
Sang mentari menempati posisinya di singasana. Siang itu sangat terang dan panas. Kegiatan hari ini cukup padat. Pemotretan hari ini sangat melelahkan. Bukan hanya karena cuaca yang cukup panas, tapi juga karena tidur yang tidak nyenyak semalam. Untunglah semua dapat selesai dengan apiknya.
Mbak Nana dan Tiara sudah nyaman berada dalam mobil MPV premium yang mulai melaju. Tiara meletakkan kepalanya pada sandaran kursi deretan tengah. Ia tampak sangat penat. Mbak Nana duduk di sampingnya.
“Mbak Nana, boleh nggak kalau kita istirahat dulu sebelum pulang?” pinta Tiara.
“Boleh dong, Say. Mau kemana? Spa, salon, belanja? apa?”jawab Mbak Nana cepat.
“Hair spa, yuk, Mbak. Biar kepalanya dipijat, jadi relax. Salon dekat apartemen aja.”
“Boleh. Yuklah! Lagian cleaning service nya sepertinya juga belum selesai di apartemen, jadi kita masih bisa santai, biar pas pulang kamu bisa langsung istirahat,” ucap mbak Nana seraya membaca pesan di Whatsapp. Manajer wanita itu melirik Tiara dan tersenyum. Lalu segera menyampaikan beberapa perintah kepada pengemudi.
Hari ini, Mbak Nana menyewa jasa petugas kebersihan untuk membantu merapikan unit Tiara. Ia tidak ingin Tiara merasa tertekan dengan mengerjakan semua pekerjaan rumahnya sendiri. Ia tak ingin waktu Tiara dihabiskan untuk membersihkan dan merapikan unit apartemennya daripada digunakan Tiara untuk istirahat. Seperti saran Mbak Nana yang selalu ia selipkan dalam setiap kesempatan.
Lima belas menit berlalu. Mobil berwarna hitam metalik itu pun telah tiba di salah satu pusat perbelanjaan di sekitaran jalan HR Rasuna Said. Pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi ini tidak terlalu luas, dikelilingi oleh gedung perkantoran.
Salon kecantikan khusus wanita itu cukup sepi dari pengunjung. Tak jarang beberapa orang lalu lalang di sekitar tempat Tiara dan hendak menyapa. Tiara memejamkan mata, menikmati pijatan kapster yang merawat rambut panjangnya. Mbak Nana yang duduk di sebelahnya sesekali mengangkat telapak tangannya dengan sopan ke pengunjung mengisyaratkan untuk tidak mengambil gambar Tiara.
Rambut panjang berwarna cokelat itu pun tertata indah dengan gelombang di bagian bawahnya. Tiara sangat menikmati me time-nya bersama Mbak Nana saat itu. Mereka pun menyempatkan diri untuk memesan kopi di sebuah coffe shop untuk dibawa pulang.
Saat menunggu minuman yang mereka tersaji, Mbak Nana memberanikan diri bertanya kepada Tiara, “Ara, ada tawaran film. Mau dilihat dulu?”
Sebenarnya Mbak Nana sudah paham apa yang akan dijawab oleh Tiara. Tiara hanya terdiam sambil mengambil tiga buah cangkir kertas yang disodorkan oleh barista yang mengenakan celemek berwarna hijau.
“Penulis skripnya terkenal. Filmnya selalu booming. Kemarin sih aku sempat baca…,” ucapan Mbak Nana terhenti melihat wajah Tiara yang sudah mulai tidak menyukai percakapan tersebut.
“Pengen sih, Mbak Na. Tapi malas gangguannya. Kalau film atau drama syutingnya memakan waktu lama. Aku takut belum bisa mengendalikan diri aku sendiri. Masih takut.”
“Iya, Ra. Maaf, ya, Ra.”
Tiara tersenyum, menatap Mbak Nana yang berada disampingnya dan memeluk lengannya manja.
“Belum siap kayaknya, Mbak. Mbak Nana masih sabar sama aku, ‘kan?” ucapnya sebagai jawaban sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Mbak Nana yang lebar sambil berjalan menuju lobi. Mbak Nana membalas memeluk Tiara yang berada disebelahnya.
