MEMANDANG (Dari) JAUH

MEMANDANG (Dari) JAUH
Pindah


__ADS_3

Beberapa bulan sebelumnya, Tiara dan manajernya sibuk mengunjungi calon tempat tinggal baru. Tidak sedikit lokasi yang mereka datangi. Tidak jarang pula apartemen yang bagus menarik hati Tiara. Namun, ia berubah pikiran saat melihat ke dalamnya. Beberapa unit yang sudah lama tidak ditinggali oleh pemiliknya ternyata sudah “dihuni” oleh lainnya. Satu … dua … bahkan ada yang sudah membentuk group kecil di dalamnya. Penuh dengan sosok tak kasat mata. Lebih baik tidak berurusan mereka.


“Kurang Pas!” Hanya itu yang Tiara sampaikan kepada Mbak Nana saat ditanya tentang tempat hunian yang baru mereka kunjungi. Tanpa banyak pertanyaan, manager wanita itu mencoba memberikan alternatif apartemen yang lain.


Akhirnya … apartemen ini! Tempat ini cukup eksklusif. Tidak banyak unit dalam satu towernya. Biaya sewanya cukup mahal, namun sebanding dengan kenyaman dan keamanan yang diberikan. Sebenarnya bukan itu alasan utamanya, Tiara langsung memilih tempat ini. Beberapa kali ia kunjungi unit apartemen ini, ia tidak merasa ada


kejanggalan apapun. Tidak pula ada sosok lainnya yang menunggunya di sana. Aman!


Mbak Nana cukup senang akhirnya mereka mendapatkan yang sesuai. Wanita yang berbeda usia hampir sepuluh tahun dari Tiara ini sudah menjadi kakak baginya. Telah lebih dari enam tahun mereka bersama melalang buana di dunia hiburan. Manager ini sangat mengerti kemauan Tiara, bahkan hubungan mereka lebih dari saudara kandung. Tiara sangat nyaman bersamanya, begitu pula sebaliknya. Mbak Nana adalah orang kedua yang mengetahui rahasia “perhantuan” ini selain Angga. Baginya yang terpenting melindungi dan menjaga Tiara, bagaimanapun caranya.


Unit Apartemen sudah siap untuk dihuni. Semua dinding bahkan langit-langit dicat berwarna abu-abu,warna kesukaan Tiara. Serasi dengan interior yang bernuansa monokrom. Foto dirinya yang berukuran sangat besar menghiasi salah satu sisi dinding di ruang tengah. Terdapat pula beberapa tanaman hias yang menghijaukan suasana. Beberapa diletakkan di balkon untuk mendapatkan cahaya matahari. Sofa empuk disediakan di depan televisi untuk bersantai. Semua sudah tersedia dengan apik oleh Mbak Nana.


 Kepindahan ini cukup membuat Tiara sedikit resah. Apakah sebenarnya tindakannya benar? Akhirnya gadis itu meminta adiknya untuk menemaninya tinggal bersama hingga beberapa waktu. Tiara menjalani kesehariannya dengan rasa nyaman. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama adiknya untuk mencoba mencari tempat makan yang baru di dekat tempat tinggalnya. Hubungan yang sempat renggang karena kesibukan Tiara pun lebih baik karena hal ini.


Tak terasa sudah dua pekan mereka menikmati apartemen itu. Matahari sudah berniat untuk kembali, langit jingga pun menjadi latarnya. Tiara membuka pintu kamarnya menuju ruang tengah. Ia menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore. Ia menggosok-gosokkan wajahnya untuk menyadarkan diri setelah bangun dari tidur


siangnya. Dengan kondisi yang belum sepenuhnya fokus, ia melihat seorang asing hadir diantara mereka.


Seketika mata Tiara tertuju pada wanita berperawakan tidak terlalu tinggi yang berdiri di balkon. Tiara terdiam dengan pandangan tajam menghadap ke wanita itu. Tiba-tiba saja angin kencang berembus, membuat rambut sebahu wanita itu tersibak dan menampakkan sebuah wajah.


“Siapa, ya?” tanya Tiara lantang.


“Siapa? Siapa?” Angga kaget, terbangun dari tidur lelapnya di sofa. Tiara berdiri terpaku. Angga segera beranjak dari tempatnya, merapatkan diri ke samping Tiara. Ia memfokuskanmatanya ke arah yang sama dengan pandangan Tiara, ke arah balkon.


Tiupan angin menggerakkan tirai dengan kencang. Pintu kaca menuju balkon terbuka cukup lebar. Sosok wanita itu sesekali tertutup oleh kain putih yang tersibak angin tersebut.


“Lu bisa lihat?” tanya Tiara pelan kepada Angga. Matanya tetap menatap sosok asing tersebut. Memastikan ia tidak berpindah tempat.


