
^^^“Bagaimana kalau kita menikah saja?”^^^
Elliot’s POV
Panel melayang di depanku seketika menghilang ketika seseorang menubrukku dari belakang. Untungnya keseimbanganku lumayan baik, tapi sepertinya yang menubrukku tadi kurang beruntung karena dapat kudengar suaranya terjatuh dengan bawaannya yang juga terjatuh.
“Ah, sial.”
Suara familiar itu membuatku berbalik dan kutemukan gadis yang mengusap rambut Lavender miliknya yang panjang diikat ponytail. Kedua mata hijau miliknya terbuka seketika, menyadari keberadaanku di depannya.
“Wah, kebetulan sekali,” ujarnya dengan senyuman.
...****************...
“Jadi… apa itu?”
Kuberanikan untuk tanyakan ketika Myra menyimpan tas (?) yang bentuknya tak seperti tas. Lebih seperti sprei kasur (?) yang ia ikat untuk menyimpan barang-barang di dalamnya. Sepertinya kotak-kotak itu adalah kotak storage, dari warnanya aku bisa menebaknya.
“Uh… storage-ku?”
Kurasa pertanyaan itu terlalu bodoh.
Aku memukul jidat dan merespon, “Ya… maksudku apa yang kau lakukan dengan storage-mu dibawa-bawa seperti itu? Dan lagi kenapa banyak sekali, kau pindahan?”
Bisa kutebak dari jumlah kotak yang ia bawa bisa jadi semuanya adalah miliknya sepenuhnya, yang memiliki arti ia akan pindahan.
Di game ini, seluruh player memiliki 17 kotak storage yang bisa dimiliki dan di dalamnya masing-masing memuat 50 item. Lalu terdapat storage awan atau tas yang bisa dibawa kemana saja memuat 65 item, bisa diakses dari panel melayang player dan sistemnya tak terlihat. Tapi untuk sisanya, player bisa menyimpannya di kotak storage yang Myra bawa saat ini.
Kotak storage biasa disimpan oleh seseorang di rumah atau penginapan tempat mereka sementara untuk tinggal. Kotak-kotak itu tidak bisa disimpan di storage awan dan harus secara manual dibawa oleh seseorang jika mereka ingin membawanya. Untuk memudahkan, kotak-kotak itu bisa menyusut dan diperkecil hingga 3 kali lipat. Ya meskipun kecil, masalahnya jika terdapat 17 dari mereka… pastinya…
“Ya… begitulah? Sial, mereka berat sekali,” Myra meregangkan kedua tangannya dan pinggangnya. Dapat kudengar suara “krek” dari tulang-tulang yang ia regangkan. Suara notifikasi mengalihkan perhatianku, kutemukan gambar pesan muncul di depanku, dimana panel melayang biasanya berada.
Kubuka panelku dan kutemukan pesan dari Davis.
‘Aku akan offline untuk sementara waktu. Mungkin hanya log in sebentar malam ini.’
‘Jaga Myra untukku, oke?’
“Memangnya siapa dia, menitipkan aku seperti bayi?”
Pernyataan yang datang dari belakang itu mengagetkanku, aku berbalik dan dengan tegas berkata, “Hei, sembarangan membaca pesan orang kau!”
Aku menutupnya dengan segera, Myra hanya berkata, “Hee, padahal aku tak tertarik sama sekali dengan pesan-pesan lainnya tuh,” ujarnya sembari memajukan bibirnya. “Yaaa aku tak lihat tuh pesan dari ID player yang ada bentuk hati di belakangnya.”
Aku menghela nafas dan berdiri dari tempat dudukku, “H-hei, kau mau kemana?” Myra mengikutiku dan aku menjawab, “Farming.”
“Dan kau tak mau membawaku?” Tanyanya.
“Oh, kau mau ikut? Dengan storage-mu itu?” Sebenarnya terdengar agak menyebalkan mengatakan hal itu, tapi pasti akan sangat merepotkan melihatnya berjuang keras membawa seluruh kotak itu saat farming nanti. Bahkan perjalanan singkat dari jalan dimana kita bertemu tadi menuju tempat sarapan pagi ini juga sangat menyiksa dirinya.
“Itu…” dirinya berbalik dan menatap storage miliknya yang masih tergeletak berserakan di atas meja tempat kita duduk tadi. Kudengar dirinya menghela nafas dan berkata, “Kurasa aku memang tak bisa meninggalkannya begitu saja ya.”