“Iya, Ara. Sabar, dong. Aku sayang sama kamu kayak adik sendiri,” sahut Mbak Nana.
Teras bagian depan pusat perbelanjaan itu cukup lengang dari pengunjung. Matahari mulai meredup, menandakan sudah masuk waktu senja. Kedua wanita itu menunggu supir menjemput di tempat mereka berada. Mbak Nana mengakhiri bicara melalui telepon selulernya, sedangkan Tiara menikmati seruput caffe latte dari cup berukuran grande yang ia genggam.
“Hai, Mbak!” suara seseorang yang terdengar di sebelah Mbak Nana.
Tiara masih tertunduk berusaha menghindari percakapan.
Mbak Nana menoleh ke arah sumber suara dan menjawab, “Iya?”
“Mbak … Mbak yang itu. Masih ingat saya?”
Tiara bergeming dan Mbak Nana mulai menghalangi sosok Tiara dengan tubuhnya.
“Mbak yang bawa kantong plastik hitam, kita tetangga, ‘kan?”
Tiara tertegun dan langsung melempar pandangan pada sosok yang memanggilnya. Pria itu berjarak beberapa meter dari Tiara dan Mbak Nana.
Ia tersenyum geli menatap pria itu. Yah, pria yang ia temui di lift apartemen.
“Hai!” Pria itu mulai melambaikan tangannya.
“Halo, Mas!“ jawab Tiara. Mbak Nana bergeser dari posisinya agar tidak menghalangi pandangan mereka.
“Malah ketemu di sini, ya. Penampilan berbeda.”
“Hahaha … Maaf atau terima kasih, ya?” ujar Tiara sambil tertawa manis, walau sedikit menyindir. Pria itu tertawa.
Mobil hitam metalik tiba di hadapan mereka, berhenti dan membuka pintunya.
“Saya duluan, ya, Mas.” Tiara dan Mbak Nana masuk ke dalam mobil. Pria itu melambaikan tangannya saat pintu mobil mulai tertutup.
__ADS_1
“Siapa, Ra?” tanya Mbak Nana yang duduk di sebelah Tiara. Tiara masih terdiam tersenyum memandangi tulisan di cangkir kopinya. Have a nice day, Kak Tiara!
“Raaa ….” Sentuhan tangan Mbak Nana mengagetkan Tiara.
“Eh, Iya, Mbak?”
“Siapa, Ra? Ganteng!” ucap Mbak Nana sambil menyerahkan satu cangkir kopi kepada supir yang duduk di bagian depan.
“Oh, penghuni apartemen … Satu tower … Lantai tujuh belas …,” jawab Tiara masih memandangi cangkir kertas di tangannya.
“Wow! Lengkap informasinya. Sudah dekat nampaknya,” ucap Mbak Nana menggoda.
Tiara tersentak dengan ucapannya Mbak Nana, dan menyadari jawaban sebelumnya.
“Eh, Nggak gitu Mbak. Ehm … Kita cuma sempat ketemu di lift,” jawab Tiara sedikit gagap. Mbak Nana pun tertawa dan menepuk tangan Tiara lembut.
“Gpp kali, Ra. Selain tampan, penampilannya juga bagus. Di apartemen yang sama. Tandanya pekerjaannya bagus juga, Ra. Mungkin waktunya kamu punya pacar.”
“Ih … Mbak Nana,” ucap Tiara sedikit merona.
Nyaris enam tahun Tiara menyandang gelar single. Bukan karena ia belum bisa move one, tapi karena belum sanggup menceritakan tentang kemampuannya kepada orang lain. Kekhawatirannya terlalu besar. Pengalaman pahit dari kekasih terakhirnya masih menyisakan noda dalam hati. Saat Tiara berusaha jujur tentang dirinya, ia malah ditinggal oleh lelaki itu. Mungkin saat itu masih terlalu muda, belum ada kedewasaan dalam hubungan kita, pikir Tiara membela Alex.
