MEMANDANG (Dari) JAUH

MEMANDANG (Dari) JAUH
Dia Tahu?


__ADS_3

Ruangan gym cukup sepi, nyaman karena hanya untuk penghuni. Apalagi hari kerja pagi seperti ini memang tidak banyak yang menggunakannya. Waktu yang pas untuk olahraga dan bersantai.


Tiara melepas earphone bluetooth dari kedua telinganya, mematikan aplikasi pemutar musik yang ada pada ponselnya. Meletakkan kedua benda kecil berwarna putih pada case dan menyeka keringat dengan handuk kecil yang mengalir di dahinya. Ia duduk di bangku kayu yang membelakangi cermin kaca. Saniah duduk di dekat Tiara, menemani.


Tiba-tiba Saniah merasa gelisah. Tiara pun merasakan ada sosok lain disekitarnya. Ia tak mampu menoleh, ia tidak ingin harinya diganggu dengan ‘kenalan baru’ dari dunia lain. Fisik dan emosinya sedang tidak stabil akhir-akhir ini. Ia merasa belum kuat.


           “Araaa…,” suara Saniah pelan memanggil. Tiara tetap terdiam seolah tidak mendengarkan panggilan Saniah. Ia tidak ingin makhluk lain mengetahui ia dapat melihat Saniah. Jika ia dapat melihat Saniah tandanya dapat melihat makhluk halus lainnya, seperti mereka. Ia meraih handuk kecil dan kembali menyeka keringatnya. Peluh ini bukan karena ia lelah, tapi peluh ketakutan. Ia segera meraih smartphone dan memainkannya. Ia memberi kesan sedang sibuk dengan aktivitas di sosial medianya.


           Jangan lihat aku! Jangan lihat aku! doa Tiara dalam hati. Kedua matanya dipejamkan karena sosok itu semakin mendekat. Tidak ada aroma yang dihasilkan dari tubuh sosok di hadapannya. Akhirnya, ia membuka matanya walau kepalanya masih tertunduk.


           Sepasang kaki tidak beralas sepatu terlihat tepat di hadapannya. Kaki laki-laki, berkulit agak gelap. Tidak mungkin seseorang tidak mengenakan sepatu olah raga jika ingin ke gym. Ia berusaha mencari alasan logis yang menyatakan sosok di hadapannya adalah manusia, namun ia tidak dapat menemukan satu alasan yang tepat.


           


           Ia memberanikan diri mengangkat kepalanya. Matanya menatap bagian lain dalam ruangan berukuran 7x10 meter itu. Berusaha tidak beradu mata dengan sosok yang di hadapannya. Ia berpura-pura tidak melihatnya, ia melirik dari sudut matanya.


           Benar! Pria muda, kulitnya gelap, tampak muda berusia awal dua puluh tahunan. Ada yang beda dari sosok lain sebelumnya, kali ini ada sinar terang di wajahnya. Tak biasanya Tiara melihat hal seperti ini. Ia tidak dapat melihat jelas bentuk wajahnya. Berpakaian seragam kerja yang rapi namun tanpa sepatu. Ada pancaran harapan saat ia melihat ke arah Tiara. Gadis itu kembali menunduk, tidak mampu berbicara apapun. Ia kembali memainkan telepon selularnya. Tangannya gemetar saat menyentuh layar kaca yang besar pada telepon selulernya. Andai ada seseorang yang dapat ia hubungi untuk dapat menyelamatkannya saat ini.


           Tiara melirik ke arah Saniah. Saniah hanya terdiam memandang tegang kepada sosok itu.


Kenapa ia hanya terdiam? Saat dibutuhkan kenapa dia diam saja. Saniah! umpat Tiara dalam hati. Waktu itu, ia melindungi Tiara dari hantu-hantu menakutkan. Tapi kali ini … Saniah hanya terdiam. Saniah, Saniah.. bantu aku!! Tiara melirik terus-menerus ke arah Tiara, ia benar-benar berharap Saniah tersadar dari wajahnya yang terus terpaku menatap sosok di hadapannya itu. Apakah sosok ini sebegitu gantengnya, sehingga ia tidak berhenti menatapnya?


           “Hai!” suara seorang pria terdengar pelan.


           Oh My God! Dia menyapa? Wajah Tiara semakin panik. Ia semakin tidak dapat menghindari kondisi seperti ini. Kakinya bergerak karena panik. Ia terus memainkan kaki kanannya untuk mengatasi ketakutan yang sedang ia hadapi.


           “Halo!” suara itu semakin keras terdengar. Tiara terlihat pura-pura sibuk namun ia melirik yang Saniah lakukan.


