Mencari Identitas

Mencari Identitas
5. Daun Kehidupan


__ADS_3

Zigen yang saat ini masih menggunakan celana pendek berwarna putih dan bertelanjang dada, sedang mendengarkan instruksi dari Barda yang menjelaskan cara menyatukan Energi Spritual yang telah memenuhi Ruang Spritual nya.


Terdapat dua cara untuk melakukan nya, yang pertama dengan cara menggabungkan nya menjadi satu lingkaran dan memberi ruang untuk Energi Spritual yang terserap ke dalam tubuh.


Dan yang kedua menyalurkan nya ke Akar Spritual dan menumbuhkan Daun kehidupan untuk menjadi Obat manjur di saat genting.


Mendengar penjelasan Barda, Zigen mengangguk kan kepala dan bertanya "Apakah Daun Kehidupan dapat langsung tumbuh..? tanya Zigen.


"Tidak" jawab Barda dan menjelaskan, "untuk dapat menumbuhkan Daun Kehidupan membutuhkan seribu lingkaran Energi Spritual" ucap Barda.


"Itu pekerjaan yang sangat melelahkan" gumam Zigen dan Barda menganggukkan kepala membenarkan, "Dari mana asal Akar Spritual yang ada di dalam tubuh ku ini" tanya Zigen.


"Akar Spritual sudah ada sejak kau berada di dalam kandungan, dari situ lah ibumu memberikan mu asupan gizi" jawab Barda.


"Jadi, karena itu juga Energi Spritual tersimpan di dekat pusar" tanya Zigen memastikan dan Barda menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih atas penjelasan nya" Ucap Zigen dan mulai melakukan meditasi di dalam goa.


"Apakah kau ingin menumbuhkan Daun kehidupan" tanya Barda yang penasaran.


"Akan ku putuskan nanti" jawab Zigen yang sudah bermeditasi.


"Jalan apapun yang kau pilih, Kau perlu menyerap Energi Spritual untuk melakukan nya" Ucap Barda dan berkata.


"Jangan sampai Energi Spritual mu lepas kendali, atau jalur Spiritual mu akan terluka, dan kau akan menjadi manusia biasa selama nya" Ucap Barda menjelaskan.


"Aku mengerti, terimakasih" balas Zigen.


"Semoga berhasil" Ucap Barda dan sedikit menjauh.


Bermula menyerap Energi Spritual di sekitar, sontak tubuh Zigen bergetar karena kelebihan Energi Spiritual, kapasitas Ruang Spiritual adalah 100 lingkaran, apabila ingin memberi ruang Energi Spritual yang terserap ke dalam tubuh, maka perlu menyatukan ke seratus nya.


Saat ini Jiwa Spiritual Zigen sedang melakukan penyatuan Energi Spritual dengan cara mengikat nya menggunakan Energi Spritual yang telah di serap nya.


Melakukan penyatuan Energi Spiritual tidak lah mudah, karena Energi Spritual akan mengamuk, memaksa memisahkan diri yang membuat tubuh utama Zigen bergetar dan berkeringat deras.


Dua hari telah berlalu, Energi Spritual yang telah di satukan oleh Jiwa Spiritual Zigen, tiba-tiba mengembang dan menyusut menjadi satu lingkaran yang penuh dengan vitalitas kekuatan, karena mengandung 100 lingkaran Energi yang sama dengan berkekuatan 1000 Energi Spiritual.


Sedangkan tubuh utama Zigen, terdengar suara ledakan terendam yang menandakan Zigen telah berhasil melakukan nya, tetapi Zigen tidak segera membuka mata nya yang membuat Barda berspekulasi.

__ADS_1


"Apakah bocah itu ingin menumbuhkan Daun Kehidupan, Aku harus siap jika Ruang Spiritual nya mengalami ledakan, jika tidak anak ini akan mati" gumam Barda.


Dugaan Barda benar, Zigen berpikir mengumpulkan Energi Spritual sebanyak itu hanya butuh satu bulan karena terdapat banyak Buah Spirit yang selama ini Zigen konsumsi.


Oleh karena itu sisa Energi Spiritual yang di serap nya alih-alih di simpan, Zigen gunakan untuk mengendalikan Energi Spritual yang telah menyatu menuju Akar Spiritual untuk menumbuhkan Daun kehidupan.


Melakukan nya secara perlahan dan penuh dengan kehati-hatian, Akar Spiritual bergetar hebat dan menyedot Energi Spiritual dengan gila, tetapi Zigen menahan nya dan menyalurkan Energi Spiritual agar terserap sedikit demi sedikit.


Satu Minggu kemudian, ranting mulai tumbuh dan terdapat tunas kecil di atas nya, sedangkan tubuh utama Zigen di kelilingi oleh kabut tipis berwarna hijau yang keluar dari tubuh nya dan beberapa saat kemudian masuk kembali kedalam tubuh Zigen.


Membuka mata dan menghela nafas panjang, Zigen bangkit menghampiri Barda dan berseru gembira "Aku berhasil" Ucap Zigen, setelah tiba di depan Barda dan tiba-tiba tubuh nya terduduk lemas.


Dengan nafas yang terputus putus, Zigen bergumam "Kenapa dengan tubuh ku..?"