Mbak Nana dan Tiara tiba di lobi apartemen yang besar dan terang. Mereka memasuki unit 102 dan beristirahat sejenak. Mbak Nana mulai membereskan perlengkapan Tiara ke tempat semula dalam kamarnya. Beberapa pakaian ia masukkan ke laundry bag dan siap untuk dicuci.
Tiara merebahkan tubuhnya ke atas kursi, matanya terpejam menikmati tenangnya suasana ruangan itu.
“Kenapa, Ra? Capek banget, ya?”
“Capeeek banget!” jawab Tiara.
Tiba-tiba Mbak Nana berteriak dari dalam kamar Tiara. “Kenapa, Ra? Ngomong apa?” Tiara terperanjat dan memandang ke belakang tempat duduknya. Ternyata suara Saniah.
“Nggak, Mbak. Nggak ada apa-apa!” teriak Tiara.
Sepertinya Tiara terlalu lelah hingga tidak menyadari perbedaan suara Saniah dan Mbak Nana. Saniah memandangi Tiara dengan lembut.
“Mbak, tadi waktu ketemu sama cowok tadi … hmm …,” tanya Tiara sedikit ragu.
“Apa?” jawab Mbak Nana cepat.
“Dia sendirian atau berdua?” tanya Tiara sambil menyengir.
“Sendirian,” jawab Mbak Nana pelan. Tangannya menggenggam botol dengan sedikit keras, seolah merasa bersalah dengan jawabannya. Tiara menghela napas dan menutup matanya dengan tangan.
“Kayaknya kamu lelah banget, ya, Ra. Istirahat deh!” ucap Mbak Nana berusaha menenangkan.
Tiara memastikan siapa yang menjadi lawan bicaranya sebelum menjawab. “Iya Mbak Nana. Aku tidak fit sepertinya. Lelah banget!”
“Aku pulang, ya, Ra. Kamu istirahat. Semua sudah rapi, kok.” Wajah Mbak Nana menampilkan senyum penuh iba. Pelukan hangat dari Mbak Nana mendarat ke tubuh Tiara. Beberapa tepukan terasa di punggung dengan lembut. Saniah pun turut memeluk Tiara dari belakang, walau tubuhnya menembus kedua tubuh wanita yang sedang menjadi satu itu.
Tiara kembali memeluk erat manajernya dan berbisik lembut, “Thank you so much.” Ia memang sangat membutuhkan dukungan moral dari semua orang saat ini, termasuk Mbak Nana.
“Mbak, barang endorsement udah aku masukin kotak, boleh tolong kembalikan, ya,” ucap Tiara saat Mbak Nana melepaskan dekapannya. Mbak Nana mengangguk dan pamitan sambil menepuk bahu Tiara. Tiara melambaikan tangannya.
“Cowok mana, Ra?” tanya Saniah mengiringi kepergian Mbak Nana.
Tiara masih terdiam memastikan Mbak Nana sudah meninggalkan unit apartemennya. Keberadaan Saniah masih dirahasiakan dari Mbak Nana.
“Kemarin pernah ketemu waktu ambil surat. Pagi-pagi. Trus tadi ketemu lagi di mal,” jawab Tiara buka suara.
“Penghuni sini dong. Cakep, Ra?” tanya Saniah dengan nada centil.
“Lumayan … menarik,” ucap Tiara sedikit tersenyum.
“Manusia, ‘kan?” tanya Saniah lagi. Kali ini Tiara terdiam agak lama, ragu menceritakan kepada Saniah.
“Satu manusia, tapi sepertinya satunya … bukan!” akhirnya Tiara menjawab sembari mengingat.
__ADS_1
“Yah, mungkin yang satu lagi hantu yang ada di mal,” ucap Saniah asal, namun menenangkan Tiara. Tiara mengedikkan bahunya.
“Aku mandi dulu. Awas kalau ganggu, ya. Ingat! Nggak ada masuk ke kamar aku sembarangan,” kecam Tiara sambil menudingkan jari telunjuk kearah Saniah. Saniah pun tersenyum geli.
...©...