           Kenapa Saniah masih diam? Apa aku harus minta tolong? Saniah, lihat aku, pinta Tiara dalam hati, seolah Saniah akan mendengarkannya.


           “Mbak lantai sepuluh, halo!” Tiba-tiba ada sepasang kaki lain yang mendekat. Mengenakan sepatu olahraga. Kali ini Tiara dapat membedakan dari kedua pasang kaki tersebut. Ia ternganga dan mengangkat kepalanya. Memastikan perbedaan yang signifikan di antara kedua sosok tersebut.


           “Halo!” Pria ganteng yang beberapa kali ia temui berdiri di hadapannya. Kali ini menyapa dan melambaikan tangan kearah Tiara yang masih termenung.


           Tiara menghela napas panjang, dan mulai tersenyum lebar. Ia lega yang memanggilnya adalah manusia sungguhan. Bukan sosok dunia lain yang meminta tolong.


           “Senang, ya, ketemu lagi?” tanya pria itu sambil tertawa.


           “Hahaha.” Tiara tertawa dipaksakan. Ia menoleh ke sebelahnya, Saniah tidak ada. Mata Tiara mencari Saniah berada, namun ia tidak dapat menemukannya.


           “Cari siapa? Temannya?”


           Temannya? Dia melihat Saniah? Mata Tiara terbelalak. Oh, tidak! Tidak. Maksudnya pasti Mbak Nana, pikir Tiara berulang-ulang.


           “Nggak, kok.” Jawab Tiara singkat. Pria itu duduk di sebelah Tiara. Tiara menggeser tempat duduknya.


           “Nggak ada wartawan, kok, Mbak. Tempat ini terbatas hanya untuk penghuni.” Tiara terdiam langsung menatap pria itu. Pria itu tersenyum dengan manisnya.


           Lah! Dia tahu siapa aku. Kenapa dia bilang waktu itu aku ART? Sial! umpat Tiara dalam hati. Tiara masih belum berkata apa-apa.


           “Maaf, ya! Kemarin aku diberitahu teman, katanya mbak ini selebriti. Jadi waktu kejadian plastik itu … aku salah paham.” Tiara hanya membalas dengan senyum tipus dan mengangguk.


           Separah itu kah penampilanku sampai kamu salah paham? Teman kamu aja tahu, masa kamu nggak tahu. Hidup di mana selama ini, Mas? Umpat Tiara dalam hati.


Wah, setelah ini rayuan apa lagi nih yang bakal muncul. Pasti standar. Bagaimana menghindar ya? Ganteng sih ganteng. Banget tepatnya! Hindari atau nikmati? Tiara terus berpikir dalam hati.

__ADS_1


           Tiara ingin berdiri, namun sosok lainnya tadi masih berada tepat di hadapannya. Ia tidak ingin bersentuhan sama sekali. Sehingga Tiara mengurungkan niatnya untuk beranjak dari kursi.


           “Erick.”


           “Hah?” Tiara terbengong.


           “Namaku Erick.” menyodorkan tangannya sambil tertawa kecil melihat Tiara yang sedikit gugup.


           “Oh! Aku Tiara.” Tiara menyambut tangannya.


           Tiara tetap berusaha menghindari sosok lain yang di hadapannya. Ia masih berpikir keras bagaimana menghindari keduanya. Ia belum siap untuk berkenalan lebih lanjut. Apalagi dengan kondisi seperti ini.


           “Dia Bintang.” ucap Erick pelan.


           “Ah, saya bukan bintang. Hanya seorang pekerja seni.” Jawab Tiara santai, sambil menggulung-gulung handuk kecilnya karena panik.


Erick tertawa. 


           “Bukan. Maksudnya … Cowok depan Mbak. Namanya Bintang,” sahut Erick sambil mengarahkan matanya kepada sosok lain tadi. Tiara terbelalak dan menutup mulutnya yang menganga lebar dengan tangan kirinya.


           “Oalah ... Dia bukan … Ya ampun! Dari tadi saya pikir dia ….”


Tiara mulai tertawa dan menatap Bintang dari kaki ke kepala dengan santai. Ia menyodorkan tangannya hendak menyapa.


           “Iya, benar. Bukan manusia!” ucap Erick pelan.


           Tiara terperanjat kaget dan menyadari tangan kanannya menembus bagian tubuh sosok itu, Tiara langsung bergegas beranjak dari tempat duduknya. Menghadap cermin yang berada di belakangnya. Tidak ada sosok lain selain dirinya dan Erick. Ia bergegas keluar menuju loker, mengambil tasnya dan langsung berlari kecil menuju lift. Ia tidak mampu berpikir bahkan tidak mampu menoleh kebelakang.


