Memoria: Mencari Memoriku Dalam Game!

Memoria: Mencari Memoriku Dalam Game!
Chapter 2: “Senang berkenalan denganmu”


__ADS_3

‘Lav? Bukankah namanya Myra?’


“Kurasa dia teleportasi tak terlalu jauh dari sini,” ujar sang wanita berambut hitam yang dikenal dengan nama Red Shadow tadi ketika berjalan di depan dua pria yang mengikutinya dari belakang. Mereka kini menyusuri gang-gang sempit yang jauh dari keramaian.


“Masa bodoh, aku tak peduli. Kita sudah dapat apa yang kita butuhkan,” Zee menjawab dengan panel terbang mengikuti di depannya. Ketika ia meng-klik beberapa fitur yang muncul, rambut coklat miliknya berubah menjadi warna hitam legam dengan sedikit palet berwarna putih di dalamnya. Ia membuka kacamata yang ia gunakan, bersamaan dengan berubahnya warna mata miliknya menjadi warna silver. Mata silver itu melirik gadis di depannya yang kini warna rambutnya telah berubah menjadi warna asalnya, Lavender.


“Kurasa yang tadi itu terlalu mudah, Davis,” ucap sang gadis sembari membalikkan tubuhnya, kini ia berjalan mundur sembari mengumpulkan rambut Lavender miliknya yang sedang diikat tinggi menjadi Ponytail. “Samat mumah hah,” tambahnya dengan ikat rambut yang ia gigit, menunggu untuk diikatkan pada rambut panjang miliknya.


Pria yang dipanggil Davis itu menatap lawan bicaranya dengan tatapan tidak percaya, “Benarkah? Padahal kau hampir mengacaukannya. Apa tadi? Pura-pura mabuk? Myra, yang benar saja,” ujarnya dengan tawa yang bercampur dengan nada kesal.


Gadis yang dipanggil Myra itu menarik ikat rambut yang tadi digigitnya untuk menjawab, “Aku berusaha untuk tak mengacaukannya tadi! Aku sedikit tersandung dan aku tak tau bagaimana cara mengatasinya, kau tau itu kan?!” Rambut panjangnya yang sebelumnya terkumpul kini kembali tergerai. Sorot mata berwarna merahnya menjadi lebih tajam dari sebelumnya.


“Lalu kenapa kau tersandung? Itu tidak ada di script! Kau merusak reputasi Red Shadow!” Suara Davis meninggi dan Myra yang tak mau kalah maju selangkah mendekat dan menjawab, “Lalu apa? Kau mau aku apa? Haruskah aku bilang ‘Oh, maafkan aku, aku terjatuh!’, atau ‘Wah, aku tak tau ternyata lantainya lebih tinggi dari yang diluar!’, itu yang kau mau? Aku juga takda niatan untuk tersandung!”


Dirinya yang menjelaskan dengan berjalan kesana kemari membuat seorang pria di sampingnya sedikit tertawa, lalu ia berkata, “Kurasa aktingmu tadi bagus.”


“Berisik! Kau—“


Myra melirik lelaki itu yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Wajahnya yang mengkerut karena amarah tadi kini sedikit mereda ketika ia bertanya, “Kau siapa?”


“Ha?” Lelaki itu menunjuk dirinya dengan telunjuknya. “Aku siapa?”


Davis menghela nafas dan mengusap wajahnya, “Dia temanku. Ingat?” Dengan dua kedipan dan raut wajah bingung milik Myra, Davis yakin jawabannya adalah ‘tidak’. “Yang tadi ikut bersama kita di bar, ingat? Semalam kukatakan ia akan ikut dengan kita hari ini,” Davis menambahkan.


Myra menganggukan kepalanya pelan, mulut membentuk huruf ‘O’, namun isi mata miliknya kosong menatap tanah, seakan sedang mengingat sesuatu. “Kau bahkan tak ingat nama dia, bukan?” Setelahnya anggukan kepala Myra berubah menjadi gelengan kepala, mulutnya tertutup rapat. Davis menghela nafas untuk kedua kalinya. Myra hanya bisa nyengir tanpa dosa.


“Namaku—“


“Sebentar! Biar kutebak!”


