
Langit malam yang gelap sudah menunjukkan waktu sudah semakin larut. Ia mematikan tayangan televisi yang sedang ditontonnya. Tiara segera meninggalkan ruang tengah menuju ke kamarnya. Besok pagi ada kegiatan pemotretan, ia harus segera istrirahat jika tidak mau wajahnya terlihat kusam dan membentuk ‘mata panda’.
Perawatan wajah sebelum tidur sudah selesai dilakukan. Tiara mematikan lampu di dalam kamarnya mengganti dengan lampu yang berada di atas meja nakas kecil di samping tempat tidurnya. Ia mengenakan masker matanya sebelum tidur.
Napasnya terasa sesak. Seolah ia terhimpit di antara dua benda yang sangat besar. Ia merasakan ada yang berbeda malam ini dari malam-malam sebelumnya. Ia kembali melafalkan doa dan segera merapatkan diri dengan selimut hangatnya.
Suara apa ini? Suara yang terdengar pelan namun mengganggu itu berada di dalam kamar Tiara. Ia mengangat penutup matanya yang menghalangi pandangannya. Mulai membuka matanya perlahan.
Tidak dapat dipercaya apa yang ia pandangi saat ini. Sosok wanita berambut panjang melayang tepat diatas tubuhnya. Tubuh hantu itu seolah akan menimpanya. Tiara tidak mampu berteriak, suaranya seolah sudah terbenam jauh di dalam tenggorokannya.
Sosok wanita ini sangat menakutkan. Kulit pucat, salah satu sudut bibirnya berdarah. Bentuk mukanya yang lonjong semakin mendramatis kepedihan yang terpancar dari wajahnya. Rambutnya yang panjang turun ke bawah, menyentuh tangan dan wajah Tiara. Wajah wanita ini hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Tiara. Tubuhnya tertutup dengan pakaian putih panjang yang melintang panjang persis diatas tubuh Tiara.
Ya, Tuhan! Tolong aku! Tolong, Tuhan! Tiara tidak henti-hentinya berteriak dalam hati. Tubuhnya terasa terpaku pada kasur. Ia tak mampu bergerak, ia pun tak mampu memejamkan mata.
Perlahan, wanita yang menakutkan ini membentangkan tangannya. Ukuran tangannya tidak sesuai denga tubuhnya. Tangannya memanjang dengan sendirinya. Wanita ini kelihatan semakin besar. Hampir menutupi seluruh padangan Tiara.
Sttttt ….
Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih kencang. Menandakan sumber suara semakin dekat. Suara itu bukan berasal dari wanita ini, seolah ada makhluk lain selain wanita menyeramkan yang menutupi semua pandangan Tiara.
Aroma melati yang berasal dari makhluk ini semakin menusuk ke dalam penciuman. Tubuh Tiara menggigil, tangannya bergetar. Matanya meneteskan air mata perlahan, mengalir ke arah telinganya. Matanya tidak sekalipun dapat terpejam. Jantungnya berdetak semakin kencang.
Temaramnya lampu menegaskan wajah hantu itu yang tidak bersahabat. Saat ini, sudut mata wanita itu terangkat, wajahnya terlihat berbeda. Bukan wajah yang menyenangkan, semakin menakutkan. Ia pun mulai tertawa.
Hihihi ….
Suara cekikikannya yang melengking terdengar menggema di seluruh ruangan kamar, membuat suasana semakin menakutkan.
__ADS_1
Hihihi ….
Ia kembali tertawa, saat ini wajahnya semakin nampak jelas di mata Tiara. Ia menampakkan seluruh giginya saat mulutnya terbuka lebar bersama tawanya. Matanya memancarkan sinar kemarahan menandakan ia tidak menyukai Tiara.
Wanita itu melayang memberi jarak antara dirinya dan Tiara. Ia melayang menjauh tanpa memalingkan wajahnya dari Tiara. Kini ia berada di pojok langit-langit ruangan. Tiara bernapas dengan cepat, ia berusaha menggerakkan tangan dan tubuhnya, namun semua terasa sangat lemas seperti tidak memiliki tenaga lagi. Ia hanya mampu melafalkan doa dalam hati, meminta Tuhan melindunginya.
Tak lama, sosok besar dan hitam turun menghampiri ke dalam ruangan dengan menembus tembok. Sosok itu sangat besar, kepalanya menyentuh langit-langit kamar Tiara. Bau busuk yang menyengat semakin menyesakkan. Sosok ini hanya berdiri tegak tepat di bawah ranjang Tiara.
Ya, Tuhan. Apa lagi ini? Tuhan! Aku tak sanggup. Tiara mengencangkan doanya dalam hati. Jerit hatinya seolah tidak didengar oleh yang Maha Kuasa.
