MEMANDANG (Dari) JAUH

MEMANDANG (Dari) JAUH
Bicara


__ADS_3

Suasana pagi itu sangat cerah. Matahari masih malu-malu memamerkan sinarnya, angin pun bertiup sepoi-sepoi memberikan kesempatan untuk warga Jakarta menikmati Minggu pagi yang indah. Dengan mengenakan kacamata hitam dan topi, Tiara menutupi dirinya berolahraga pagi di area Car Free Day di Jalan Jenderal Sudirman. Pagi hari yang nyaman untuk menghirup udara segar. Ia tidak sendiri, Saniah dan Angga menemani.


Tiara lebih menikmati jalan santainya daripada berlari. Angga terus berlari kecil sambil sesekali membalikkan badannya menghadap Tiara yang tertinggal jauh di belakangnya. Satu jam berlalu, rasa lelah sudah menghinggapi kaki, mereka berhenti untuk beristirahat pada bangku yang berada trotoar.


Beberapa kali Tiara berusaha memalingkan wajahnya dari pandangannya. Banyak hantu berada di antara mereka. Jalan raya memang merupakan tempat yang paling sering terjadi kecelakaan ataupun kejadian menyeramkan lainnya. Terbukti seperti yang dilihat Tiara saat ini.


Penampakan seorang wanita yang tergeletak di trotoar beberapa meter dari mereka. Tubuhnya terlentang seolah sedang berjemur di pantai. Matanya terbelalak menatap langit, tanpa berkedip. Tangannya berada di samping tubuhnya yang bersimbah darah. 


Tiara melemparkan pandangannya. Seketika ia melihat sosok pria berdiri tepat di tengah jalan. Beberapa kali pejalan kaki menembus tubuhnya saat melintas. Tubuhnya besar tinggi dengan penuh tertutup bulu kasar. Kulitnya sangat gelap, sosok itu membelakangi Tiara. Tiara pun tak ingin berlama-lama menatap makhluk itu.


 Tiara melirik sosok yang berada di sebelahnya. Ia tertawa sendiri menatap Saniah yang ikut terlihat lelah. Bagaimana hantu bisa terasa lelah? pikir Tiara dalam hati. Ia menatap Angga yang sedari tadi berdiri memantau kondisi sekitar mereka.


“Sudah baikan, Ra?” tanya Saniah menatap lembut kepada Tiara. Tiara mengangguk sambil menggenggam botol air mineral dan memutar-mutarnya. Ia seolah tak ingin mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


“Sudah aman kok, Ra. Ada saya yang menjaga kamu,” tambah Saniah seraya menyentuh tangan Tiara. Jemarinya menembus kulit Tiara.


“Ara, inget tentang pria yang ada di gym?” tanya Saniah pelan mengalihkan pembicaraan.


Tiara terdiam dan mengangguk pelan sambil menatap Saniah.


“Itu ... Itu yang pernah ingin saya sampaikan kepada Tiara. Beberapa kali ingin bicara, tapi tidak kesampaian. Tentang tetangga kita yang mempunyai kemampuan yang sama, bahkan punya teman, kaum saya.” Ucap saniah pelan menatap Tiara pelan, takut dimarahi.


“What?” Tiara terbelalak. Ia tidak menyangka Saniah lebih dahulu mengetahui tentang pria ini sebelumnya. Ia berusaha mengingat kejadian di mana Saniah berusaha menyampaikan berita itu.


Angga mendengar jeritan Tiara, agar tidak menjadi pusat perhatian dari beberapa pasang mata di sekitarnya, ia segera duduk di samping Tiara. Menembus tubuh Saniah yang tadi duduk pada posisi yang sama.


“Kenapa?” tanya Angga. Tiara masih termenung menggenggam botol air minumannya. Ia menggeleng pelan berusaha mengingat semua ucapan Saniah.


“Angga, lu nggak cerita apa-apa ke Tante, ‘kan?” tanya Tiara melepaskan kekhawatirannya tentang hal yang disampaikan Saniah.


“Nggaklah. Bisa shock nanti,” jawab Angga sambil membetulkan tali sepatunya.


