Mengejar Mimpi & Cinta

Mengejar Mimpi & Cinta
1. Kebimbangan Riana


__ADS_3

Riana Fadillah yang kerap disapa dengan panggilan Ana itu adalah anak yang ceria, mandiri, dan juga tomboy. Dia merupakan anak sulung dari dua bersaudara, Ana memiliki seorang adik laki-laki terpaut usia 6 tahun di bawahnya namanya Rendra Fadillah. Ayah mereka sudah lama meninggal dunia sejak Ana berumur 6 tahun, sedangkan adiknya masih dalam kandungan ibunya.


Waktu begitu berjalan dengan cepat, Mama Ratna yang sudah belasan tahun menjanda memutuskan untuk membesarkan kedua anaknya itu seorang diri. Menjadi sosok seorang ibu dan ayah bagi anak-anaknya, mama Ratna menyambung hidupnya dengan usahanya catering makanan harian atau acara-acara besar seperti ulang tahun, pernikahan, dan sebagainya. Dulu usahanya memang masih sangat kecil, tapi alhamdulilah sekarang mama Ratna sudah punya 5 orang karyawan untuk membantunya memasak dan 5 orang kurir untuk mengantar pesanannya setiap hari.


Pagi itu dihari Senin hari sibuknya semua orang, tak luput dengan rumah Ana yang sedari subuh sudah berlalu lalang orang bekerja membantu mamanya memasak, di sudut meja makan Ana terlihat melamun murung dan menjadi sangat pendiam. Gadis yang sehari-hari sangat ceria itu benar-benar berubah sejak obrolan semalam setelah acara makan malam bersama ibu dan adiknya. Akhirnya ia pun beranjak dari duduknya dan berpamitan untuk berangkat sekolah.


"Ma, aku berangkat dulu ya. Aku pulangnya sore soalnya minggu ini terakhir try out dan minggu depan udah hari tenang. Do'akan semoga lancar ya ma." ucapnya sambil mencium tangan ibunya.


"iya kak, hati-hati di jalan ya semoga hari ini try outnya lancar. Jangan lupa dihabisin bekalnya, nih udah mama masakin makanan kesukaan kakak." memberikan kotak bekal Ana kemudian mengelus puncak kepala anaknya.


"Assalaamu'alaykum ma". Ana menutup pintu


"Wa'alaaykumussalam nak, hati-hati yaa sayang" sahut mama Ratna dari dalam.


Tak lama kemudian Rendra duduk di meja makan, ia mengambil bekalnya memasukan ke dalam tasnya dan siap untuk sarapan.


"ma, kakak udah berangkat ya?" tanya Rendra


"udah dek, tuh bekalnya kakak udah dibawa. Adek buruan habisin sarapannya habis ini mama antar" jawab mama bersiap untuk mengantar Rendra.


*yah, padahal Rendra pengen berangkat bareng sama kakak. Soalnya dari semalem Rendra lihat kakak ngelamun terus loh ma, kasihan kakak."


"iya ya dek, dari tadi mama juga lihat kakak ngelamun terus gak kayak biasanya*" mama Ratna mulai kepikiran


*Apa aku terlalu memaksakan Ana ya? wajar kalau dia terlihat murung, dia masih muda untuk menerima lamaran seseorang. Tapi aku juga tidak sanggup menolaknya, dia adalah anak yang baik dan bertanggungjawab aku yakin pasti Ana kelak akan bahagia jika menikah dengan dia.


Pikiran mama juga berkecamuk antar tidak tega untuk melepaskan anaknya di usia muda dan tidak rela jika harus menolak lamaran pemuda yang terkenal baik, dermawan, dan juga sangat berpengaruh di ibu kota. Berkepribadian yang sangat agamis menjadi syarat utama mama kenapa mempertimbangkan lamaran pemuda tersebut.


... di sekolah ...


Ana yang berjalan dengan langkah gontai menunduk merenungkan permintaan mama yang benar-benar membuatnya tidak bisa tidur nyenyak semalaman.


