
‘Red Shadow, tuan-tuan. Teman lamaku.’
"Hei, tak percaya ternyata kau benar disini."
Sapaan itu membuat seorang lelaki dengan rambut hitam di belakang meja bar menarik pandangan fokusnya dari gelas yang sedang ia bersihkan. Kini matanya tertuju pada seorang pria berkacamata berdiri di depannya yang beberapa detik lalu menyapanya.
"Kau..." dahi si rambut hitam berkerut, berusaha mengingat-ingat orang yang terasa familiar di depannya yang menyisir rambut coklat miliknya ke belakang. "Tak mungkin kau lupa denganku, kan?"
Mata pria berpakaian bartender itu membesar seketika seakan sesuatu baru ia ingat tentangnya. "Zee? Benarkah itu kau? W-wow. Tak kusangka kau kembali ke game ini," ia mengelap kedua tangan pada seragam miliknya, menyembunyikan gerak-gerik dirinya yang mulanya sedikit tersentak kaget, sebelum akhirnya ia berjabat tangan dengan lelaki yang ia kenal dengan nama Zee.
Zee menarik kursi di depannya dan sebelum mendudukinya ia berkata, "Aku tau kau takkan lupakan aku, Sean. Kau pria pemegang janji terbaik yang pernah kukenal, bukankah begitu?" Zee sedikit tersenyum namun sorot mata dibalik kacamata itu terlihat tajam, membuat Sean meneguk ludah.
"Y-ya. Kau benar haha!" Jawabnya, sembari kembali mengambil gelas dan mengelapnya dengan kain lap untuk menyembunyikan kedua tangannya yang sedikit gemetaran.
Zee membuka panel melayang di depannya, setelah dua dan tiga panel terbuka, ia memutar balikkan panel itu dan menunjukkannya pada Sean tanpa berkata apa-apa.
Sean berhenti menggosok gelas di depannya, pandangannya beralih dari mata Zee menuju panel yang Zee tunjukkan. Ia pun mendekat untuk melihatnya lebih jelas, namun sebelum ia selesai membaca, Zee menutup panel itu karena ia tahu Sean sudah pasti tahu sisa dari isi pesan itu.
Zee menyatukan kedua tangannya dan menopang dagu diantara keduanya, memperhatikan Sean yang berpikir keras sembari menghindari tatapannya. "Jadi? Apa kau akan—"
"Dengar, Zee," Sean memotong perkataan Zee dengan kepala tertunduk. "Aku tahu kenapa kau ada disini. Tapi aku harus jujur padamu. Aku benar benar miskin sekarang. Aku bahkan tak tau harus membayar dengan apa lagi pada orang-orang di game ini. Aku kehabisan uang di dunia game dan dunia nyata. Kini yang bisa kulakukan hanya... ya... kau tau," dia sedikit mengangkat kedua lengannya, mengisyaratkan pada Zee bahwa ia kini bekerja sebagai bartender ketika sebenarnya hal itu sudah jelas dari awal.
Zee menginspeksi Sean dari ujung kaki hingga kepalanya, ia lalu mengusap dagunya dan tertawa, "Ha. Misi sampingan? Menyedihkan. Kau yakin takda hal lain yang bisa kau lakukan?"
"Memangnya apa yang bisa—"
BRUGH
Suara meja yang tak sengaja ditimbulkan oleh seorang pria yang tiba tiba menjatuhkan diri diatasnya membuat kedua pria itu terkejut.
"Satu... Mmmgh, satu lagi..." ucap pria itu dengan sedikit merintih. Rambut navy miliknya menutupi seluruh wajahnya, aroma alkohol melekat pada seluruh tubuhnya, membuat Zee sedikit mengerutkan hidungnya.
"Hik! Ayolah berikan aku satu lagi!" Ujarnya kini dengan nada kesal ketika Sean hanya menatapnya aneh.
"Kurasa kau tak bisa minum lagi. Kau sudah tepar, bung," ujar Zee tiba tiba, sementara Sean masih memiliki bahu yang tegang, hasil dari percakapan dirinya dengan Zee sebelumnya.
"Hei, apa maksudmu? Ini bar terbuka, aku bisa lakukan apapun yang kumau. Hik! Aku bukannya mencuri atau merampas apapun kan?" Respon itu membuat Zee menyilangkan tangannya di depan dada. Kekesalan nampak di wajahnya, namun yang ditatap hanya nyengir seperti kuda.