“Lu bilang apa sampai Tante sampai mau nginep?”


“Gue bilang lu lagi nggak sibuk, sekali-kali kita kasih kejutan nginep disana. Eh, mau ….”


Tiara tersenyum mendengar penjelasan Angga.


           “Sibuklah Tante langsung masak segala makanan buat lu.” Tambah Angga.


           “Hahaha… Thanks God, gue punya makanan enak!” ucap Tiara agak kencang tanda bahagia.


Pemandangan hari itu cukup mencerahkan hati Tiara yang mulai tidak menentu akhir-akhir ini. Untunglah Tante Vanie dan Angga menginap beberapa hari di apartemen. Sedapnya masakan Tante Vanie selalu membangkitkan semangat Tiara. Bahkan mereka juga membawa si Mbok – asisten rumah tangga rumah mereka di Panglima Polim.


...©...


           Mobil Angga terparkir di basement. Tiara dan Angga memasuki lift dari lokasi parkiran menuju ke lantai dasar. Mereka harus berpindah lift di lobi lantai dasar untuk menuju ke unit apartemen mereka.


           Di lobi, Tiara sempat menghentikan langkahnya. Sepatu putih yang ia kenakan seolah menempel erat di lantai. Tangannya meremas erat bahan dalam kantong jaket putih yang dikenakan. Angga yang berjalan mendahului. Saat menyadari Tiara tertinggal ia pun berhenti. Memandang ke belakang, menatap Tiara. Wanita cantik itu tampak ragu melangkah, tatapan lurus ke arah depan. Angga segera memalingkan muka menatap arah pandangan Tiara dan menghampiri kakaknya.


           “Manusia, kok,” bisik Angga pelan sambil membimbing kakaknya berjalan lagi.


           “Erick. Itu Erick,” ucap Tiara pelan.


Angga ikut terdiam.


                                                     


           Pria yang tampak berbeda usia beberapa tahun dari Tiara itu menghampiri mereka. Senyumnya tidak pernah terlepas dari wajahnya. Penampilan dengan polo shirt dan celana dibawah lutut membawa pesona berbeda dibanding sebelumnya.


“Tiara, sorry soal kemarin!” Kalimat pembuka pembicaraan mereka.


Tiara masih terdiam bingung hendak menjawab apa.


           Erick merogoh saku celananya dan memberikan sesuatu kepada Tiara.


           “Airpod-nya. Kemarin tertinggal di gym,” ucapnya sambil memberikan earphone bluetooth dengan case berwarna putih. Ada tempelan sticker kecil berbentuk hati di bagian bawahnya. Tiara tersenyum dan meraih benda itu dari tangan Erick. Ia bahkan tidak ingat meninggalkan benda itu di gym.

__ADS_1


           “Thank you!” ucap Tiara sedikit kaku.


           “Angga. Adiknya Tiara.” Angga segera menyodorkan tangan kanannya ke arah Erick.


Erick segera menyambut hangat tangan Angga dan menyebutkan namanya.


           “Erick. Saya tinggal di lantai tujuh belas.”


Angga tersenyum dan mengangguk seolah mengerti.


           “Mungkin lain kali kita ngobrol lagi. Sepertinya Tiara masih tidak nyaman,” ucap Erick melanjutkan pembicaraan dalam keadaan canggung tersebut.


Ia tersenyum lalu melangkah menjauh menuju keluar.


Tiara memandang ragu dan akhirnya bersuara.


           “Erick.” Suara Tiara terdengar sedikit parau.


Angga dan Erick kaget dengan reaksi Tiara. Angga hanya menyaksikan apa yang akan dikatakan Tiara. Erick berbalik dan menghampiri mereka kembali.


           “Apa bisa nanti kita ngobrol?” Tiara berucap setelah mengatur napas beberapa kali.


“My pleasure,” jawab Erick dengan nada sangat tenang.


...©...


           Sore itu Tiara ditemani Angga menuju sebuah kafe yang ada di dekat tower mereka. Sesuai dengan percakapan mereka sebelumnya, pukul empat sore waktu yang tepat untuk bertemu. Di sana, Erick sudah duduk ditemani secangkir kopi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Bintang ataupun Saniah disekitar mereka.


