Mengejar Mimpi & Cinta

Mengejar Mimpi & Cinta
2. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Loh mbak Ratna gak tau? kan yang diundang bapak dan ibu hanya mbak dan keluarga." Mbak Anti memundurkan badannya saat mama Ratna membuka pintu mobil.


"hah? iya kah mbak? aku beneran baru tahu loh. Memang ada urusan apa ya mbak?" Mama menghentikan sejenak langkahnya beberapa saat diikuti Ana dan Rendra di belakangnya.


Dug...


"aduh mama, kalo berhenti jangan mendadak gitu dong ma." Ana menabrak punggung mamanya lalu mengusap keningnya yang sedikit sakit.


"maaf ya nak, mama gak sengaja." mama sedikit panik menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya.


"tenang mbak Ratna, jangan tegang gitu dong bapak dan ibu bermaksud baik kok mengundang mbak dan keluarga." mbak Anti memecah kepanikan mama Ratna. Melirik Ana yang sedari tadi dilihatnya terus menunduk dan karena temaram lampu membuat wajahnya hanya sedikit terlihat di bawah cahaya bulan. "oh ini ya yang namanya dek Riana? lalu yang di belakang itu pasti dek Rendra ya? tadi sebelum saya kesini ibu sedikit menjelaskan." sapa mbak Anti kepada Ana dan Rendra.


"oh iya mbak, sampai lupa mau kenalin ini Riana atau Ana dia anak pertama saya dan ini Rendra adiknya, mereka beda 6 tahun mbak. Ayo nak beri salam dulu sama Tante Anti." memberikan jarak pada kedua anaknya untuk bersalaman.


"saya Riana tante, panggil saja saya Ana." Ana tersenyum menyalami tangan Mbak Anti.


"saya Rendra tante." Rendra ikut memperkenalkan dirinya.


"iya panggil saja saya tante Anti ya, aduh manisnya anak-anak mbak Ratna, cantik dan gantengnya mewarisi dari mbak Ratna nih." goda mbak Anti.


*udah pasti ini mas Rama dengan senang hati menerima permintaan bapak dan ibu. Kalaupun nanti keberatan bakalan aku jadiin menantuku aja deh hehehe - Mbak Anti


"mbak Anti ini ya bikin saya malu deh, udah tua gini mana ada cantiknya." Mama tersenyum malu.


Mereka pun tiba di meja restoran yang ternyata sudah dibooking penuh hanya untuk menjamu keluarga almarhum Fadillah. Di dalamnya hanya terlihat pelayan restoran yang tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


"permisi bapak ibu keluarga ibu Ratna sudah datang." mbak Anti mempersilahkan keluarga mama Ratna untuk menempati tempat duduk yang sudah disediakan.


"assalaamu'alaykum ibu, apa kabar? Sudah lama sekali ya tidak berjumpa." mama Ratna menjabat tangan ibu Hermawan saling berpelukan.


"wa'alaaikumussalam dek Ratna, ayo duduk dulu. Saya kira gak jadi datang loh dek iya ya udah lama sekali." sapa ibu Hermawan mengelus bahu mama.


"maaf ya ibu kami sudah membuat bapak dan ibu sekeluarga menunggu, tadi jalanan agak macet bu." jawab mama malu karena sungkan membuat orang penting di kota itu menunggu lama.


"gak apa-apa kok dek Ratna, kami juga baru datang 10 menit yang lalu. Mbak Anti tolong panggil Rama ya mbak, dia tadi di musholla belakang." pak Hermawan meminta tolong.


"oh iya sampai lupa, tolong ya mbak!” ibu Hermawam meminta tolong.


"baik bapak ibu..." mbak Anti berjalan menuju musholla yang letaknya di belakang restoran tersebut, sesampainya disana.


"permisi mas Rama tamunya sudah datang, bapak dan ibu menunggu mas di depan." dengan sopan mbak Anti meminta anak pak Hermawan untuk segera bergabung di meja makan.


