Memoria: Mencari Memoriku Dalam Game!

Memoria: Mencari Memoriku Dalam Game!
Chapter 8: “Cupcake mistake"


__ADS_3

^^^“Aku tak mudah percaya dengan orang lain.”^^^


Davis’ POV


Aku sedikit terkejut mendengar kabar Elliot dan Lav yang pergi farming bersama hari ini. Terutama pria pirang itu. Dia sangat malas membawa orang lain untuk farming ataupun menjelajah map. Kecuali diriku, karena pasti aku yang menjadi party leader-nya, dan membuat keputusan tentang hal yang akan kami lakukan. Dapat kupastikan kali ini Lav memaksa El untuk membawanya dan ia pasti kerepotan dan menyesal setelahnya.


Wah, mereka bersenang-senang tanpaku.


“Oi Lav, sebelah sini.” Aku melambaikan tanganku pada Lav yang baru saja muncul di portal map taman setengah tempat makan ini. Tempat favoritku ada di sebelah kanan dekat dengan air mancur. Meskipun aku tahu Lav pasti sudah tahu akan hal itu, tapi entah kenapa aku selalu memanggilnya untuk mencegahnya celingak-celinguk seperti orang bodoh.


Ya sebenarnya aku tak ingin dia tersesat. Itu saja.


Aku sedang menyedot gelas berisi susu coklat di depanku dengan mata yang tak lepas dari Lav yang sedang berjalan mendekat. Kunaikkan sebelah tanganku, membuat Lav terhenti ketika ia baru saja menarik kursi di depanku.


“Tidak. Aku tak ingin menikah denganmu.”


Wajahnya mengerut dengan kekesalan, membuatku hampir tersedak dengan susu yang kuminum karena aku tak sanggup menahan tawa.


“Yang benar saja! El sudah memberitahumu tentang hal itu?!”


Aku tersenyum dengan sedotan yang kugigit, menaikkan dua jariku yang mengisyaratkan kata ‘peace’. Aku menyedot kembali isi gelas itu sebelum meletakannya di meja. “Kami berpapasan di depan portal. Ia masih berjalan menuju rumah. Katanya ia akan menyusul sebentar lagi.”


Kulihat Lav menghela nafas berat. Ia menenggelamkan wajahnya di meja yang terbuat dari kayu magoni di depan kami. Rambut Lavender miliknya yang ia ikat tinggi seperti biasanya terangkat di depan mataku.


Lavender.


Ia pun tiba-tiba terbangun dan menopang dagu.


“Aku hanya butuh slot untuk storage-ku. Itu saja. Tidak lebih,” bibirnya yang ia majukan membuatku tersenyum jahil, keinginan untuk menggodanya makin tinggi.


“Tidak lebih? Lalu ajakan untuk menikah itu apa?”


“Argh, sudahlah, jangan diungkit lagi, aku tak mau membicarakannya,” kini ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kusenderkan tubuhku ke belakang pada kursi, kulipat tanganku di depan dada sembari memperhatikan dirinya, “Memangnya kenapa? Kenapa kau sangat terobsesi dengan storage-mu itu, Lav?”


Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja. Ponytail tinggi miliknya terlihat naik ketika ia menundukkan kepalanya. Iris berwarna hijau miliknya memperhatikan scrunchie merah yang ia kenakan di tangan kanannya. Ia memainkannya sembari menjawab dengan mulut yang maju, “Aku takut. Bagaimana jika aku kehabisan pil itu? Kau tau sendiri aku tak pandai menjaga diri. Seperti yang terakhir kali terjadi, jika saja kau tak menemukanku mungkin aku sudah berakhir menjadi anak NPC itu sampai saat ini.”


Aku sedikit merapikan rambutku yang padahal sama sekali tak berantakan. Kudekatkan tubuhku pada meja dan menopang dagu. “Padahal aku setiap hari log in. Apa yang kau khawatirkan? Kau tidak akan mati ribuan kali dalam sehari kok.”


