
2 Minggu sudah berlalu hari ini adalah hari terakhir ujian akhir nasional diselenggarakan. Ana seakan pasrah dengan hasil ujiannya kelak, karena jujur saja sejak pembahasan dengan mama malam itu dia jadi tidak bisa tidur dan hilang fokus untuk belajar tapi sebisa mungkin untuk tetap belajar dia tidak mau 3 tahunnya sia-sia hanya untuk memikirkan masalahnya.
“Ma, kakak berangkat dulu.” Ana menyalami tangan mamanya sedikit dengan paksa.
“kakak gak sarapan dulu? Ini sayang bekalnya udah mama siapin kok.” Mama menyusulnya khawatir.
“gak apa-apa ma, nanti sarapan di sekolah sama Sinta dan Widya aja. Berangkat ya ma assalaamu’alaykum.” Buru-buru Ana menutup pintu rumah.
“iya wa’alaaykumussalam sayang, hati-hati di jalan ya nak semoga ujiannya lancar.” Teriak mama Ratna dari dalam.
*Maafkan mama ya nak, mama tahu kalo mama memang egois terlalu memaksakan kehendak mama. Tapi mama rasa Rama adalah anak yang baik, dia pasti mampu membuatmu bahagia. Dan mama berharap kamu bisa lebih terbuka lagi dengan laki-laki yang kelak menjadi suamimu. Mama takut kamu terlalu cuek dengan laki-laki dan gak memikirkan untuk menikah - Mama Ratna
Tidak heran dengan sikap anaknya, mama Ratna merasa maklum dengan perubahan sikap anak gadisnya tersebut. Bagaimana tidak jika tiba-tiba belum lulus sekolah sudah ditawari untuk menikah itupun dengan pemuda yang 5 tahun lebih tua dengan anaknya, bahkan mama sendiri sadar kalau ia merasa sedikit memaksakan kehendaknya ia tahu betul Ana tidak pernah berhubungan dengan laki-laki manapun. Di acara keluarga besarnya pun hampir-hampir tidak pernah bertegur sapa dengan sepupu laki-laki dan itu juga menjadi kekhawatiran mama tersendiri sehingga terbersit keinginan untuk merubah sikap anaknya yang seperti itu. Biarpun begitu mama masih sering menyelipkan obrolan mengenai lamarannya dengan harapan Ana mau menerima secepatnya, tidak ingin mengecewakan ibu dan pak Hermawan.
... di sekolah ...
“Hei Na, kok masih diem aja sih hari ini kan terkahir ujian harusnya kamu seneng dong.” Sinta menyambutnya di dalam kelas.
“he he iya iya aku seneng kok tapi aku sedih kalo udah lulus kita berpisah dong.” Ana menatap sahabatnya sendu dengan memaksakan senyumnya.
“ha ha ha tenang dong Na kita kan masih bisa untuk pilih satu universitas yang sama, iya kan Sin.” Jawab Widya menenangkan.
“iya dong Na, jangan khawatir kalo masalah itu yang penting kita satu kampus dan masih tetap bersahabat sampai kakek nenek he he he.” Sahut Sinta disambut dengan tawa ketiga remaja itu.
“hmmm iya tapi aku yang gak yakin bisa kuliah bareng kalian atau gak?” Ana tertunduk sedih.
“kok kamu ngomongnya gitu sih Na? Kayak mau pergi jauh aja.” Widya terheran.
“iya jangan ngomong kayak gitu dong, udah udah yuk kita belajar lagi.” Ajak Sinta.
"iya maaf ya.." Ana tertunduk lesu.
Sepulang sekolah mereka bertiga janjian untuk pergi main ke rumah Widya untuk merayakan berakhirnya ujian dan mereka bisa bersantai sejenak mempersiapkan ujian masuk universitas.
__ADS_1
To : Mama
Ma, kakak pulangnya sore ya. Sekarang lagi di rumah Widya ya nanti pulangnya barengan sama Sinta
Pesan Ana terkirim.
Beberapa saat kemudian.. tring... tring...
From Mama:
Iya sayang jangan malam-malam ya pulangnya.
“yuk kita makan siang dulu yuk, tadi mamaku udah pesenin kita makanan kok.” Ajak Widya "ehh, tapi kalian udah pada ijin belum?." tanya Widya lagi.
"aku udah kok, kamu gimana Sin?"
“udah dong...ayoklah udah laper banget nih.” Seru Sinta
“Ana makan yang banyak dong, kamu kan suka banget sama bakso Mang Jaja kok gak diabisin?” selidik Widya.
“iya, kamu kenapa sih Na aku kita perhatiin belakangan ini kamu jadi pendiem banget tahu gak. Ada masalah apa sih? Cerita dong Na sama kita.” Sinta menepuk pundak Ana membuyarkan lamunannya.
