Mengadu Nasib Di Dalam Dungeon

Mengadu Nasib Di Dalam Dungeon
Bab 2 : Buku Pengetahuan dan Obat kuat.


__ADS_3

Di Guild.


Seorang pegawai Guild sedang merapihkan papan quest, kemudian memanggil juniornya.


"Violet, apa kau melihat quest berburu Slime di hutan bagian timur?. "


"Ada padaku senior, tadi pagi seorang pemula pergi untuk melaksanakan quest tersebut. " Ucap Violet sembari melambai kertas quest yang dimaksud.


"Begitu ya. Ku harap dia baik - baik saja!. "


"Kenapa memangnya dengan quest tersebut?. "


"Quest tersebut hendak ditangguhkan. Akhir - akhir ini terdapat kasus orang hilang di hutan timur, lalu para petualang pemula yang mengambil quest tersebut juga tak ada kabar. Entah berhubungan atau tidak, para atasan merasa ada yang janggal. " Senior tersebut mendekat kemudian duduk di dekat Violet.


"Sang pemberi quest pun patut dicurigai, dia hanyalah petani namun membuat quest pemburuan slime dengan hadiah 1 koin emas, dan untuk penggunaan pribadi. Petani seperti itu biasanya kesulitan untuk membayar pajak, namun sanggup membuat quest yang ia sendiri bisa lakukan. " Lanjutnya kemudian pergi membawa kertas quest.


"Semoga kau baik - baik saja, Anak baru!. " Do'a nya.


...****************...


Pusing, Mual, dan Tak Enak Badan.


Merupakan kondisi yang ku alami setelah di pindahkan secara paksa oleh jebakan teleportasi. Sembari menstabilkan penglihatan ku, Aku berusaha mencerna situasi area sekitar.


Tempat ini seperti ruang bawah tanah, tembok bata dan berbagai pintu menghiasi sekitar. Lampu gantung yang menyala serta beberapa obor yang terpasang di tembok. Pencahayaan yang memadai mempermudah ku dalam menjelajah area sekitar.


Dengan bertumpu pada tembok dan berjalan perlahan, aku menyusuri area dengan sembarang. Memastikan bahwa aku tidak berdiam diri saja, tak tahu monster seperti apa yang menantiku. Saat ini aku berada dalam kondisi yang tak menguntungkan.


Setelah berjalan beberapa saat, terdengar suara yang tak jelas bunyinya. Dengan perlahan mengintip dari belokan yang ada didepan ku.


"!!. "


Mata ku terbelalak karena sosok 2 makhluk kerdil seperti anak - anak dengan kulit hijau, mata kuning dan telinga panjang runcing. Mereka adalah apa yang disebut Goblin.


Mata ku terbelalak melihat kedua makhluk tersebut, mereka memegang tongkat kayu, salah satu dari mereka menyeret mayat seseorang, beberapa bagian tubuhnya menghilang dan organ dalamnya terburai keluar.


Melihat hal tersebut, membuat diriku menjadi mual dan ingin buru - buru pergi dari situ.


Duk...


Sial!.


Aku memaki diri ku. karena terlalu tergesa - gesa, aku tidak sengaja menendang batu dan menyebabkan suara bergema. Para goblin yang mendengar suara tersebut segera berjalan ke arah ku.


Aku yang merasa posisi ku sudah ketahuan segera berlari berusaha kabur dari kejaran mereka. Goblin yang melihat ku berlari juga ikut mengejar ku sambil mengarahkan pentungan mereka kepada ku.


Dengan bergegas aku berlari hingga paru - paru ku merasa sakit, tak ada waktu untuk mengambil nafas. Prioritas pertama ku adalah mencari tempat aman. Selama beberapa saat berlari, aku menghentikan langkah ku dikarenakan jalan buntu yang berada di depan ku. Aku berbalik untuk segera mencari jalan lain, tetapi ketika berbalik, para goblin yang mengejar ku sudah berada di belakang ku.


Dengan segera aku mengeluarkan belati ku dan bersiap melakukan perlawanan. Aku tak ingin mati sia - sia. Dengan kondisi terpojok membuat ku meyakini cerita mengenai kisah binatang yang terpojok akan menjadi buas. Ku harap kisah itu berlaku untuk ku.


