
Tiara Angelica, akrab dipanggil Ara. Wanita muda yang menjadi pusat perhatian masyarakat melalui iklan layar kaca. Pertengahan tahun ini usianya akan genap dua puluh tujuh tahun, usia yang cukup matang untuk berumah
tangga. Perjalanan hidup baginya cukup berliku dan tak terduga. Tragedi, luka, harapan, cinta, dicintai, memaafkan bahkan ketakutan selalu bergantian menyelimuti kehidupannya.
Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita butuhkan. Kalimat ini acap kali terngiang dalam pikirannya, namun hingga kini belum mampu ia uraikan. Apa yang ia butuhkan dari “kemampuan”-nya?
Pada kenyataannya, hidup tidak seindah apa yang diinginkan manusia. Keluarga harmonis berisi empat orang mengalami kecelakaan di jalan tol menuju Jakarta. Kebahagiaan keluarga yang baru saja menikmati masa liburan di luar kota berakhir tragis dalam perjalanan pulang. Sepasang suami istri meninggal di tempat kejadian dengan
kondisi yang cukup mengenaskan. Seorang anak perempuan yang terluka cukup parah bersama adik laki-lakinya, untunglah mereka dapat diselamatkan. Gadis yang berusia sepuluh tahun itu terlalu dini untuk merasakan hidup tanpa orang tua. Itulah kisah Tiara dan Angga–adik laki-lakinya.
Ruang perawatan ICU menjadi tempat tinggal Tiara selama beberapa bulan setelah kejadian itu. Kondisinya yang tidak menunjukkan perubahan selalu mengundang air mata TanteVanie dan Angga. Bersyukur Angga bernasib lebih baik dari kakaknya.
Jerit tangis haru terdengar sayup-sayup di telinga Tiara. Ia menunjukkan reaksi pada jemarinya, bahkan ia membuka mata dari tidurnya yang panjang. Tante Vanie tak henti bersyukur atas mukjizat ini. Walau tak mampu berkata, Tiara tahu kehadirannya sangat dirindukan di tengah-tengah keluarganya, mereka yang masih hidup.
Air mata Tiara tak pernah habis mengalir setiap kali ia teringat Mama dan Papanya yang telah tiada. Tak jarang, ia menyalahkan dirinya atas kejadian itu. Saat itu, keluarganya baru saja merayakan hari kelahiran Tiara yang genap satu dekade.
Untunglah ada Tante Vanie–adik kandung dari mendiang Mama. Tante Vanie menjaga Tiara dan Angga selayaknya anak sendiri. Kondisi keuangan tercukupi kerena warisan dan investasi yang telah dipersiapkan oleh kedua orang tua mereka. Keuangan bukan masalah bagi kehidupan mereka, begitupula kasih sayang. Tante Vanie yang hidup
seorang diri, mencurahkan seluruh cinta dalam menjaga dan membesarkan mereka.Selayaknya kasih seorang ibu kepada anak kandungnya.
Kembalinya Tiara dalam kehidupan nyata dinyatakan normal secara fisik oleh Tim dokter, namun tidak pada psikologisnya. Terapi dalam beberapa waktu mungkin dapat mengatasi traumanya. Sudah seharusnya, mengingat Tiara masih terlalu kecil untuk menerima apa yang terjadi padanya.
Bukan itu yang dimaksud Tiara. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Gadis kecil itu melihat kehadiran makhluk lain bukan manusia, dalam fase kehidupan barunya. Dokter mengatakan kepadanya bahwa ini semua hanya mimpi buruk. Tapi ia sadar, itu bukan mimpi!
Makhluk itu hadir tidak mengenal siang ataupun malam. Datang dan pergi seolah Tiara memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum bukan manusia. Ia belum dapat memahami perbedaan antara manusia dan bukan. Tak jarang ia melihat dan berbicara dengan “mereka” seperti biasa, namun yang tampak bagi orang lain hanya ruang kosong. Perlu waktu cukup lama bagi Tiara menyadari bahwa kini dirinya melihat makhluk halus. Sayangnya, tak satu pun percaya. Bahkan dari apa yang ia katakan, hanya menambahkan tanggapan miring tentang dirinya.