“Nggak. Di mana?” ucap Angga sambil menolehkan wajahnya ke semua arah. Tiara semakin yakin itu bukan manusia. Ia menarik napas dalam, mengatur detak jantungnya yang mulai tidak teratur. Tangannya mulai gemetar. Ia menggenggam tangan Angga untuk memastikan dirinya tidak tumbang.


“Kamu ... aku tidak takut dengan kamu. Silakan pergi! Aku yang tinggal di sini sekarang, bukan kamu,” tukas Tiara tegas menghadap sosok pendatang baru.


Sosok itu menoleh perlahan ke sumber suara. Sangat jelas terlihat ia tidak menapak tanah. Ia bergerak cepat mendekati Tiara. Melayang! Ia berhenti, beberapa meter dari posisi Tiara. Makhluk itu hanya terdiam terpaku di hadapan Tiara. Tatapannya kosong, kulitnya pucat, ada beberapa luka yang masih berdarah di kening dan beberapa bagian tangannya. Baju kebaya modern yang ia gunakan sudah tampak lusuh dengan darah yang mengotori pakaiannya. Wajahnya yang tanpa ekspresi menunjukkan ia berusia sekitar menjelang tiga puluhan awal. Tiba-tiba ia bergerak lebih dekat. Terlalu dekat! Kaki Tiara mundur selangkah. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam tangan Angga semakin keras, nyaris mencengkeram. Angga hanya terdiam masih mencari apa yang membuat kakaknya ketakutan.

__ADS_1


“Saya ….” Suara wanita itu terdengar mengema di ruang tengah. Tiara terkejut mendengarnya berbicara. Ia


masih belum yakin apa yang harus dilakukannya.


“Saya tinggal di sini.” lanjutnya. Kali ini nada suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Tiara menarik napas. Ia menatap dengan seksama sosok di hadapannya. Ia berpikir kerasdengan ucapannya selanjutnya.


“Maaf, ya! Saya yang tinggal disini. Keluar kamu dari tempat saya. Tempat kamu bukan di sini,” ketus Tiara dengan nada marah. Ia busungkan dadanya untuk menunjukkan keberaniannya melawan makhluk tak kasat mata itu. Angga pun ikut memperagakan hal yang sama, walau ia masih saja terdiam.


“Izinkan saya tinggal di sini. Saya tidak akan ganggu keluargamu.”


“Kamu sudah menggangu dengan penampakan kamu dihadapan kami.” Jari telunjuk Tiara menunjuk naik turun


ke arah tubuh wanita itu. Sosok itu terdiam dan menatap tajam. Jantung Tiara berdegup sangat kencang, seolah organ fital tubuhnya itu akan keluar dari rongga dada. Ia mengatur napasnya, menahan rasa takut yang berkecamuk dalam hatinya. Mulut Angga tak henti berkomat-kamit membacakan serangkaian doa yang ia ingat.


Ada asap tipis yang muncul menyelubungi tubuh hantu wanita itu. Sosok yang di hadapan Tiara saat ini berbeda dengan penampilan sebelumnya. Seorang wanita anggun dengan mengenakan pakaian kebaya berwarna salem yang bersih dari noda darah. Bahkan tidak ada tanda luka di bagian tubuhnya. Senyuman tipis muncul dari wajahnya yang berkulit pucat tersebut.


“Saya …. ”


"Saya tidak akan ulang perkataan saya! Silahkan keluar dari rumah ini!” kecam Tiara dengan nada tinggi. Angga tersontak dan meremas baju kakaknya dari belakang saat suara keras itu keluar dari mulut Tiara. Ia menutup matanya. Tidak ada yang ia lihat, hanya ruang kosong yang ada di hadapannya.


“Saya dulu ...”


“Aku tidak peduli dengan kamu seperti apa dulu atau sekarang. Sekarang pergi!” Mata Tiara memerah. Sekujur tubuhnya terasa gemetar. Angga pun merasakan hal yang sama melalui genggaman tangannya.


Baru kali ini, Tiara memaki dan berhadapan langsung dengan makhluk asral seperti ini. Sebelumnya, banyak makhluk halus yang hadir dan meminta pertolongan Tiara. Tidak seperti ini. Ketakutan terpancar dari wajah Tiara. Ia harus bertahan demi tempat tinggal barunya. Belum mampu ia mengusir makhluk halus, kemampuannya masih nol.


Wanita yang melayang itu tetap pada posisinya. Beberapa kalimat ia sampaikan untuk menjelaskan permohonannya kepada Tiara. Dialog demi dialog berlangsung cukup lama di antara keduanya. Hanya percakapan satu arah yang membosankan bagi Angga. Tidak ada sebuah keputusan yang jelas dari pembicaraan yang berjalan sepanjang malam itu. Lelah menghadapi hantu wanita ini, Tiara pun mulai menyerah. Ia akhirnya mengizinkan hantu itu tinggal untuk sementara dengan beberapa syarat kepadanya. Tidak ada penampilan menakutkan di hadapan siapapun menjadi syarat pertama yang disampaikan. Kamar adalah area yang tidak boleh dimasuki oleh hantu wanita itu. Arwah itu tidak boleh menceritakan masa lalunya, yang akan berakhir dengan permintaan tolong


seperti makhluk lainnya. Suatu saat akan aku usir dia dari sini! janji Tiara dalam hati.


