Mengadu Nasib Di Dalam Dungeon

Mengadu Nasib Di Dalam Dungeon
Bab 1 : Perpindahan Dunia.


__ADS_3

"... Melalui surat ini, dengan menyesal kami menyatakan bahwa saudara tidak lolos tahap interview. Terima kasih atas partisipasinya. "


"Arghh.... Gagal lagi ya!. " Gumam ku melempar surat yang ku terima dari perusahaan yang aku lamar.


Aku merebahkan tubuh ku di atas kasur tipis, terdapat berbagai kertas dan dokumen berserakan di sekitar ku.


"Kenapa begitu sulit untuk mendapatkan pekerjaan?. Jika terus begini bisa - bisa aku diusir dari kontrakan!. "


Nama ku Teguh Prakoso, pemuda berusia 21 tahun yang biasa di temukan dimana pun. Sudah 3 tahun semenjak lulus sekolah dan memutuskan merantau ke kota besar, mencoba peruntungan untuk mendapatkan pekerjaan di ibukota, namun tidak semudah seperti yang ku bayangkan. Aku bisa bertahan sejauh ini karena pekerjaan serabutan yang aku kerjakan.


Aku bangkit dari rebahan ku, mulai kembali menulis berbagai surat lamaran. Di pencarian berikutnya aku akan menempatkan beberapa CV ke berbagai tempat. Mungkin setidaknya ada satu yang lolos tahap interview.


Dengan berpegang akan harapan tersebut membangkitkan semangatku.


Aku pun melanjutkan ke tujuan ku berikutnya.


...****************...


"Hah... " Aku menghela nafas panjang. Setelah ke sana kemari mencari lowongan pekerjaan dan menaruh beberapa lamaran namun hasilnya tetap nihil.


Aku duduk termenung di sebuah kursi di stasiun kereta, memperhatikan orang - orang berlalu lalang memiliki tujuan dan kesibukan masing masing. Ada rasa ingin meratapi nasib, namun tak akan ada yang berubah.


Setelah berpikir sejenak, terdengar pengumuman bahwa kereta tujuan ku akan tiba. Aku bermaksud ke kota berikutnya yang mungkin menyediakan lowongan pekerjaan.


Kereta tiba dengan segera, menerbangkan debu dan berbagai kertas berhamburan, ada sesuatu yang aneh. Kereta tersebut tidak berhenti, terus melaju sangat cepat hingga wujudnya tidak beraturan. Samar - samar suara memekikkan telinga terdengar, makin lama sangat jelas dan membuat kepala ku pening.


Debu yang bertebaran menusuk mata ku, membuat ku secara reflek menutup mata namun masih merem melek.


Situasi itu berlangsung tak lama, begitu situasi aneh tersebut menjadi normal, aku membuka mata ku. Dan secara tiba - tiba aku berada di tengah kota.


"Dimana ini?. "


Aku terheran, sebelumnya seharusnya aku sedang berada di stasiun kereta. Namun sekarang berada di tengah - tengah kota. Tidak hanya itu, kota ini sangat berbeda dengan kota ku. Bangunan layaknya eropa abad pertengahan, kendaraan beroda yang di tarik oleh kuda, serta para pejalan kaki yang berbeda. Terdapat berbagai makhluk, besar, kecil, berbulu dan bertelinga binatang. Apakah mungkin?.


"Apakah ini dunia lain?. " Ucapku kegirangan.


Dunia lain merupakan latar tempat yang sangat sering dipakai dalam novel - novel fantasi. Aku tahu karena aku merupakan fans genre tersebut.


Dengan kegirangan, berjalan kemari. Beberapa orang melihat ku aneh, mungkin karena pakaian ku yang sangat berbeda. Setelan Jas dan kemeja merupakan tidak umum disini sepertinya.


Tanpa terasa, aku sudah berada di depan kantor Guild dan melihat ke sekeliling terdapat para petualang berlalu lalang menggunakan perlengkapan yang keren.


"Bukan dunia lain namanya jika tidak ada Guild petualang. "


Dengan membulatkan tekad, Aku memasuki kantor Guild dan menuju konter terdekat.


"Selamat datang di Guild, Ada yang bisa saya bantu!. " Seorang wanita berpakaian dewasa menyambut ku dengan ceria. Senyumnya yang profesional membuat ku gugup.