__ADS_1
Lega rasa hati Tiara saat dikatakan bahwa Tante Vanie dapat memahami kondisinya. Setiap kali iamemberitahu ada “yang lain” menatap atau mendekatinya, adik ibunya itu segera menanggapi dengan halus dan mengajak Tiara berdoa. Walau pada akhirnya, Tiara menyadari Tante Vanie tidak merasakan hal yang sama. Setahun waktu yang cukup lama bagi gadis kecil itu untuk menyandang status “pelanggan istimewa” beberapa klinik psikiater di Jakarta. Trauma pascakecelakaan menjadi kesimpulan dan catatan tebal atas kejadian yang menimpanya. Sampai akhirnya, Tiara memutuskan memendam semua untuk dirinya sendiri.
\~\~©\~\~
Tiara menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar tidak seperti anak seusianya. Homeschooling menjadi jalur pendidikan pilihan terbaik saat itu. Keputusan yang tepat untuk menghindari omongan orang lain tentang keluarga dan kondisi Tiara.
Memasuki fase kehidupan sebagai remaja, bersekolah dengan seragam putih biru pun menjadi pilihan mantap
bagi Tiara. Dengan segala kekuatan mental dan fisik yang ia miliki, ia memutuskan kembali pada kehidupan sosial yang normal pada masanya, berangkat ke sekolah seperti lainnya. Pertimbangan yang membutuhkan waktu lama untuk Tante Vanie menyetujui permintaan Tiara. Hanya sekarang saatnya, segenap keberanian sudah dikumpulkan hanya untuk saat ini!
Semangat untuk menjalani hari terpancar dalam setiap langkahnya. Ia ingin hidup normal. Tidak ada yang berubah pada pandangan orang tentang dirinya. Dia masih Tiara Angelica yang penuh senyum dan pintar. Hanya saja, ia menjadi tidak mudah mempercayai orang lain. Remaja ceria ini cenderung introvert. Ia bersahabat untuk menjaga status sosialnya, selebihnya ia lebih senang menutup diri. Memendam pikiran dan perasaan sendiri lebih baik untuknya. Begitu pula rahasia tentang kemampuan berkomunikasi dengan hantu. Tidak ada yangdisampaikan kepada sahabat dekatnya. Ia terlalu khawatir akan dicemooh atau bahkan dianggap mengalami gangguan mental setelah kecelakaan. Mungkin lebih baik ia simpan semua sendiri.
Usianya yang terbilang sangat muda untuk memahami dan mengendalikan kekuatan yang tiba-tiba ia miliki. Mungkin orang lain mendapatkan ini karena keturunan, namun ia mendapatkannya karena kecelakaan. Terdengar tidak adil bagi Tiara. Tahun demi tahun bergulir, namun hal ini semakin terasa berat baginya. Terlebih lagi tak ada orang yang dapat diajak berdiskusi tentang hal ini. Tidak juga Angga yang berbeda usia lima tahun lebih muda darinya.
Penampilan fisik didukung inner beauty yang juga cantik, membuka peluang bagi Tiara menapaki karir sebagai model. Perjalanan itu dimulai saat ia masih kuliah tingkat akhir Fakultas Hukum pada salah satu Universitas Swasta terkemuka di Jakarta. Beberapa rumah produksi pun menawarinya untuk membintangi serial drama bahkan film. Ia menolaknya. Hingga saat ini, ia hanya mengambil tawaran untuk beberapa iklan, menjadi fotomodel dan brand ambassador beberapa produk. Beberapa tahun kemudian, wajahnya masih menghiasi dunia hiburan. Ia belum lengser dari posisinya
Popularitas semacam ini menjadikan Tiara primadona di semua kalangan. Sayangnya, keberuntungan itu bertolak belakang dengan jodohnya. Tak mudah baginya mencari belahan jiwa, tidak dengan indra keenam ini. Sudah beberapa kali ia mengalami kegagalan dalam asmara, bahkan sebelum ia memulainya. Kisah cintanya yang terakhir masih menyisakan goresan tajam. Kebahagiaannya saat itu harus kandas terlatarbelakangi oleh masalah “penglihatan” ini.