Waktu dari jam dinding di atas televisi menunjukkan pukul empat sore. Tiba-tiba Tiara mematikan suara dari tayangan infotainment di televisinya. Ia beranjak dari sofa, berlari kecil menuju balkon, dan menatap ke jalanan yang berada di lantai dasar. Terlihat mobil ambulan yang melintas dari basemen tower apartemen. Tidak bersuara namun cukup menyita perhatiannya.
Sembari memegang pagar balkon dengan tangan kirinya, ia melambaikan tangan kanannya ke arah mobil tersebut. Mobil putih itu adalah angkutan jenazah milik salah satu Yayasan Rumah Duka di Jakarta. Mata Tiara terlihat sedih namun ia paksakan untuk tersenyum. Sebuah tangan turut melambai di sebelah Tiara. Tangan putih sedikit pucat milik Saniah juga menemani Tiara melepas kepergian salah satu tetangga Tiara tersebut.
“Selamat jalan, Om Jonathan. Bule ganteng favorit kita sudah mendahui, tanpa pamitan dahulu,” ujar Saniah memecahkan keheningan. Tiara memandangi sosok wanita di sebelahnya.
“Tiara, ada yang mau sampaikan dari tadi … Ada ...,” ucapan Saniah terhenti saat melihat wanita disebelahnya mengembuskan napas, menatap kesal. Ia pun merasa bersalah dan menunduk di hadapan Tiara.
“Udah, ya. Aku lagi nggak mau ngobrol. Lelah,” ucap Tiara dengan nada malas. Mulut Saniah menganga seolah ingin menyampaikan sesuatu, namun Tiara memotong sebelum Saniah berbicara.
“Aku mau masuk. Anginnya kencang,” ucap Tiara terdengar sedikit tidak bergairah. Saniah mengangguk. Angin yang berembus saat itu memang cukup kencang. Didukung dengan matahari yang bersembunyi di balik awan. Menambah redupnya cuaca sore yang sedih ini.
“Suasana hati aku lagi nggak bagus. Jangan ganggu dulu, ya! Aku lagi mau jadi orang normal,” ujar Tiara berlalu meninggalkan Saniah di balkon. Saniah pun segera mengikuti Tiara yang masuk ke ruangan tengah.
Om Jonathan dan Tante Suzy adalah pasangan kesayangan Tiara di tower ini. Tiara sangat akrab dengan Tante Suzy. Wanita bule paruh baya itu menganggap Tiara seperti anaknya. Sering kali Tante Suzy mengirimkan makanan buatannya untuk Tiara. Gadis itu pun membalas dengan hadiah yang unik dan bernuansa etnik. Om bule ganteng ini sangat suka dengan yang berbau etnik. Pasangan ini hanya tinggal berdua di apartemennya. Mereka yang selalu mesra walau telah menikah puluhan tahun dengan usia yang cukup tua. Tiara merasakan duka yang cukup mendalam kehilangan Om Jonathan.
Tiara kembali ke sofa, dan menikmati empuknya tempat duduknya. Sesaat ia terdiam dan berkata pada dirinya sendiri. Pelan.
“Kemarin yang aku lihat di lobi … Yah, seharusnya aku sudah paham …,” Tiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menarik napas panjang.
Saat ia membuka matanya, ada Saniah di dekatnya.
“Kemarin lihat siapa?” ucap Saniah penasaran.
Tiara menatap Saniah, terdiam sesaat. Pandangannya kosong. Lalu menjelaskan, “Kemarin aku lihat Om Jonathan di lobi. Aku sempet lambaikan tangan, Om diem aja. Ya, karena sudah dijemput Mbak Nana, aku langsung jalan aja. Aku pikir dia lagi nunggu Tante Suzy. Mungkin saat itu Om ….”
Saniah terdiam, merasa ikut terharu mendengar penjelasan Tiara.
“Kenapa aku belum bisa juga membedakan nyata dan tidak nyata. Kalau kamu melihatnya, bagaimana? Apa bedanya?” lanjut Tiara sedikit penasaran memandang Saniah.
“Ara, saya tidak tahu apa wujud yang Tiara lihat. Mungkin berbeda wujud yang ditampilkan mereka ke Tiara dengan yang saya lihat. Kalau di mata saya, semua dengan sosok asli mereka,” ucap Saniah berusaha menjelaskan.
