
Pertemuan Tiara dan Erick semakin intens. Memiliki kemampuan yang sama menjadikan mereka lebih dekat. Mereka sering bertemu untuk bertukar pikiran atau sekadar hangout bersama. Tiara merasa nyaman dengan hadirnya Erick dalam kesehariannya. Mungkin sosok Erick-lah yang tidak mungkin meninggalkannya.
Berpetualang di tempat yang baru menjadi salah satu agenda di setiap akhir pecan mereka. Erick berusaha mengenalkan berbagai hal tentang makhluk astral yang belum diketahui Tiara sebelumnya. Tiara akhirnya mengetahui bagaimana cara menghindari makhluk kasat mata tersebut. Ia pun mengetahui yang dimaksud ‘aura’ makhluk lainnya. Perlahan ia dapat mengatasi rasa takutnya. Ya … Bersama Erick!
Beberapa purnama berlalu. Selama itu pula Tiara menanggalkan rasa kecemasan dalam dirinya. Ia tidak lagi membuka surat dan kado dari penggemarnya. Dukungan fans yang selama ini menjadi ‘supplement kebahagiaan hati’ sudah turun dari posisi teratasnya. Kini ia lebih bahagia bersama Erick. Sejumlah kado tertumpuk dalam dus besar di ruang tengahnya. Beberapa kali, Mbak Nana diminta datang ke apartemen untuk memilah barang endorsement. Erick mengisi hati Tiara yang hampa sekian lama. Ia membawa semangat tersendiri dalam hari-hari Tiara.
Sekalipun mereka semakin dekat di setiap harinya, Tiara belum juga belum dapat membuka ruang kosong dalam hatinya. Bahkan tidak sekalipun Erick dipersilakan masuk ke dalam unit apartemennya. Erick hanya dapat menghantar pulang Tiara hingga depan pintu. Masih ada trauma dan keraguan untuk menjalin hubungan yang lebih dalam bersama Erick. Mungkin harus pelan-pelan.
... ©...
“Hai, Rick …,” ucap Tiara menjawab panggilan Erick melalui ponselnya tepat pada tengah malam menjelang pergantian hari
“Happy Birthday! Wish you live happily ever after,” sambut Erick lembut.
“Hahaha … Kayak di cerita dongeng… In the kingdom of far-far away …,” ucap Tiara sambil tertawa kecil.
“Hahaha ... Masih bangun?” tanya Erick.
“Masih. Lagi makan cake.” Tiara mulai kesulitan berbicara dengan mulut yang penuh suapan kue rasa keju.
“Awas, tersedak. Makan sendirian? Atau makan bareng Saniah?” tanya Erick sedikit meledek.
TING TONG!
Tiba-tiba suara bel berbunyi. Tiara bergerak dari posisi nya di meja makan.
“Bentar, Rick …,” ucap Tiara. Tidak ada suara kecuali bunyi seseorang membuka kunci pintu.
Di depan pintu berdiri seorang pria dengan berpakaian sweater lengan panjang berwarna biru polos dan celana jeans. Pria berpenampilan menarik itu membawa hand bouquet besar berisikan dua puluh tujuh mawar berwarna merah muda dengan berhiaskan bunga cassablanca berwarna putih. Kasih sayang yang tulus, begitu maknanya.
Tiara tertegun menatap pria itu dengan bingkisan bunganya. Ia tersenyum dan berkata dengan seseorang melalui ponselnya, “Erick, nanti telpon lagi. Ada cowok ganteng di depan pintu.“
Erick tertawa dan mematikan ponselnya yang masih terdengar suara Tiara.
__ADS_1
“Happy Birthday, Ara!” ucap Erick dengan lembut lalu menyerahkan bunga yang dibawanya.
Tiara meraihnya dengan tersipu, wajahnya merona merah.
“MASUK, RICK!” teriak Angga dari dalam dalam ruangan, tanpa menunjukkan wajahnya.
Tiara dan Erick kaget dengan panggilan Angga kepada Erick. Mereka tersenyum malu.
“Ada siapa, Ara? Ajak masuk, dong! Masa di depan pintu.” Kali ini suara wanita terdengar dari dalam ruangan.
Erick membulatkan matanya dan tersenyum melihat Tiara. Tiara hanya mengangkat alis matanya sambil tertawa.
“Boleh masuk? Sebaiknya izinkan aku masuk, karena … ‘dia’ nungguin aku dari tadi di situ,” ucap Erick sambil memalingkan wajahnya ke arah makhluk halus yang ada di belakangnya. Seorang anak kecil dengan pakaian seragam sekolah lengkap dengan topi menatap Erick seolah meminta pertolongan. Tiara dengan segera menunduk dan membuka daun pintu untuk Erick.
“Jangan diajak masuk!” ucap Tiara sambil menatap Erick tajam. Erick pun tertawa dan menggeleng pelan.
Akhirnya, untuk pertama kali Erick dipersilakan masuk oleh Tiara.
Dengan sopan, Erick memperkenalkan dirinya kepada Tante Vanie. Seperti ibu-ibu kebanyakan, ia tampak sangat bahagia melihat sosok pria yang rupawan dekat dengan anaknya.
“Oh, begitu, Tante. Sayangnya … Bukan Tiara yang cerita,” ucap Erick menggoda seraya melirik ke arah Tiara.
Tante Vanie pun tertawa sambil memberikan sepotong kue ulang tahun rasa keju yang berhias potongan stroberi diatasnya.