Para goblin yang berhasil mengejar ku, tertawa dengan suara yang menjijikan. Mereka seakan sudah menang karena jumlah mereka yang berdua sementara aku sendiri.


Dengan tergesa gesa aku menerjang ke arah mereka, mengayunkan belati serampangan. Salah satu goblin menghindari serangan ku, salah satunya tak jauh dari daerah serangan ku. Dengan segera merubah arah serangan aku menusukkan belati milik ku ke arah tenggorokan nya dari samping. Goblin yang tertusuk tersedak dengan darahnya sendiri dan kemudian tewas. Tubuhnya berubah menjadi asap dan menghilang meninggalkan kristal jiwa.


Goblin yang tersisa menjadi murka dan menyerang ku, mengayun - ayun kan batang kayu yang ia pegang. Belati ku yang tertancap di kerongkongan goblin menjadi tumpul dan kesulitan untuk melukai goblin yang tersisa, dengan semua kemampuan yang aku miliki, aku menghindari serangan goblin.


Mungkin karena kelelahan dan rasa lapar, mata ku menjadi berkunang - kunang dan tenaga ku berangsur- angsur melemah. Disaat aku kehilangan pijakan berdiri, disaat itu pulang goblin melancarkan serangannya ke arah ku. Aku memblokir ayunan batang kayu menggunakan tangan kanan ku. Namun karena terlalu lemah, aku terpental hingga menabrak ujung tembok.

__ADS_1


Rasa sakit menjalar di seluruh tangan kanan ku, darah mengucur dari belakang kepala dan tangan ku. Sesaat aku seakan tak bisa menggerakkan tangan kanan ku. mungkin patah.


Goblin belum puas menyiksa ku, ia berjalan perlahan ke arah ku. Terdengar tawa menjijikkan yang keluar dari mulut goblin itu.


Dengan panik, aku mundur hingga mengenai tembok. Aku terpojok. Satu - satunya jalan hanya yang berada di belakang goblin dan itu sangat sulit.


"Tidak!. Tidak!. Aku tak ingin mati!. Pergi!. pergi kau!. "


Suara ku bergetar, berusaha memohon nyawa namun permintaan ku tak gubris. Tentu saja, Dia adalah goblin. Monster tak berakal yang senang menyiksa manusia.


Goblin semakin dekat, sementara aku tak bisa kemana - mana. Di saat sudah sangat terpojok, secara tak sengaja aku mengaktifkan mekanisme dungeon yang mengakibatkan tembok bata berputar dan membawaku ke sisi yang lain. Dengan begitu aku berhasil selamat dari kejaran goblin.


Merasa sudah aman, aku terduduk lemas sembari bersandar pada tembok. Tangan kanan ku masih tak bisa digerakkan dan darah yang mengalir sudah mengering, meninggalkan noda darah pada pakaian ku.


Setelah merasa tenang, aku menyusuri area ini kembali. Jalan yang ada didepan ku membawa ku ke sebuah ruangan, ruangan yang penuh debu dengan sebuah tengkorak manusia yang berbaring di sana. Tengkorak tersebut memegang botol merah dan merangkul sebuah buku.


"Apa ini mayat seorang petualang?. " Gumam ku.


Memeriksa tengkorak tersebut untuk mencari dog tag miliknya, dengan begitu aku bisa menginformasikan kepada guild kematian orang ini. Namun aku tak menemukan dog tag apapun. Mungkin rekannya sudah membawanya atau ia kehilangan di suatu tempat.


"Hei, kau tak keberatan kan jika aku duduk di samping mu?. " Tanya ku yang tak mungkin dijawab olehnya.


Aku duduk di sebelahnya, menceritakan penyesalan masa lalu dan harapan ku akan masa depan.


Sebanyak apapun aku berbicara namun tak ada jawaban. Tentu saja, lawan bicara ku adalah sebuah tengkorak. Akan menakutkan jika dia bisa menanggapi ucapan ku.


"Jadi disini aku akan berakhir?. Disaat kupikir bahwa ini baru dimulai namun ternyata sudah berakhir!. " Teriak ku sambil terisak.


Semua telah berakhir, impian ku, kisah ku. Bahkan semua ini belum dimulai dan sudah berakhir. Harapan ku dihancurkan dengan mudahnya.


Aku memperhatikan buku yang tengkorak ini genggam. Mungkinkah dia menuliskan perjalanannya atau petunjuk sesuatu.