Myra mengelus dagu dan menyipitkan matanya sembari menginspeksi pria itu dari ujung kaki hingga ujung rambut pirangnya. Yang dilihat hanya terdiam dengan kedua mata sayu berwarna birunya melirik kesana kemari.


“Kau mirip bangsawan. Ku yakin nama ID game-mu pasti berbau bangsawan juga. Aku yakin dalam satu kali tebak aku pasti benar,” Myra menjentikkan jarinya dan menarik nafas sebelum menunjuk pria itu dan meneriakkan nama, “Julian!”


“Bukan.”


“Edward!”


“Salah.”


“Charles!”


“Um, bukan.”


“Tsk. Kau berbohong, pasti salah satu dari nama yang kusebutkan itu benar, kan?” Myra dengan percaya dirinya mendekat padanya, namun sebelum ia lebih dekat dengan si pirang, Davis meletakkan tangannya di kening Myra, menariknya ke belakang untuk mendekat padanya.


“Daripada mengganggu orang, kemari dan lihat ini,” ujarnya pelan, mengabaikan lengannya yang masih lekat menempel di dahi Myra yang gadis itu coba lepaskan. Gadis itu pun menyerah ketika melihat nominal uang yang terpampang di panel Davis. Mata ruby miliknya berbinar-binar, dengan mulut terbuka lebar karena tak percaya dengan yang dilihatnya.


“Dan kau hampir mengacaukannya, astaga. Tsk, kurasa peran Red Shadow memang tak cocok denganmu,” kekeh Davis. Myra kembali mengerutkan wajahnya sembari membuang tangan Davis yang menempel di dahinya. “Kalau begitu kenapa tak kau saja yang jadi Red Shadow agar semuanya sempurna hah?”


Myra pun berjalan menjauhi keduanya, “Oh, jangan lupa ganti warna matamu!” ujar Davis sebelum Myra semakin jauh. “Kau juga belum ubah tinggi badanmu, Lav!” Dan dengan tambahan itu, Myra menunjukkan jari tengah miliknya tanpa membalikkan badan, Davis hanya bisa tertawa.


“Lav? Bukankah namanya Myra?”


“Oh. Itu hanya panggilan kebiasaan. Namanya memang Myra. Ayo ikuti dia,” jawab Davis sembari sedikit berlari untuk mengejar Myra.


Mereka menemui ujung dari gang sempit itu yang ternyata membawa mereka ke tengah kota. Seperti biasanya, kota sangat ramai dipenuhi dengan player baru dan player menengah yang sedang berbelanja kebutuhannya. Suara bising dari para NPC merchant yang menggunakan beberapa trik berjualan andalannya seperti membunyikan lonceng dengan suara yang berbeda-beda dengan teriakan khasnya, ada yang menggunakan musik, ada yang hanya dengan berteriak keras, dan tak sedikit NPC juga yang berjualan berdua, meneriakkan dagangannya secara bersamaan.


“Heh, masih sama seperti dulu kan El?” ucap Davis sembari mengusap ujung hidungnya dengan bangga ketika mereka berdua tiba di tengah-tengah keramaian itu. “Tak banyak yang berubah, ya kan?” tanyanya, yang hanya dijawab dengan anggukan dari pria yang ia kenal dengan nama El itu.


“Dan kau masih tak berubah, masih banyak diam seperti biasanya,” tambah Davis, sembari meregangkan tubuhnya. Namun ia terhenti ketika El menjawab, “Dan kau masih tak berubah, Dave yang sama yang selalu memaksaku untuk kembali bermain game lama hanya untuk bernostalgia.”


Davis tertawa sembari berkata, “Heh. Kau masih saja menyebalkan. Ya… sebenarnya aku lama stay disini karena beberapa hal. Dan lama kelamaan aku jadi sedikit bosan, mungkin keberadaanmu bisa menambah… entahlah, cerita? Ataupun mungkin beban ke depannya.”

__ADS_1


Mereka berdua terus berjalan sembari melirik kesana kemari untuk mencari Myra, tetapi mereka nampak tak serius mencari karena mereka terlalu fokus mengobrol. “Kukira kau memang berubah El! Ketika kulihat tingkah menjijikanmu di bar tadi kukira itu memang sifat aslimu sekarang!” ujar Davis pada El.