Mendengar keputusan kakaknya, Angga khawatir sekaligus takut. Ia membujuk Tiara untuk kembali ke rumah mereka. Ia khawatir tinggal bersama hantu itu akan berakibat buruk bagi Tiara. Tentu saja ditolak keras oleh Tiara. Ia semakin bersikeras untuk mempertahankan tempat tinggalnya. Aku tidak boleh takut! Bagaimanapun manusia


lebih tinggi derajatnya, pikir Tiara. Ia berusaha menaklukkan rasa takutnya. Mungkin ini salah satu petunjuk bagaimana cara mengabaikan atau mengusir mereka.

__ADS_1


Waktu terus berlalu. Bulan demi bulan berganti begitu cepat. Tak ada yang salah dengan kehadiran hantu wanita itu. Dengan mudahnya, ia mengambil hati Tiara. Tak disangka, mereka menjadi akrab. Tiara lebih menganggapnya teman bicara daripada flatmate. Tidak ada yang dapat dibagi dengan hantu itu, hanya cerita. Ada tempat curhat baru bagi Tiara untuk berbagi cerita indah dan sedih, karena tidak ada teman lain yang dapat diajak bicara.


Hantu itu tidak mampu menyentuh benda apapun, apalagi untuk mengurus rumah.  Dengan segala kegiatan yang dilalui Tiara, ia akhirnya merasa lelah mengerjakan semua sendiri. Mungkin memiliki asisten rumah tangga adalah solusi terbaik. Sayangnya, harapan tinggallah impian yang tidak dapat terwujud. Semua tidak berjalan sesuai keinginan. Tanpa sengaja maupun sengaja, hantu itu mengganggu para asisten rumah tangga.


 Seperti cerita pada suatu malam. Asisten rumah tangga yang baru tinggal seminggu berkata kepada Tiara, “Mbak


Ara, maaf. Apa saya boleh bicara sebentar?”


Berdasarkan pengalaman Tiara selama ini, jika asisten rumah tangga bicara begitu, pertanda ingin berhenti kerja.


“Kenapa, Mbak Nur?” ujar Tiara sambil mengaduk teh hangat di hadapannya.


“Saya bingung, Mbak. Saya merasa kita tidak sendiri, ya?” ucap Nur–asisten rumah tangga yang terakhir. Tiara sempat tertegun mendengar ucapan Nur. Apakah ia juga dapat melihat makhluk halus? Ia pun berpikir dengan cepat untuk menjawab.


“Kita tinggal berdua, ‘kan, Mbak Nur. Bukan sendiri,” jawab Tiara asal.


“Bukan, Mbak Ara. Saya suka mendengar bisikan. Terkadang gorden bergerak padahal tidak ada angin. Rasanya


nggak enak gitu, Mbak.” Suara Nur tampak sedikit bergetar menunjukkan sebuah ketakutan yang tertahan. Tiara menatap tajam kepada hantu wanita yang berdiri tak jauh darinya dengan mata. Menunjukkan kekesalan.


“Mbak Nur takut? Pernah diganggu langsung, nggak?” tanya Tiara.


“Takut sedikit, tapi … saya juga sering lihat mbak Ara ngomong sendiri.”


“Hahahaa … maksud Mbak Nur saya mulai gila, ya?”


“Nggak, Mbak Ara. Saya takut Mbak Ara malah kesurupan.” Mendengar ucapan itu, Tiara langsung tertawa terbahak-bahak. Tidak pernah terpikir olehnya ada seseorang yang berkata begitu kepadanya. Biasanya ia dibilang sinting.


“Nggak, Mbak Nur. ‘Kan saya sering belajar hapalan untuk iklan. Makanya kayak ngomong sendiri,” ucap Tiara berusaha menenangkan.


“Mbak Nur kebanyakan nonton film horor, ya? Tuh kan, jadi ketakutan sendiri,” lanjut Tiara.


Bagaimanapun usaha Tiara, tetap saja para asisten rumah tangga datang dan pergi karena ketakutan. Berakhirlah Tiara dan Saniah yang tinggal berdua. Karena itu Tiara memanggilnya, Saniah. Nama yang pas untuk pengganti asisten rumah tangga. Hmm, tepatnya pengganggu para asisten rumah tangga!

__ADS_1


Sebaiknya membiarkan Saniah di sini atau ….


__ADS_2