
Sosok tersebut memiliki tinggi sekitar 3 meter, dengan kulit hitam dan mata merah, sepasang sayap dan tanduk di kepala nya memberikan kesan menakutkan.
Sosok tersebut duduk bertumpu pada salah satu tangannya, tersenyum saat aku memasuki ruangan ini.
"Hmm, sudah lama tidak ada yang berhasil masuk ke ruangan ini. Kau pasti petualang hebat yang bisa mengalahkan makhluk - makhluk lemah itu. Jiwa mu pasti pantas untuk ku panen dan di persembahan kepada raja iblis. "
Makhluk tersebut berbicara, entah ku mengerti atau tidak, tapi dia dengan jelas menyebutkan nama raja iblis.
"Apa kau pemilik ruangan ini?, kau kah yang menjebak ku dan membunuh para petualang di luar sana. "
"Memangnya untuk apa kau tahu?, asal tahu saja, orang mati tak perlu tahu. "
Makhluk tersebut menunjuk ku, seketika sebuah cahaya ungu kegelapan melesat dari jarinya mengarah kepada ku.
Dengan reflek aku menghindari serangan tersebut. Melihat ku menghindari serangan dadakannya membuatnya takjub.
"Benar, begitulah seharusnya. Aku semakin tak sabar untuk memanen jiwa mu itu. " Sembari mengucapkan kalimat tersebut. Makhluk tersebut terus menembak ku dengan serangannya secara beruntun.
Aku berlarian menghindari setiap tembakan. Setiap tembakan yang keluar dan mengenai ruangan mengakibatkan dampak yang menakjubkan, tak terbayang apa yang terjadi jika aku terkena tembakannya tersebut.
Di saat ada kesempatan, aku melemparkan pisau yang kudapat. Pisau tersebut melesat menuju makhluk yang terduduk. Dengan santainya makhluk tersebut menangkap pisau tersebut menggunakan jarinya.
"Apa ini? Sebuah belati?. Apa ini penghinaan? Menyerang diriku menggunakan belati tumpul seperti ini?. "
Seketika hawa disekitarnya menjadi buruk, belati yang ia pegang terbakar dengan api ungu dan hangus menjadi debu. Ia berdiri dan mengangkat tangannya ke udara. Muncul sebuah portal kecil di atasnya.
"Jika ingin menyerang ku, minimal menggunakan senjata seperti ini!. "
Sesuatu muncul dari balik portal tersebut. Kecepatannya sangat cepat sehingga tak bisa kulihat menggunakan kedua mata ku.
Slat!.
Seketika perut ku Terserempet sebuah pedang, menyebabkan luka gores. Entah karena reflek atau apa, di detik - detik terakhir aku menghindari pedang yang melesat namun masih terlalu lambat.
"Hoo, kau orang pertama yang bisa menghindari serangan pedang ku. " Puji nya.
"Kalau begitu bagaimana dengan ini?. "
Rentetan senjata keluar dari balik portal yang ia gunakan. Pedang, kapak, belati, tombak dan berbagai jenis senjata melesat ke arah ku.
Dengan luka di perut ku, aku berusaha menghindari setiap senjata yang terarah kepada ku. Seluruh tubuh ku dipenuhi goresan karena senjata - senjata tersebut.
"Hosh... Hosh... Hosh... " Tubuh ku babak belur dan nafas ku tersengal - sengal.
"Ini semakin menyebalkan, sebaiknya di selesaikan secepatnya. " Makhluk tersebut menjentikkan jarinya. Puluhan portal terbuka dan memunculkan ujung senjata berwarna emas.
"Matilah!. " Dengan 1 perintah, senjata senjata tersebut melesat ke arah ku dari berbagai arah.
Aku meraih sebuah tombak yang tak jauh dari posisi ku.
Trang!.
__ADS_1
Menepis senjata yang mengarah kepada ku. Ilmu yang ku pelajari dari buku sangat berguna. Dengan seluruh tenaga, aku berlari melewati terjangan senjata yang melesak, sesekali ku tangkis menggunakan tombak yang ku pegang.
"Berani - beraninya makhluk lemah seperti mu menggunakan senjata ku seperti itu. Akan ku bunuh kau dan ku jadikan santapan para goblin. "
Makhluk tersebut murka, sebuah pedang besar di lempar ke arah ku. Karena terlalu besar, aku menghindari senjata itu dengan mudah.
Dengan berganti dengan senjata yang berserakan, jarak antara ku dengan makhluk tersebut semakin dekat. Saat makin dekat, dengan pedang yang saat ini ku pegang, aku melompat setinggi yang ku bisa, kemudian menebas makhluk tersebut. Darah berwarna ungu muncrat dari bekas tebasan yang di hasilkan.
Makhluk tersebut terjatuh dan menatap ku dengan lemahnya.
"Uhuk... Selama 3600 tahun, baru kali ini ada yang berhasil mengalahkan ku. Sepertinya aku sudah melemah. Uhuk... " Makhluk tersebut berusaha berbicara sambil meregang nyawa.
"Diriku yang di panggil weervil sang jenderal raja iblis kalah oleh seorang petualang manusia. Raja iblis pasti merasa malu. "
Aku menyaksikan saat terakhir makhluk yang menyebut dirinya jenderal raja iblis tersebut.
"Kau harus bangga manusia, sosok mu mengalahkan diriku ini, yang tak terkalahkan di medan perang. Kau bisa pamer. " Ucapnya mengejek.