Entah apa yang merasukiku, tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepalaku. Kubuka panelku dan kutarik satu item yang tak kusangka-sangka ternyata masih ada di storage-ku.
“Apa itu?” Myra menunjuk tas kelana berwarna ungu dan merah jambu yang kupegang setelah kutarik dari storage-ku tadi. Tanpa menjawab, aku memberikan tas ini padanya, yang ia pegang dengan wajah kebingungan. “Apa maksudnya—“
“Kau mau ikut atau tidak?”
Myra melirik tas yang ia peluk itu, lalu kembali melirik kotak-kotak yang berada di belakangnya, terlihat menimbang-nimbang keputusan untuk memakainya atau tidak. “Kenapa harus warna pink?” Ia nampak bergumam pada dirinya sendiri.
“Ya sudah kalau tak mau ikut,” ujarku sembari berjalan ke arah pintu keluar.
“Ah! Sebentar!”
...****************...
Suara kotak-kotak yang bertabrakan di dalam tas sedikit terdengar olehku ketika Myra berjalan di sampingku. Kulirik wajahnya yang terlihat sedikit berkeringat karena beban yang ia bawa dari tas itu. Kedua mata hijaunya melirikku dan aku mengalihkan pandangan sembari bertanya, “Mau kemana kita hari ini?”
Myra terhenti dan menjawab, “Eh? Kukira kau tahu apa agenda kita hari ini? Kan kau yang mengajak?”
Aku menutup mulutku rapat, memikirkan kembali apa yang sebenarnya sedang aku lakukan saat ini. Kukira Davis akan online pagi ini dan kembali melakukan apapun hal bodoh yang ia rencanakan. Tapi nyatanya dia malah menitipkan gadis ini padaku.
“Entahlah, aku sudah sangat lama tak bermain game ini. Bagaimana harga pasar sekarang?”
Aku menyesal menanyakannya, karena selama berjalan hingga ke ujung map kota ini, ia tak pernah berhenti berbicara. Rasanya semua item ia jelaskan terlalu detail, bahkan ada beberapa informasi yang tidak terlalu penting yang ia tambahkan. Tidak sedikit juga ia menyela pembicaraanku yang berusaha untuk memotong dan menyelesaikan pembicaraan, yang ada malah ia menambah pembicaraan itu dan membuatnya menjadi bercabang.
“…dan itulah mengapa harga vaksin agak menurun sekarang. Mungkin karena terlalu banyak orang yang membutuhkannya, jadinya orang yang farming vaksin juga jadi sangat banyak, otomatis harga jatuh deh— oh! Aku tau, aku tau!”
Ia berjingkrak-jingkrak di tempat, membuatku terhenti untuk bertanya, “Apa?”
“Aku tau apa yang harus kita farm hari ini!”
...****************...
“Vaksin?”
Aku kebingungan ketika kita tiba di dalam gua yang dipenuhi dengan slime berwarna ungu. Rasanya aku sudah lama sekali tak pergi ke map ini, terakhir aku pergi kesini mungkin ketika aku menjalankan quest, dan itu adalah beberapa tahun yang lalu.
“Bukankah tadi kau katakan kalau vaksin harganya turun sekarang?”
Myra berjalan melaluiku, menatap air mancur besar yang berada di depan kami. “Yang kita cari bukan vaksin sembarangan. Apa kau tau ada monster tersembunyi disini?”
Ia tersenyum ketika mendapatiku yang terlihat kebingungan. Lalu perlahan ia berjalan mundur dan tanganku refleks hendak meraihnya yang benar-benar menjatuhkan diri ke belakang air terjun itu. Aku langsung berlari dan menembus air terjun itu untuk ikut terjun mengejarnya.
Aku bahkan tak tahu apa yang ada di bawah sana, tapi aku merasa lega ketika tubuhku mendarat di sebuah kolam dimana air terjun dengan deras mengisi kolam itu.
Tak dapat kuingat kapan terakhir kali aku terjun ke dalam air di dalam game ini, dan baru kuingat sedari dulu game ini adalah game yang memberikanku rasa yang sangat dekat dengan kehidupan nyata. Seperti halnya air ini yang membuat sekujur tubuhku terasa segar. Tubuhku merasakan hal yang sama biasa kurasakan di dunia nyata.