“ehmm.. sebenernya aku pengen cerita tapi bingung dimulai dari mana.” Ana tertunduk sedih.
“Pelan-pelan aja ceritanya Na asalkan kamu udah siap dan percaya sama kita.” Widya meyakinkan.
“se-sebenernya 2 Minggu yang lalu mama bilang aku akan segera dinikahkan.” Tatapnya nanar.
“Apa?? Kamu serius??” jawab Widya dan Sinta kompak dan Ana pun mengangguk pelan mereka bertiga menghentikan aktifitas makan siangnya beberapa lama.
“Na, kamu bercanda kan? Mungkin Tante Ratna Cuma ngprank kamu kali Na.” Sinta menghibur disambut dengan gelengan Ana.
“Ana apa kamu udah siap buat menikah? Kenapa tiba-tiba Tante Ratna nyuruh kamu menikah?” tanya Widya.
__ADS_1
“ehmmm… tentu saja aku pribadi gak siap, aku masih ingin mewujudkan mimpi-mimpi ku, masih ingin kumpul bareng sama kalian. Aku belum siap kalo harus berpisah dengan mama dam adekku.” Ana menjawab pelan dan tanpa kuasa bulir-bulir air mata pun membasahi pipinya. “Mama bilang sebelum papaku meninggal papa sudah berjanji dengan sahabatnya untuk menikahkan anak-anaknya kelak sudah dewasa, seperti menjadi salah satu wasiat almarhum papa.” Ana menangis sejadinya memeluk kedua sahabatnya. “Ma-mana mungkin aku bisa menolak permintaan mama yang satu ini, sedangkan mama bahkan tak pernah sekalipun berpikiran untuk menikah lagi, te-tentu saja aku tahu mama masih sangat mencintai papa. A-apa aku bisa menolak janji papa pada temannya? La-lalu gimana perasaan mama kalo aku mengecewakan mereka?.” Ana sesenggukan kesulitan mengatur nafasnya sendiri.
"Ana kami tahu kami gak bisa bantu banyak, tapi kami pasti selalu mendukung jalan apapun yang kamu pilih, asalkan kamu bahagia." ucap Widya berusaha menenangkan.
“sabar ya Na kamu pasti kuat, kami yakin itu. Kamu pasti bisa melewati masalah ini.” Sinta menyemangati. “kalo boleh tahu, siapa yang akan dinikahkan denganmu Na?”
“*Fajar Ramadhan”
“Apa*?????” jawab Sinta dan Widya serempak kemudian saling berpandangan tak percaya
“Ya ampun Na, kamu pasti beruntung banget Na siapa sih yang gak kenal Fajar Ramadhan? Udah jadi pengusaha sukses dan terkenal banget di Surabaya kan? Orang tuanya juga wali kota kan? Wah.. benar-benar luar biasa Na kamu sangat beruntung.” Sinta bersemangat.
Plakkk... Widya menepuk pundak Sinta dengan keras.
“Apaan sih Sin, Ana lagi sedih tahu jangan ngomong kayak gitu deh. Biarpun calonnya orang sukses dan terkenal tapi kalo belum siap untuk menikah, lantas apa yang bisa dibanggakan.” Widya kembali memeluknya.
Sinta terdiam sejenak merasa menyesal dengan apa yang dia ucapkan barusan. Sinta dan Widya hanya mampu menenangkan sahabatnya dengan memeluk dan memberinya semangay, mereka tahu Ana hanya ingin mencurahkan isi hatinya. Mengeluarkan emosinya yang bahkan sudah beberapa minggu ini dia tahan seorang diri takut akan melukai orang-orang tersayangnya. Tanpa sadar Sinta dan Widya terbawa suasana ikut menangis, merasakan kesedihan sahabatnya yang pasti mereka tahu tak ada jalan keluar bagi Ana selain mengikuti kemauan almarhum papanya.
… Di suatu tempat …
“sialan, bagaimana bisa mereka bertemu kembali? Sudah 7 tahun ini bahkan sekalipun mereka tak pernah saling berhubungan. Kurang ajar! Benar-benar tidak dapat dipercaya.” Seseorang meluapkan emosi. “JIMMMMM, cepat hubungi para ba**ngan itu dan suruh mereka datang malam ini!” teriaknya frustasi. “Bagaimanapun caranya aku tidak akan pernah memberikan kesempatan mereka untuk melangkah lebih jauh lagi, aku pastikan itu!!!"
BRAAAKKKK BUGGG BRAAAK meninju meja kuat-kuat hingga tangannya sendiri berdarah.
“tuan, kenapa anda melakukan itu? Saya akan mengobatinya tuan.” Seorang pelayan mendekat ketakutan.
“pergi kau!! Biarkan aku sendiri.”
“tapi tuan...”
“DIAAMMM..sudah ku bilang pergi kau!”
“ba..baik tuan.” Menutup pintu tergesa.
__ADS_1