Menggunakan tangan kiri, aku berusaha menarik buku dari genggaman tengkorak namun kesulitan. mungkinkah aku selemah itu hingga tak bisa melepaskan genggaman dari sebuah tengkorak. Setelah beberapa saat, aku berhasil mendapatkan buku tersebut dengan merebut paksa hingga tangan tengkorak terlepas.


Dengan penuh penasaran, aku mendapati isi didalam buku tersebut berisi tulisan yang tidak ku pahami yang terdiri dari bahasa yang tak ku ketahui. Sedikit mirip dengan coretan anak - anak.


Dengan sekilas membolak-balikan buku secara cepat hingga mencapai halaman terakhir namun informasi yang bisa kudapatkan.


Aku mengembalikan buku tersebut kepada tengkorak dengan kecewa, mata ku kemudian tertuju pada botol merah yang ia pegang.


"Apakah botol ini merupakan item penyembuh?. " Gumam ku.


Di dungeon, sering ditemukan berbagai item yang diluar nalar dunia luar. Tak jarang para petualang menjualnya atau menggunakan nya untuk memudahkan penjelajah mereka. Mungkin item itu bisa menyembunyikan luka ku atau membantuku keluar dari situasi ini.


Terdapat secercah harapan, dan dengan harapan itu, aku kembali bergumul dalam Memperebutkan cairan merah tersebut. Setelah beberapa saat, botol tersebut berhasil ku dapatkan.


Ada sedikit keraguan, karena tak semua item di dungeon berguna. Tak jarang beberapa item malah merugikan petualang atau menyebabkan kematian karena kutukan yang tidak diketahui.


Dengan membulatkan tekad, aku membuka botol tersebut menggunakan mulut ku, menegak nya sekaligus. Tak ada yang terjadi. Setelah beberapa saat, aku tersungkur ke tanah.


Tenggorokan ku seperti terbakar, jantung ku berdegup dengan kencang, aku bisa merasakan darah mengalir dengan cepat, paru paru memompa oksigen dengan cepat membuat ku kesulitan bernafas. Setelah cukup tersiksa, secara perlahan mata ku menjadi berat dan kehilangan kesadaran.


...****************...


Aku terbangun dari pingsan ku, kepala yang tadinya berat berangsur - angsur menjadi ringan. Dengan bertumpu menggunakan tangan kanan bangkit dari posisi tengkurap ke posisi duduk.


Hal pertama yang kusadari adalah tangan kanan ku yang kembali normal. Padahal sebelumnya tidak bisa di gunakan. luka di kepala ku pun sudah sembuh. Aku masih ingat sesaat sebelum pingsan mengalami rasa sakit yang begitu menyiksa.

__ADS_1


Aku meraih botol kosong yang tergeletak tak jauh dari sisi ku. Melihat - lihat botol kosong tersebut.


"Aku harus berterima kasih terhadap item ini, meski harus mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan setidaknya aku berhasil sembuh. "


Aku berdiri dan melakukan senam ringan, tubuh ku sangat ringan dan segar bugar. Karena perasaan ini, seakan aku bisa melakukan apapun.


Mata ku tertuju kepada tengkorak yang beberapa bagian sudah terlepas.


"Maafkan aku!. Aku tak jadi untuk menemani mu disini. Aku akan membawa buku mu keluar, mungkin ada keluarga mu yang tahu perihal buku tersebut. " Aku mendoakan tengkorak tersebut berharap tenang di alam sana.


Aku meraih buku tersebut, membuka untuk memastikan tak ada yang rusak.


"!!. "


Saat itulah hal mengejutkan terjadi, buku yang sebelumnya tidak bisa ku baca, sekarang bisa ku baca dengan jelas.


"Jika kau dapat membaca buku ini, mulai sekarang buku ini adalah milik mu. Jaga dengan hati - hati.. "


Terdapat kata yang menyatakan pergantian pemilik. Entah ini tulisan si tengkorak atau si tengkorak pun mendapatkan nya dari orang lain. Yang jelas, buku ini menjadi milik ku.


Aku membaca buku tersebut dengan seksama. Yang mencengangkan, buku ini berisi data monster yang ada, dan bagian tubuh yang bisa digunakan untuk pembuatan ramuan atau obat. Serta tata cara efektif untuk mengalahkan monster - monster, jalan rahasia yang menuntun ke item berharga dan harta karun.


