
^^^“Kenapa? Kau tiba-tiba tertarik padaku?”^^^
Riak air membuat Myra mengalihkan pandangannya pada sumber penyebab air itu bergerak. Mob berukuran kecil yang mungkin hanya dengan satu injakan akan mati sedang melayang kesana kemari setelah tadi sepertinya meminum air yang ada.
“Hidup ataupun mati. Bawa dia dan dapatkan imbalannya.”
Meski yang ia lihat adalah kolam air di depannya, kedua matanya terlihat kosong, rasanya sangat jauh untuk kembali meraih kesadaran penuhnya. Kecuali dengan—
“Oi, Myra.”
Kedua tangan yang mendarat di kedua pundak Myra menyadarkannya dari lamunan tadi. Detak jantung Myra terasa oleh Elliot dan Davis lebih kencang dari sebelumnya. Hal ini merupakan hal lumrah di game ini. Merasakan detak jantung seseorang yang satu party. Mob ataupun musuh bisa merasakannya juga, namun hal ini tentunya terbatas. Karena jika seluruhnya bisa terasa, dijamin dalam satu kota hal itu bisa membuat player kesal karena semua detak jantung orang bisa dirasakan di saat yang bersamaan.
“Bisakah kau berhenti melakukan itu?”
“Lakukan apa?”
“Muncul secara tiba-tiba dan mengangetkanku!” Myra menjawab dengan sebelah tangan mengusap dadanya, mencoba menenangkan dirinya.
Davis bersender pada salah satu tiang penyangga rumah miliknya, sementara Elliot mengikuti Myra yang menopang tubuhnya dengan sikut pada pagar balkon rumah Davis. Air yang biasa terlihat biru di siang hari kini terlihat berwarna hitam pekat, sesekali beriak-riak karena mob lalat yang masih berkeliaran kesana kemari. Hal itu disadari oleh Davis dan ia pun berkata, “Serangga sialan. Aku harus segera membeli pestisida, sudah lama aku tak benar-benar pulang ke rumah.”
Takda yang merespon, wajah Myra masih membatu sama seperti di awal ketika Davis dan Elliot datang. Davis melirik ke arah Elliot yang menatapnya sejenak sebelum akhirnya ikut menatap riak air di hadapannya dengan Myra. Rasanya keheningan itu membuat ketiga player sangat tenang, meski yang satu terlihat sangat bosan hingga ia pun ikut menopang dagu di pagar balkon dan berkata, “Oi, itu hanya quest bodoh. Kenapa kau memikirkannya sampai segitunya?”
Myra kini mengerutkan alisnya, terlihat berpikir keras.
Bukannya Myra yang menjawab, Elliot malah merespon dengan bertanya, “Jadi dia memang nyata? Red Shadow itu?”
“Tidak. Dia hanya karakter yang kubuat-buat untuk menakut-nakuti para pemilik hutang. Kau tau sendiri kan, rumor mudah untuk menyebar disini. Membodohi mereka terlalu mudah ketika rumor sudah beredar,” Davis menjawab dengan nada malas, wajahnya sedikit terangkat-angkat karena dagu yang menopang pada tangannya.
Elliot sedikit memiringkan kepalanya, “Lah, lalu Myra? Kukira kau adalah Red Shadow?”
Senyum samar-samar nampak di mulut Myra ketika ia menjawab, “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Kau tak ingat kejadian beruang tadi pagi? Aku bahkan tak bisa melawan mini boss.” Ia mengusap sisi lehernya, kini lamunannya sedikit pecah.
“Tapi…” Elliot menunjuk matanya ketika Myra dan Davis meliriknya, “Matamu merah ruby seperti di cerita. Kau tau warna itu tak bisa ditemukan dimanapun dalam game ini, kan?”
Pertanyaan yang terlontar itu membuat si pemilik mata ruby sedikit menunduk. Perlahan gadis itu mengalihkan pandangannya dari Elliot dan menatap Davis. Yang ditatap hanya terdiam, namun terlihat sedang membaca pikiran Myra hanya dengan menatap kedua matanya.