“Bukan itu saja yang kutakutkan, Davey. Bagaimana jika kau pergi tiba-tiba? Menghilang dan tak kembali? Aku tak bisa mengandalkanmu terus, aku tak ingin membebanimu yang sibuk di dunia nyata dan harus datang beberapa kali untuk mengecek apakah aku baik-baik saja. Aku…”


Lav akhirnya menatapku dengan kedua alisnya yang naik, “Aku takut mati dan melupakanmu sepenuhnya, Dave.”


Aku menatapnya sejenak, memperhatikan salah satu alis miliknya yang berbeda dari yang satunya. Satu goresan pada alis itu tak hilang. Aku masih teringat kenapa luka itu bisa ada dan membekas.


Aku yang memberikan luka itu.


“Pfft. Kau ini. Memangnya ini novel romansa apa? Sadarlah, kita hanya bermain game. Jangan terbawa perasaan. Kau akan mati dengan mudah jika kau begitu terus,” jawabku sembari melahap salah satu cupcake yang ada di depanku yang telah kupesan dan datang sebelumnya.


“Kau pasti ada maunya sampai bicara menjijikan seperti itu kan? Apa? Kau mau uang?”


Lav sontak melirik tas yang masih ia gendong sedari tadi di belakangnya. Ia pun menurunkannya dan nyengir seperti kuda. “Ehehe, kukira acting-ku tadi sangat bagus.”


“Ini sudah ke-sekian kalinya kau diusir dari penginapan. Berapa yang kau butuhkan?”


“Aku tak butuh uang.”


“Ha?”

__ADS_1


Lav mengusap sisi lehernya berkali-kali sembari menjawab dengan gugup, “K-kurasa aku bisa tinggal di rumahmu untuk sementara sebelum aku mendapatkan uang lagi. Itupun jika kau mengizinkan.”


“Mendapatkan uang lagi? Bagaimana dengan uang kemarin?!”


“Aku… uh, aku membelanjakan semuanya untuk pil hehe.”


Aku mengusap wajahku dengan frustasi dan menopang dahiku dengan tanganku.


Mengerikan. Padahal semua cara yang kulakukan adalah cara terbaik dalam mendapatkan uang di dunia game ini dengan cepat. Dan ia menghabiskannya semudah itu? Yang benar saja.


“Dengar, Lav. Kurasa kau harus berhenti seperti ini.”


“Seperti apa?”


Lav hendak mengambil cupcake rasa green tea dengan krim vanila di depan kami namun aku menepuk bagian atas tangannya dan menunjuk rasa coklat di sebelahnya. Ia sedikit menggeram namun menurut.


“Khawatir berlebihan akan hal ini. Notifikasi akan muncul jika kau respawn, Lav. Tiga notifikasi masih belum cukup? Dan apa, kau takut memorimu tak kunjung muncul karena terlalu banyak mati? Bukankah sudah kusuruh kau untuk membuat diary dalam bentuk rekaman suara? Masih belum cukup juga? Apa jangan-jangan kau lupa melakukannya?”


Panjang lebar penjelasan itu hanya dijawab dengan suara mulut Lav yang penuh. Kurasa ia melakukannya dengan sengaja, menghindar untuk menjawabku. Akupun menghela nafas dan mengambil cupcake yang terakhir.


Terserah lah.


“Kau sudah cerita pada Elliot?”


Lav melahap gigitan terakhir pada cupcake itu lalu menjawab, “Tentang apa?”


“Kondisimu, tentu saja.”


Hal itu membuatnya berhenti mengunyah sisa cupcake coklatnya dan ia pun mengalihkan pandangannya dariku sebelum menjawab, “Entahlah. Aku masih belum bisa percaya padanya.”


“Ayolah, dia temanku sedari era beta. Dari semua orang yang ada di dunia ini, hanya dia yang kuijinkan untuk kau percayai.”


Lav pun tertawa dan aku menggelengkan kepalaku, menahan balik tawa, “Oi, suaraku tak seperti itu.”


“Oi, suaraku tak seperti itu,” Lav mengimitasi suaraku lagi dan aku menggulung tisu yang ada di atas meja, melemparnya dengan bola tisu itu. “Ouch! Kau menyakitiku! Bagaimana jika aku mati?”


“Oh ya? Mati saja sini kau mati,” aku berdiri dari tempat dudukku, Lav pun berteriak dan hampir saja kedua tangan ini mencengkram erat leher Lav ketika suara yang familiar datang dari arah portal pintu masuk.


