
sarah membuka lemari baju dan berdiri mematung, bibirnya monyong kecil dan bergerak ke kanan dan ke kiri, dia bingung mau pakai baju apa buat bertemu ami. tangan sarah bergerak memilih-milih dan mengambil tunik hitam motif bunga-bunga kecil, jeans navy dan kerudung biru tua, dia senyum-senyum didepan cermin hatinya sumringah.
"begini bagus ngga po?" tanya sarah sama ka nada yang sedang ngupas apel untuk soraya
"wow..." ka nada memandang takjub
"wow apaan dah, penampilan gue biasa aja juga"
"iya tapi lu pake lipstik itu"
"masa iya ngga di poles, pucet ntar, emang kemenoran ya? ini kan warna peach bukan merah"
"tante mau kemana? cantik banget" soraya memuji sarah sambil tersenyum
"tante mau ketemu temen sayang, makasih ya udah bilang tante cantik" sarah mencubit gemes pipi gembil soraya
" iya tante, sama-sama" jawab soraya sambil memasukan potongan apel ke mulut nya
"liat kan, anak-anak mah jujur hehe..." sarah cengengesan
"iya iya, jangan lama-lama ketemuan nya ya, trus telpon kalo ada apa-apa" pesan kak nada
"iya, doain ya semoga lancar"
"mau di anterin ngga?" kak nada menawarkan diri
"ngga ah... ntar lu ngerecokin" tolak sarah, kak nada tersenyum.
"tante jalan dulu ya cantik, assalamualaikum" pamit sarah
"waalaikumsalam" jawab ka nada dan soraya bersamaan.
__ADS_1
×××
taksi online pesanan nya sampai, "dengan sarah" ucap pemilik mobil sambil melihat hp nya "iya bener pak" jawab sarah sambil tersenyum kepada laki-laki separuh baya yang duduk dibelakang kemudi, lalu sarah naik ke mobil dan menyusuri jalan daan mogot yang lumayan macet padahal ini bukan hari kerja.
sarah melirik jam di tangan kiri nya, masih pukul 10.30, dia sengaja dateng lebih awal dari waktu yang di janjikan tapi tidak memberi kabar kepada ami agar dia bisa jalan2 sebentar.
sarah berkeliling menyusuri plaza dan pengunjung pun masih sepi.
×××
selesai mandi ami segera mengenakan kaos oblong warna hitam dan memang semua kaos nya berwarna senada, celana panjang coklat susu dan topi untuk menambah rasa percaya dirinya, hari yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba, dia akan bertemu sarah hari ini.
ami menuju ruang depan untuk memakai sepatu, baru saja dia keluar kamar tiba-tiba hp nya berbunyi, awalnya dia fikir sarah memberi kabar tapi ternyata mas thoriq
"Assalamualaikum, iya mas ada apa" sapa ami
"waalaikumsalam, ami aku sedang dalam perjalanan kerumah sakit membawa ibu"
"apa??, ibu kenapa mas?" tanya ami panik
"iya mas, baik aku nyusul sekarang" terang ami setelah mas thoriq menyebut nama sebuah rumah sakit.
ami bergegas mengambil kunci motornya dan segera menyusul mas thoriq.
×××
setelah 30 menit muter-muter tanpa belanja, sarah melirik jam ditangan nya dan segera menelpon ami untuk memberi kabar tapi ngga di angkat, sarah coba telpon lagi beberapa kali tapi masih ngga di angkat juga, "mungkin sedang sibuk" sarah coba untuk positif thinking, dia pun berjalan ke sebuah outlet minuman dan memesan minuman coklat kesukaan nya.
sementara ami yang sedang dalam perjalanan kerumah sakit tidak menyadari kalau hp di saku celananya terus berdering, fikiran nya kalut mendengar kabar ibu yang di bawa kerumah sakit, dia sangat khawatir dengan kondisi ibu dan berharap tidak ada kabar buruk dan ibu baik-baik saja.
minuman di gelas nya hampir habis, berkali-kali sarah melihat hp nya untuk mengecek apakah ada pesan atau telpon dari ami, tapi ternyata ami sama sekali tidak membalas maupun memberi kabar, hatinya mulai dirasuki rasa gelisah. sudah lebih dari 45 menit dia menunggu, matanya selalu tertuju ke arah pintu masuk berharap ami tiba-tiba datang dan memberi kejutan, matanya terus mencari-cari apakah ada seorang laki-laki yang datang sendiri tapi sedari tadi yang dia liat lalu lalang adalah orang-orang yang datang bersama keluarga, teman atau pasangan, kalaupun ada yang sendirian adalah laki-laki paruh baya dan remaja-remaja usia sekolah.