“Wah, artinya aku terlalu mendalami peran,” ucapnya pelan, tetapi masih dapat terdengar oleh Davis yang berjalan tak terlalu jauh di sampingnya. “Tak kusangka aku kembali kesini hanya untuk melihatmu bermain peran. Apa yang membuatmu melakukan hal ini, Dave?”


Pertanyaan itu terjawab oleh sedikit anggukan kepala Davis ke sebelah kiri untuk menunjuk Myra yang sedang melihat-lihat aksesoris dan bercakap-cakap dengan merchant yang ada di toko itu. “Percayalah, kali ini comeback-mu ke game ini akan lebih menarik dari biasanya.”


“Karena seorang gadis? Yang benar?”


“Bukan, kau akan segera tau bahwa—“


“Davey! Coba lihat ini!” Teriakan suara perempuan yang familiar itu menarik perhatian keduanya. “Devi? Pfft, nama panggilan macam apa itu?” El sedikit tertawa, sementara yang dipanggil memilih untuk menutup mulut dan berjalan mendekati sumber panggilan.


“Oi, oi. Sudah kukatakan jangan menghamburkan uangmu,” suara Davis mengisi ruangan, membuat beberapa orang melirik ke arahnya. Myra dengan warna mata yang kini berwarna hijau itu berbinar-binar, menghiraukan Davis yang berdiri di sampingnya.


“Lav, kau tak dengar?”


“Ayolah Dave, hanya satu kali ini saja, ya? Kumohon?” ujarnya dengan memasang wajah memohon pada Davis, sementara yang dipandang melihat sekitar ruangan secara singkat dengan tampang yang terlihat benar-benar tidak tertarik.


Davis menghela nafas, kemudian berkata, “Kau tau ini semua sampah, kan? Takda yang bisa kita manfaatkan dari membeli—” Ia terhenti ketika Myra memperlihatkan salah satu kalung dengan permata biru dengan panel melayang yang sebelumnya telah Myra buka dengan satu usapan. Davis menyipitkan matanya, sedikit mendekat pada Myra untuk melihat keterangan itu.


“Ketahanan racun +1000, serangan pada elemen gelap +1500. Ha. Tak bisa dipercaya,” Davis membaca dengan sedikit berbisik. “Hei, El. Lihat apa yang—“


Ia terhenti ketika dirinya tak bisa menemukan pria yang ia panggil. Rasanya ia meninggalkannya di luar toko tadi, namun ia tak menemukannya disana. Hingga ia mendengar suara mesin kasir di sebelahnya dimana Eli juga berdiri disana.


“Terima kasih telah berbelanja di toko kami. Silahkan datang kembali,” ujar sang merchant yang terlihat sangat senang. Elliot hanya merespon dengan anggukan.


“Kau! Apa kau baru saja—“


“Wah! Kau membeli salah satu dari pernak-pernik ini?!” Myra mengikuti si pirang yang berjalan keluar toko itu, sementara Davis masih berdiri disana dengan tatapan tak percaya.


“Apa yang kau beli?” tanya Myra. Yang ditanya berbalik, menunjukkan tiara di tangannya dengan permata berwarna ungu di tengahnya. “Astaga! Cantik sekali!” Myra menutupi mulutnya tak percaya, dan bertanya kembali, “Kau membelinya untuk siapa?”


“Untukku,” jawabnya dengan santai. Myra mengangkat kedua alisnya, “’Untuk…mu?”


“Apa kau baru saja menghabiskan uangmu untuk item bodoh itu?”


“Iya,” pertanyaan untuk Elliot dijawab oleh Myra, dengan mata yang masih memperhatikan panel Elliot. “Sekarang dia— Oh! Oh! Aku tau ini! Lihat Dave! Dia melakukannya! Dia melakukan hal itu! Apa namanya? Aku lupa!” Myra berjingkrak-jingkrak di sebelah Elliot, tinggi badannya yang telah berubah menjadi lebih pendek dari kedua pria itu membuat dirinya terlihat seperti anak kecil.