           Pria itu sudah membuat bad first impression, dan semakin hari semakin tidak baik. Apa dia juga bukan manusia? Oh My God! Aku butuh Angga untuk bicara saat ini.


           Tiara membuka pintu unit apartemennya. Tubuhnya terkujur lemas di lantai sebelah sofa. Ia segera menelpon adiknya.


           “Anggaaa … kesini, please! “ suara Tiara melemah.


           “Gue lagi kuliah. Hmm ... Iya … Iya. Setengah jam lagi gue sampai. Lu di apartemen, ‘kan? Tunggu, ya! Telpon Mbak Nana dulu minta temenin, ya,” suara Angga terdengar sedikit panik. Ia langsung meluncur dari kampusnya. Ia sangat tahu kondisi kakaknya kalau sudah memohonnya seperti ini.


           Tiara meringkuk di lantai bersandar sofa. Ia bingung harus ketakutan, senang, sedih, atau apalah. Terlalu banyak rasa berkecamuk dalam hatinya. Ia hanya ingin temen saat ini.


Saat ia butuhkan, Saniah pun tidak ada. Kemana Saniah?


...©...


           Angga membuka pintu apartemen dengan kartu akses yang ia miliki. Ia langsung berlari ke arah Tiara yang terlihat sangat lemah. Ia segera memeluk kakaknya. Mengambil selimut tipis yang terlipat rapi di atas sofa.


           “Kenapa nggak nelpon Mbak Nana?” ucap Angga sambil membenarkan letak selimut dibahu Tiara.


           “Lagian, ya … kenapa, sih, nggak punya asisten rumah tangga aja. Lumayan buat nemenin dalam kondisi apa pun,” lanjut Angga.


           “Kan, ada Saniah,” tutur Tiara sedikit bercanda.


           “Saniah? Memang bisa apa dia? Sekarang dia ada, nggak?”


           “Bukan. Maksudnya, karena ada Saniah, jadi nggak ada yang betah disini,” Lanjut Tiara.


Angga duduk disebelah kakaknya. Menatap wajah Tiara dengan seksama.

__ADS_1


           “Gue bikinin teh hangat, ya.” Angga mulai beranjak. Tiara memegang lengannya.


           “Nggak usah. Gue butuh yang lebih keras. Vodka?” ucapnya terlihat lebih tenang dengan candanya.


           Angga berdiri dan membuatkan secangkir teh chamomile hangat di meja makan. Secangkir chamomile hangat yang dipercaya berfungsi untuk mengurangi stres dan kecemasan itu diberikan kepada Tiara. Angga kembali duduk di lantai dan terdiam menunggu reaksi Tiara. Tiara menghirup aroma harum dari teh yang diseduh adiknya. Beberapa saat mereka hanya duduk dalam diam.


           Butuh beberapa waktu untuk Tiara dapat menceritakan yang terjadi. Ia tidak sanggup menceritakan tentang ‘reuni’ yang dilakukan makhluk astral di kamarnya beberapa hari yang lalu. Ia khawatir Angga akan memaksanya pulang ke rumah mereka demi keselamatan Tiara. Hanya tentang perkenalannya dengan Erick yang dapat ia utarakan. Panjang lebar tentang yang terjadi sejak awal pertemuan. Angga menyimak dengan seksama, berusaha memahami inti cerita yang disampaikan. Tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Angga, ia membiarkan Tiara menyelesaikan satu demi satu kalimatnya.


 


           Di penghujung cerita, Angga bertanya, “Jadi pas di mailbox, lobi mal dan gym… lu lihat mereka berdua? Hantu yang sama?” Angga berusaha menelusuri cerita Tiara.


           “Di mailbox dia sendiri. Di mal, gue nggak sadar-sadar banget, soalnya cuma sebentar. Gue rasa dia berdua, tapi gue nggak terlalu memperhatikan,” ucap Tiara sambil berusaha mengingat kejadian waktu itu.


           “Tapi yang tadi … Awalnya gue yakin banget kalau ‘cowok kaki hitam’ itu bukan manusia. Dan begonya, gue pikir Erick mau ngenalin temennya. Ternyata Erick tahu gue melihat hantu itu. Lu tahu nggak, sih, rasanya?” lanjut Tiara sambil ketakutan dan terbersit sedikit malu.


           “Antara senang ada orang lain yang bisa melihat juga dan ketakutan ada hantu baru. Bahkan gue sempat berpikir … Jangan-jangan Erick juga bukan manusia. Yaaa ... trus gue cuma bisa kabur aja,” tutur Tiara menjelaskan lebih detail tentang perasaannya.


Angga diam untuk memahami semua cerita.