__ADS_1
dia seruput minuman coklat dingin yang sekarang terasa begitu getir di tenggorokan nya, ada rasa sesak di dada nya
"apa mungkin ami berbohong dan ngga dateng, apa mungkin ami hanya mempermainkan nya, apa mungkin ami sedang duduk disuatu tempat dan sembunyi hanya untuk mengetahui seperti apa dirinya? lalu pergi meninggalkan nya?"
berbagai fikiran negatif menghampirinya, membuat matanya terasa panas dan bulir putih mulai mengaburkan pandangan nya, diseka nya buliran itu sebelum meluncur ke pipi nya, sakit, kecewa, marah, itu yang dirasakan nya, dia segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar, dia sudah ngga perduli lagi ami datang atau tidak, kalaupun telat kan setidaknya bisa memberi kabar bukan diam tanpa mengangkat dan membalas telpon dari nya.
ami sampai di rumah sakit dan segera menuju ruang IGD setelah memarkirkan motornya, matanya mencari-cari mas thoriq dan segera menghampiri begitu matanya menangkap sosok kakaknya itu sedang duduk di bangku panjang.
"ibu kenapa mas" tanyanya panik begitu sampai di hadapan mas thoriq
"duduk dulu" mas thoriq berusaha menenangkan ami yang terlihat panik
"iya tapi ibu ngga kenapa- kenapa kan mas?" tanya ami masih dalam kepanikan
"mas juga ngga tau gimana kejadian persis nya, salma dan ghina sedang pergi ke pasar, mas sedang cuci mobil di depan, ibu memang belum keluar kamar dari setelah solat subuh tadi, lalu sepulang dari pasar tiba-tiba salma teriak memanggil manggil ibu, mas langsung masuk dan melihat ibu sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai, di depan pintu kamar mandi, mas langsung membawa ibu ke sini dan menelpon kamu" mas thoriq menjelaskan
"trus sekarang gimana?, dokter bilang apa?"
"alhamdulillah ibu sudah sadar dan sekarang ada di ruang ICU, ibu terkena serangan jantung, tapi Alhamdulillah langsung di bawa ke rumah sakit dan masih dapat terselamatkan"
"aku mau lihat ibu mas" ami bangkit dari duduknya
"jangan sekarang, dokter bilang ibu butuh istirahat sebentar, nanti jika sudah membaik baru bisa di temui dan di ajak bicara, tenang saja kamu jangan panik, doakan saja semoga kondisi ibu semakin membaik" mas thoriq berusaha mencegah dan menenangkan ami yang terlihat sangat panik.
×××
cuaca sangat cerah dan siang itu lumayan terik tapi tidak dengan sarah, hatinya mendung seakan ada badai yang bergemuruh disana, entah kenapa hatinya merasa sangat kecewa dengan perlakuan ami yang mengingkari janji nya dan membiarkan nya menunggu sendirian, dia merasa sangat bodoh, ah sakit sekali rasanya, padahal ami terlihat baik, sangat baik tapi ternyata sama saja dengan laki-laki yang sebelum nya yang hanya mendatangkan kekecewaan dan kesedihan, dan sarah sudah tidak bisa lagi menahan air matanya yang terus memaksa untuk keluar dari kedua sudut matanya, di bangku taman dia duduk dan menangis, menangisi kebodohan nya, kenaifan nya untuk mempercayai laki-laki yang memang belum dia ketahui bagaimana sifat aslinya.
suara azan zuhur dari masjid mengejutkan nya, sarah menghentikan tangis nya, dia seka air matanya dan berusaha tegar, dia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya lewat mulut, lalu berdiri dan melangkah menuju masjid dimana azan dikumandangkan, sesampainya di masjid dia langsung menuju tempat wudhu dan mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat zuhur.
×××
__ADS_1
"mas mau ke masjid dulu untuk solat zuhur, kamu tunggu disini dulu ya nanti kita bergantian, takut-takut kalau nanti dokter datang dan menyampaikan sesuatu mengenai ibu" lalu mas thoriq pergi ke musolah rumah sakit dan meninggalkan ami, ami memejamkan matanya sesaat dalam hatinya berdoa semoga ibu baik-baik saja.
"Astaghfirullah sarah" ami terkejut, dia baru sadar bahwa dia ada janji untuk bertemu dengan sarah, ah kenapa dia bisa lupa, ami segera mengambil hp nya tapi belum sempat ami membuka nya tiba-tiba dokter datang dan mencari keluarga dari ibu nurhayati, ami segera bangun dan menghampiri dokter begitu nama ibunya disebut untuk mengetahui perkembangan kondisi ibu.