Penasaran, Davis mendekat dan mencoba untuk melihat hal ‘itu’ yang ditunjuk oleh Myra dan sedang dilakukan oleh Elliot. Akhirnya, ketiganya menyaksikan dua panel yang memperlihatkan dua benda tadi bersatu hingga akhirnya memperlihatkan hasil akhir, yakni jubah berwarna biru. Terdapat notifikasi ‘SUKSES’ di tengah-tengahnya.


“Tsk. Hari pertamamu kembali ke game ini dan kau sudah menyombongkan diri?” Ujar Davis yang menyilangkan tangan di depan dadanya, lirikan iri matanya bisa saja membakar jubah Elliot yang ia tarik dari panel miliknya. Myra masih memperhatikan dengan mata yang berbinar-binar.


“Bisakah kau lakukan sesuatu untukku juga? Kumohon!” Myra menyatukan kedua tangan di depannya, memohon pada Elliot. Kedua pria itu menatap Myra terheran-heran, lalu Elliot menjawab, “Tentu. Apa yang mau kau ubah?”


Myra tersenyum lebar, ia membuka panel melayang miliknya dan menarik scrunchie berwarna gold kesukaannya dari penyimpanan miliknya. Ia banyak mengoleksi scrunchie yang bahkan seluruh warna ada di sana.


Tetapi ketika ia hendak memberikannya pada Elliot, tangan usil mengambil scrunchie itu dari telapak tangannya. Pemilik tangan usil itu berlari dengan kencang, meninggalkan Myra dengan mulut ternganga. “Pe-pencuri!”


Myra bergegas berlari mengejarnya, mengabaikan Davis yang memanggil namanya di belakangnya. Pasar sangat ramai, Myra hampir kehilangan anak kecil berjubah coklat pencuri scrunchie miliknya tadi. Ia terus berlari, hingga ia menabrak seseorang, membuat keranjang apel yang dibawanya tumpah ke jalanan. “Ah, maaf. Maafkan aku.”


Ia pun memutuskan untuk membantu ibu itu untuk mengambil apel-apel yang terjatuh tadi. Matanya tak fokus, tetap melirik kesana kemari untuk melihat tanda-tanda anak kecil pencuri tadi. Tetapi yang dicari tak pernah terlihat, terlalu banyak orang lalu-lalang. Myra menghela nafas kecewa ketika ia mengambil apel terakhir di jalanan. “Ini, bu,” ucapnya.


“Terima kasih. Ah, apa kau kebetulan melihat anakku?”


“Hm?”


Myra dan ibu itu bertatapan, mata orange milik ibu itu menatap lembut wajah Myra, membuat gadis itu terdiam sejenak. “Uh, aku…“


“Ah, disini kau rupanya.”


Myra berbalik untuk menemukan Davis dan Elliot yang sedikit terengah-engah. “Kalian menemukan pencurinya?” tanya Myra.


“Hah?”

__ADS_1


“Sayangnya tidak.”


Myra menundukkan kepalanya dengan kecewa. Jarinya menyubit-nyubit scrunchie berwarna merah yang ia gunakan. Ibu tadi menyentuh pundak Myra, mengagetkan dirinya. Ia kembali berbalik, ibu itu bertanya hal yang sama lagi. “Apa kau melihat anakku?”


Dengan kepala yang dimiringkan, Myra bertanya, “Quest?” Namun senyum ibu itu perlahan menghilang, ia malah menunduk dan menggelengkan kepalanya. Lalu ia pun berjalan melewati Myra dan dua pria di depannya. Terdengar suaranya kembali bertanya kesana kemari mencari anaknya.


“Aneh sekali. Kukira dia akan memberikan quest padamu. Bukannya biasanya seperti itu?” Tanya Elliot pada Myra, namun Myra hanya mengangkat bahunya. “Entah. Masa bodoh, aku harus mengejar pencuri tadi,” jawabnya, sembari berancang-ancang untuk kembali berlari, namun Davis menarik bahunya.


“Hei, bodoh. Sudahlah. Tak mungkin bisa kita temukan dia di sini. Kau gila?”


