
Waktu berlalu entah berapa jam, karena di tempat itu tidak ada jam dinding, selama itu juga Zigen bertahan dari rasa sakit yang di deritanya, hingga pakaian yang dikenakan nya hancur lebur tak tersisa, yang hanya menyisakan celana pendek.
Barda yang mengawasi dari kejauhan dan melihat Zigen berhasil bertahan hidup, terdapat senyum bahagia di wajah tua nya "Akhirnya, penantian panjang terbayarkan, sudah berapa lama Aku menunggu nya" gumam Barda yang melayang dengan tangan di punggung nya,
Di masa lalu, saat Barda sedang bermeditasi terdengar suara yang mengatakan, bahwa akan ada seorang manusia biasa yang mampu masuk ke dalam Ruang Cermin Pembalik, apabila manusia biasa itu dapat bertahan hidup di dalam kolam Mata Air Spiritual, Barda di perintahkan untuk membimbing nya.
Barda selama ini tidak mempercayai nya, bagaimana bisa seseorang mampu masuk ke dalam Cermin Pembalik tanpa izin dari nya.
Meskipun tidak mempercayai nya, Barda tetap menunggu nya dan merawat ruang yang ada di dalam Cermin Pembalik, hingga diri nya berubah menjadi sisa jiwa dan bersemayam di dalam Ruang Cermin Pembalik untuk mencegah orang lain masuk ke dalam nya, karena itu juga tugas dari suara yang di dengar oleh nya saat bermeditasi.
Setelah beberapa saat, Zigen yang sudah dapat menggerakkan tubuhnya, bergegas berjalan ke tepi kolam yang air nya hanya setinggi pinggang nya, dan bergumam "Sialan barang ku hancur semua, bagaimana caraku menjelaskan ini semua pada Kapten" Zigen bergumam kesal dan seketika kepala pusing memikirkan alasan yang masuk akal ketika kembali ke Markas.
"Hantu Tua di mana kau" teriak Zigen setelah mencapai tepi kolam dan memutar pandangan nya ke sekeliling.
"Hei Bocah, siapa yang kau panggil hantu" Ucap Barda dengan nada tidak senang sambil melayang menghampiri Zigen.
Tidak menghiraukan ucapan Barda, Zigen langsung menyalak "Berikan Aku pakaian" pinta Zigen dengan nada kesal.
"Tidak ada" Ucap Barda acuh tak acuh.
"Apa.?!" teriak Zigen, setelah itu menghela nafas berat dan berbalik badan lalu pergi menuju goa.
Mengikuti dari belakang, Barda hanya diam dan ingin melihat apakah Zigen merasakan perubahan di dalam tubuhnya.
Setelah sampai di dalam goa, Zigen mengambil barang nya yang tergeletak di dekat dipan batu, mengambil senapan laras panjang, pistol dan pisau.
Sebelum keluar goa, Zigen sempat melirik kedalam ruangan lain yang ada didalam goa, tetapi tidak peduli dan terus berjalan keluar goa.
"Mau kemana kau, bocah" tanya Barda yang melihat Zigen berjalan ke arah hutan yang berjarak beberapa puluh meter dari goa.
"Mencari jalan pulang, terimakasih atas bantuannya" Ucap Zigen tanpa berhenti atau pun berbalik badan. Meski kesal, Zigen tetap berterima kasih pada Barda.
__ADS_1
"Kau yakin berhasil, tidak ingin mendengarkan penjelasan ku dulu" Ucap Barda.
"Kau tak perlu khawatir, Aku mengetahui banyak pulau" Ucap Zigen dengan percaya diri. Zigen mengetahui letak banyak pulau karena dirinya seorang Tentara Angkatan Laut, karena hal itu lah Zigen merasa yakin dapat menemukan jalan pulang.
"Pemuda gegabah" gumam Barda dan tubuh nya melayang, mengikuti Zigen dari ketinggian.
Tidak mendapat balasan dari Barda yang ada di belakang nya, Zigen merasa heran dan berbalik badan untuk memeriksa, menyapu pandangan ketempat Barda berada sebelumnya, tetapi tidak melihat keberadaan nya, Zigen yang tidak perduli hanya mengangkat kedua bahunya dan mulai melanjutkan perjalanan nya.
Baru beberapa meter berjalan memasuki hutan, Zigen mendapati seekor harimau yang tinggi nya menyamai tinggi tubuh nya sedang menatap nya dengan buas, Zigen reflek menghujani nya dengan tembakan, tetapi tidak berefek apapun dan harimau itu berlari menghampiri nya.
"Sial" Jerit Zigen sambil berbalik badan dan berlari kembali menuju goa.
