Mengejar Mimpi & Cinta

Mengejar Mimpi & Cinta
7. Kejutan Kecil


__ADS_3

“Oh iya tunggu sebentar ya mbak, saya suruh orang keluarkan barang-barangnya dulu.” Berjalan keluar memanggil sesorang


Beberapa orang terlihat mengangkat kotak-kotak besar untuk dibawa ke dalam rumah.


“Permisi nyonya, ini bisa saya taruh dimana ya?” tanya seseorang


Mama Ratna yang terbangun dari lamunannya sesaat menjawab pertanyaannya.


“O-oh iya pak letakkan saja disana pak, disudut ruangan kosong itu ya pak.” Katanya masih rasa penasaran tidak percaya. “Mbak Anti, ini apa ya? Mbak kirim barang apa sebanyak ini?” mama bertanya kembali masih bingung.


“Maaf ya mbak Ratna mungkin sedikit mengagetkan, ini daftarnya mbak kalo mbak mau saya bisa cek masing-masing kotak di depan mbak Ratna.”


-apanya yang sedikit mengagetkan, ini sih sangat mengagetkan tahu gak, bisa-bisa aku pingsan mendadak- Mama Ratna.


“Ah gak usah gak perlu mbak, biar saya lihat sendiri sudah terlalu merepotkan mbak Anti.”


“Mbak Ratna jangan heran ya kedepannya akan lebih sering lagi he he he, maklum kalau Nyonya Hermawan seperti ini. Hal yang sangat menggembirakan inilah yang sudah ditunggu-tunggu beliau sangat lama, hanya mas Rama aja yang baru mengiyakan permintaan beliau padahal sudah beberapa tahun lalu beliau memintanya.”


Mbak Anti tahu mama kaget dengan begitu banyak hadiah yang dikirim mungkin akan membuatnya syok setiap orang yang melihatnya. “Mohon diterima ya mbak, saya pun akan melakukan hal yang sama jika itu untuk kebahagiaan anak saya apalagi untuk anak satu-satunya.” Senyumnya yang ramah mampu membuat mama terdiam sesaat mencerna sedikit demi sedikit apa yang mama dengar. Karena sesungguhnya hal ini juga sangat sangat membuat mama Ratna bahagia mewakili perasaan setiap ibu yang akan menikahkan anaknya.


“Ha Ha Ha, i-iya mbak tapi ini terlalu banyak aku jadi tidak enak mbak ini berlebihan sekali.” masih tidak percaya


“Nyonya akan tersinggung jika mbak Ratna menolaknya, ahh.. sepertinya sudah selesai memindahkan barang-barangnya kalo gitu saya permisi dulu ya mbak Ratna. Sampai bertemu di acara lamaran nanti ya mbak, sekali lagi saya ucapkan selamat saya pribadi juga ikut merasa senang.” Mbak Anti memeluk mama memberikan selamat.


“Iya mbak Anti terimakasih banyak ya, sampaikan salamku pada Tuan dan Nyonya Hermawan. Maaf sudah merepotkan mbak Anti.” kata mama sungkan

__ADS_1


“Sama-sama mbak Ratna, kelak jangan sungkan-sungkan untuk meminta tolong saya ya mbak dengan senang hati saya akan membantu mbak dan keluarga. Saya pamit ya mbak Ratna Assalaamu’alaykum.” melambaikan tangannya


“Iya baik mbak, Wa’alaaykumussalam mbak Anti, hati-hati di jalan ya mbak.” Mama melambaikan tangan dan dibalas senyuman oleh mbak Anti.


Tidak berapa lama Ana turun dari kamarnya, dia terbangun dari tidurnya yang sudah beberapa minggu ini tidak mendapatkan kualitas tidur yang baik. Mendengar suara berisik di bawah kamarnya membuatnya terjaga dan memutuskan untuk mencari tahu.


“Kakak, kamu sudah bangun?” tanya mama bahagia


“Iya sudah ma, tadi siapa yang datang? kenapa mama terlihat sangat senang sekali?” mengucek matanya yang masih terasa berat.


“Kesini deh sayang, lihatlah sendiri banyak hadiah yang dikirimkan oleh Nyonya Hermawan untuk kita loh.”


