
hari ini toko lumayan sepi, dari pagi hanya beberapa pembeli yang datang, pembelian online pun ngga seramai minggu kemarin.
ami duduk bersandar dikursi dan mengambil hp nya, fikiran nya lagi ngga karuan, semalam untuk yang kesekian kalinya ibu mengingatkannya lagi untuk mencari pasangan hidup dan segera menikah sementara lusi perempuan yang sudah menjalin kasih dengan nya selama 3 tahun lebih memilih berkarir dulu dan mereka sudah 1 tahun lebih LDR karna lusi di mutasi kerja di cabang kantor di Surabaya.
"maaf mas ami, bukan nya aku ngga mau menikah, cuma kasih aku waktu lagi ya,.."
dia pandangi barisan kalimat balasan lusi yang tidak dijawab nya, setelah 3 kali dia mengajak nya ke arah lebih serius dalam hubungan mereka tetapi jawaban lusi masih sama, kadang dia berfikir hanya dia yang benar-benar serius dalam hubungan ini sementara lusi seperti masih enggan berumah tangga, buktinya lusi masih menanggapi keseriusan nya dengan datar.
jari jemari nya menekan nomer asal dan di tekan tombol panggilan, tiba-tiba dilayar tampak tulisan "berdering"
ami kaget, diam terpaku, ngga menduga akan tersambung dan dalam hati berharap ini no perempuan,
fikir nya kalau ini nomer perempuan dia bisa beralasan mengajak nya berkenalan tapi kalo laki-laki masa di ajak berkenalan
terdengar ucapan salam di sebrang sana, suara perempuan, hatinya sedikit lega.
ami berusaha santai padahal jantung nya berdebar kencang, takut kalau yang di telpon tidak senang dan marah-marah.
walaupun tidak terdengar ramah tapi ami bersyukur perempuan ini tidak memarahi nya hanya saja dia kaget ketika niat nya mengajak berkenalan mendapat penolakan dan perempuan itupun memutus panggilan telpon dari nya.
×××
Sore ini langit sedikit cerah, dari balik jendela kamar nya ami bisa melihat gumpalan tipis awan bergerak tertiup angin di langit biru,
__ADS_1
hari ini dia hanya setengah hari membuka toko dan kembali pulang kerumah jam 2 siang karna sudah berjanji untuk mengantar ibu kondangan jam 7nanti.
biasanya ami buka toko sampai jam 10 malam.
jam di dinding menunjukan pukul 16.10 , setelah selesai shalat asar sambil berbaring santai di atas kasur dia mencoba menelpon kembali nomer yang kemarin, entah kenapa hati nya masih penasaran sama perempuan jutek di sebrang sana, hati nya terusik untuk tetap mengajak perempuan itu berkenalan.
di layar hp tertulis "berdering" tapi tidak mendapat respon, tanpa menyerah ami terus menelpon berkali-kali sampai akhir nya terdengar kembali suara perempuan kemarin, dan tetap sama nada suara perempuan itu jutek, ami mencoba mengendalikan dan mengatur kata-katanya agar tidak menyinggung perasaan perempuan itu dan alhamdulillah akhir nya terjalin juga obrolan yang menyenangkan, dan ami berkali kali tertawa mendengar jawaban asal dari perempuan yang mengaku nama nya udin, justru jawaban asal itu malah menambah rasa penasaran ami tentang perempuan itu.
ami mencoba menyelidik dengan bertanya tempat tinggal, kegiatan dan status dari perempuan di sebrang sana, karna ami juga harus hati-hati, takut kalau yang di telpon adalah istri orang, bisa ngundang petaka nanti fikir nya.
dan dia bersyukur bahwa ternyata perempuan itu mengaku masih berstatus single juga berharap bahwa semua jawaban perempuan itu jujur karna ami paling ngga suka kebohongan, walaupun dia tahu kalau perempuan itu berbohong tentang nama nya.
