
Sepi..
itu yang kudapatkan di saat kakiku melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.perkataan gina di kamar rumah sakit membuat ku berharap ada sambutan kecil kecilan untuk ku.. namun semua itu tak ada.
" Mari Vin.kita makan bersama.mungkin yang lain sedang menuggu kita di ruang makan." Kata kakek membuat ku melihat wajah tulus dengn sedikit kriput itu.
" Em.. " balas ku mengangguk kecil.menyembunyikan kekecewaan ku.
Dan benar saja.semuanya sedang duduk di meja makan.dan sedang menyantap makanan mereka tampa menunggu kami.terkecuali Om Abram yang langsung berdiri menghampiri kami.
" Ayah .. Vina..."ayok makan.kita akan makan bersama.
Vina.. selamat datang Di rumah keluarga Charm Vin." sambutnya mengelus rambut ku.
" Makasih Om.." balas ku mengakngguk kecil.
" Iya.. ayok duduk."
akupun melirik kedua perempuan beda usia itu.dan ku yakini bahwa wanita paruh bayu yang umurnya tidak jauh lebih muda dari Om Abram itu adalah istrinya sedang kan gadis muda itu adalah anak perempuan Om abram yang sudah ku dengar dari kakek.mereka hanya melirik ku tak suka.
tubuh ku merasa kaku dan enggan duduk di saat mereka melirik ku seprti itu.rasa benci tertangkap dari keduanya. sepertinya ke hadiran ku di rumah ini tidak semuanya menerima.
Usai makan aku di hantar ke sebuah kamar oleh salah satu pelayan di rumah ini.Akupun mengucapkan trimakasih padanya.yang di balas ramah oleh wanita berumur 50an.
"Slamat istirahat non."
__ADS_1
"Iya bik.makasih."
Akupun membersihkan diri dan merebahkan tubuh ku pada kasur empuk di kamar ini.akupun mencoba memejamkan mata tapi susah sekali untuk menyelami mimpi.akhirnya aku bangun dan menuju cendela balkon dan membukanya untuk menghirup udara malam hari.Namun siapa sangka sebuah mobil memasuki gerbang dan di susul oleh se2orang keluar dari mobil tersebut.
"Dia....!?"aku mengulas senyum saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil.Aku kenal wajah itu.. wajah yang hanya satu kali aku lihat tapi tersimpan di otak ku...
"Arkara..." gumam ku.
pria itu terus melangkah tanpa menyadari tatapan ku.hingga pandangan ku terputus saat dia memasuki pelantaran rumah dan
Klek
aku mendengar suara pintu yang kemungkinan bsar jika dia sudah masuk ke dalam rumah.
"Apakah benar jika kami saling kenal dan akan segera menikah.tapi.... rasa rasanya itu tidak pernah terjadi dan dia seakan sungkan dan enggan untuk bertemu dengan ku.apakah aku berbuat kesalahan padanya..?"pikir ku...
"Aku benci diri ini..."
karna badan pegel pegel dan mata mulai mengantuk.akupun kembali ke dalam kamar setelah menutup rapat cendela balkon yang ada di kamar ini.lantai dua.
_sementara itu_
Arkara membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air sower.badannya yang tegap dan keras mulai di basahi air.. hingga setengah jam kemudian dia baru menyelesaikan acara mandinya.
"Aku dengar gadis itu sudah pulang.
__ADS_1
apa kakek membawanya ke sini.?"
tanya nya pada diri sendiri krna memang dia tidak tau jika Gadis penolong sang kakek atau calon istrinya itu telah tinggal satu atap dengannya bahkan di lantai yang sama.
" tubuh ku..aaah... pegalnya..." sambil meregakan tubuh sebelum meraih minuman berwarna di meja kamarnya dan menegaknya hingga tandas.
"Dengan ini aku akan tidur lebih cepat."dan menuangnya lagi.
Arkara cukup kuat dengan minuman berwarna yang mengandung alkohol tersebut.dia bisa saja menghabiskan 1 hingga 2 botol sebelum akhirnya dia tertidur.
Yah.arka menggunakan minuman tersebut hanya untuk membuatnya bisa tidur nyenyak.hal ini sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu saat Dia... cinta pertamanya pergi untuk mengejar karirnya tanpa persetujuannya.
Spoiler :
"Arka kamu sudah siap nak."
"Emmm..." duduk di kursi meja makan.
wanita paruh baya bernama Moana abigail tersebut cemberut dengan sifat dingin putranya yang semakin menjadi.
Di sana sudah ada kakek dan papa arka yang juga sedang menikmati minuman wajib mereka.
bhupfff
tak...
__ADS_1
semua orang menoleh ke arah suara...di mana arka menyburkan minuman yang baru dia minum belum seteguk saja.
"Apa apaan ini..." kesalnya bertepatan dengan Vina yang membawa hidangan dari dapur terpaku dengan suara tersebut.