Beberapa makhluk lain muncul di dalam kamarnya. Seolah mereka sedang berkumpul untuk mengunjungi Tiara. Sosok yang bertengger di langit-langit kamar Tiara menunjukkan tatapan tajam yang menakutkan. Ada pula yang berada di depan pintu seolah menghalangi Tiara untuk lari dari kamar ini. Suasana semakin menegangkan dengan hadirnya beberapa makhluk halus lainnya.
Stttt….
Suara desahan dari makhluk yang belum diketahui wujudnya ini terdengat lagi. Terdengar jelas seolah hendak menerkam mangsa yang berada di hadapannya. Sesuatu dengan desisan panjang seperti ular muncul dari bagian bawah ranjang Tiara. Ia muncul bersama kabut tipis berwarna hitam. Wujudnya sangat menakutkan. Makhluk berwarna hitam itu tidak dapat dilukiskan. Tampak jelas bagian matanya berlubang, terlihat masuk hingga ke bagian belakang kepalanya. Ia merangkak dari bawah tempat tidur hendak menunjukkan sosok seutuhnya. Tubuhnya sangat panjang, semua tertutup kabut gelap. Desis itu terdengar semakin menakutkan. Lidahnya panjang keluar hingga menyentuh lantai.
Seketika, sebuah sosok hadir di samping Tiara. Menyentuh tangannya, memberikan kekuatan kepada Tiara untuk kembali membuka matanya.
Saniah! Ia ada di sini untuk Tiara.
Tiara memandangi wajah Saniah yang tampak semakin serius dengan tatapan tajam tertuju kepada satu demi satu makhluk yang berkerumun dalam kamar ini. Matanya yang cekung dan hitam terlihat kontras dengan kulit wajahnya yang pucat. Mungkin menakutkan bagi yang memandangnya, tidak bagi Tiara.
Satu per satu, ‘tamu’ yang tadi berkunjung di dalam ruangan ini pergi tanpa pamit kepada Tiara. Sosok wanita berpakaian putih panjang itu tidak bergerak dari posisinya. Ia tertawa semakin kencang, menusuk gendang telinga. Ia berputar-putar memenuhi langit-langit kamar. Melayang rendah mendekati Tiara dan Saniah. Ia pun kembali melayang tepat di atas tubuh Tiara. Wajah wanita itu kini semakin dekat dengan wajah Tiara, hanya berjarak beberapa centimeter. Rambut wanita itu sudah memenuhi seluruh wajah Tiara. Tiara memejamkan mata tidak sanggup melihat.
PLAK!
Seketika suara tamparan terdengar. Tiara membuka mata. Saniah marah seraya menampar hantu itu. Seolah mereka bicara dengan batin yang tidak diketahui oleh Tiara, hantu kuntilanak itu menghilang. Tiara menghela napas panjang, lalu hilang kesadaran.
__ADS_1
Tiara terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka menatap suasana sudah berubah. Cahaya masuk melalui sela-sela tirai yang sedikit terbuka. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Tiara menatap sekeliling, mendapati Saniah duduk di sampingnya seraya menggenggam tangannya.
“Saniah,” ucap Tiara pelan memastikan identitas sosok yang berada di dekatnya.
“Iya, Ara,” jawab Saniah lembut. Tangannya yang biasanya menembus jika bersentuhan dengan Tiara, kali ini terasa seperti kenyataan.
“Tadi … Apa mimpi?” tanya Tiara sambil menyentuh keningnya pelan, seolah sedang mengingat yang telah terjadi.
“Mimpi apa, Ra?”
“Kok kamu di sini?” tanya Tiara dengan menatap Saniah tajam, terkesan akan memarahi sahabatnya karena masuk tanpa izinnya.
“Kamu teriak, Ra. Aku lihat kamu dia atas tempat tidur ketakutan.”
“Huh! Syukurlah! Tandanya hanya mimpi, ‘kan?” tanya Tiara sambil tersenyum. Ia membenarkan posisi tidurnya menjadi posisi duduk, bersandar pada headbord tempat tidurnya. Ia mengangkat kedua tangannya, dan menatap keduanya sambil membalik-balikkan pergelangan tangan.
“Ehm … Bukan! Sayangnya itu bukan mimpi, Ra.” Ucapan terakhir Saniah membuat Tiara terpaku dan sontak melirik kepada Saniah. Hantu wanita itu hanya tersenyum tipis.
“Kamu tahu nggak, aku benci sekali dengan hantu!” Ia menangis dan segera memalingkan wajahnya dari Saniah. Sahabatnya hanya tertawa menatap Tiara yang semakin ketakutan.
Sepanjang malam, Tiara mengizinkan Saniah menemaninya di dalam kamar. Lebih tepatnya berharap ia menjaganya melewati malam yang pasti akan terasa lebih panjang daripada seharusnya.
Ya, Tuhan! Mereka tidak henti mengganggu. Kumohon, Tuhan! Aku ingin hidup normal.
__ADS_1