masa ngga konsen?"
"ngga konsen gimana?"
"tadi gue bilang berapa telur yang harus dipecahin?"
"empat"
"nah coba lu liat itu di baskom ada berapa telur yang udah dipecahin?."
sarah melihat wadah baskon di depan nya dan terkejut trus tertawa melihat 6 kuning telur disana
"hehehe...maap ya po, gue khilap" sarah cengengesan
__ADS_1
"yaudah jadinya tambahin semua resep jadi setengah nya aja, mo gimana lagi" kak nada geleng kepala liat kelakuan adik nya
"dia ngajak ketemuan po" sarah akhirnya memberitahu kak nada
nada menoleh sedikit kaget
"siapa?"
"namanya ami, dia orang bintaro"
"kenal dimana?"
"hp"
kak nada mengernyitkan dahi nya dan menoleh ke sarah, sebenernya dia kasian juga sama adik nya yang jones ini, sebenernya dia ingin melarang sarah buat ketemuan karna dia tahu terakhir adik nya ketemuan sama laki-laki ini berakhir dengan mengunci diri di kamar dan ngga keluar-keluar kecuali solat ama mandi, ngga mau makan cuma ngemil aja, untung ngga kenapa-kenapa.
"emang nya lu udah yakin buat ketemuan?, kenapa ngga suruh dateng aja kerumah?"
"gue kan blom tau juga orang nya kayak gimana po, maksud nya kalo dia beneran laki-laki baik baru deh gue bolehin dia dateng kerumah" sarah coba menjelaskan
"hmmmm, iya tapi gue takutnya kayak kemaren lu yang patah hati gue yang bingung"
"diiihhh siapa yang patah hati?"
"trus ngga keluar-keluar kamar sama ngga mau makan apa nama nya?"
"oooo itu diet sambil semedi" jawab sarah asal sambil mengocok telur
"tapi, yah semoga aja ini mah beneran, gue udah pengen liat lu nikah" kata kak nada sambil mengayak tepung
sarah menoleh dan tersenyum "aamiin"
"kapan emang ketemuan nya?" tanya kak nada
"hari minggu"
"dimana?"
"ah...keppo lu, ntar aja gue di ikutin"
"apaan dah, gue mah cuma kuatir aja"
"insyaAllah gue bisa jaga diri, tenang aja"
×××
hari sabtu, ami sudah ngga sabar menunggu besok, dia bener-bener ingin bertemu sarah, dia ngga perduli sarah seperti apa, dia hanya merasa senang dan nyaman setiap kali berbicara dengan sarah, entahlah cuma kadang ami merasa kepribadian sarah ini unik, jutek tapi naif, sepertinya perempuan ini agak berhati-hati dan sebenernya jutek nya ini seperti tameng yang menjaga hatinya yang sepertinya "rapuh" dan ami benar-benar ingin mengenalnya lebih jauh.
sarah pun demikian, mengenal ami seperti mendapat guyuran air hujan dihatinya yang gersang, ami laki-laki yang humoris dan menyenangkan, dia selalu mendengarkan dan menenangkan ketika sarah mengungkapkan curahan hati nya, walaupun kadang diselingi canda yang bikin sarah sedikit kesal dan selalu saja ami bisa kembali membuatnya tersenyum.
dan mereka adalah dua insan yang sedang menikmati benih-benih cinta yang mulai tumbuh di dua hati yang pernah terluka, dua hati yang saling mengisi dan berbagi, dua hati yang seperti terpaut walaupun raga belum berjumpa dan mata belum saling melihat, hanya suara yang menghadirkan rindu dan mendorong rasa ingin bertemu.
__ADS_1