“Hei, maaf aku telat.”


Dengan posisi tanganku yang hampir meraih leher Lav dan Lav yang menutupi dirinya dengan kedua tangannya, kami berputar dan melihat Elliot yang datang mendekat menghampiri meja kami.


Kembali berdiri tegak dan merapikan rambutku, aku pun menyambut kedatangan Elliot dengan adu jotos yang biasa kami lakukan, “Kau sudah kembali?”


“Ya, tidak akan memakan lama kan. Penginapanku tak terlalu jauh dari sini.”


“Oh mengenai penginapan,” kutatap Lav yang terduduk diam dengan wajahnya yang kebingungan menatapku balik. “Lav diusir dari penginapan lagi, kurasa kau sudah tau hal itu. Mengapa kau tidak mengajaknya untuk tinggal ber—“


“Ahahaha, kau lucu sekali Davey,” ia tiba-tiba berdiri di sampingku, memeluk lengan kananku, senyum dan tawa yang dipaksakan itu membuatku ingin tertawa.


“Oh, El. Kau kan baru datang, bagaimana jika ku pesankan minuman? Davey? Apa kau mau tambah minuman? Susumu sudah habis,” tanyanya tiba-tiba, kulirik dirinya yang menengadah ke atas dan memberiku tatapan aneh. Rasanya ia sedang memberitahuku sesuatu melalui mata hijau miliknya itu, tapi aku yang tak mendapatkan sinyal itu hanya terdiam.


“Tentu, kurasa kau lebih tahu minuman apa yang saat ini sedang tren. Kenapa tak kau pilihkan saja untukku?” Jawaban dari Elliot membuat Lav berkata ‘oke’ sebelum akhirnya pergi dengan langkah kaki yang cukup cepat menuju stand minuman yang lumayan jauh jaraknya dari meja kami.


“Ada apa dengan dirinya?”


“Entah.”


Jawaban singkat dariku ia respon dengan bahu yang ia angkat dan turunkan kembali. Setelahnya aku pun kembali duduk dan Elliot menempati tempat duduk yang sebelumnya Lav duduki.

__ADS_1


Perlahan pria pirang ini menatap sekitarnya, rasanya dia seperti sedang menginspeksi seluruh game ini. Sepertinya ia masih belum terbiasa dengan update terbaru yang berkali-kali sudah dilakukan untuk game ini. Sudah sangat lama ia tak kembali ke game ini. Aku yakin dia sedang mencoba beradaptasi kembali dengan lingkungannya. Dibandingkan game sebelah yang kami mainkan bersama yang bergenre horor, kurasa pemandangan ini membuatnya seperti melihat dunia baru.


“Kau suka update-an baru game ini? Bagaimana? Kau sudah coba farming juga kan?”


Ia dengan santainya meletakkan salah satu sikutnya di meja, menopang kepala pirangnya, dan melihat stand yang sedang Lav datangi. “Kurasa begitu. Rasanya sangat aneh, aku tak terbiasa dengan warnanya yang terlalu mencolok.”


“Dasar pecinta horor,” ucapku dengan sedikit tawa. Kunaikkan sebelah kakiku dan kulirik Lav yang sedang sibuk memilih minuman yang terdapat di menu.


“Kau tau sesuatu kan,” ucapnya tiba-tiba.


“Tentang apa,” jawabku malas.


“Gadis itu, tentunya.”


Kumainkan rambutku dengan menyisirnya ke belakang. Tak kusangka kebiasaan di dunia nyata itu bisa terbawa ke dunia game ini. Kurasa aku harus menghentikan kebiasaan itu, Lav selalu mengataiku bahwa aku terlalu berusaha untuk cool di depan orang-orang. Padahal aku melakukannya tanpa sadar.


Terkadang aku sadar dan tidak berhenti melakukannya juga sih.


“Heh. Coba ceritakan dulu apa hasil observasimu,” ucapku dengan mendekat ke depan meja, penasaran dengan apa yang akan dia lontarkan sebagai jawaban. “Kau banyak bermain dengannya hari ini kan? Bagaimana menurutmu?”


