MEMANDANG (Dari) JAUH

MEMANDANG (Dari) JAUH
Aura


__ADS_3

Tiara mulai membuka harapan untuk merasakan kasih sayang bersama Erick. Aura kebahagiaan itu dapat pula dirasakan oleh Angga dan Saniah, tidak oleh Bintang. Saniah merasakan sesuatu yang berbeda dengan Bintang, sesuatu yang belum mereka sadari.


           Saniah selalu memaksakan untuk hadir setiap kali mereka berkumpul dan Bintang ada di sana. Tiara memperhatikan sesuatu yang tidak lazim pada permintaan Saniah. Saat mereka bersama, Saniah tak hentinya memandang Bintang tajam tanpa berkata. Hanya memandang tajam! Hingga akhirnya Saniah mengetahui apa yang berbeda dari Bintang. Bintang lebih banyak memancarkan aura negatif daripada sebelumnya. Saniah belum dapat menyampaikan apa pun kepada Tiara tentang apa yang ia pikirkan selama ini.


           Bintang. Nama yang diberikan Erick sesuai dengan yang terpancar pada sosoknya. “Terkadang dia bersinar terang, ada aura terang terpancar dari wajahnya. Terkadang dia seperti ditutupi awan gelap. Sehingga sinar bintang tidak nampak di langit,” jelas Erick saat ditanya dari mana nama itu berasal.


           Malam itu, Tiara mengharapkan kehadiran Erick di kediamannya untuk makan malam. Tiara membuat makanan ala Itally kesukaan Erick, Fetuccini Alfredo. Menyajikannya secara apik di atas meja makan. Ia pun menyiapkan rum raisin gelato dalam freezer sebagai hidangan penutup.


           Saniah meminta izin Tiara untuk diperbolehkan bergabung dengan mereka malam ini, jika ada Bintang hadir di antara mereka. Tiara sangat keberatan dengan permintaannya kali ini. Ia ingin sekali berduaan dengan Erick tanpa gangguan lainnya. Akhirnya Tiara mengizinkan ia berada di sana, dengan syarat setelah itu ia harus membawa Bintang pergi dari apartemennya.


           “Janji, Ara. Saya hanya akan memandang dari jauh, sampai Bintang datang,”ucap Saniah merayu.


           Erick datang pukul tujuh malam dengan pakaian rapi seperti biasa dan aroma parfum yang harum. Bintang tidak datang bersama Erick. Tiara pun menyadari tidak ada Saniah di sekitarnya. Tak lama ternyata Bintang hadir diantara Erick dan Tiara. Sesaat itu pula Saniah bergabung. Ia datang menembus dinding dari dekat balkon, seluruh tubuhnya terasa ringan, mendekat dengan melayang. “Saniah benar-benar mengawasi dari jauh, seperti janjinya,”pikir Tiara dalam hati.


           Awalnya Tiara menyangka Saniah menyukai Bintang, namun wajah yang diperlihatkan Saniah kali ini begitu tidak menyenangkan. Suasana semakin canggung, sampai akhirnya Tiara mengusir keduanya untuk bermain bersama di luar, seperti mengusir anak kecil yang sudah membuat gaduh dalam rumah. Tiara terus berpikir dalam hati, “Harus sekarang aku tanyakan ada apa antara Saniah dan Bintang!”


           Tiara mengantarkan Erick hingga ke pintu. Saat membalikkan badan, Tiara terperanjat melihat Saniah sedang menatap tajam kepada sahabatnya itu.


           “Ya ampun, Saniah!“ tegur Tiara dengan suara kencang.


Saniah hanya terdiam, tampak jelas wajahnya sedang berpikir yang tidak terlontarkan.


           “Ada apa, sih? Dari tadi aneh banget. Aku bukan dukun juga. Nggak ngerti kamu mikir apa,” ucap Tiara melihat Saniah yang gelisah.


           Saniah masih terdiam hanya saja dia melayang kesana kemari memenuhi ruangan. Tiara diam sambil membereskan sisa piring setelah makan malam mereka tadi.


           “Saniah, sebenarnya ada apa antara kamu dan Bintang? Ada hubungan keluarga?” tanya Tiara pelan saat duduk di atas sofa dengan santai. Saniah berlalu perlahan menghindari percakapan dengan Tiara.


           “Sebentar dulu. Soalnya kamu nggak pernah kelihatan nyaman saat ada Bintang. Ada Bintang, ada kamu. Tapi kamu kelihatan nggak suka sama Bintang. Ada apa?” tanya Tiara lagi.


           Kali ini ia menepuk sofa di sebelahnya, menandakan ia ingin Saniah duduk di dekatnya.


Saniah berhenti dan duduk di sebelahnya Tiara. Menatap Tiara dalam. Tiara tertegun sejenak, merasakan sebuah keseriusan dalam percakapan mereka.

__ADS_1


           “Ara, hati-hati sama Bintang, ya,” ucap Saniah pelan.


           “Ada apa? Kenapa?” tanya Tiara penasaran.


           “Ada sesuatu yang aneh dengan Bintang. Tapi saya belum tahu ada apa, Ra.”


           “Kenapa?”


           “Auranya terlalu gelap. Bahkan akhir-akhir ini, aura gelap lebih sering muncul daripada aura baiknya. Tepatnya aura negatif yang tidak baik. Saya takut terjadi sesuatu,” Saniah menjelaskan.