"Saya ingin mendaftar jadi Petualang. Apa ada syarat tertentu untuk mendaftar?. " Ucap ku sedikit ragu.


"Tentu saja tidak!. Silakan diisi biodata ini. Apa kau bisa membaca dan menulis?. " Tanyanya.


Aku mengangguk. Meski ini dunia lain, tapi aku paham ucapan dia. Juga tulisan di dunia ini bisa ku baca. Mbak resepsionis yang bernama Violet dari Nametag nya, menyodorkan Kertas dan sebuah bolpoin.


"Baiklah, Semua sudah terisi mohon tunggu sebentar ya~." Violet pergi membawa kertas biodata milik ku. Tak berapa lama ia kembali.

__ADS_1


"Selamat, mulai hari ini anda adalah seorang Petualang. Silakan di Terima tanda pengenal nya!. " Violet memberikan kalung yang berisi biodata singkat yang terukir di atasnya, biasa disebut dog tag yang sering dipakai oleh para tentara.


"Jika kau melihat Petualang yang tewas dalam petualangan mu, harap dibawa kembali dog tag miliknya untuk informasi Guild. "


Dari ucapan Violet, aku bisa simpulkan banyak Petualang yang tak kembali dari penjelajahan, dan membawa dog tag mereka merupakan salah satu tugas Hunter yang masih hidup.


Aku menerima tanda pengenal tersebut dan mengalungkan nya di leher ku.


"Kalau begitu, biar saya jelaskan mengenai sistem petualang. "


Aku mengangguk.


"Para Hunter terdiri dari rank E sampai Rank S. Saat ini kau berada di Rank E, rank paling bawah. Kau hanya diizinkan untuk mengambil quest rank E atau 1 tingkat diatasnya. "


Aku menyimak penjelasan nya.


"Tentu saja, tapi kami juga memiliki wewenang untuk memastikan keselamatan petualang jika dirasa belum cukup untuk mengambil quest tersebut. "


Aku terus mendengarkan informasi dan nasihat dari mulut Violet hingga dirasa sudah semua ia sampaikan. Setelah itu, aku pergi ke papan quest untuk mengambil quest tertentu.


"Memburu 5 ekor slime dan mengambil inti jiwanya. "


Ku pikir ini quest yang cocok. Slime, monster umum di setiap game RPG. Dengan membawa quest tersebut ke Violet.


"Berburu Slime ya?. Kupikir ini bagus. Biar saya proses. Lalu tolong bawa perlengkapan yang cocok. Saya sarankan untuk ke toko perlengkapan Briar's Blackmith untuk mendapatkan perlengkapan pemula. " Ia memprosesnya dan mengijinkan ku melaksanakan quest tersebut. Juga menyarankan tempat untuk ku.


Yah, berburu Slime dengan setelan jas sangat tidak pantas.


Aku pun keluar dari gedung guild dan menuju tempat yang di Sarankan.


...****************...


"Jadi disini ya?. "


Aku memasuki toko tersebut, sebuah lonceng berbunyi saat aku membuka pintu.


"Selamat datang, silakan dipili- geh, petualang baru. Tolong tunggu sebentar!. AYAH, GILIRAN MU. "


Seorang penjaga toko wanita menyambut ku dengan ceria namun tak lama kemudian ekspresinya berubah saat melihat tanda di kalung ku. Ia pun pergi sambil berteriak.


Tak lama kemudian, seorang pria tua dengan jenggot putih muncul.


"Mohon maafkan putri ku, ia sangat tidak suka saat berhadapan dengan petualang baru. Jadi apa yang bisa ku bantu?. "


Aku tak tahu harus berbicara apa terhadap perilaku anaknya tapi untuk saat ini yang ku butuhkan adalah perlengkapan.


"Aku hendak berburu Slime, apa kau ada saran apa saja yang diperlukan?. "


"Hmm, pelanggan yang sopan. Tak ku sangka kau akan meminta saran dari kami. Baiklah mari ku lihat dulu. "


Pak tua itu memeriksa tubuhku, sesekali menyentuh tangan dan otot ku.


"Kau sangat lemah, layaknya ranting layu yang bisa patah kapanpun dengan sekali sentuhan. Apa yang kau lakukan selama ini?. "


Komentar jujurnya membuat ku sakit hati, tapi memang begitulah kenyataannya.