"An.. Ana.. woy... Ana!!" teriak Sinta yang berusaha menyusul Ana dengan lari kecil.


Ana yang sedari tadi melamun akhirnya pun tersadar dengan teriakan dan tepukan tangan dari sahabatnya itu.


"hah, Sinta astaghfirullah maaf tadi aku gak denger" Ana menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memaksakan senyumnya.


"Ya Allah Ana, dari tadi aku panggil kamu sampe teriak-teriak loh. Kamu kenapa sih Na?" tanya Sinta yang terlihat ngos-ngosan akhirnya pun bisa menyamakan langkahnya bersama Ana.


"aduh maaf ya Sin, aku beneran gak denger nih minum dulu Sin kayaknya kamu capek banget!" Ana menyodorkan botol minumnya pada sahabatnya yang terlihat berkeringat dan nafasnya tersengal-sengal.


"lagian pagi-pagi udah ngelamun kamu Na, mikirin apa sih? ujian akhir?" menerima botol minum dari tangan Ana.


"he he he gak kok, gak mikirin apa-apa udah yuk buruan ke kelas 10 menit lagi bel nih" Ana memaksakan tawanya.


"iya iya yuk, tuh Widya udah lambai-lambai tangan kayaknya udah lama nungguin kita" Sinta yang merasakan segar kembali setelah meneguk setengah botol minum milik Ana. "nanti digantiin es telernya mang Jaja ya Na, ini airnya tinggal dikit banget he he he" Ujar Sinta cengengesan.

__ADS_1


"iya gpp Sinta, kayak sama siapa aja sih kamu ini" jawab Ana yang masih terlihat memaksakan senyumnya.


"aduh kalian jalannya lama banget sih, dari tadi aku nungguin kalian tahu." Widya yang udah gak sabar menunggu kedua sahabatnya pun akhirnya menyusul Ana dan Sinta. "kamu kenapa Na kok dari tadi aku lihat dari jauh kayaknya lagi mikirin sesuatu. Lagi berantem sama mama Ratna?" selidik Widya.


"Emh...enggak kok Wid gak lagi berantem sama mama, cuma lagi ada banyak pikiran aja hehehe" jawab Ana sekenanya.


"iya tuh Wid aku tadi aja panggil-panggil sampe teriak baru dia denger. Kayaknya sahabat kita ini lagi mikirin masalah yang cukup rumit deh. Cerita dong Na siapa tahu kita bisa bantu." Sinta yang berusaha ingin tahu.


"iya Na, coba cerita siapa tahu kita punya solusi atau paling gak jadi plong kalo kamu udah cerita gitu". Widya yang mengelus punggung temannya.


"aku beneran gpp kok guys, makasih yaa udah khawatir sama aku, aku sayang sama kalian." Memeluk kedua temannya dan masih dengan senyum terpaksanya.


"kamu beneran gpp Na? jangan sungkan cerita sama kita ya. Kita juga sayang sama kamu". Widya yang berusaha menghibur Ana.


"iya Na, kalo gitu nanti aja kalo kamu udah siap cerita sama kita ya. Sayang kamu juga!" Sinta memeluk kedua sahabatnya dan disambut anggukan Ana dengan mantab.


*Aku kan gak mungkin cerita sama Sinta dan Widya sekarang, nanti pasti mereka bakalan tambah khawatir nanti aja deh kayaknya setelah ujian selesai aku cerita sama mereka. Lebih baik sekarang aku fokus sama try out dan ujian akhir nanti. Semangat Ana kamu pasti bisa!! batin Ana menyemangati dirinya sendiri.


TEEEET...TEEEEET...TEEEET...


Bel tanda dimulai try outpun berbunyi, membuat tiga sahabat itu tertawa bersama dan saling menyemangati.


... semalam ...