"Namaku Chris. Hik! Aku baru kembali ke game ini. Kutraktir kau minum sepuasnya hari ini," Chris menatap kembali Sean yang masih berdiri seperti orang bodoh. "Hei, tidakkah kau dengar yang kukatakan tadi?"
"Aku takkan lama—"
"Ayolah, bung. Jika kau disini bukan untuk minum lalu apa?"
Pernyataan itu membuat rahang bawah Zee nampak tegang karena ia sedikit menggertakkan giginya. Chris hanya bisa tersenyum dengan salah satu matanya yang mengintip dari tirai rambut navy miliknya.
Pandangan Zee berpindah pada Sean, ia sedikit memiringkan kepalanya ke sebelah kiri sebelum akhirnya Sean mengerti dan bergegas menyiapkan minum untuk mereka berdua.
"Hei, kau," kini lengan Chris mengandeng bahu Zee, seakan-akan ia sudah sangat dekat dengannya. Zee berusaha berontak, namun ia tak mau memulai perkelahian hanya karena hal kecil ini dan ia pun menyerah dengan helaan nafas. "Apa kau tau wanita itu?" tanya Chris dengan suara yang lantang.
Zee, dengan kacamatanya yang kini sedikit miring menjawab, "Apa? Siapa?" dengan warna suara yang terdengar sama sekali tidak tertarik.
"Ya kau tahu," ujar Chris sembari sedikit tertawa, "Player terkuat dari yang terkuat. Kita bahkan tak tahu apakah dia dibuat oleh sistem ataukah hanya player biasa," tambahnya dengan cegukkan di akhir kalimatnya.
Kedua alis Zee berkerut, namun mata tetap fokus pada Sean, seakan-akan ia bisa kabur kapanpun saja jika ia mengalihkan pandangan meskipun sejenak darinya. "Memangnya sekuat apa dia?" respon Zee.
"Kau akan menyesal sekali bertemu dengannya. Dia bisa membelah boss hanya dengan satu tebasan. Ketika kita sibuk bersiap-siap, dia sudah kembali sembari mengelap darah pada pedang miliknya, dan kau tahu? Bahkan dia—"
__ADS_1
Kalimat Chris terpotong oleh kekehan tawa dari Zee, ia akhirnya melepaskan diri dari pelukan Chris sembari berkata, "Kau, dan siapapun yang mengatakan hal itu hanyalah orang bodoh yang kalah dari wanita. Muka saja garang ketika kau pilih di awal tutorial, sementara kau membiarkan wanita satu langkah di depan darimu, menyedihkan." Ia menggelengkan kepala sembari tertawa meledek.
"Kalian membicarakan Red Shadow?" Sean datang dengan dua gelas bir yang diletakkan di depan dua pria di depannya. "Ia sedang ramai jadi bahan pembicaraan akhir-akhir ini," tambahnya. Namun Zee tampak menginspeksi Sean karena entah ia memang benar-benar tertarik dengan pembicaraan ini atau hanya sedang mengulur waktu agar keluar dari masalah awal yang masih belum selesai.
"Tapi aku tak begitu percaya dengan keberadaannya," tambahnya, yang direspon oleh alis Zee yang terangkat, mengisyaratkan bahwa ia bertanya 'Benarkah?'
Sean mengangkat kedua bahunya sembari berkata, "Ya... karena aku belum melihat dirinya secara langsung. Sulit untuk percaya dengan hal yang tak pernah kau lihat."
Sedikit suara kekehan tawa terdengar lagi dari Zee, "Hei, kau bicara seolah-olah dia itu Tuhan. Tak bisa dipercaya."
Chris menggebrak meja di depannya, mengagetkan kedua pria di sebelahnya untuk kedua kalinya. Namun hebatnya kedua minuman di depannya bertahan. Ia pun meninggikan nada bicaranya ketika ia berdiri dan berteriak, "Tapi bisa saja dia Tuhan dalam game ini! Benarkan?!"
Zee menarik ujung baju lengan Chris untuk kembali duduk, karena tindakannya membuat perhatian orang-orang tertuju padanya.