Ana yang melihatnya terdiam membeku beberapa saat tidak percaya, melihat rumahnya yang tiba-tiba terdapat banyak tumpukan kardus-kardus ukuran besar dengan tulisan keterangan bermacam-macam seperti peralatan dapur, perlengkapan tidur, peralatan laundry, dan lain-lain.


“Kamu pasti kaget kan sayang?”


Kriettt Ceklek...


“Assalaamu’alaykum, ma adek pulang. Adek laper banget ma, tadi belum sempat makan sia....” Rendra ikut terpaku melihat pemandangan yang sangat tidak biasa di rumahnya.


“Wa’alaaykumussalam sayang, ha ha ha pasti adek juga kaget ya.” Mama terbahak melihat kedua anaknya berdiri mematung sama seperti apa yang dia lakukan tadi.


“Adek ganti baju terus makan dulu gih, katanya laper belum makan siang habis itu mama jelasin dan kita lihat sama-sama yaa.” Suruh mama kemudian.


Dengan semangat Rendra langsung berlari ke kamarnya secepat kilat segera mengganti bajunya dan segera turun ke bawah tergesa, tidak sabar untuk mencari tahu apa yang baru saja terjadi sama seperti kakaknya begitu banyak hal yang ia ingin tanyakan pada mamanya.

__ADS_1


“adek cuci tangan kaki dulu sana!” mama mengerutkan dahi tahu anaknya tidak sabar sampai melewatkan bebersih dirinya sendiri.


“ah iya ma, adek lupa.”


“Jadi ma, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Rendra dan Ana bersamaan.


“ehm... ini semua adalah barang-barang pemberian Nyonya Hermawan, beliau mengirimkan berbagai macam peralatan dan perlengkapan rumah tangga juga berbagai baju untuk kita semua.” Mama menjelaskan dengan senyum lebar bahagia.


“Apa ini gak berlebihan ma? Kami saja belum pasti menikah.” Tanya Ana malas mengatupkan mulutnya cepat.


“Kakak! Kok ngomong gitu, bukannya kakak sudah bersedia? Apa kakak mau membatalkan rencananya tiba-tiba?” mama kaget mendengar ucapan anaknya.


“Eh, e-enggak ma, enggak kok terima saja hadiah dari mereka, aku balik ke kamar dulu ya ma.” Ana mendadak berkeringat dingin kemudian berlari menaiki tangga menuju kamar.


“Ma, kenapa kakak seperti itu? Semakin hari adek lihat kakak terlihat murung dan lebih sering habisin waktu di kamar lalu tiap pagi matanya juga bengkak , padahal ujian kakak sudah selesai kan ma?” pertanyaan Rendra membuat mama tersadar.


“Gak apa-apa sayang, mungkin kakak masih kaget dengan semua hal ini. Mama sebenernya mau saja menjelaskan tapi mama rasa adek masih belum cukup paham dengan situasi sekarang ini, tapi ini semua buat kebahagiaan kakak dan kita semua kok. Adek percaya sama mama kan?”


Mama menjelaskan dan Rendra mengangguk pelan kehilangan nafsu makannya seketika melihat kakaknya berubah sikap. “adek! kok gak dilanjutin lagi makannya, katanya tadi laper banget apa masakan mama hari ini gak enak sayang?” tanya mama lagi.


“ah ah, gak kok ma ini adek makan lagi. Tadi kayaknya adek ambil nasinya kebanyakan he he he jadi udah agak kenyang sekarang” Jelasnya canggung takut mengecewakan mamanya.


“Pelan-pelan aja ya sayang makannya kalo memang udah kenyang jangan dilanjutin! dikasih makan ke kucing liar aja ya, kalo gitu mama masuk ke kamar dulu ya mau telepon mbok Jum dan pak Mamat mau kasih tahu buat bantu mama ngatur barang-barang ini besok pagi.” Mengelus rambut Rendra pelan.


"iya ma." jawab Rendra singkat

__ADS_1


Rendra yang masih memikirkan perubahan perilaku kakaknya itu terlihat mengerutkan alisnya. Beberapa waktu lalu dia masih sering ngobrol dan nonton acara reality show favorit mereka tapi sekarang kakak hanya mengurung dirinya sendiri di kamar tanpa memberi tahu apa-apa.


__ADS_2