__ADS_1
“Oi, kau akan tetap disana dan melamun terus?”
Baru kusadari sedari tadi aku menatap kedua tanganku dibawah air, mengagumi jernihnya air kolam itu. Myra yang sudah mencapai ujung kolam dan menarik dirinya keluar dari kolam pasti berpikiran aneh tentangku. Ku ikuti dirinya, bajuku terasa lebih berat ketika aku mencoba keluar dari kolam itu.
“Kau necromancer kan?” Tanyanya tiba-tiba ketika aku berdiri di sebelahnya.
“Ya?”
Lalu dia memberiku tatapan yang mengatakan ‘yang benar saja’, atau ‘ayolah’, entahlah, aku benar-benar tak bisa membaca pikirannya. Apa yang sebenarnya ia inginkan?
“Apa kau akan membiarkan kita farming basah dan kedinginan seperti ini?” Kedua tangannya terbuka lebar, menunjukkan baju miliknya yang tentunya basah seperti milikku.
Satu dan dua air menetes dari poni Lavender miliknya dan akupun baru tersadar maksudnya.
Ah. Ini memalukan.
Dengan sedikit berdehem, aku membuka panel melayang di depanku dan berkata, “Kenapa tak ganti baju saja? Mudah kan.” Setelahnya bajuku berganti dengan yang lainnya dalam sekejap dan Myra hanya menatapku tak percaya.
“Ha, yang benar saja. Untuk apa aku punya seorang necromancer disini jika dia bahkan tak bisa mengeringkan baju untukku?” Ia menggerutu pelan, tapi masih dapat kudengar.
Setelahnya dia menyatukan kedua tangannya, memanggil api shadow miliknya untuk keluar. Lalu ia membuat gerakan setengah lingkaran di udara dengan sebelah tangannya, membuat api hitam dengan sedikit percikan api berwarna biru terlukis di udara.
Ya… bisa kukatakan percikan api berwarna biru itu sangat sedikit dan bahkan tak dapat kulihat dengan jelas. Ku yakin setelah ini takda sedikitpun baju miliknya yang kering.
|•Impersona: Charisma: Wind, Vaporate•|
Setengah lingkaran itu menari mengelilingi Myra dan perlahan baju miliknya ‘terlihat’ mengering. Ya, memang seharusnya. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Hanya setengah dari tubuhnya yang basah itu menjadi kering. Myra memperhatikan sekujur tubuhnya dan menghela nafas kecewa setelahnya.
Freelancer. Bisa dikatakan pengguna seluruh shadow. Api hitam yang ia miliki takkan bisa kuat tanpa aliran shadow lainnya. Seperti yang ia coba tadi, ia mencoba mengimitasi skill necromancer yang kumiliki. Namun karena keseimbangan api hitam dan api biru terganggu, Myra tak dapat melancarkan rapalan sihirnya dengan sempurna. Di era beta ku memang belum pernah ada pengguna freelancer terbaik karena hampir semua orang cepat menyerah menjadi freelancer. Ya… mana ada orang yang bisa melakukan semuanya sekaligus dengan mengingat seluruh rapalan dan gerakan yang ada.
“Kan, sudah kubilang aku player terbaik disini.”
Kecuali pria berambut hitam putih aneh itu. Kurasa dia bisa menguasai job manapun. Yaa, tak lain adalah Davis. Tak aneh jika Myra merasa kecil hati jika sudah melihat slot character freelancer milik Davis yang sudah sempurna itu.
Setidaknya dia sudah mencoba.
“Kenapa kau tidak menyuruhku saja?” Tanyaku padanya, mendekat perlahan.
“Maksudmu?”
“Aku sebenarnya lupa dengan rapalan sihir itu. Sudah terlalu lama aku tak log in. Padahal kau bisa menyebutkan nama rapalan dan bagaimana menggunakannya, aku bisa melakukannya untukmu.”
Setelah penjelasan panjang lebar itu yang kukira akan dijawab dengan amarah dari dirinya, ia hanya bisa memajukan bibirnya dan menjawab, “Sudahlah, aku tak bisa mengandalkan siapapun. Aku yang seharusnya freelancer ini bisa melakukan semua job. Kau tidak salah, aku saja yang payah.”
Seorang perempuan tak menyalahkan laki-laki dan menganggap dirinya salah? Apa aku bermimpi?