__ADS_1


"kau tidak terlihat dari kampung, apa kau mantan bangsawan yang kehilangan kuasanya?. "


"Yah, kau bisa anggap seperti itu. "


"Aku tak akan menanyakan alasan mu, tapi karena kau sudah berlaku sopan. Aku akan sarankan armor ringan dengan pelindung bahu berbahan kulit. Slime tak memiliki tubuh yang keras ku pikir belati akan cukup karena mereka bergerak cukup cepat. "


Pak tua itu mengeluarkan perlengkapan dan menyodorkan nya kepada ku.


Aku menerima semua itu dan memakainya. Penampilan ku sudah seperti karakter default di awal game.


"Ini sangat bagus, berapa semua ini?. "


"Akan ku beri seharga 1 koin emas dan 10 koin perak. Belati itu produksi umum, jadi ku jual murah. "


Pak tua itu menyebutkan harga - harga perlengkapan yang ku kenakan. Jika di pikir-pikir lagi aku tak memiliki uang dunia ini.


"Pak Briar, begini-. "


"Jangan panggil aku itu, itu nama kakek ku. Nama ku Bayden. Tapi biasa di panggil Babeh. "


"Ah, iya. Maaf. Begini Babeh, Aku tak memiliki uang. Bisakah aku membayarnya dengan pakaian ku ini. " Ucap ku menyodorkan pakaian yang sebelumnya aku kenakan.


"Hmm, biasanya aku akan langsung mengusir mu, tapi untuk sementara akan ku terima baju mu ini. Kau bisa bayar jika sudah memiliki uangnya. " Babeh mengijinkan ku membayarnya nanti. Seperti berlaku sopan memberikan keuntungan.


Setelah dirasa cukup aku bermaksud meninggalkan tempat tersebut.


"Tunggu, terima ini!. "


Babeh memanggil ku kemudian melempar sebuah helm. Karena terkejut, aku kesulitan menerima helm tersebut.


"Untuk jaga - jaga melindungi kepala mu. "


"Terima kasih!. " Aku pun pergi dengan riang. Jika nanti dapat uang, aku akan mengupgrade perlengkapan ku di toko ini lagi.


...****************...


Aku mengayunkan belati, menyerang makhluk berlendir yang melompat ke sana kemari yang dikenal sebagai Slime. Untuk mengalahkannya aku harus menusuk inti yang berada di dalam tubuhnya. Tubuhnya yang terbuat seperti Jelly transparan memudahkan ku untuk melihat intinya, namun tetap saja sulit karena gerakannya yang cukup gesit. Setelah serampangan mengejarnya akhirnya aku berhasil mengenai inti tubuhnya. Slime tersebut menghilang dan memunculkan kristal jiwa berukuran seperti kerikil kecil.


"Dengan ini 5. huh, ku pikir aku sudah memburu semuanya sesuai quest. " ucapku sembari mengusap keringat di dahi serta memasukkan kristal jiwa kecil tersebut ke kantong saku.


6 jam sudah berlalu semenjak Aku memasuki hutan bagian timur tempat quest berlangsung. Aku sudah mengalahkan 5 Slime. Itu wajar, karena hanyalah pemula, monster yang menghuni hutan ini termasuk lemah, namun tidak boleh di remehkan. Semakin dalam hutan ku masuki, akan banyak monster yang kuat.


"Kupikir sudah cukup untuk hari ini. Aku ingin tahu berapa banyak yang kudapatkan dari menyelesaikan quest ini. " Seru ku sambil menggoyang - goyang kantong saku yang berisi kristal jiwa.


"Mungkin aku akan memburu beberapa Slime lagi. Mungkin bisa menambah pundi - pundi uang. " Aku pun memasuki hutan lebih dalam dengan semangat.


Saat beberapa saat memasuki hutan, tiba - tiba kakiku menginjak sesuatu.


"!!. "


Sebuah cahaya muncul dari bawah kaki ku.


"Apa ini?. Jebakan?. "


Cahaya tersebut semakin terang, dan membuat mata ku silau dan secara reflek menutup kedua mata ku. Perasaan ini hampir sama dengan yamg ku rasakan saat pertama tiba di dunia ini. tubuh ku menjadi ringan dan seakan melayang. Dalam sekejap tubuh ku lenyap dan berpindah ke suatu tempat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2