“Alright,” Davis melangkah menuju pintu masuk sembari meregangkan tubuhnya, “Kurasa hari ini sudah cukup. Terlalu banyak yang kita lakukan, aku harus mandi dan tidur cepat, besok ada acara yang harus kuikuti.”
Myra menghela nafas, rasanya ia terlalu berharap pertolongan pada Davis tadi ketika pertanyaan Elliot muncul. Ia pun berjalan mengikuti Davis namun terhenti ketika pria pirang di belakangnya memanggil namanya.
Gadis yang dipanggil sedikit ragu untuk berbalik, ia pun memutuskan hanya melirik ke arah kanan dimana Elliot berada tapi tak langsung menatap wajahnya,
“Ada banyak hal yang ingin kutanyakan.”
Myra meneguk ludah dan menjawab, “Besok lagi saja, ini sudah terlalu larut—“
“Ingatanmu tadi hilang, kenapa bisa begitu?”
Pertanyaan itu membuat Myra membatu di tempat, sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya dengan membalikkan tubuhnya. “Apa maksudmu?” Jawaban Myra terdengar netral, bahkan Elliot merasa aneh karena ekspresi wajah Myra terlihat sangat tenang, berbeda dengan sepanjang hari ini yang ia lihat Myra sangat ekspresif.
Elliot mengambil satu langkah ke depan, “Kau tahu kan, topi itu hanya memanipulasi ingatan dengan cara menambah ingatan yang salah, bukan menghapus sepenuhnya. Tidak ada memoriku yang hilang ketika aku memakainya, padahal aku terkena ikatan shadow sepenuhnya dari si pembuat rapalan. Lalu apa yang sebenarnya terjadi padamu?”
Walaupun Myra terlihat tenang, Davis dari dalam rumah melihat jemari Myra di belakang tubuhnya memainkan scrunchie merah miliknya. Bahkan ia sesekali menggenggamnya dengan sangat erat. Namun Davis hanya bersender pada sofa empuk miliknya, diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua teman party nya itu.
“Bagaimana kau akan mengatasinya kali ini, Lav?” Bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Myra menopang tangan kiri di pinggang sembari tersenyum, “Wah, lihat ini. Kau yang sedari pagi banyak diam sekarang jadi banyak bicara? Kenapa? Kau tiba-tiba tertarik denganku? Hm?” Ia mendekatkan wajahnya pada Elliot dengan senyum yang kini penuh dengan kejahilan.
“Berhenti mengalihkan pembicaraan,” Elliot menyisir rambutnya ke belakang dengan frustasi, kembali menatap Myra dengan mata sayu miliknya yang kini akhirnya memperlihatkan ekspresi yang belum pernah Myra lihat sebelumnya. “Uuuh, kau marah?” Myra menutup mulut dengan tangannya, menggodanya sembari tertawa. Kini keadaan sekitar yang mulanya tegang mulai memudar.
__ADS_1
“Myra. Aku serius,” kedua mata yang kini terlihat memohon itu membuat perasaan Myra untuk menjahilinya lebih jauh semakin bergejolak.
“Oke, aku serius,” Myra kini berdiri tegak dengan kedua tangan berada di belakang, posisi istirahat di tempat. Tapi posisi itu hilang ketika ia tertawa lepas.
“Ahaha, aku masih tidak mengerti, kurasa kau terlalu serius akan hal ini,” Myra mengusap ujung matanya, menghapus air mata hasil tawa yang ia keluarkan tadi yang sebenarnya tak nyata adanya. “Ini hanya game, kau tau? Jangan terlalu memikirkannya, oke?” Myra perlahan menjauh dari Elliot dengan menuruni tangga sembari melambai-lambaikan tangannya. “Aku pulang ya. Bye-bye.”
Dan dari situpun Myra menghilang, meninggalkan Elliot yang masih berdiri terdiam dengan pertanyaan yang masih belum terjawab.
...****************...