Mama Ratna mengajak kedua anaknya untuk makan malam bersama di salah satu restoran terkenal yang sangat jarang dikunjungi mereka bertiga. Meskipun usaha mama Ratna terbilang cukup sukses, namun ia tak pernah merasa harus hidup berfoya-foya. Mengingat tidak mudah usahanya untuk menjalani hidup sampai sekarang ini setelah kehilangan Abu Fadillah suami tercintanya diusia yang masih cukup muda.


"enggak ah ma, kakak gak ikutan ya lagi seru nih". Jawab Ana tanpa mengalihkan matanya dari tv.


"iya nih ma, adek juga gak ikut. Capek banget tadi habis main bola sama temen-temen." Rendra pun enggan ikut acara mamanya.


"hey sayang, gak boleh gitu mama dapat undangan makan malam nih dan harus membawa kalian berdua, ini tamu penting loh." mama berkacak pinggang.


"emang siapa sih ma?" tanya Rendra dan Ana bersamaan merekapun saling berpandangan mengernyitkan dahi.


"aduh kalian ini ya, tahu kan bapak Walikota Dr. Hermawan kita beruntung banget loh dapat undangan makan malam sama orang penting seperti beliau. Aduh gak sabar deh, gimana mama kelihatan bagus gak baju dan dandanannya?" Mama terlihat sangat antusias.


"kenapa beliau mengundang kita makan malam ma? emang mereka kita kenal mereka?" tanya Ana dan "eh, salah maksud kakak emang mereka kenal sama kita ma?" Ana meralat pertanyaannya.


"ehmm... dulu itu waktu almarhum papa kalian masih kerja di kantor pemerintahan gak sengaja papa membantu menyelamatkan anaknya pak Hermawan kecelakan tepat di depan kantor. Mama juga gak inget betul gimana ceritanya yang jelas sejak saat itu pak Hermawan dan keluarganya sangat menghormati keluarga kita. Waktu papa meninggal aja semua keperluan acara pemakaman dan lain-lain dibantu sama keluarga beliau." kenang mama, matanya menerawang jauh mengingat kejadian yang memilukan itu. Tanpa sengaja mama pun meneteskan air matanya, membuat kedua anaknya ikut merasakan kesedihan.


"udah ma, cukup ceritanya mama yang sabar ya! kakak mau ikut kok.. sebentar ya ma kakak ganti baju dulu, ayok dek kamu juga ganti baju sana!" Ana memeluk mamanya dan menarik tangan adiknya menyuruhnya untuk ikut bersiap-siap.


"makasih ya sayang, kalian kebanggaan mama dan papa." mengecup kening kedua anaknya.


Meskipun sudah belasan tahun berlalu tentu kenangan manis akan suaminya masih tersimpan di hati mama.


*Pa, semoga papa bahagia di sana ya! alhamdulilah anak-anak kita bisa tumbuh dengan sehat dan baik. Meskipun di awal mama merasa kesulitan tapi mengingat perjuangan papa dulu, mama juga harus kuat seperti papa. Semoga papa disana bisa merasakan kebahagiaan kami disini.

__ADS_1


"mama, kok mama nangis?" tanya Rendra yang ternyata sudah sedari tadi memperhatikan mama. Rendra tumbuh menjadi anak yang cukup sensitif mungkin bawaan lahir karena waktu itu dia masih 7 bulan dalam kandungan mamanya.


"ah gak kok sayang, adek kok udah rapi aja. Mana kakak kamu? susulin gih, mama mau panasin mobil dulu ya." elak mama malu ketahuan nangis di depan anaknya, selama ini pantang bagi mama Ratna untuk menangis beliau harus menjadi sosok ibu yang kuat bagi kedua anaknya.


"iya ma, adek panggil kakak dulu ya!" jawab Rendra yang berusaha tidak membuat mamanya semakin sedih, dia tahu pasti mama teringat tentang almarhum papa. "kak, turun dong cepetan kita udah lama nih nungguin kakak dandan." teriak Rendra dari tangga.


Tak lama kemudian Ana menuruni tangga.


"dek, gimana cocok gak kakak pakai baju kayak gini?" Ana yang agak malu memakai dress brokat dipadu dengan lilitan jilbab yang cukup simple tapi terlihat manis.