Ia pun mulai berjalan menuju gua yang berada di depan kami, sembari mengikutinya ku bertanya, “Siapa yang mengatakan itu?”
“Davis,” jawabnya tanpa ragu.
Ah, sudah kuduga. Orang itu selalu keras pada siapapun. Kukira hanya karena gendernya wanita, Davis akan menjadi lebih lembut dan baik padanya. Nyatanya dia memang selalu seperti itu pada siapapun. Selalu menuntut yang lebih, padahal kita hanya bermain game.
^^^“Kalau begitu kenapa tak kau saja yang jadi Red Shadow agar semuanya sempurna hah?”^^^
^^^“Ini bukan ikat rambut, namanya scrunchie!”^^^
^^^“Berisik!”^^^
^^^“Kenapa? Kau tiba-tiba tertarik denganku? Hm?”^^^
Tapi melihat lagi semua kejadian yang terjadi sudah bisa kupastikan ia adalah wanita, yup.
“Tapi kurasa yang kau lakukan tadi sudah cukup baik. Bahkan kau mengingat rapalannya dengan baik,” ucapku padanya. Ia hanya menatapku sejenak sebelum akhirnya tersenyum, “Tapi aku tak sebaik dirimu. Ku dengar dari Davis kau player terbaik di versi beta. Pengguna clairvoyant teraktif dan tercepat dalam mengatasi situasi. Kau juga dulu memimpin—“
“Ah, lupakan itu. Masa lalu kelam,“ potongku dengan tawa gugup.
“Oh, tapi Davis juga berkata bahwa kau buruk tanpa rapalan sihir. Hanya karena kau pengguna sihir jadinya kau tak bisa melakukan apapun tanpa sihir. Kau banyak lupa nama rapalan sihir dan terkadang gagal merapalnya. Oh, dia juga mengatakan kalau kau buta map dan—“
“Oke stop-stop, berhenti disitu,” aku mengulurkan tanganku dan tak sengaja menutup wajahnya di depanku. Ia hanya tertawa dan aku pun ikut sedikit tertawa karenanya. “Lupakan perkataan Davis. Dia orang bodoh penuh cercaan tentang orang lain.”
“Aku tahu. Tapi dia juga penyelamatku.”
“Maksudmu?”
Suara yang tiba-tiba terdengar tak jauh dari kami membuat Myra terhenti. “Mereka disini,” ujarnya dengan bahu yang tegang. Ia mengambil ancang-ancang dengan mengambil pedang yang ia tarik dari panel yang dengan sekejap ia buka dan tutup kembali.
“Siapa?”
Pertanyaanku dijawab dengan munculnya puluhan skeleton dengan bandana berwarna merah mengikat kepala plontos mereka. Aku bersiap di belakang, mengeluarkan api shadow biru milikku. Kulihat sekitarku, tak terlalu banyak benda yang bisa kujadikan senjata dengan telekinesisku. Sial, jika saja aku masih mengingat rapalan-rapalan lainnya yang kumiliki pastinya akan menjadi lebih mudah.
Myra berdiri di depanku, bersiap dengan pedang panjang miliknya. “Kurasa kau belum mengerti situasinya.” Myra meregangkan kepalanya dan mengambil posisi menyerang.
“Apa?”
Dengan api shadow hitam kecil di depannya, ia menjawab, “Ronde pertama ini milikku.”
Ia menarik satu kaki ke belakang, menarik satu tangannya sembari merapalkan satu rapalan yang kuingat adalah milik jobku. Necromancer.
|•Impersona: Charisma: Foreshock•|
Dengan dua jari yang mulai mengeluarkan api biru dan api hitam, ia pun mengarahkannya ke arah para skeleton. Tanah retak, membuat skeleton berhenti berlari, namun hal itu hanya berlangsung sejenak. Aku mulai berpikir sepertinya dia melakukan kesalahan. Sama seperti sebelumnya, ia masih belum bisa menyeimbangkan kedua api shadow miliknya dengan baik.
Astaga, jika begini terus kita akan pulang tak membawa apapun.
