Memoria: Mencari Memoriku Dalam Game!

Memoria: Mencari Memoriku Dalam Game!
Chapter 4: “The lost rabbit, dumber and the dumbest”


__ADS_3

^^^‘Kau babi bodoh buta map, lihat sekarang kau ada dimana?!’^^^


Elliot’s POV


Nafasku terengah-engah ketika Davis akhirnya berhenti berlari di depanku. Aku membungkuk dan memegangi lututku, mencoba untuk membuat diriku tenang ketika sekujur tubuhku rasanya terbakar karena telah berlari memutari jalan map kota saat itu. Padahal aku sudah kembali seperti yang dijanjikan, pukul 5 sore. Tetapi…


“Ah, sial! Sudah kubilang kita harus cepat!”


“Tak kusangka dia akan hilang, oke?! Kukira dia akan kembali ke map kota seperti biasan—“


Tarikkan pada kerah kemejaku mengagetkanku, wajah Davis nampak merah padam. “Sudah kukatakan jangan tinggalkan dia sendiri! Dia punya masalah dengan ingatannya! Bukankah sudah kuperingatkan kau akan hal itu?!”


Pesan miliknya tersirat lagi dalam ingatanku. Ketika ia memberikan pesan party padaku dan gadis itu pagi ini, ia juga memberiku pesan pribadi.


‘Jangan tinggalkan Myra sendiri. Dia punya masalah ingatan.’


‘Apalagi membiarkannya mati.’


‘Kubunuh kau jika dia mati.’


Aku mencoba melepaskan pegangannya yang erat pada kerahku dan berkata, “Davis, tenanglah. Kita pasti menemukannya, oke?”


Tapi akupun masih tidak mengerti dengan situasinya. Kenapa Davis mengamuk hanya karena hal ini? Juga yang paling membuatku tak habis akal adalah mengapa gadis itu tak dapat terdeteksi oleh map? Aku bahkan tak bisa menemukan keberadaannya di map ketika ia padahal online dan ada dalam friend list milikku. Rasanya tak berguna. Kenapa ia memiliki warna mata yang aneh? Kenapa…


Kenapa ia sekarang mengenakan topi aneh berbentuk telinga kelinci?


“Davis. Lihat, Myra—“


“Dimana?!”


Kutunjuk gadis bertopi aneh itu agar Davis yang memegang kerahku menengoknya, dan perlahan cengkramannya melonggar.


“Lav?” Perlahan wajah berkerutnya itu mereda. “Lav!” Ia bergegas berlari dan aku pun memutuskan untuk mengikutinya, berusaha mengabaikan keanehan akan panggilan nama itu untuknya.


Ketika Lav, ah, maksudku Myra tak jauh dan hanya beberapa langkah dari kami, langkah Davis melambat hingga ia terhenti di tengah jalan. Ia nampak ragu untuk mendekatinya. Aku pun menatap kembali gadis itu, memperhatikan tingkah anehnya.


Ia memegang dua apel di kedua tangannya, kakinya berayun silih bergantian dan ia nampak sedang berbincang dengan seorang ibu yang sepertinya merchant di toko itu. Anehnya, Myra yang terduduk di sebelah dagangan apel itu terlalu asik dengan dua apel yang dia pegang, memainkannya seperti anak kecil dan sesekali tertawa. Dua telinga kelinci dari topi yang ia pakai sedikit mengerut setiap kali ia tertawa. Lalu hal yang membuat kita semakin heran adalah merchant itu yang tiba-tiba memeluk Myra yang kegirangan, wajah mungilnya terlihat dari bahu merchant itu.


Mata merah ruby miliknya tak sengaja bertemu dengan milikku. Aku yang ditatap hanya menatap balik, namun tiba-tiba ia tersenyum lebar, senyum yang sama yang ia tunjukkan saat pertama kali kulihat dirinya di bar. Ah, gila. Gadis itu memang gila.


“Ada yang aneh. Ayo cepat,” ucap Davis. Aku pun mengangguk dan mengikutinya yang berjalan menuju merchant itu.