Lalu terdapat pembelajaran menggunakan berbagai senjata, pedang, tombak, panah, kapak, pedang besar, palu, belati dan lain - lain.


Aku menghabiskan beberapa jam untuk mempelajari isi yang terkandung didalam buku tersebut. Dan yang lebih mengejutkan meski buku ini memiliki kata - kata yang sulit dan beragam, Aku mampu memahami dan mengingatnya dengan jelas. Bahkan teknik bersenjata bisa ku praktekkan setelah hanya sekali membaca.


Semakin lama aku membaca buku tersebut semakin tak sadar berapa lama waktu yang ku habiskan. Rasa haus akan pengetahuan yang terkandung didalam buku memancing ku untuk hanyut dalam setiap kata dan kalimat.


...****************...


Setelah beberapa jam terlewati, aku selesai membaca buku tersebut. Seluruh isi yang tercantum didalam buku sudah berada di dalam otakku. Biasanya hanya membaca buku selama 2 jam saja sudah cukup untuk membuat ku mual dan berhenti sejenak.


Namun berkat pengetahuan buku, aku menjadi yakin untuk bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.


Dengan penuh keyakinan, aku menekan tombol mekanisme tembok. Tembok terbuka dan menunjukkan jalan. Dijalan ini sebelumnya aku dibuat babak belur oleh goblin, ada sedikit ke khawatiran yang perlahan - lahan lenyap. Kali ini aku pasti bisa kembali.


Berjalan beberapa saat, aku melewati lorong. Berdasarkan pengetahuan yang ku baca, aku membuka setiap harta yang berada didalamnya. Terdapat item yang menguntungkan ku, salah satunya adalah tas penyimpanan ruang waktu. Aku bisa menyimpan benda yang ku temukan dan tak ada batasan yang bisa aku tampung. Lalu aku pun menemukan kamar yang berisi minuman alkohol, rasanya sedikit aneh tapi tak berapa lama bisa ku nikmati.


Tak berapa lama, akhirnya aku bertemu dengan makhluk yang memperkenalkan ku terhadap rasa keputusasaan untuk pertama kali ku alami. Tanpa ada niatan untuk lari aku menerjang ke arah goblin goblin tersebut. Terdapat 5 ekor goblin dengan berbagai senjata, mulai dari tombak berkarat, pedang rusak, tongkat kayu dan sebagainya.


Meski aku tak bersenjata, tak ada rasa takut sama sekali. Pukulan dan tendangan yang aku kerahkan mengenai kepala, dan anggota badan mereka. Kecepatan ku pun meningkat dan dapat menutup jarak dengan singkat. Para goblin kalah dalam sekejap meninggalkan kristal jiwa yang tergeletak.


"Jadi ini kekuatan ku ya?. " Ucap ku tak percaya, sebelumnya aku ketakutan menghadapi 2 ekor goblin. Namun sekarang goblin bukanlah musuh yang menakutkan.


Beberapa kali menghabisi monster - monster yang berada di lorong ini. Menggunakan setiap senjata yang bisa ku temukan. monster - monster tersebut dapat dikalahkan dengan mudah. Tak lupa memeriksa setiap mayat petualang untuk ku ambil dog tag mereka. Terdapat 15 dog tag yang berhasil ku kumpulkan, kebanyakan dari mereka ada rank E sama seperti ku.


"Kalau petunjuknya benar, memasuki tempat ini akan langsung membawa ku ke luar menara. " ucap ku menatap pintu besi setinggi 4 meter.


Dengan sekuat tenaga aku membuka pintu tersebut hingga cukup untuk aku masuki. Didalam sangat gelap, setelah beberapa langkah, pintu tiba - tiba tertutup, api menyala dan ruangan menjadi terang.


Didepan ku terdapat makhluk setinggi 3 meter, berkulit hitam, dengan taring besar di bawah mulutnya. Duduk di sebuah singgasana yang menghadap pintu masuk. Saat melihat ku, makhluk tersebut tersenyum.


Sekarang aku sadar, makhluk di depan ku ini memberikan ancaman yang berbeda dengan monster yang ku hadapi sebelumnya.


"Kau pasti bercanda kan...? " Ucap ku tak percaya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2