Di luar dugaan, ia merapalkan serangan lainnya yang membuatku terkejut. Ia menarik api berwarna ungu yang tiba-tiba muncul ketika ia menunjuk pedang miliknya ke depan.
|•Impersona: Obscura: Aeon•|
__ADS_1
Setelahnya ia menancapkan pedang miliknya ke tanah, menghasilkan gelombang berwarna ungu yang membuat seluruh skeleton yang berlari mendekat menjadi bergerak pelan. Ah, rupanya dari semua retakkan yang berasal dari Foreshock, Myra hanya ‘menyentuh’ bayangan seluruh skeleton. Dengan begitu Aeon berhasil mempengaruhi seluruh skeleton yang bayangannya telah terikat olehnya.
Ia menarik pedang lainnya yang ia miliki di kantungnya, dengan sigap berlari dan satu-persatu menebas skeleton di depannya dengan mudahnya. Membuat tulang belulang berhamburan. Tetapi karena efek dari rapalan miliknya, tulang-tulang itu hanya melayang di hadapanku, memakan waktu yang lama untuk menyentuh tanah. Aku hanya bisa memperhatikannya dengan mulutku yang terngaga. Ia yang hanya dengan menggunakan pedang tanpa shadow bisa mengalahkan puluhan skeleton yang ada.
Terakhir kali aku melihat rapalan Aeon pastinya dari Davis. Ia sering merapalnya untuk memudahkan kami untuk farming bersama.
Tak kusangka ia bisa merapal serangan pemilik api ungu juga.
“Oi, tunggu apa lagi? Giliranmu.”
Myra yang berdiri di ujung gua berteriak padaku, efek dari Aeon perlahan menghilang. Ternyata rapalannya tak bisa bertahan lebih lama dari yang kuingat Davis pernah lakukan. Tulang belulang berjatuhan ke tanah dan satu persatu dari skeleton itu bangkit kembali dan membentuk skeleton baru.
Ah, ternyata bernostalgia dengan orang baru seru juga ya.
|•Charisma: Telekinesis•|
Seluruh tulang belulang yang belum membentuk skeleton baru kujadikan alat untuk menyerang skeleton yang telah bangit. Karena rapuh, tulang-belulang yang saling bergesekan itu perlahan menjadi semakin kecil, hingga akhirnya berubah menjadi abu.
Selepas semuanya hilang, kulihat Myra yang tersenyum puas di ujung gua, memberiku dua jempol di udara.
“Keren!”
...****************...
“El?”
“Ya?”
“Kau tahu? Newbie terkadang terjebak disana. Melawan skeleton sebenarnya agak sulit.”
Myra yang kini seluruh tubuhnya telah kering berjalan di sebelahku. Tak terasa langit telah berubah menjadi warna oranye ketika kami kembali menuju kota dengan berjalan kaki.
“Sulit jika kau tak tahu bagaimana cara efektif menghadapinya,” jawabku.
“Benar! Skeleton berjalan sangat cepat, serangan dari mereka juga cukup sakit dan cepat. Tapi defense mereka sangat rapuh. Jadi antara serangan jauh atau freeze the time dan voila! Akan lebih mudah menghadapi mereka!”
Aku hanya tersenyum melihatnya yang sangat senang memberi penjelasan itu. Sama seperti Davis yang dulu pertama kali mencoba Aeon yang saat itu baru saja rilis. Ia sama senangnya dengan Myra saat ini, membuat memoriku semakin kuat untuk mengingat masa-masa itu.
^^^“Kurasa aku akan bermain lama disini. Keren-keren kan updatenya?”^^^
^^^“Oi, kita harus sering leveling up disini.”^^^
^^^“Jangan lupa log in hari esok di jam biasa.”^^^
“El?”
“Ya?” Tanpa kusadari aku larut dalam lamunanku.
“Apa storage-mu masih kosong? Punyaku benar-benar penuh. Aku sangat kesal. Jika saja aku masih punya storage pasti kita masih bisa farming sampai malam,” gerutunya yang melihat panel di depannya memiliki notifikasi berwarna merah.
Vaksin ini merupakan rare item yang tak mudah didapatkan. Apalagi tenaga yang diperlukan berlipat menjadi dua kali karena skeleton yang kembali hidup setelah dibunuh. Tetapi keren sekali jika melihat storage yang penuh dengan rare item. Artinya kita telah banyak membunuh skeleton bersama.
“Seluruh storage-mu habis? Yang benar? Kau pakai untuk apa saja?” Aku terkejut mendengarnya. Kukira yang ia bawa di tas itu beberapa masih kosong, ternyata seluruhnya penuh? 17 kotak storage itu penuh? Yang benar saja, apa yang ia kumpulkan sebenarnya?