"Maaf saja, tapi aku tak mengenalmu. "
"Begitu ya?. Sejak perang terakhir, banyak manusia yang tak mengetahui diri ku ini. Andai saja mereka tahu kengerian sang raja iblis. "
Sosok bernama weervil pun akhirnya mati. Aku tak merasa bersalah. Itu karena ia memang berniat membunuh ku. Aku terduduk lemas karena sudah berhasil selamat dari maut.
Tiba - tiba muncul sebuah sosok bayangan melihat ku. Bayangan tengkorak yang sama dengan yang ku temui di ruangan rahasia.
"Aku tak tahu kau siapa?. Tapi terima kasih untuk botol minum dan bukunya. wahai tengkorak tanpa nama. " ucap ku berterima kasih kepada sosok tengkorak yang sebelumnya ku temui.
...****************...
Setelah beberapa saat beristirahat, aku berdiri dan melihat ke area sekitar, banyak senjata berserakan dengan berbagai bentuk dan jenisnya.
"Sebaiknya aku menyimpannya, mungkin akan berguna kedepannya, lagi pula ini bisa disebut jarahan perang. " Dengan secepat mungkin memasukkan semua senjata ke dalam tas penyimpanan yang ku dapatkan.
Dari semua senjata, terdapat 9 jenis senjata yang berbeda. Ku pikir 9 jenis senjata ini memiliki tingkatan yang berbeda dengan senjata yang lain.
Setelah memungut senjata - senjata yang berserakan. Aku menuju pintu di belakang singgasana. Terdapat tangga yang ujungnya tidak terlihat. Dengan penuh kesabaran menapaki setiap anak tangga hingga ke atas.
Entah sudah berapa lama aku menaiki anak tangga, tapi aku tak merasa akan mencapai ujung. Dengan pemikiran tersebut, seketika aku berada di tengah - tengah hutan. Tak ada tanda teleportasi yang memindahkan ku. Semua terjadi begitu tiba - tiba.
...****************...
Aku akhirnya sampai di depan pintu guild.
Gedung Guild ramai seperti biasanya, banyak orang yang berlalu lalang entah untuk urusan penting atau pun hanya sekedar mencari informasi.
Orang - orang banyak yang memerhatikan ku. Mungkin karena pakaian ku yang sedikit compang camping dan luka di sekujur tubuhku. Namun aku tak menghiraukan pandangan mereka. Tujuan ku adalah mencari seseorang.
Mata ku segera menemukan orang yang ku cari, orang tersebut adalah Violet. Mbak Resepsionis yang mengurus pendaftaran ku sebagai seorang petualang dan memberi ku beberapa informasi.
Entah karena apa Violet seperti terkejut melihat ku. Seakan tak percaya, matanya terbelalak. Karena heran dengan terkejut nya Violet, aku pun menghampiri nya.
__ADS_1
Segera memasuki area counter, aku mengucapkan salam.
"Halo Violet, Aku kemb-. "
"Teguh, kau masih hidup?. "
"Eh?. "
Violet segera menanyai berbagai hal, Setelah menjelaskan beberapa hal. Violet kembali tenang.
"Aku tak menyangka kau masih hidup?. Kau tak ada kabar selama sebulan, kupikir kau telah tewas. " Ucapnya penuh cemas.
"Yah, kupikir aku akan mati disana, aku pun-. Eh, sebulan?. "
Violet mengangguk.
Ia menceritakan perihal Aku yang tak kunjung kembali setelah mengambil quest perburuan slime. Dan setelah beberapa minggu, nama ku di cantumkan ke daftar orang hilang atau tewas
"Aku tak tahu bahwa sudah sebulan terlewati begitu saja. Di dalam sana tak ada jam yang membuat ku mengetahui kondisi diluar sih. "
"Bagaimana pun, coba kau cerita kan apa yang terjadi selama sebulan ini. ikut aku! " perintahnya sembari pergi ke salah satu pintu.
"Baik."
Violet mengajak ku pergi ke ruangan berbeda, untuk berbicara secara 4 mata.
...****************...
"Aku tak menyangka ada kejadian seperti itu. "
Violet menggeleng - geleng tak percaya. Setelah mendengar cerita ku perihal jebakan di hutan timur, yang membawa ku dalam dungeon. kemudian berhadapan dengan 2 ekor goblin, menemukan ruang rahasia dan meminum ramuan botol, mendapatkan kekuatan dan mengalahkan sesuatu yang di sebut dungeon master. Orang lain yang mendengarnya pun pasti tak akan percaya.
"Apa benar itu semua?. " tanya nya meminta konfirmasi.
Aku hanya mengangguk. Aku pun menyerahkan sejumlah dog tag yang ku kumpulkan.
Sebenarnya tak semuanya aku beritahukan, perihal tengkorak tanpa dog tag dan buku yang memberikan pengetahuan tak ku beri tahu. Itu karena setelah membaca habis buku tersebut, terdapat kalimat yang menyuruh untuk tidak memberitahukan kepada orang lain.
Violet seperti mempertimbangkan keaslian cerita ku.
"Dog tag ini memang asli, dan bisa dipastikan masih banyak yang belum di temukan. Aku akan meminta informasi mengenai dungeon tersebut lain kali. "
"Baik!. "
Untuk sekarang, aku disuruh untuk beristirahat. Ia pun mengatakan bahwa quest yang ku ambil di batalkan karena pemberi quest menghilang untuk di pinta penjelasan.
Aku merasa kecewa karena tak mendapatkan hadiah quest setidaknya aku masih bisa menjual batu jiwa yang ku dapatkan dari slime dan monster - monster ku kalahkan di dalam dungeon.
Aku pun keluar dari gedung guild. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang memerhatikan ku menjauh dari gedung guild.
...****************...
__ADS_1