“…dan itulah mengapa kurasa aku harus kembali membeli stoknya, karena sepertinya kedepannya aku akan lebih sering mati.”
Myra dengan posisi setengah tubuh terbaring pada ranjang dan paha hingga ujung kaki menempel pada tembok itu masih terjaga di tengah malam. Panel miliknya terbuka dan melayang di depannya, terlihat rekaman suara yang sudah tercatat sekitar 30 menit itu sedang berlangsung.
“…hee, tapi kurasa itu yang sering kukatakan. Kurasa aku harus berhenti memikirkannya dan— aaaaa! 30 menit?! Davis memperingatiku untuk hanya berbicara yang penting saja! Aku gila! Aku akan berhenti sekarang oke? Bye!”
Dengan satu klik, panel itu berhenti merekam dan terhenti di menit 30:20. Myra mengusap wajahnya frustasi, “Agh, kurasa aku harus merekam ulang. 30 menit itu keterlaluan bukan?”
Myra meregangkan tubuhnya dan menatap langit-langit, beberapa kali mengedip sebelum berkata, "Masa bodoh. Sudah lama kok dia tak memeriksanya."
Wajah Davis yang kesal sembari membuka api shadow ungu miliknya terbayang oleh Myra. Kini Myra berbalik dengan perut yang menempel pada ranjang miliknya. Myra pun menopang dagu dengan kedua tangannya. Ia sedikit menggeram, matanya menutup rapat ketika membayangkan Davis yang menyentil dahinya sangat keras di pagi ini.
Ia mengacak-acak rambutnya lalu menjatuhkan wajah ke ranjang, "Agh! Masa bodoh, aku tak peduli!" Jika ada yang berusaha mendengarnya, pasti takkan mengerti apa yang ia katakan. Seluruh wajahnya tenggelam di ranjang, begitupun dengan suara miliknya.
Ia kembali menopang dagu, melihat menu yang terdiri dari list rekaman suara yang terhitung puluhan disana. Hampir semua menyentuh belasan atau paling besar adalah 20menit. Namun kali ini rekor 30 menit itu mengalahkan yang sebelumnya, tapi Myra tak terlihat senang akan hal itu.
Panel tertutup ketika Myra membalikkan tubuhnya lagi dan kini terbaring dengan telentang. Langit-langit ia pandang kembali sembari mengingat-ingat apa yang telah terjadi hari ini. Terlalu banyak hal yang terjadi hingga rasanya Myra tak bisa memuat seluruh informasi itu ke dalam kepalanya. Hal terakhir yang muncul di pikirannya adalah cahaya lampu jalanan yang menyorot ke arah pria berkepala pirang yang terlihat frustasi meminta jawaban tadi sore.
"Andai kau tahu. Aku pun sedang mencari jawabannya," ucapnya pelan ketika matanya perlahan menutup hingga akhirnya ia pun tertidur tanpa bantal menopang kepalanya.
...****************...
Myra mengelap tangannya yang basah setelah mencuci piring di wastafel, melirik ke belakang, menatap seorang lelaki yang nampak tak jelas wajahnya.
"Aku? Tentunya aku mau belajar banyak hal! Mulai dari memasak, melukis, dan pergi ke seku... seka... apa katamu kemarin?"
Terdengar lelaki itu tertawa sembari menjawab, "Sekolah." Tawa itu terdengar sangat familiar, membuat Myra merasa bahagia dan ikut tertawa karenanya.
Rasanya keadaan sekitar menjadi lebih hangat. Sinar matahari yang masuk melalui jendela-jendela dan suara burung bernyanyi di pagi hari membuat suasana hati Myra semakin senang. Senyumnya merekah ketika ia berkata, "Benar! Sekolah!"
Tok tok tok
Suara ketukan pada pintu menarik perhatian keduanya. Namun Myra hanya terdiam membatu. Perlahan sekitarnya menjadi berwarna abu kelam ketika ketukan pintu itu untuk kedua kalinya terdengar menggema ke dalam ruangan.