“Ahaha, tenang saja, aku akan menukarnya dulu. Takkan terlalu penuh kok setelahnya,” jawabnya yang terlihat berpikir keras, seperti menentukan mana saja item tidak perlu yang akan dia buang.
“Ditukar? Untuk apa? Setauku item tadi tak bisa ditukar dengan apa apa,” pertanyaan itu membuat Myra mengatupkan mulutnya dengan rapat. Namun sebelum aku bertanya apa yang salah, ia langsung menjawab, “Ahaha, iya, maksudku, uh, di-ditukar dengan uang pada player yang membutuhkan! Benar sekali. Rare item ini bisa laku keras di kota kan?”
Terkadang tawanya itu terlihat terlalu dipaksakan, seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tak bisa menanyakan lebih lanjut mengenai hal apapun tentangnya. Sama saja seperti yang ia lakukan di hari sebelumnya. Mendesaknya dengan pertanyaan takkan mengubah apapun. Kurasa aku harus melakukannya dengan perlahan.
Sebentar. Kenapa juga aku ingin tahu lebih banyak tentangnya?
Myra yang berjalan di depanku tak sengaja membuka panel slot karakter. Aku sekilas melihat seluruh slot yang terbuka. Aku yang terkejut melihatnya sontak berkata, “Wow, kau membeli seluruh slot? Uangmu banyak sekali ya.”
Hal itu membuat dirinya menutup panel dan terlihat gugup ketika menjawab, “T-tidak kok. Kau mungkin salah lihat. M-Mana mungkin aku memiliki seluruh slot terbuka. Beli satu saja sangat menyulitkan ahaha.”
Freelancer. Slot karakter yang dimiliki freelancer haruslah banyak. Itulah mengapa orang-orang tak sanggup bertahan lama menjadi seorang freelancer si api hitam. Membeli satu slot saja sudah sangat mahal, apalagi seluruhnya. Satu di necromancer api biru, dan dua di paladin api ungu. Ia sudah memiliki dua, dan kenyataannya terlihat ketika ia melakukan rapalannya di depanku tadi. Lalu kenapa ia tak ingin mengakuinya? Apa dia melihatku seperti orang bodoh? Memangnya aku tak menyadarinya?
“El.”
“Ya?” Entah kenapa rasanya sedari tadi dia banyak memanggil namaku terlebih dahulu sebelum menanyakan ataupun berkata apapun. Padahal langsung to the point saja kan lebih mudah.
“Apa ada cara untuk menambah slot storage?”
Pertanyaan itu membuatku berpikir dua hal, satu: apa yang benar-benar bisa membuka slot storage? Dua: kenapa dia sangat butuh storage? Apa yang ia tumpuk sebenarnya? Sampah? Apakah dia newbie yang biasa menumpuk barang-barang yang sebenarnya tak berguna?
Sial. Berhenti ingin tahu tentangnya dan jawab saja pertanyaannya.
“Entahlah. Selain dari pembelian slot karakter yang menambah lima kolom slot storage, kurasa hanya menikah jalan lainnya.”
“Menikah?”
Aku menjawab dengan anggukan kepala, “Dengan sistem menikah kau bisa membuka 50 slot baru dan dua kotak yang bisa dimiliki oleh masing-masing partner.” Lalu pertanyaan berikutnya adalah hal yang tak kusangka akan keluar dari mulutnya.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita menikah saja?”
Terhenti berjalan dengan mataku yang menatapnya tidak percaya membuat Myra mengedipkan mata sebanyak dua kali sebelum akhirnya menyadari apa yang ia katakan. Ia tersentak kaget dengan mulut dan matanya yang terbuka lebar.
“A-aku tak berniat untuk—“
“Maaf, tapi aku sudah ada pacar.” Jawaban dariku membuat wajahnya semakin merah padam, kedua tangannya melambai-lambai di depannya dengan cepat.
“AAA-AKU PERGI.”
Setelahnya ia pun teleportasi entah kemana, dan meninggalkan party begitu saja. Aku hanya bisa tertawa pelan dan meneruskan perjalananku menuju rumah.
Kurasa Davis benar. Game ini menjadi lebih menarik.
__ADS_1
...****************...