           “Apa dia minta ditolong? Aku bisa bilang ke Erick.” 


           “Bukan sepertinya. Saya tidak tahu, apa Erick juga tahu maksud jelek Bintang atau tidak. Kenapa dia tidak menghentikan Bintang?”


           “Kok kamu menjelekkan Erick begitu, sih, memangnya kamu tahu siapa Erick?” ucap Tiara sedikit emosi.


           “Maaf, Ra. Kamu hati-hati, ya. Saya takut tidak memiliki kekuatan untuk menjaga kamu.”


Tiara membisu, beranjak dari tempat duduknya. Mengambil air mineral botol yang berada di meja makan dan menoleh sesaat ke arah Saniah yang masih pada posisi semula. Ia berlalu masuk ke kamarnya meninggalkan Saniah di ruang tengah.


           “Rick, aku mau nanya... jangan tersinggung, ya.”


           “Apa, Ra?”


           “Akhir-akhir ini kamu merasakan, nggak, kalau auranya Bintang lebih banyak berubah gelap?”


           Tidak ada suara dari ujung telpon. Tiara menjadi panik. Apakah yang dikatakan Saniah benar? Erick tahu ada sesuatu tapi hanya diam? Tiara menggigit kerah piyamanya, berharap Erick segera menjawab.


           “Sorry, aku barusan pindah ke kamar. Biar ngobrolnya lebih private. Kamu juga merasa begitu, ya?” tiba-tiba suara Erick terdengar lebih dekat.


           “Beberapa kali aku coba tanya ke dia, tapi auranya semakin gelap. Aku belum bisa mengontrol dia. Tapi dia tidak minta tolong apa pun sama aku. Jadi aku juga tidak paham.”


           Tiara terdiam. Kekhawatiran menyelimuti pikirannya. Ia belum bisa menghadapi makhluk astral yang memiliki aura negatif.

__ADS_1


           “Aku sudah tidak bisa bicara dengan santai lagi seperti sebelumnya dengan Bintang,” lanjut Erick.


           “Kamu hati-hati, ya!” ucap Tiara sedikit khawatir.


           “Kan, ada kamu. Kamu lah yang jagain aku,” ucap Erick.


           “Erick! Aku serius. Aku jadi agak takut,” tegas Tiara sambil memeluk bantalnya dengan erat dalam dekapannya.


           “Aku rasa, sih, ada sesuatu yang harus aku perbuat untuk membantunya. Karena selama ini dia memang masih susah menceritakan masa lalunya dengan jelas.”


...©...


           Malam itu tidur Tiara tidak lelap. Tiara turun dari tempat tidurnya. Ia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. Dengan sedikit terhuyung-huyung, ia menuju ke ruang tengah. Ruangan itu terang dengan cahaya. Teringat ia lupa mematikan lampu tadi saat meninggalkan Saniah.


           


           Ada rasa yang berbeda di ruangan ini. Ia membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral. Saat menutup pintunya, tampak sebuah sosok yang familiar di ruangan itu.


“Hai, Bin.”


Tiara membuka botol dan meneguk air minumnya. Belum sampai air masuk ke tenggorokannya, ia tersadar. Bintang? Kenapa disini? Tiara berusaha bersikap santai. Matanya tertuju ke arah dinding, melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam dinding. Pukul sebelas malam.


Tiara terdiam sambil melihat sekeliling mencari sosok lainnya. Ia melihat Saniah di pojok ruangan, terdiam. Saniah menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Tiara tidak paham dengan kode yang disampaikan Saniah.


“Mana Erick?” tanya Tiara basa-basi. Bintang diam.


Bintang memandang tajam tertuju kepada Tiara. Bulu kuduk Tiara meremang. Sekujur tubuhnya terasa dingin dan lemas seketika. Seolah ada sesuatu yang menyedot habis energinya. Bintang yang berada di pojok ruangan seketika mendekatinya, melayang.


Bintang membentangkan kedua tangannya. Seketika itu, pintu kaca menuju ke balkon terbuka lebar karena hempasan angin yang begitu kuat. Tirai putih yang menutupi kaca bergoyang dipermainkan angin. Diikuti suara gemuruh Guntur yang seolah akan turun hujan lebat di daerah itu. Seakan aka nada badai besar melanda daerah sekitar.


Bintang semakin mendekat, bersamaan dengan itu Tiara mundur beberapa langkah. Botol air mineral terlepas dari genggamannya. Sesaat seluruh ruang terasa gelap, seolah tertutup kabut. Angin terasa kencang, tapi semua terasa sesak. Bintang masih menatapnya tajam. Tiara memegang lehernya yang terasa tercekik. Ingin melepaskan jeratan kencang yang mengikat lehernya, walau tidak ada apa-apa. Apa ini yang disebut aura hitam?


Tiara memaksakan untuk berteriak, namun tidak sebisik pun suara terdengar. Teriak dalam hening. Ia berharap ada seseorang yang mendengar lalu datang membantu. Asap ini semakin masuk ke paru-paru. Sekujur tubuhnya terasa berat seperti membeku. Tiara terjatuh.

__ADS_1


Ya Tuhan, tolong!


__ADS_2