Mulanya Myra hendak mengabaikan perkataan Davis, namun ketika melihat sekitarnya, ia tersadar bahwa perkataan Davis benar. Ia pun terdiam di tempat, tak bisa menyembunyikan wajah kecewanya.


“Aku tau itu mahal, apalagi hanya sekali kau dapatkan di main quest,” ucap Elliot tiba-tiba.


Myra tersentak dan bertanya, “Wah benarkah? Aku bisa mendapatkannya dari main quest?” Ia segera membuka panel melayangnya, melihat menu bagian quest yang bisa dibilang sudah berdebu dan menjadi sarang laba-laba. Bukannya melebih-lebihkan, tetapi itu benar. Jaring laba-laba benar-benar menghalangi questnya. Salah satu fitur yang muncul untuk membuat player kesulitan ketika menemukan panel yang jarang dibuka. “Astaga,” ucap Myra pelan, sembari membersihkannya dengan ujung lengan baju miliknya.


“Pfft, kapan terakhir kau membukanya?” ledek Davis yang berdiri di sebelahnya, diam-diam memperhatikan. Myra memukulnya dengan sikut tangannya yang Davis hindari, dan yang menghindar hanya tertawa. “Kau juga sama saja. Kapan memangnya kau log in hanya untuk main quest?”


Elliot nampak kebingungan, hingga akhirnya ia bertanya, “Aneh, bukankah gelang itu hanya bisa didapatkan dari main quest? Jika kau sudah mendapatkannya bukankah berarti kau sudah melakukan quest itu? Kau takkan bisa—“


“Ahaha kau benar, kau benar,” Myra memotong perkataan Elliot. “Ah, omong-omong itu bukan gelang. Itu scrunchie. Tapi kau memang benar. Scrunchie itu takkan bisa kudapatkan lagi karena main quest tak berulang kan?”


“Dan dia sebenarnya belum melakukan main quest tapi sudah dapat gelang itu karena ia mencurinya dari—uhuk!” pukulan di dadanya membuat Davis berhenti berbicara. Myra hanya nyengir sembari menggaruk belakang telinganya yang tak gatal.


“Oh… aku mengerti.”


“Oh aku mengerti apanya?” Tanya Myra dengan nada agak tinggi, tak ingin dirinya disangka pencuri ketika memang benar adanya.


“Tidak, lupakan. Kemari, questmu sepertinya tak terlalu jauh dari milikku. Aku tau tempat itu,” ujar Elliot dengan tenang, yang Myra respon dengan anggukan dan berjalan mengikuti pria pirang itu. Ia sedikit berbalik ketika tak ada respon apapun dari Davis.


“Hei, Davis, kau tak ikut?”


“Setelah kau memukulku dan membuatku kehilangan seperempat darahku?”


Davis yang menepuk-nepuk dadanya menunjuk panel kecil di atas kepalanya yang menunjukkan darahnya yang telah hilang seperempat.


“Lemah,” respon Myra singkat.


Davis berdiri tegak dengan ekspresi dingin, satu lengan diangkatnya dengan api berwarna ungu muncul di atas telapak tangannya. “Ahaha, a-aku hanya bercanda!” Myra mengangkat kedua tangannya, melambaikannya dengan cepat.


“Bagus. Sekarang lanjutkan quest, hari ini kita khususkan untuk itu saja,” Davis menjentikkan jari dan api itu hilang seketika, kini ekspresinya kembali seperti semula.


Myra menghela nafas lega namun tak menyadari keberadaan Davis yang tiba-tiba saja berdiri di depannya dan menyentil dahinya.


“Ack!”


...****************...


Note:


- Appearance: player dapat mengubah penampilannya sesuai keinginannya dari toko yang tersedia di dalam panel mereka masing-masing.


- Item: player dapat melihat keterangan berbagai item dengan mengusapnya, dan panel dengan keterangan akan muncul.


- Penukar appearance: skill yang dimiliki oleh para necromancer, menukar penampilan suatu barang dengan barang lainnya.


- Quest: didapatkan dari NPC dengan cukup berkata 'quest' pada mereka.


Fun Fact


- Myra sangat menyukai scrunchies, koleksinya sangat banyak hingga memenuhi storage miliknya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2