“Permisi, bu,” sapa Davis, namun mata silver miliknya tak bisa lepas dari Myra.


“Ya, tuan muda? Apa yang bisa kubantu di hari yang cerah ini?” Ucapan NPC itu terdengar sangat khas, pipinya terangkat membentuk beberapa garis kerutan di bawah matanya ketika ia tersenyum.


Davis mengusap ujung hidungnya, yang tak ia sadari selalu dilakukan ketika ia gugup. “Aku, uh, saya… mencari gadis ini,” ucapnya sembari sedikit menganggukkan kepalanya ke arah gadis yang ia maksud, yang masih memainkan dua apel dan kini dengan bodohnya mengangkatnya dengan tinggi sembari cekikikan. Aku berusaha untuk tak menatapnya, tapi aku hanya mau memastikan, apakah ia benar-benar tak mengenali kami? Karena sedari tadi dia tak mengatakan apapun. Ia nampak seperti orang asing.


“Benar kan? Akhirnya kita menemukannya!”


“Iya. Akhir— ha? Apa? Kita?”


Davis menatapku dan aku hanya menaikkan bahuku, aku bahkan tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Benar, anakku telah hilang tak lama ini. Sudah berapa orang berusaha mencarinya. Tapi akhirnya dia datang kembali!” Wanita itu sangat senang menceritakan hal itu, membuat rahang Davis menggantung tak percaya.


Aku menyikut Davis untuk mendapatkan perhatiannya, tapi ia hanya terdiam membatu. Lalu kuputuskan untuk menarik lengannya untuk sedikit menjauh dari sana. “Davis, apa yang terjadi? Ibunya? Jadi selama ini Myra itu NPC?”


“Tsk. Bukan seperti itu. Kurasa seseorang sedang bermain dengan ingatannya,” bisik Davis. “Dan itu semua salahmu,” tambahnya yang hampir kujawab dengan argumen namun ia menggandeng bahuku mendekat, membuatku terhenti. “Dengar. Kita harus cari tau sesegera mungkin apa yang terjadi.”


“Tapi bagaimana? Kau lihat sendiri ia bahkan tak mengenali kita,” jawabku, dengan nada yang tinggi namun masih berbisik. Kita sedikit melirik ke belakang, menatap Myra dari bahu kita masing-masing. Ketika Davis kembali pada posisinya, mataku tak sengaja berpapasan dengan dua orang prajurit yang memperhatikan kami dari kejauhan.


Dua pria berdiskusi sembari menatap seorang gadis.


Tentu, sangat tidak mencurigakan sama sekali.


“Dave, kurasa kita harus berhenti. Orang-orang mulai curiga,” akhirnya kukatakan hal itu untuk membuat diri ini sedikit lega.


“Kau terlalu overthinking untuk ukuran seorang pria. Sekarang dengarkan rencanaku.”


---


“KAU GILA?!”


Aku yang berlari dengan susah payah karena membawa Myra di pangkuanku berteriak seperti orang kerasukan karena mau saja setuju dengan plan orang gila yang saat ini berlari lebih kencang di depanku.

__ADS_1


“Tak bisakah kau lebih cepat lagi?!”


“AAARGH!”


Perlu kuakui badan Myra sangat kecil, tapi entah apa yang membuatku begitu kesulitan untuk membawanya. Apa karena aku sudah lama tidak pergi ke gym? Atau karena ia tertidur? Atau karena aku membawanya sambil berlari? Kenapa aku bisa banyak berpikir ketika aku sedang berlari kabur dari 5 prajurit yang mengejar kami?


Ketika Davis berbelok menuju gang sempit, aku yang mengikutinya tak mampu lanjut berlari karena bagian belakang tubuhku langsung menabrak tembok. Perlahan aku terduduk dengan Myra di pangkuanku.


“Huff… tak bisa… aku tak bisa lagi,” ucapku dengan nafas yang tak beraturan.


Davis yang terengah-engah itu mengusap wajahnya, “Astaga, yang benar saja.” Lalu ia mendekat, menarik tubuh Myra dan meletakkannya di bahu seperti layaknya ia membawa karung.