masa perempuan nama nya "udin" kan ngga mungkin tapi ami yakin untuk pertanyaan nya yang lain perempuan itu pasti berkata jujur.
sedang asyik mengobrol tiba-tiba ibu datang dan berdiri di depan pintu kamar yang memang tidak tertutup, ibu yang melihat ami sedang berbicara di telpon hanya menggunakan bahasa isyarat tangan yang seolah mengatakan "ayo mandi" lalu menunjuk ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 17.15
ami yang melihat dan mengerti bahasa isyarat ibu membalas dengan menyatukan jari jempol dan telunjuk membentuk huruf O yang artinya ok
ibu tersenyum dan berlalu, ami pun bermaksud menyudahi obrolan nya dengan perempuan di sebrang sana, dan dia bersyukur karna di akhir obrolan mereka perempuan itu menyebut nama asli nya "sarah"
tapi entah kenapa hatinya terasa berat untuk mengakhiri obrolan mereka dan enggan mematikan telpon nya, sampai akhirnya sarah meminta untuk mematikan hp nya.
ami mematikan hp nya dengan senyum mengembang di wajah nya, ah...kenapa hati ini terasa bahagia, dia merasa seperti sedang beruntung karna keisengan mengotak atik no hp membawanya pada perkenalan yang menyenangkan, seperti iseng-iseng berhadiah.
__ADS_1
ami meletakan hp nya di kasur setelah mengetik nama sarah dan menyimpan nya di kontak hp nya, lalu beranjak ke kamar mandi dan bersiap mengantar ibu kondangan setelah magrib nanti ke hajatan sahabat ibu.
setelah selesai mandi dan solat magrib ami mengganti baju koko dan kain sarung nya dengan kemeja polos berwarna maroon dipadu dengan celana panjang hitam, dia juga mengenakan jam tangan di tangan kanan nya, dia berdiri di depan cermin,
untuk ukuran laki-laki dewasa seumuran nya ami bisa di bilang mempunyai tubuh yang bagus, tinggi dan berisi, dengan kulit sawo matang khas orang jawa, terdapat jambang tipis di kedua pipi nya.
setelah menyisir rapi dan menguncir rambut gondrong nya ami pun bergegas menemui ibu diruang tamu yang juga sudah rapi dengan pakaian muslim berbahan brokat warna coklat muda dipadu kerudung dengan warna coklat tua ibu juga mengenakan bros bunga yang menambah kesan manis.
ami menghampiri ibu yang sedang tersenyum menatap nya, dia yang sehari-hari hanya menggunakan kaos santai memang terlihat keren dengan kemeja dan celana panjang, rambut gondrong nya yang biasa terurai pun terlihat dikuncir rapi.
"sudah siap bu?" tanya ami
"sudah, ayo kita berangkat" ajak ibu sambil berjalan ke depan.
ami mengambil kunci mobil dan berjalan mengekor di belakang ibu, perempuan yang sangat lembut hatinya, yang sudah merawat nya sejak kecil dan berperan bukan hanya sebagai ibu tapi juga sekaligus sebagai ayah, karna setelah ditinggal menikah lagi oleh bapak, ibu tidak menikah lagi.
ami ingat betul dulu dia dan kakaknya diajak ibu berkeliling menawarkan baju jualan ibu dari pintu ke pintu, dan sampai akhir nya bude lia sahabat baik ibu memberikan pinjaman modal usaha untuk ibu membuka toko pakaian.
Alhamdulillah karna kegigihan dan kejujuran ibu akhirnya toko itu berkembang dan hidup mereka pun membaik, sekarang toko pakaian muslim itu di teruskan oleh mas toriq yang sudah menikah dan memiliki seorang putri cantik bernama adinda.
sementara ibu yang mulai sepuh hanya mengurus rumah dan ami menjadi tulang punggung keluarga, mengambil alih tugas ibu dulu, bagi ami kebahagiaan ibu yang paling utama, dia hanya ingin ibu senang dirumah tanpa harus bekerja lagi di toko.
bersambung
__ADS_1