           Lokasi meja yang dipilih Erick berada di halaman, bagian luar kafe. Angin bertiup agak kencang, padahal belum menjelang musim hujan. Beberapa daun jatuh menghiasi area tempat Erick berada. Erick mengenakan kemeja santai dengan celana jeans dan sepatu cokelat tua berbahan suede. Lampu taman yang sudah mulai dihidupkan membuat Erick terlihat semakin mempesona.


           “Hai!” sapa Angga.


           “Hai!“ jawab Erick yang mulai mengalihkan mata dari smartphone-nya.


Erick berdiri dan menarik kursi, memberi tempat untuk Tiara duduk. Ia menunjukkan sikap sopannya kepada wanita.


           “Angga tinggal bersama Tiara di sini?” ucap Erick membuka pembicaraan.


           “Iya. Menemani Tiara,” jawab Angga lantang. Ia tidak orang lain mengetahui Tiara tinggal sendiri. Terlebih lagi bagi orang yang baru dikenalnya.


           “Sudah lama tinggal disini?” tanya Angga balik.


            “Beberapa bulan. Tepatnya hampir setengah tahun,” jawab Erick.


Tiara masih belum bersuara, ia hanya tersenyum dan menyeruput beberapa kali cappuccino hangat di hadapannya. Erick dan Angga mulai mencairkan suasana dengan pembicaraan santai mereka.


           “Kerjanya dekat dari sini?” tanya Angga memancing untuk mengetahui aktivitas kenalan barunya.


           “Nggak juga. Aku kerjanya Financial Consultant. Lebih banyak work from home. Ke kantor saat diperlukan saja. Kerjaanku memberikan masukan tentang masalah keuangan dan berusaha memaksimalkan aset klien,” jawab Erick mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana, karena tampaknya Angga sudah mulai sedikit bingung dengan jawabannya.


           “Erick, soal kemarin ...,” akhirnya Tiara bersuara setelah beberapa waktu.


Erick terdiam dan menatap dalam ke Tiara. Ada tampak haru dan bersalah pada pandangannya.


           “Sorry, Tiara. I didn’t mean to…,” ucapan Erick terhenti.


           “Kamu juga melihat yang sama?” potong Tiara.


           “Well, Iya! Sejak lahir aku punya indra keenam, keturunan dari kakek. Aku pikir kamu juga sudah terbiasa dengan apa yang kamu tahu.”


Tiara tersenyum geli, mengingat kejadian di gym.


           “Jadi kamu lihat ekspresi aku waktu melihat sosok itu?” tanya Tiara dengan senyuman menunjukkan sudah tidak ada lagi ketegangan di antara mereka.


           “Honestly, itu lucu. Bagaimana kamu mencoba tidak melihat Bintang dan bagaimana kamu menyodorkan tangan kearahnya,” ucap Erick. Angga bisa membayangkan peristiwa saat itu.


Wajah Tiara berubah seketika.

__ADS_1


           “Sorry. I’m so sorry,” Erick melanjutkan dengan penuh penyesalan.


           “No! No. It’s okay,” jawab Tiara lebih santai.


           Percakapan mereka pun semakin seru hingga malam menjelang. Tiara tampak lega dapat mencurahkan semua yang ia rasakan selama ini. Pengalaman Erick kurang lebih hampir sama dengannya. Beruntungnya Erick memiliki kemampuan itu karena keturunan. Keluarganya mengerti tentang penglihatannya dan membantunya mengatasi ketakutannya. Tiara terlihat lebih ceria malam itu. Rona bahagia terpancar dari matanya yang besar. Lega!


           “Jadi Bintang sudah bersama kamu selama dua tahun?” tanya Tiara setelah mengosongkan mulut dari santap malamnya.


Erick mengangguk.


           “Yah, kurang lebih. Dia korban kecelakaan di jalan, saat ia akan menemui seseorang. Sebatas itu yang aku tahu. Aku sih nggak tanya lebih jauh, tampaknya masa itu terlalu kelam. Kalau bercerita tentang hal itu, auranya langsung berubah tidak baik,” Erick berusaha menjelaskan.