Barda yang berada di atas langit, seketika tertegun ketika mendengar suara yang di keluarkan oleh alat yang digunakan oleh Zigen, tetapi tidak memikirkan nya terlalu jauh dan bergegas mengikuti Zigen.
Merasa harimau itu tidak lagi menghajar nya, Zigen berhenti berlari dan membalikkan badannya melihat harimau yang menatap nya di kejauhan dan terheran-heran kenapa tidak menghampiri nya, tetapi dirinya bersyukur dan menghela nafas panjang,
"Huft selamat" Ucap Zigen sambil membasuh dahinya yang berkeringat.
Melihat Barda di depan nya, Zigen menatap matanya dengan tajam menuntut penjelasan "Hantu Tua, sebaiknya kau jelaskan padaku, tempat apa ini, bagaimana bisa ada Dinosaurus di tempat ini..?" teriak Zigen.
Dengan wajah tenang, Barda menjawab "Saat ini kita berada di Ruang Cermin Pembalik, dan tadi itu namanya Hewan Energi, sedangkan Dinosaurus.?, Aku tidak tau hewan jenis apa itu" Ucap Barda sambil mengelus jenggot nya.
"Hantu Tua jangan omong kosong, jelaskan dengan jelas" Ucap Zigen tidak percaya dan menodongkan senjata api nya, mencoba mengancam meski tau itu tidak berguna.
"Percaya atau tidak, itu hak mu, yang pasti ini berbeda dengan dunia mu berasal, di sini kekuatan diri yang terpenting, bukan kekuatan alat" balas Barda.
Belum sempat Zigen mengatakan sesuatu, Barda langsung melayang pergi "Kau harus terima pada kenyataan ini, jika kau butuh bantuan ku, panggil namaku tiga kali dengan keras dan Aku pasti akan datang" Ucap Barda sebelum benar benar menghilang.
Zigen yang mendengar nya, tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit. Menjatuhkan tubuhnya di atas rumput, Zigen bertanya-tanya bagaimana bisa dirinya berada di sini dan apa yang harus dilakukan nya.
Tidak ingin berlama lama di tempat itu, Zigen segera mendudukkan tubuhnya dan memanggil Barda ke arah tempat nya menghilang.
__ADS_1
"Hantu Tua !, Hantu Tua!, Hantu Tua!" jerit Zigen dengan sangat keras, menunggu beberapa saat orang yang di panggil tidak juga muncul.
"Mungkin penyakit tuli nya mendadak kambuh" gumam Zigen, berfikiran positif dan mencoba memanggil nya lagi dengan suara yang lebih keras.
Tidak juga mendapat balasan, seketika Zigen menyadari kesalahan cara nya memanggil dan mulai menggrutu "Sabar sabar, orang sabar banyak pacar" gumam Zigen sambil mengelus dada.
Bangkit dari duduknya dan menarik nafas dalam-dalam, Zigen memanggil Barda dengan suara yang sangat kuat
"Barda...!!! Barda...!!! Barda...!!!" teriak Zigen dengan sekuat tenaga, suara nya menggema di mana mana, karena dirinya tidak menyadari perubahan tubuhnya yang telah memiliki Energi Spritual,
"Woii..!, bocah edan jangan berteriak teriak, saya belum tuli dan bisa tuli jika kamu berteriak seperti itu" Ucap Barda yang melayang turun dari langit.
Mendongak ke atas, Zigen menahan diri untuk tidak mengumpat dan bertanya "Hantu Tua, Aku butuh penjelasan, kenapa Aku bisa berada di sini dan Jelaskan juga cara keluar dari sini" Ucap Zigen, memborbardir Barda dengan banyak pertanyaan.
Barda yang telah tiba di depan Zigen, tidak menjawab nya, mengorek kupingnya dengan jari kelingking sambil melirik sana sini, tidak melihat ke arah Zigen yang ada di depan dan bergumam pelan "Seperti ada suara yang terdengar tidak asing" meski pelan, Zigen dapat mendengar nya dengan jelas.
Merasa dirinya tidak pernah mengalami hal seperti ini, Zigen mengalami guncangan jiwa karena kesal, menghela nafas pendek dan pelan, Zigen berkata "Kakek Barda, Aku butuh penjelasan" Ucap Zigen, suara nya seperti anak kecil yang memohon pengampunan kepada emak nya.
Tersenyum bahagia dengan tangan kanan yang jari kelingking nya bekas menggali emas di kuping nya, saat ini sedang mengelus jenggotnya dan tangan kiri di belakang punggung nya, Barda menjelaskan tentang dunia tempat saat ini Zigen berada.
.
.
.
.
.
...--------------------------------...
__ADS_1