“Kau tarik mereka ke utara, aku akan pergi ke barat. Jika sanggup, atasi mereka,” perintah Davis, yang kujawab dengan anggukan singkat dan aku bergegas kembali mengambil jalur tadi untuk mencari para prajurit yang tentunya sedang datang ke arahku.


Ketika mereka menemukan wajahku di tengah keramaian kota, kutarik mereka ke arah lain dan tentunya jauh dari Davis yang tadi membawa Myra. Sembari berlari, kubuka telapak tangan kiriku untuk menyalakan api shadow ku, clairvoyant pun otomatis aktif. Ketika aku sudah hampir mencapai ujung map yang kuyakin adalah bagian utara, secara perlahan memori tiba-tiba muncul di kepalaku.


Dua anak panah melesat, mengenai bahu kanan dan telinga kiriku.


Ujung dari map selalu saja kosong, hal itu membuatku lega karena aku tak menemukan Davis dan Myra di manapun. Itu artinya aku mengambil jalur yang benar. Untuk menghadapi para prajurit sebelum mereka ikut pergi ke map selanjutnya, aku membalikkan badanku, bersamaan dengan datangnya dua panah yang tadi sudah kuduga akan melesat. Kuangkat sebelah tanganku, bersamaan dengan rapalan sihir.


|•Charisma: Telekinesis.•|


Kedua panah itu berhenti di depanku, lalu kukendalikan untuk berbalik, satu menembus kepala dan satu lagi menembus dada prajurit di depanku. Dua terjatuh, tiga tersisa. Dua membawa pedang, satu membawa tombak.


Kurasa aku masih bisa menghada—


Mataku terbuka lebar ketika clairvoyant aktif dengan sendirinya, memperlihatkanku bahwa akan datang tiga belati dari belakangku.


Aku menunduk, tepat ketika tiga belati dengan balutan api shadow berwarna ungu melewati kepalaku. Sedikit saja aku terlambat, ketiga belati itu akan menembus kepalaku. Tapi untungnya tidak, ketiganya menyerang tiga prajurit yang tadinya sedang berlari ke arahku.


“Kau gila? Kau hampir membunuhku!”


Davis memijat keningnya, wajahnya yang mengerut karena kesal tak membuatku mundur dari memelototinya.


“Kau babi bodoh buta map, lihat sekarang kau ada dimana?!”


Aku menaikkan sebelah alisku, darahku naik karena suara lantang miliknya menyebutku babi bodoh. Namun kulihat gerbang yang tak jauh dari kami memberikan petunjuk bahwa ini adalah gerbang barat. Sedikit mengumpat dalam hati, dengan frustasi menyisir rambutku ke belakang, aku melirik Myra dengan topi bodohnya yang masih tak sadarkan diri tergeletak di belakang Davis.


“Masih belum selesai, bawa Myra ke tempat aman,” Davis berlari mendekat, ternyata masih terdapat satu prajurit tadi yang berhasil menghadang belati serangan Davis. Namun clairvoyant kembali aktif, memperlihatkan hujan anak panah akan jatuh tepat di atas kepala kami, berasal dari banyak prajurit yang tiba-tiba muncul di atap bangunan sebelah kami.


“Takda gunanya, kita harus keluar dari sini sekarang.”


Davis tak berkomentar apapun, menandakan bahwa dia percaya denganku. Hujan anak panah yang tak satupun mengenai kami karena lari kami yang cukup cepat menjauh dari jangkauan mereka adalah pembuktian dari clairvoyant-ku.


Myra diangkat kembali oleh Davis, dan kami pun menembus portal untuk menuju map selanjutnya.


...****************...


“Mereka tak mengejar kita sampai sini.”


Bohong. Itu adalah alasan singkat agar kita berhenti berlari. Kedua kakiku sudah tak mampu menopang diriku sendiri. Aku masih tak mengerti bagaimana Davis bisa membawa Myra sembari berlari tanpa terlihat kesulitan. Tapi ketika ia berbalik, kutemukan wajahnya yang mengerut dan memerah karena kelelahan, nafasnya tak karuan.