"bagus kok kak, cocok bajunya sama kakak!" jawab Rendra sekenanya agar kakaknya puas dengan komentarnya.


"beneran nih dek?" tanya Ana tidak percaya.


"serius kak, lagian tumben banget pakai dress biasanya pake celana komprang fovorit kakak hehehe." Rendra sangat tahu kakaknya tomboy bahkan memakai rok atau terusan waktu acara tertentu aja.


"Yee, adek kan kata mama mau ketemu orang penting. Jadi harus rapi dong" jawab Ana sedikit malu karena memang dia kurang percaya diri kalo harus memakai dress.


"iya iya kak, yuk mama udah nungguin kita dari tadi" berjalan di depan mendahului kakaknya "*jangan lupa kunci pintunya ya kak!"


"iya dek, udah kamu duluan aja masuk mobil kakak mau kunci semua dulu*."


Biarpun usahanya cukup sukses mama Ratna hanya memperkerjakan asisten rumah tangga hanya sampai sore saja, karena sangat penting untuk mengajari anak-anaknya bisa hidup mandiri dan jika kelak sudah dewasa itu pasti sangat bermanfaat bagi kedua anaknya. Sampai sekarang pun Ana dan Rendra sudah sangat cukup mandiri, segala keperluan pribadi sebisa mungkin mereka siapkan sendiri.


... di IBD ...


Setibanya di restoran mereka cukup bingung dengan suasana restoran yang bisa dibilang cukup rame di hari biasanya, sekarang terasa sangat tenang hanya 2 mobil yang sudah terparkir sebelum mobil mereka tiba. Terbersit di pikiran mama Ratna apakah mereka tidak salah tempat atau memang acaranya sudah selesai.


"ma, emang bener disini acaranya? kok sepi banget?" tanya Rendra.


"iya ma, jangan-jangan kita salah tempat ma? atau memang udah selesai acaranya?" Ana pun ikut bertanya.


"mama juga gak tau nak, bentar deh coba mama cari tahu dulu ya. Undangannya masih mama simpen kok di chat WhatsApp Sabtu kemarin." Mama terdiam sejenak sedikit ragu dengan suasana saat ini.


*Kok sepi banget ya? Apa jangan-jangan udah selesai acaranya? Bener gak sih ini tempatnya? Yah, sayang sekali pasti mereka kecewa karena kami tidak datang, apa aku coba telepon Mbak Anti (Sekretaris Nyonya Hermawan) aja ya?


Mama Ratna merogoh tasnya mengambil handphone dan berusaha mencari nomor telepon sekretaris Nyonya Hermawan. Belum sempat mengetik nomor telepon yang dituju, terlihat seorang perempuan paruh baya yang tinggi tegap dan terlihat sangat berwibawa mengetuk pelan kaca mobil dengan senyum ramahnya.


tok...tok...tok...


Mama Ratna membuka kaca mobilnya.


"mbak Ratna baru datang? ayo masuk dulu mbak, bapak dan ibu Hermawan sudah menunggu beberapa menit yang lalu." sapa mbak Anti sekretaris Nyonya Hermawan.


"ah, mbak Anti baru aja saya mau telepon mbak. Mau nanyain bener gak disini tempatnya." jawab Mama sambil menjabat tangan Mbak Anti dari dalam. "bentar ya mbak, yuk nak kita turun bener kok disini tempatnya."


"Bener kok mbak disini tempatnya, saya kira mbak Ratna gak jadi datang malah, bapak dan ibu sedikit cemas tadinya menyuruh saya menghubungi mbak tapi mbak udah sampai duluan." pungkas mbak Anti sambil tersenyum.

__ADS_1


"gak mungkinlah mbak kami gak datang, bapak dan ibu Hermawan dulu sudah membantu keluarga kami. Ehm.. tapi kok sepi banget ya mbak, apa memang tamu lain belum datang?" tanya mama sambil merapikan baju dan jilbabnya.


__ADS_2