Hingga akhirnya Myra pun membuka kedua matanya dengan tarikan nafas. Ia melihat sekelilingnya, menemukan dirinya berada di kamar miliknya. Ia mengusap wajahnya dan terhenti ketika mendengar kembali tiga ketukan. Mulanya ia mendongakkan kepalanya ke arah pintu, namun setelah didengar lagi ternyata sumber suara itu berasal dari jendela. Dan ternyata benar, seseorang bertudung hitam berada di sana, mengetuk-ngetuk kaca jendelanya. Myra sontak terbangun dengan sorot mata yang tajam menatap orang itu. Orang itu menunjuk jam tangan yang ia kenakan meski tak terlihat dengan jelas oleh Myra, namun sepertinya Myra mengerti dan hanya mengangguk dua kali sebelum akhirnya orang asing itu menghilang dari pandangan Myra.
...****************...
"Berapa yang kau punya?"
Myra yang kini menggunakan tudung berwarna merah mencoba untuk berkomunikasi dengan orang yang tadi mengetuk jendelanya. Kini mereka berdua berdiri di gang sempit tak jauh dari tempat dimana Myra tertidur tadi. Disana takda siapapun yang bisa menemukan mereka berdua. Tetapi meskipun begitu, dimanapun mereka berada, takkan banyak orang berlalu lalang, mengingat saat ini sudah lewat tengah malam.
"Seperti biasa," ujar si tudung hitam sembari sedikit melangkah ke samping untuk memperlihatkan dua peti berwarna coklat muda di belakangnya.
Myra membuka panel melayangnya dan berkata, "Aku ambil semua."
...****************...
Myra meregangkan tubuhnya ketika ia keluar dari pintu kamarnya. Suasana penginapan saat itu sangat ramai seperti biasanya karena hari sudah hampir menyentuh siang hari. Ketika Myra berbalik dan hendak mengunci ruangan, suara pintu dibanting membuat seluruh tubuhnya loncat dan ia pun menjatuhkan kunci kamarnya.
__ADS_1
"Aku tak mau tahu! Bayar sore ini atau penginapan ini kusita!"
Suara lantang seorang pria dan langkah kaki besar yang melangkah keluar kamar yang pintunya dibanting terbuka tadi mencuri perhatian hampir seluruh orang di penginapan. Namun hal itu hanya membuat Myra menguap dan menggosok matanya. Ia melirik kunci yang terjatuh tadi dan membungkuk untuk mengambilnya, hanya untuk menemukannya diinjak oleh seseorang ketika tangannya hampir meraih kunci itu.
"Sepertinya seseorang menjatuhkan kunci berharganya," ucap seseorang yang menginjak kunci itu. Myra yang masih membungkuk menghela nafas, lalu ia kembali berdiri tegak untuk menemukan ibu pemilik penginapan berdiri disana dengan kedua tangan di pinggang.
"Oh, dan kurasa seseorang menginjak kunci berharga itu," Myra melempar senyum terpaksa. Ibu itu menginjak kuncinya dengan penuh tenaga hingga terdengar suara 'krek', lalu berkata, "3 bulan. 3 bulan kau masih memiliki kunci berharga ini tapi kau tidak membayar satu peser pun."
Ibu itu juga melontarkan senyum terpaksa, mengikuti apa yang Myra lakuan. Hal itu membuat senyumnya menghilang bersamaan dengan dirinya yang menelan ludah. Kini Myra mengusap sisi lehernya dan tertawa. "Ahaha, tentang itu. Uh… aku akan membayarnya. Tenang saja. Tapi tidak sekarang."
Jawaban itu membuat si ibu meniup peluit yang ia hasilkan dari dua jarinya yang ia satukan, lalu kedua anak kecil tiba-tiba muncul di belakangnya. "Anak-anak, kalian lihat paman di bawah itu?"
Myra tahu ibu itu bertanya pada anak-anak itu, tapi ia juga penasaran dan melirik orang yang dimaksud. Pria itu sangat besar. Bahkan baju yang ia kenakan tak cukup menutupi otot-otot tubuhnya.