“Kau yakin?”


Aku hanya menjawab dengan anggukan. Kerongkonganku rasanya sangat kering, baru kusadari hal itu setelah angin berhembus, melewati pepohonan tempat kami farming di pagi hari sebelumnya. Ku duduk di samping pohon besar dimana Davis perlahan meletakkan tubuh Myra dengan posisi terduduk, kedua telinga kelinci dari topi itu ikut menunduk dengan kepala Myra.


Hanya melewati beberapa pohon dari portal memang agak beresiko, tapi aku sudah tak peduli lagi. Kutarik dua botol mineral dari panel melayangku, kulempar satu ke arah Davis.


“Ah, aku percayakan dia padamu dan lihat yang terjadi,” ujar Davis sembari mengelap bibirnya setelah meneguk air mineral yang kuberikan tadi.


Aku menarik-narik kerah bajuku untuk menghasilkan angin, “Aku masih tak mengerti. Apa masalahnya? Dan apa yang terjadi padanya?”


Davis terlihat berpikir keras, kedua matanya menatap jauh ke arah padang rumput yang luas di depan kami. Matahari hampir terbenam, cahayanya menutupi seluruh padang rumput, membuatnya tenggelam dalam lautan warna oranye.


Kudengar Davis menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dari mulut sebelum berkata, “Dia…”


Aku membuka telingaku lebar-lebar, botol minum kosong di pangkuanku tak cukup memberikan kepuasan dari hausnya rasa penasaranku akan apa yang telah terjadi.


“Mmmngh…”


Davis dengan kedua alisnya yang naik menengok ke arah Myra, begitupun dengan diriku yang tak kalah kagetnya. Myra menguap ketika ia menggosok kedua matanya, setelahnya ia menyenderkan kepalanya ke pohon besar di belakangnya. Kedua mata setengah mengantuk itu menatap kami berdua sejenak, lalu perlahan wajahnya berkerut menunjukkan rasa takut.


“S-siapa kalian?”

__ADS_1


Aku benar-benar tidak mengerti, dia masih tak mengenali kami. Kutengok Davis yang dengan tenangnya membuka panel miliknya, sementara Myra memeluk kedua kakinya dengan seluruh tubuh yang terlihat mulai gemetaran, bahkan topi kelinci yang ia kenakan ikut bergetar.


“Pegangi dia.”


Kurasa aku mendengarnya salah, namun setelah kupastikan dengan meliriknya, Davis memang mengatakannya. Ia terlihat siap dengan sebuah suntikan yang entah kapan dia dapatkan di tangan kirinya.


Davis mengabaikan diriku yang menatapnya kebingungan, lalu aku perlahan mendekat pada Myra yang kini mengubur setengah wajahnya pada lutut yang ia peluk. “J-jangan mendekat!”


Perintahnya kini terdengar seperti memohon sambil sedikit menjauh dari kami, membuatku sedikit ragu.


“Elliot. Cepat.”


Suara tegas Davis mengejutkanku, membuatku tak punya pilihan selain memegang kedua bahu Myra yang mulai bergerak tak karuan mencoba melepaskan diri. Kini air mata menggenang di kedua mata ruby miliknya.


“Kumohon! Kembalikan aku pada ibuku! Apa yang kalian inginkan? Kumohon! Aku— Ak!“


Tangisan itu terhenti dan tergantikan oleh rintihan kecil ketika Davis menyuntikkan benda itu pada lengan Myra. Seluruh tubuhnya tegang, kedua matanya terbuka lebar hingga dapat kulihat pupil mata miliknya membesar. Lalu perlahan sekujur tubuhnya melemas, bersamaan dengan kedua mata ruby miliknya kembali menutup.


Aku kembali bernafas, tak kusadari aku menahannya sedari tadi. Kulepaskan tubuhnya, namun kucegah untuk terjatuh dari tanah dengan memegang sisi tubuhnya. Tak lama kemudian ia kembali tersadar sembari memegangi kepalanya dan berdesis kesakitan. “Tsk. Apa yang terjadi?” Myra mengusap pipinya, terlihat heran ketika menemukannya basah karena air mata tadi.