“Wujud asli? Maksudnya?” Tiara menatap Saniah dengan seksama berusah mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Kepalanya sedikit dicondongkan, telinga sebelah kirinya lebih maju. Ia ingin mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkan sahabatnya.
“Wujud asli. Semua seram! Dengan darah, gigi tajam, lidah menjulur ….” Mata Saniah menerawang membayangkan yang disebut olehnya. Ia menunjuk satu per satu jari seolah sedang berhitung
“Sudah. Sudah paham. Jadi yang semua aku lihat semalam, kan?” potong Tiara sambil menggerakkan bahunya tanda ketakutan. Saniah hanya tersenyum.
“Oh ya, kenapa mereka semua tiba-tiba berkumpul di kamarku? Arisan? Serem banget!” Tiara mengelus bahunya dengan telapak tangannya yang bersilang. Tiara pun mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Ia masih dapat membayangkan apa yang terjadi semalam.
“Terima kasih, ya,”ucap Tiara lembut memandang Saniah. Ucapan tulus Tiara terpancar dari sorot matanya. Saniah tersenyum dan menyentuh bahu Tiara. Kali ini jemari Saniah menembus tubuh Tiara.
“Saya juga tidak tahu apa yang terjadi. Entah apa yang membawa mereka ingin bertemu dengan kamu. Mungkin mereka dapat mencium wangi harum dari kemampuanmu. Mungkin kemampuanmu semakin bertambah. Kaum kami mencium aroma harum sehingga mengetahui manusia yang dapat melihat hantu. Saya juga sebenarnya tidak dapat mengusir mereka. Tapi entah bagaimana saya memiliki kekuatan untuk melindungi kamu.,” tutur Saniah.
“Wangi harum? Seharusnya aku tidak pakai parfum.” Tiara tertawa berusaha menenangkan dirinya.
“Bagi manusia seharusnya dapat melihat aura dari kami,” lanjut Saniah
“Aura? Belum tahu. Seperti apa?” Tiara lebih tertarik dengan kalimat Saniah yang terakhir.
“Sepertinya … bukan saya yang bisa kamu tanyakan tentang hal ini, Tiara. Saya tidak terlalu paham tentang aura. Saya bahkan tidak tahu bagaimana penampilan saya sendiri. Saya tidak dapat melihat diri saya sendiri dalam pantulan cermin,” ucap Saniah dengan sendu.
Beberapa waktu mereka tenggelam dalam diam, akhirnya Saniah berucap, “Coba, deh, Ra! Jika kamu bertemu dengan kaum saya suatu saat nanti, kamu diam memandangi dengan seksama. Mungkin kamu akan tahu bedanya. Soalnya saya masih penasaran kenapa kamu tiba-tiba mendapatkan kelebihan ini, padahal tidak ada keturunan. Pasti ada tujuannya, ‘kan, Ra. Mungkin kamu harus membantu mereka, mendoakan mereka? Apalagi sepertinya kemampuan kamu bertambah.”
“Wow! No, thank you! Semalam saja aku berasa mau mati. Habis napas aku melihat mereka, apa lagi harus menolong? Seriously?” Tiara memalingkan muka dari Saniah. Ia pun menghela napas dengan keras. Berusaha menenangkan dirinya.
Saniah terdiam terlihat sedikit kecewa. Memang sejak awal Tiara tidak menginginkan Saniah bercerita tentang masa lalunya. Ia takut memiliki beban untuk membantu Saniah menyelesaikan masalahnya di dunia.
Tiara selalu beranggap bahwa Saniah pasti dahulu hidup sebagai wanita yang berpendidikan. Penampilannya yang modern dan tutur kata yang sopan. Ia bijak dalam memberikan pendapat. Ada penasaran dalam hati Tiara, namun ia tidak ingin menanyakannya.
Seandainya memang benar ada maksud Tuhan memberikan kemampuan ini … Sehingga Tiara menganggapnya sebagai anugerah bukan beban.
__ADS_1