           “Dia tidak pernah menjawab namanya jika ditanya, jadi aku memanggilnya Bintang,” lanjut Erick.


           “Dia juga yang mengarahkan aku pindah ke sini dari apartemen lama. Ternyata menyenangkan, termasuk bisa kenal Tiara seperti ini,” goda Erick tertuju kepada Tiara.


Angga melirik wajah Tiara yang berkenan akan ucapan itu.


           “Kalau Saniah?” tanya Erick balik.


           “Saniah ... Kami tidak pernah bicara tentang masa lalu. Itu salah satu syarat boleh tinggal di tempatku. Dia lebih tepatnya hanya teman bicara. Dia muncul di apartemen setelah seminggu aku tinggal disana. Aku tidak mau sama sekali mendengar cerita tentang masa lalunya dan tidak mau dimintai tolong. Selama setahun terakhir sih masih sesuai janji. Sepertinya dia penghuni sebelumnya di daerah sini atau mungkin di unit aku,” jawab Tiara tertawa kecil.


           “Dan kembali soal aura ... Itu yang masih belum bisa aku pahami. Aku hanya tahu sosok itu bukan manusia saat penampakan dan baunya tidak menyenangkan. Selebihnya belum bisa membedakan,” lanjut Tiara.


           “Merasakan ada angin bertiup di tengkuk yang bikin merinding?” tanya Angga sambil menunjuk area dibelakang leher, seolah ia pernah merasakan hal tersebut.


           “Pernah beberapa kali. Biasanya kalau berasa yang begitu, penampakannya serem sih,” jawab Tiara sambil membayangkan.


           “Pelan-pelanlah, Ra. Lama-lama berasa bedanya. Apalagi kalau kamu dalam keadaan tenang bisa kelihatan jelas aura mereka.” Jawaban Erick terdengar biasa di telinga Angga, tapi tampaknya cukup menenangkan bagi Tiara.


...©...


TING!


Pintu lift terbuka di lantai sepuluh. Saatnya mereka berpisah untuk malam ini.


           


           “Thank You, Rick.. Bye!” ucap Tiara melambaikan jemarinya kearah Erick.


           “Most welcome. Nice to meet you, Ra.. You too, Angga.” Angga mengangkat tangannya dan tersenyum.


           Pintu lift tertutup rapat. Tiara dan Angga melangkah ringan menuju unit apartemen Tiara.


 


           “Lega, ‘kan?” ucap Angga merangkul bahu kakaknya. Tiara tersenyum dan memeluk adiknya dari samping. Tinggi Angga memang melebihi tubuh Tiara.


           “Iya. Rasanya lega banget bisa cerita.”


           “Dan gue lebih lega karena dia BAGUS!” goda Angga.


           “Ih, orang ini, ya. Jelas-jelas namanya ERICK bukan BAGUS,” jawab Tiara. Kedua bersaudara itu pun tertawa.


...©...


           “Nah kan!” pekik suara wanita kencang saat pintu terbuka.


           Angga dan Tiara kaget dan memandangi Tante Vanie yang menunggu di depan televisi bersama si Mbok.


           “Katanya mau makan di sini, tahunya malah kelayapan sampe malam,” lanjutnya dengan nada sedikit marah. Tiara tersenyum dan menghampiri Tantenya dengan manja.


           “Lapeeeeeerr banget! Makanya pengen buru-buru pulang. Kangen sama rendangnya Tante,” ucap Tiara. Angga hanya tersenyum, padahal ia tahu kakaknya sudah cukup kenyang dengan makan malamnya di kafe tadi. Si Mbok ikutan tersenyum.


           “Aku makan, ya.” Tiara bergegas mengambil piring dan sedikit nasi dihiasi daging rendang yang sudah disajikan di meja makan.


          “Jangan dipaksa kalau sudah kenyang,” ucap Tante Vanie seolah mengetahui keadaan perut Tiara. Ia hanya tersenyum sambil memaksakan sesuap demi sesuap masuk ke mulutnya.

__ADS_1


Hari ini begitu indah, semoga ada keajaiban baru di berikutnya!


__ADS_2