Sebenarnya Tiara tidak menyukai acara ulang tahunnya dirayakan. Ia masih teringat kejadian yang menimpa keluarga mereka setelah merayakan ulang tahunnya di luar kota. Walaupun demikian, Tante Vanie terus mengadakan acara ulang tahun kecil-kecilan agar Tiara lepas dari traumanya. Sepertinya setelah tahun ini, trauma itu akan berakhir.
Tante Vanie melirik jam dinding yang menunjukkan waktu lebih dari pukul satu pagi. Tante Vanie pamit masuk ke kamar berusaha memberi kesempatan sepasang muda-mudi itu bicara lebih leluasa. Gayanya yang pura-pura menguap itu pun terlihat tidak alami. Ia lalu mencolek Angga untuk melakukan hal serupa. Angga pun menuruti kode tantenya. Padahal Angga baru saja menikmati kopi susu hangat. Bagaimana bisa tidur, baru saja minum kopi, ucap Angga dalam hati sambil masuk ke kamarnya.
Erick menatap lebih seksama suasana ruangan tengah Tiara. Beberapa foto kenangan terpajang dengan frame warna perak. Semua tertata rapi di atas meja console berwarna putih beralaskan table runner berwarna abu-abu tua. Di atasnya tergantung cermin dengan model lonjong yang modern. Ada pula foto ukuran sangat besar tergantung di dekat pintu kamarnya. Wajah yang sangat cantik dengan pakaian kimono Jepang nuansa modern tergambar jelas pada foto itu. Erick sangat mengagumi foto itu.
Tiara merapikan piring dan gelas yang digunakan mereka tadi. Ia meletakkannya di dalam sink. Ia duduk di sofa sambil memandangi Erick yang berkeliling mengamati interior dalam unit apartemennya. Erick sesekali melirik ke arahnya dan tersenyum.
“Baru pertama kali, ya, lihat tempat tinggal wanita cantik?” canda Tiara.
__ADS_1
Erick menghentikan aktivitasnya dan langsung duduk di samping Tiara, mengamatinya dari dekat.
Ia tersenyum sambil berkata, “Nggak, tepatnya baru pertama kali lihat tempat tinggal KAMU.” Tiara mengalihkan pandangan, berusaha menghindari percakapan seperti ini.
“Ara …,” panggil Erick perlahan. Tiara menoleh ke Erick dengan santai, tapi Erick menatapnya dalam.
“Jangan hindari aku seperti ini, ya, please …,” ucap Erick pelan.
“Menghindari apa, sih, Rick? Kan, masih ketemu, ngobrol … masih …”
“Jangan tutup hatimu seperti ini. Apa kamu paham kalau aku sayang sama kamu?” potong Erick sambil menggenggam tangan Tiara.
Selama ini, memang belum ada ikatan spesial diantara mereka selayaknya pasangan lain, Tiara membiarkan semua mengalir hingga nanti menemukan akhir. Ia menunggu saat ia dapat menemukan seseorang yang dapat menerimanya dengan kelebihan dan kekurangannya.
Tiara merasakan seluruh darahnya mengalir deras saat Erick menggengam tangannya. Ia terdiam menahan getaran yang ada dalam dirinya. Di antara segala rasa yang bergejolak dalam hatinya, ia merasakan kebahagiaan melalui genggaman tangan pria ini.
“Ada … ketakutan … yang belum bisa aku hadapi,” tutur Tiara dengan gugup.
“Aku, kamu … kita … hadapi bersama. KITA … berjalan bersama,” ucap Erick yang menegaskan kata ‘kita’ dalam kalimatnya.
Setitik lega muncul dalam hati Tiara. Bersama Erick yang tak mungkin meninggalkannya hanya karena memiliki indra keenam yang menakutkan ini. Erick juga merasakan hal yang sama dengannya. Tiara hanya tersenyum. Erick menyeka sebulir air mata yang menetes di ujung mata Tiara.
Mereka tenggelam dalam diam menikmati berjalannya waktu. Tangan Erick terus menggenggam jemari Tiara. Tak lama, Erick pun pamit dari kediaman Tiara. Tiara mengantarkan Erick hingga di depan pintu.
Erick memberikan sebuah kotak kecil dari saku jaket yang ia gantung di dekat pintu.
“Semoga suka,” ucapnya lembut sambil memberikan kotak perhiasan panjang kepada Tiara. Tiara menerima kotak itu dan membukanya. Sebuah gelang emas putih dengan hiasan beberapa berlian kecil yang menghiasi. Sangat cantik. Tiara pun tersenyum bahagia.
Erick mengeluarkan gelang tersebut dari kotaknya dan memasangkannya ke pergelangan pujaan hatinya itu. Pria itu kembali mengucapkan selamat ulang tahun kepada Tiara, kali ini dengan cara berbeda. Ia mencium kening Tiara dengan lembut. Sekujur tubuh Tiara terasa lemas, jantung terasa berdetak sangat kencang.
__ADS_1
Tiara menutup pintu dan mengunci dari dalam. Ia hanya terduduk lemas di lantai dibalik pintu, seakan jiwanya sudah dibawa pergi. Ia menempelkan telapak tangannya di depan dada. Jantungnya berdegup semakin kencang, seolah akan keluar dari tubuhnya. Sudah sekian tahun ia tidak merasakan perasaan ini. Kali ini terasa lebih luar biasa! Ia memekik dalam hati.
Ya Tuhan, apa ini jawaban doa atas jodohku?