Setelah ia terduduk, ia kembali menambahkan, "Atau entahlah, dewi? Karena legenda mengatakan ia memiliki mata merah yang bisa mengendalikan bayangan setiap orang," kini ia berbicara dengan sedikit berbisik, kedua pria di depannya sedikit mendekat untuk mendengarkan. "Dan sebelum kau menyadarinya, kesadaranmu perlahan hilang, bersamaan dengan tubuhmu yang tak bisa kau gerakkan karena ia telah mengambil bayanganmu. Bahkan ada yang pernah bilang bahwa akunmu telah dia ambil sepenuhny—"
"Ha. Bla bla bla," Zee melambaikan tangan kirinya, menghentikan ucapan Chris di depannya. "Kalian terlalu melebih lebihkan," ujarnya sembari mengangkat gelas bir di depannya. Ketika gelas itu sedikit lagi menyentuh bibir Zee, senyum samar-samar muncul di mulut Sean. Tetapi sebelum air bir itu mencium bibir Zee, ia berhenti dan berkata, "Oh ya. Bagaimana jika kukatakan aku sedang bersama wanita itu sekarang?"
"Hah?"
"Apa?"
Keduanya menatap Zee yang melontarkan senyum main-main. "Candaan yang bagus," Sean tertawa gugup. "Tak mungkin ia—"
Tambahan kalimat itu tak selesai. Mata Sean terbelalak melihat kehadiran seseorang di ambang pintu yang juga membuat hiruk-pikuk ruangan itu perlahan menjadi sepi.
Dia berdiri di sana. Wanita yang sedari tadi menjadi topik pembicaraan mereka.
Postur tubuh tinggi yang sama seperti dengan cerita, warna rambut hitam legam yang panjangnya mencapai punggung dan satu hal lagi yang membuat semua orang terpana akan dirinya. Warna mata merah ruby unik yang tak pernah ditemukan sebelumnya di player manapun.
Zee terdengar sedikit tertawa, tapi ia menutupinya dengan sebelah tangannya. Sementara orang-orang masih berdesas desus mencari kebenaran tentang dirinya.
"Benarkah itu dia?"
"Benar, lihat saja penampilannya."
"Tak mungkin!!"
"Astaga, jadi rumor itu benar?"
"Mana? Mana? Aku tak bisa melihatnya!"
Perlahan ia mengangkat kepalanya, menyisir rambutnya ke belakang, dan membenarkan posisi berdirinya. Ketika wajahnya terlihat lebih jelas, kedua pipinya kini nampak terlihat memerah. Mata ruby yang sebelumnya nampak tegas dan tajam, kini berubah menjadi terlihat agak teler. Semua orang di ruangan masih memperhatikan dirinya, terutama warna mata ruby itu. Perlahan ia kembali menyisir ruangan dengan mata miliknya itu, lalu ia memiringkan kepalanya ketika ia menemukan yang ia cari selama ini.
Senyum manis terlukis di bibirnya ketika ia berkata, "Disitu kau rupanya."
Wanita itu hampir menabrak seseorang ketika ia berjalan masuk, Zee menghela nafas dan berbisik, "Kukatakan berapa kali padanya untuk berhenti minum, astaga."
Mulut Sean terbuka lebar ketika wanita itu perlahan berjalan mendekati meja bir dimana ia berdiri saat itu. Zee sedikit memijat keningnya, sementara Chris yang kini menjadi 100% sadar dari mabuknya berbisik, "Tuhan, apakah aku bermimpi?"
Zee tersenyum sembari berkata, "Ya, inilah Tuhan yang kalian bicarakan sebelumnya."
"Hai, Zee—" ujar wanita itu dengan ceria ketika ia hampir mencapai tempat duduk Zee. Namun ia sedikit terpeleset dan Chris menangkap tubuhnya. Mereka saling tatap untuk sekian detik, lalu wanita itu melontarkan senyum padanya sebelum akhirnya Zee menarik lengan wanita itu untuk menjauh dari Chris.
"Red Shadow, tuan-tuan. Teman lamaku," ujar Zee dengan bangganya mengenalkan wanita itu.
"Dia..."
__ADS_1
"Sedikit mabuk. Benar. Tapi ia benar seperti yang kalian katakan. Hmmm apa tadi? Mengendalikan bayangan orang? Membunuhmu dengan mudah?" Zee terkekeh, sementara yang jadi bahan pembicaraan hanya bisa memiringkan kepalanya, mata miliknya terlihat kosong.
Sean menggelengkan kepalanya tak percaya, lalu berkata, "Lalu apa? Kau sampai menarik Red Shadow demi menagih hutang? Yang benar saja." Dia menambahkan tawa di akhir kalimatnya.