Tidak berapa lama, Rama pun sudah bergabung dengan ayah ibunya untuk menyambut tamu yang sudah diundang oleh orang tuanya.


“nah ini dia, ayo Rama beri salam dulu sama tante Ratna udah lama sekali kan kamu gak ketemu.” Ibu Hermawan berdiri menarik kursi untuk Rama duduki.


“hallo tante, bagaimana kabar tante? Sudah lama sekali Rama gak ketemu tante, mungkin sudah 7 tahun lebih ya sejak kami pindah ke Surabaya.” Sapa Rama pada mama Ratna.


“hai Rama, duh sekarang udah gede ya udah makin ganteng nih. Gimana udah punya calon istri belum nih? Kalo belum nih tante ajak anak perempuan tante, siapa tahu Rama tertarik.” Canda mama Ratna yang disambut gelak tawa semua orang.


“a-apaan sih ma, kenapa mama ngomong kayak gitu? Malu tahu ma.” Bisik Ana kesal pada mamanya.

__ADS_1


“he he he bercanda sayang, beri salam dulu gih sama om dan tante Hermawan juga sama kak Rama. Dulu waktu kalian masih kecil pernah hilang berdua loh membuat semua orang cemas setelah itu kalian sudah tidak pernah bertemu kembali jadi mama maklum kalo kamu gak ingat Kak Rama.” Mama sedikit mengenang masa lalu yang sebenarnya ingin mereka hapus dari ingatan. Sepasang mata dari jauh memperhatikan dengan penuh rasa ketidaksukaan.


“sudah sudah, yang lalu biarlah berlalu tidak perlu diingat kembali apalagi kenangan buruk.” Ibu Hermawan memecah keheningan sesaat melemparkan senyumnya agar membuat semua ikut tersenyum.


“Riana gimana kabarnnya? Sekarang sudah kelas 3 SMA ya? ” sapa pak Hermawan yang sedari tadi meliriknya dengan penuh semangat.


“ehm..sa saya alhamdulillah baik om, iya sekarang kelas 3 SMA 2 Minggu lagi ujian akhir om” Ana mencoba tersenyum dan berusaha untuk tidak canggung.


“masyaa Allah udah gede aja ya Riana, cantiknya mirip mamanya nih.” Ibu Hermawan menimpali.


“aduh ibu bisa aja, kami jadi malu nih dari tadi disanjung terus.” Mama tersenyum malu.


Ana yang terlihat masih canggung itupun memilih untuk ke kamar mandi berpikir siapa tahu setelah dari sana dia akan merasa lebih nyaman. Sejak duduk di meja makan dia sudah merasa kurang nyaman, dia tahu ada yang memperhatikan dia dengan rasa tidak suka tapi sebisa mungkin dia menepisnya.


“pe-permisi, om tante saya ke kamar mandi dulu ya.” Ana meminta ijin untuk ke belakang.


“oh iya sayang, silahkan jangan sungkan ya.” Ibu Hermawan menjawab dengan senyum.


“Rama tolong antar Riana ke kamar mandi ya, takutnya nanti nyasar hehe.” Pak Hermawan membuat Ana dan Rama malu mereka pun menahan senyum.


“ti-tidak usah om saya bisa sendiri kok.” Ana menolak sopan.


“gak apa-apa kok Riana, Rama kelihatannya juga tidak keberatan mengantar kamu, iya kan nak?” ibu Hermawan membujuk.


“iya, ayo dek Ana kakak antar kamu ke belakang.” Senyum Rama membuyarkan lamunan Ana, pertama kalinya ada seorang laki-laki yang memanggilnya Ana selain almarhum ayah dan adiknya.

__ADS_1


Rama menuntun jalan menuju toilet di samping musholla, sedangkan Ana sendiri masih diam mematung tanpa berbicara karena memang hampir dia tidak pernah berkomunikasi dengan lawan jenis secara langsung kecuali dengan gurunya itupun biasanya dia sangat terlihat tidak nyaman dan gelisah.


__ADS_2