           “Sekarang perasaan lu gimana?”


           “Entahlah. Yang jelas, gue takut. Nggak tahu juga takut apa.”


           “Kalau … kalau, nih, ternyata Erick adalah manusia yang mempunyai kemampuan yang sama, bukannya lu malah bisa terbuka sama dia. Jadi bisa bertukar pikiran. ‘Kan, selama ini lu masih susah membedakan yang manusia dan bukan. Minimal lu bisa tahu juga bagaimana cara menghindari kalau bertemu dengan makhluk halus. Iya, nggak?” saran Angga.


           “Jadi menurut lu, gue mendingan ngobrol sama Erick? Nggak dulu kali, ya. Rasa takut gue jauh lebih besar daripada penasaran gue.” Tiara menutup matanya dengan bantal sofa.


           “Kan, lain kali ... Bukan sekarang juga. Lagian katanya dia ganteng. Lumayanlah daripada kelamaan jomblo,” goda Angga.


Tiara memukul Angga dengan bantal sofa yang ada di tangannya.


           “Setidaknya gue pernah pacaran beberapa kali bukan jomblo seumur hidup juga.”


           “Siapa dulu namanya cowok lu? Asep? Hahaha…,” goda Angga.


           “Alex. Kok jadi Asep?”


           “Lebih cocok jadi Asep daripada Alex. Soalnya kalau Alex itu, ‘kan, harusnya lebih keliatan bule, ganteng dan putihnya. Lah! Ini Indonesia asli, kok, namanya Alex. Nggak cocok.”


           “Ih! Baik tahu orangnya,” bela Tiara.


           “Iya, tapi ninggalin lu juga, ‘kan? Karena tahu lu punya kemampuan begini jadi dia takut? Hilang aja gitu tanpa kabar?”


           “I don’t know. Sebenarnya dia sudah mulai menerima dan mengerti gue. Tahu gue punya kemampuan ini. Tapi seminggu kemudian, entahlah ... Sudah lima-enam tahun lalu, udah lupa,” ucap Tiara pelan. Wajahnya menunjukan kesedihan saat mengingat peristiwa itu. Angga merasa bersalah mengungkit kisah cinta sedih Tiara.


           Alexander, nama pria itu. Saat itu, mereka resmi menjadi pasangan dua bulan lamanya. Tiara sering mengajak Angga jalan bersama mereka, namun memang Alex tidak pernah mengajak pacarnya berkumpul dengan teman-teman ataupun keluarganya. Di kala itu, Tiara sedang dipuncaknya ketenaran. Banyak tawaran iklan yang datang kepadanya. Saran Mbak Nana dan beberapa orang untuk tidak terlalu mengekspos tentang hubungan pribadinya dalam beberapa waktu.


           Alex merasa Tiara memang berbeda dengan orang kebanyakan. Akhirnya Tiara memutuskan menceritakan kisahnya. Awalnya Alex hanya kasihan. Seiring waktu cowok berusia dua puluh satu itu lebih sering bertanya tentang apa yang Tiara lihat dan dengar dari mereka, seolah mulai memahami kekasihnya.


           


           Pernah memang Tiara menyampaikan apa yang ia lihat saat berdua dengan Alex di mal. Saat itu, ia dengan tiba-tiba menghentikan langkah Alex dengan isyarat tangannya. Bola matanya menunjukkan ke suatu arah di lantai depan mereka berdiri. Kekasihnya itu masih belum paham apa yang dilakukan Tiara. Wanita itu hanya berkata bahwa ada sebuah makhluk halus yang sedang duduk di lantai dan menyeret tubuhnya untuk berjalan. Penampakannya cukup menyeramkan dengan kondisi kaki yang penuh dengan darah. Adegan ‘ngesot’ ini terus terngiang dalam pikiran Alex. Harus jujur! Hanya itu yang ada dipikiran Tiara saat itu.


           

__ADS_1


           Beberapa waktu kemudian, tidak disangka-sangka, Alex tidak dapat dihubungi sama sekali. Bahkan tidak dapat ditemui di mana pun. Telepon, email, instagram, facebook, twitter dan cara apa pun sudah dicoba lakukan untuk mencari kabar tentang pria itu. Tiara tidak mengetahui apa yang terjadi. Ia akhirnya menyimpulkan Alex sudah enggan melanjutkan hubungan asmara mereka ke depannya. Rasa bersalah dan terpukul masih berbekas dalam hati Tiara hingga saat ini.


Trauma itu masih ada. Saat ini, dekat dengan pria lainnya sepertinya bukan pilihan yang tepat. Lalu sekarang harus bagaimana?


__ADS_2