"Dia bahkan terlalu kecil untuk—"
Wanita itu tiba-tiba menarik kerah Sean, mengangkat satu kaki untuk menginjak kursi di depannya lalu mencondongkan tubuhnya ke atas meja. Untuk kesekian kalinya, mata milik Sean terbuka sangat lebar ketika ia merasakan dinginnya belati pada lehernya.
"Mungkin aku sedikit tak sadar. Tapi aku masih teringat dengan janjimu pada temanku Zee, Tuan Bartender."
Bisikan yang hanya dapat terdengar oleh Sean dan mata ruby yang seakan menembus mata Sean membuatnya tak bisa bergerak. Perlahan Sean menutup matanya, semua detail cerita yang tadi dikatakan dan yang pernah ia dengar tentang wanita ini tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.
Mata merah. Bayangan yang terikat lalu terkendalikan sepenuhnya. Akun yang tak pernah pulih.
Sean meneguk ludah.
"Cukup. Kau menakutinya. Ingat apa kataku tentang menakuti orang-orang, hm?" Suara Zee yang tenang memecah ketegangan saat itu. Ia menarik lengan wanita itu hingga ia pun terduduk di sebelah Zee.
"Kau ingat kan? Player killing sekarang legal adanya," ujar wanita itu sembari tersenyum lebar hingga matanya terpejam.
Sean mengusap dahinya yang berkeringat, mencoba untuk menenangkan dirinya sembari tertawa gugup, "Ahaha, Zee. Uh... ingat janji itu? K-kurasa aku memiliki uangnya sekarang. Aku hanya sedikit bercanda denganmu tadi haha."
Ia pun membuka panelnya dengan segera, sementara Zee berpura-pura untuk terkejut akan hal itu. Namun sang wanita yang terduduk di tengah tengah nampak seperti menahan tawa. Tetapi Sean terlalu ketakutan untuk menyadarinya.
"Bagus sekali, aku tau kau memang pria sejati yang menepati janji," ujar Zee dengan lantang.
"Y-ya kau benar! Cukup ambilah s-semua uangnya, dan tinggalkan aku sendiri, Zee. Kumohon, jangan berurusan denganku lagi d-dan—"
Sean tersentak kaget ketika belati yang familiar tadi terlontar melewati sisi dari kepalanya, memotong sedikit rambut hitam miliknya. Hal itu juga membuat panel bar darah dirinya tiba-tiba muncul dengan sedikit darah yang berkurang.
Wajah wanita itu sedikit terkejut dengan satu tangan menutup mulut, "Ah, maaf. Meleset," lalu ia tertawa kecil yang membuat Sean bergetar hebat.
"A-aku harus pergi!"
Dan diapun menghilang di tempat.
...****************...
“Kurasa dia teleportasi tak terlalu jauh dari sini,” ujar sang wanita berambut hitam yang dikenal dengan nama Red Shadow tadi ketika berjalan di depan dua pria yang mengikutinya dari belakang. Mereka kini menyusuri gang-gang sempit yang jauh dari keramaian.
“Masa bodoh, aku tak peduli. Kita sudah dapat apa yang kita butuhkan,” Zee menjawab dengan panel terbang mengikuti di depannya. Ketika ia meng-klik beberapa fitur yang muncul, rambut coklat miliknya berubah menjadi warna hitam legam dengan sedikit palet berwarna putih di dalamnya. Ia membuka kacamata yang ia gunakan, bersamaan dengan berubahnya warna mata miliknya menjadi warna silver. Mata silver itu melirik gadis di depannya yang kini warna rambutnya telah berubah menjadi warna asalnya, Lavender.
Gadis itu berbalik dan tersenyum.
“Kurasa yang tadi itu terlalu mudah, Davis."
...----------------...
Notes:
- Panel: Setiap player di dalam game dapat membuka menu mereka dengan berbagai cara yang mereka inginkan dan sudah atur sendiri, mulai dari dua jari, hanya telunjuk, dll. Dari menu player dapat mengakses storage, chat, dan lain sebagainya.
- Bar darah: Bar kecil yang muncul di samping kepala, muncul hanya ketika darah setiap player berkurang ataupun bertambah
- Pekerjaan: Di dalam game ini, player bisa menjadi bartender, penjaga toko, dll. Biasanya menggantikan para NPC ketika mereka harus melakukan tugasnya yang lain, dengan imbalan uang.
...----------------...
__ADS_1