Ya Tuhan, ini anugerah atau masalah?
Tiara menguatkan hati saat memutuskan untuk hidup sendiri. Tante Vanie tak henti menangis saat Tiara memutuskan tinggal terpisah, walaupun masih di kota yang sama. Sang tante sangat khawatir akan kesehatan dan keselamatan keponakan kesayangannya itu.
“Tante, Panglima Polim ke Kuningan itu deket. Jangan nangis terus, donk, Tante,” ucap Tiara saat menyampaikan bahwa ia sudah mendapatkan lokasi tempat tinggalnya yang baru. Ia duduk di samping Tante Vanie yang terlihat tidak setuju dengan keputusan tersebut.
“Iya, Tante tahu. Makanya ngapain pindah,” jelas Tante Vanie tidak mau kalah.
__ADS_1
“Hihihi … Tante. Saat ini Tiara banyak kegiatan, pulang malam. Kadang berangkat pagi buta. Kasihan Tante terganggu. Apalagi kalau infotainment nongkrongin rumah. ‘Kan, nggak enak.”
“Ini, ‘kan, rumah kamu sama Angga. Kenapa kamu yang pergi?” Tangan yang sudah menampakkan kerutan
menggenggam tangan Tiara dengan hangat.
“Apa sih, Tante? Ini rumah kita bersama. Kok Tante ngomong gitu. Tante sudah menjadi mama buat kita.” Tiara memeluk Tante Vanie. Wanita paruh baya yang masih cantik itu semakin tidak dapat membendung tangisnya, terisak-isak di bahu Tiara yang mungil.
“Bagaimana kamu bisa tinggal sendiri? Nggak ada temen. Kalau ada apa-apa, bagaimana? Kalau kejadian
seperti waktu itu, bagaimana? Kalau ….” Ratusan pertanyaan terlontar tak berhenti.
Tiara memotong, “Tenang, Tante! Tiara sudah tahu bagaimana menanganinya. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Masa Tiara nggak belajar dari pengalaman.”
“Tante sudah lebih dari setengah abad, masa ditinggal sendiri,” bujuk Tante Vanie seraya menghapus tetesan air mata yang mengalir di pipinya yang memerah. Tiara tersenyum sambil melirik Angga. Adik laki-lakinya itu langsung datang memeluk Tante Vanie.
“Angga nggak dianggap, ya, Tante?” ucap Angga manja kepada tante kesayangannya.
“Ah, kamu, sih, bujangan gaul. Nggak mungkin betah di rumah. Cowok ganteng di Teknik Mesin. Susahlah!” ucap Tante Vanie sedikit ngambek.
Setelah melewati beberapa jam pembicaraan panjang, Tiara berhasil meyakinkan Tante Vanie bahwa ia akan baik-baik saja. Tak henti sampai di situ, wanita kesayangannya itu masih terus menyampaikan petuah dan bacaan doa. Ia bahkan mempersiapkan khusus sekotak besar yang berisi obat-obatan kepada Tiara.
Pemilihan interior sudah dilakukannya bersama Mbak Nana. Manager kesayangannya itu sudah menyelesaikan pemindahan barang pribadi Tiara ke apartemen yang berlokasi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Tinggal beberapa minggu lagi Tiara memulai petualangan baru dalam kemandiriannya.
Semoga keputusan untuk pindah ini adalah benar!
__ADS_1