"Kau kehabisan Energi Spiritual, lain kali jika ingin menumbuhkan Daun kehidupan, sisakan lah sedikit Energi Spiritual agar tubuh mu tidak terlalu lelah" Ucap Barda menjelaskan kondisi tubuh Zigen saat ini.


"Kenapa kau tidak menjelaskan nya sejak awal" Ucap Zigen dengan pelan sambil menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan memejamkan matanya.


"Kau tidak bertanya, Ingat lupa bertanya diri mu akan dalam bahaya" Ucap Barda dan mulai menghilang, membiarkan Zigen beristirahat.


Satu bulan ini, Zigen di pagi hari berlatih insting dan ke seimbangan dalam kuda-kuda, karena Barda membangun banyak batang pohon setinggi dua meter dan Zigen di perintah untuk melompati nya satu persatu sambil menghindari batu yang di layangkan oleh Barda.


Karena meskipun bahasa nya sama tetapi huruf di dunia tempat Zigen berada sekarang menggunakan huruf seperti huruf aksara, dan Zigen selalu memasang senyum pahit ketika Barda mencemooh nya karena melihat tulisan Zigen yang buruk karena belum terbiasa.


 


lima tahun kemudian


Zigen yang telah menguasai semua yang di ajarkan oleh Barda dan mulai melakukan latihan dengan melawan hewan yang ada di hutan. Karena rasa cinta nya terhadap hewan, Zigen hanya membunuh hewan yang cukup untuk perut nya, sejak saat itu banyak hewan yang telah tunduk kepada nya.


Saat ini, Zigen sedang menghadapi Buaya Sisik Tanduk, pemilik danau yang di dalam nya terdapat banyak butiran emas yang berserakan seperti pasir pantai, karena hal itu Zigen mencoba menjinakkan nya untuk menambang emas nya.


Mengenakan pakaian Armot kulit harimau yang di tempa oleh nya, menghindari serangan buaya dan bermanuver di udara, Zigen berseru "Terima ini" teriak Zigen sambil mengayunkan tongkat nya dan garis sinar melesat ke arah Buaya itu.


Buaya Sisik Tanduk terpental ketengah danau dan air memercik deras karena tubuhnya sebesar Truk Tronton, sebelum buaya itu beraksi kembali, Zigen telah menempelkan telapak tangan nya yang berdarah untuk menjinakkan nya.


"Tunduk.!" teriak Zigen dan darah nya mulai menyatu dengan kristal yang menempel di kepala Buaya Sisik Tanduk, membuat buaya itu menjadi tenang tidak lagi memberontak.


"Huft, akhirnya selesai juga" Ucap Barda dan duduk di atas kepala Buaya itu.

__ADS_1


"Apakah kau tidak membunuh salah satu hewan itu" Ucap Barda, yang seketika tiba di depan Zigen dan menunjuk Buaya yang berukuran lebih kecil, sebesar mobil truk biasa.


"Tidak baik membunuh hewan sembarangan, kita harus melestarikan nya" Ucap Zigen sambil mengelus kepal Buaya itu.


"Apakah di tempat asal mu, banyak hewan yang punah karena di buru terus menerus" tanya Barda.


"Kau pintar dapat menebak nya dengan tepat" Ucap Zigen sambil mengacungkan jempol nya ke arah Barda.


"Apakah kau sudah pikun, bahwa kulit nya dapat di tempa menjadi zirah" ucap Barda.


"Hantu Tua kau yang pikun, apa kau lupa bahwa Aku telah memiliki banyak Zirah yang terbuat dari kulit semua hewan yang ada di sini" Ucap Zigen, yang telah memiliki dan tidak hanya Zirah, Zigen juga telah membuat banyak pil-pil dari kitab obat langit.


Selama hampir lima tahun, Zigen telah mencapai Alkemis tingkat Energi, master formasi aray tingkat Energi dan juga menjadi Penempa di tingkat yang sama.


"Sekarang tugas kau sudah selesai semua nya, jadi kau bebas melakukan apapun" Ucap Barda.


"Kau benar, tidak ada hewan yang perlu aku taklukkan lagi..?" Tanya Zigen.


"Tidak ada, karena hewan di sini maksimal hanya dapat memiliki lima ratus lingkaran Energi Spiritual, jika telah lama memiliki nya hewan spirit itu akan mati dengan sendiri nya dan hanya menyisakan kristal Energi yang selama ini telah kau kumpulkan.


Tapi Karena kau telah melakukan kontrak darah yang di kombinasikan dengan teknik Belenggu Jiwa, hewan Spirit di sini akan dapat meningkatkan kemampuannya tanpa harus khawatir akan nyawa mereka" Ucap Barda menjelaskan.


"Bagus lah jika demikian" Ucap Zigen sambil bangkit dan berkata kepada Buaya Sisik Tanduk "Kalian kumpulkan emas kepinggir danau itu dan menjaga nya dengan baik hingga Aku kembali" Ucap Zigen sambil menunjuk ke arah pinggir danau dan berjalan kembali ke arah goa.


Barda yang mengikuti dari samping bertanya "Untuk kau apakan emas emas itu.?" tanya Barda.


"Aku belum memikirkan nya" Ucap Zigen, dan mereka mengobrol di sepanjang jalan.


.


.


.


.


.


...--------------------------------...

__ADS_1


__ADS_2