"Paman itu akan tinggal di ruangan 202 mulai hari ini. Bawakan barang bawaannya," ucap ibu itu sebelum akhirnya melangkah pergi dan Myra pun mengejarnya.
"H-hei! Kau tak sungguh-sungguh kan, bu? Aku masih tinggal disana dan—"
"Jika kau masih ingin tinggal disana, bayar." Ibu itu berbalik dan membuka sebelah telapak tangannya di depan Myra, namun Myra hanya menutup mulutnya rapat-rapat. "Baik kalau begitu. Waktumu dua menit untuk merapikan barangmu."
"Tapi ak—"
"Takda tapi-tapian. Aku tahu kau menghabiskan uangmu untuk hal yang tidak baik. Itulah mengapa kau tinggal disini sangat lama. Apa kau tidak rindu ayah ibumu? Kapan terakhir kau log out?"
Myra menggigit lidahnya, wajahnya berubah menjadi terlihat masam. "Pergi sebelum aku melapor pada petugas keamanan."
"Oh ya? Laporkan saja pada keamanan! Aku juga akan melaporkanmu karena memperbudak anak-anak disini untuk bekerja!"
Tentu saja itu tak keluar dari mulut Myra. Bisa-bisa lidah Myra yang ia gigit putus karena menahan keinginan kalimat itu keluar dari mulutnya. Tapi ia tak bisa. Jika keamanan sampai membawanya dan mewawancarainya akan menjadi hal yang sangat merepotkan.
"Tunggu apa lagi?"
Satu kalimat itu membuat Myra berbalik dan bergegas kembali ke kamarnya. Meskipun dalam hati ia mengumpat dan nafasnya tak karuan karena kesal.
Ketika Myra membuka pintu kamarnya, ia menemukan dua kotak tambahan dari storage miliknya. Ia baru tersadar bahwa storage yang ia miliki saat ini sangat banyak.
"Oh, bagus sekali.”
...****************...
“Dan ini adalah ruangan anda, Tuan. Saya harap anda bisa betah disini.”
Ibu pemilik penginapan itu membuka pintu kamar 202, namun pintu itu tak kunjung terbuka. Senyum ramah di wajahnya seketika menghilang ketika hal itu terjadi. Berulang kali ibu itu coba untuk membuka pintunya namun hasilnya nihil. Hingga tiba-tiba saja air keluar dari bawah pintu dan membuat kaget ibu dan calon pemilik ruangan itu.
Api shadow berwarna hitam keluar dari telapak tangan ibu itu ketika ia mengeluarkan rapalan untuk menghancurkan pintu. Ketika pintu yang sudah tak berbentuk seperti pintu itu terbuka, ia pun masuk dan mendapati ruangan berantakan dengan ranjang yang sudah tak karuan bentuknya, tisu toilet berceceran dimana-mana.
Perlahan pandangannya beralih pada sumber air, yaitu toilet. Dibukanya pintu toilet dan ditemukan tisu toilet yang menumpuk di dalam kloset. Terdapat stick note berwarna kuning dengan catatan, “Kenang-kenangan dariku!” dengan tanda tangan di bawahnya yang menyerupai kata Myra dengan “XOXO” di sebelah tanda tangan itu.
“MYRAAAAAAA!”
Myra tertawa riang ketika mendengar suara itu yang semakin mengecil dan hampir menghilang karena ia berlari semakin menjauh dari penginapan. Masih dengan kekehan kecilnya, ia menengok ke belakang, memastikan apakah ada yang mengejarnya ataukah tidak.
Namun ia menubruk seseorang, menjatuhkan dirinya dan kotak-kotak storage yang ia bawa.
“Ah, sial.”
Ia membuka matanya, berusaha menatap orang yang ia tubruk tadi. Rambut pirang dan mata biru sayu menatapnya dengan wajah batu.
“Wah, kebetulan sekali.”
__ADS_1