Lalu ia melirikku yang berjongkok sangat dekat dengannya, kulihat wajahnya yang kini terlihat biasa, “Elliot? Apa yang kau lakukan disini?”


Kuputuskan untuk sedikit menjauh ketika tangan Davis dapat kurasakan mendarat di pundakku.


“Kau yang harus jelaskan. Apa yang terjadi? Topi bodoh apa itu?”


Dua kedipan mata dan wajah kebingungan yang kini tak asing bagiku menandakan bahwa ia tak ingat apa yang telah terjadi. Namun setelah beberapa saat berpikir, ia kemudian menarik bibirnya ke bawah, menunjukkan wajah kesal.


“Kau! Dan kau!” Myra menunjuk kami bergiliran. “Kalian meninggalkanku begitu saja dengan raksasa beruang tadi! Kalian tak tau betapa sulitnya melawan beruang itu! Astaga, aku harus mati karenanya.”


Davis tertawa kecil, ia kini menyenderkan diri pada pohon dengan kedua tangan yang ia lipat di belakang kepalanya. Terlihat ketegangan pada pundaknya kini perlahan hilang. “Heh, aku juga tak tau akan ada maintenance hari ini. Harusnya ada Elliot disana menemanimu.”


Aku merasa tertohok akan hal itu, apalagi ketika Myra kini beralih padaku dengan tatapan maut. Kedua telinga kelinci dari topi itu kini berdiri dengan tegak. “Hei, a-aku juga tak tau akan seperti ini, oke? Kukira kau cukup kuat untuk melawan beruang,” kunaikkan kedua tanganku di depanku, mencoba mencegah ledakan apapun yang akan terjadi. “T-topi yang bagus. Dimana kau mendapatkannya?” Kucoba untuk mengalihkan perhatiannya, meski kuyakin tak bisa semudah itu.


Namun diluar dugaanku, Myra berkedip beberapa kali, kedua matanya menatap ke berbagai arah, nampak berpikir keras seperti menyadari sesuatu. Diraihnya topi yang ia kenakan, lalu ia berkata, “Hei, Davis, Elliot. Kalian ingat ibu yang tak sengaja kutabrak hingga terjatuh?”


Kuturunkan kedua tanganku, kini ku berbalik bertanya, “Maksudmu ibumu?”


“Ha?”


“Iya benar, ibumu pfft.”


Davis menambahkan dengan tawa, namun hal itu hanya menambah kerutan muncul di dahi Myra.


Hingga akhirnya setelah beberapa saat berpikir keras, senyum pun muncul di bibirnya, seakan ia menemukan jawaban dari yang ia pikirkan.


“Aku tak tau apa yang kalian bicarakan. Tapi sepertinya kita harus kembali ke kota.”


“Ha? Untuk apa?”


“Kita belum mengambil hadiah kita.”


...****************...


...Chapter's notes:...


...- Prajurit: bisa NPC ataupun para player (sedang menjalankan quest) yang melakukan tugasnya untuk menjaga keadaan kota agar tetap aman....


...- Portal: digunakan untuk teleportasi ke map berikutnya dengan cepat....


...Skill notes!...


...Rapalan: Nama kunci (sesuai job) + nama skill...


...|•Charisma•|...


...Nama kunci milik necromancer! Perlu dikatakan di awal sebagai kunci rapalan. Seperti namanya, penggunanya juga memiliki karisma luar biasa ketika menggunakannya! Eh, sebentar—...


...|•Clairvoyant•|...


...Teknik skill necromancer membaca berbagai hal buruk yang dapat terjadi di masa depan, prediksi dengan tingkat kecepatan yang tinggi! Dibutuhkan seseorang yang cepat dan tangkas untuk dapat membelokkan prediksi....


...|•Telekinesis•|...

__ADS_1


...Teknik skill necromancer yang dapat memanipulasi gravitasi....


...****************...


__ADS_2