Elliot yang masih dengan posisi santainya memberiku side-eye sejenak, sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada gadis yang sedang jadi topik pembicaraan.


“Dia kelompok elite kan?”


Aku terdiam sejenak mendengar jawaban itu, sebelum menatap kamera tidak nyata di sebelahku dan menggeleng kepala setelahnya, “Wah, sejauh ini kau… ha, itu hasil observasimu?”


Akhirnya Elliot mengganti posisi duduknya dengan bersender ke belakang dan menyilangkan tangannya di depan dada. “Memangnya kenapa?”


“Tak kusangka kau meleset kali ini.”


“Apa maksudmu meleset?” Ia mendekat, meletakkan tangannya di atas meja dan lanjut berbicara, “Seluruh slot karakter terbuka di akun miliknya. Beberapa kali mengganti warna mata yang harganya tak murah. Tidak log out dan sepertinya tidak pernah log out sama sekali bahkan di malam hari.”


Ini dia yang kutunggu. Elliot yang jarang berbicara namun sekalinya membahas suatu hal yang penting, ia tak pernah mundur.


“Lalu?”


Raut wajah seriusnya tak pernah berubah sejak dulu. Ia sedikit berganti posisi duduk sebelum menjawab, “Hal ini hanya merujuk pada satu hal. Gadis ini player elite yang memutuskan tinggal di game untuk selamanya dan menghamburkan kartu kredit orang tuanya untuk game. Aku tak mengerti. Mengapa kau mau saja menemani player seperti ini? Bukankah kau anti-player elite?”


Bisa gila aku. Dari semua prediksiku untuk hasil observasi Elliot terhadap Lav, menganggapnya sebagai player elite adalah hal yang tidak ada dalam listku. Kukira ia takkan menjawab sedetil ini. Kukira ia tak terlalu mempedulikannya. Elliot bukan tipe orang yang terlalu mempedulikan player lainnya. Tak ku sangka ia akan seserius ini memperhatikan Lav. Tak kusangka juga ini jawaban yang ia lontarkan untukku.


Kurasa membawanya kemari untuk memecahkan masalah Lav adalah keputusan yang benar.


Sebelum aku menjawab pertanyaan pria pirang yang terlihat sedikit frustasi di depanku ini, kudengar suara minuman tumpah dan permintaan maaf berulang kali dari arah sebelah kanan meja kami. Disana Lav berdiri dan menunduk berkali-kali pada NPC waitress yang sepertinya tak ia sadari hanyalah NPC.


Raut wajahnya terlihat kesal, sedih dan kecewa dengan mata yang terus bergilir dari milikku lalu bergantian pada Elliot, kemudian ia langsung pergi meninggalkan kami begitu saja.


Ah, sial. Sepertinya ia mendengar perkataan El tadi.


“Lav. Lav!” Aku bergegas beranjak dari tempat dudukku dan mengejarnya, namun ternyata Elliot sudah lebih dahulu mengejarnya dan menarik lengannya yang Lav tepis dengan penuh drama.


Aku hanya memperhatikan dari belakang, ketika Lav berusaha menahan tangisnya ia berkata, “Benar aku player elite, lalu apa? Jika aku semenjijikan itu untukmu seharusnya kau tak perlu baik padaku sedari awal!”


Dan setelah itu ia pun masuk ke dalam portal dan menghilang.


Sudah kubilang ini bukan novel bergenre romansa. Astaga.


...****************...


Chapter Note!

__ADS_1


- Player elite: Player yang memutuskan untuk menjadikan game ini menjadi tempat tinggal dalam jangka lama untuk mereka. Biasanya mereka menetap di penginapan, pindah-pindah, ataupun untuk para player yang memiliki banyak uang (biasanya dari kartu kredit orang tuanya) bahkan memiliki rumah mereka sendiri. Hal ini mendapatkan pandangan yang sangat negatif untuk beberapa player apalagi para anti-player elite, karena biasanya mereka memiliki banyak hal dan terlihat sangat OP, padahal mereka tidak bisa menggunakan skill dengan baik. Kenapa? Tentu saja karena mereka banyak membeli tapi malas untuk meningkatkan skill dan kemampuan mereka :)


__ADS_2