
Tidak ada satu orang pun yang tidak mengenal Fajar Ramadhan, dia adalah anak tunggal Wali Kota yang sangat tampan, baik, ramah, dan sangat sukses. Hampir semua perusahaan di Jawa Timur adalah aset miliknya, dia pun juga memiliki beberapa perusahaan Internasional yang tersebar di luar negeri.
Wajahnya yang sering mondar-mandir di layar televisi dan di berbagai media online lainnya mampu menghipnotis setiap orang yang melihatnya. Tubuhnya yang atletis itu menambah kesempurnaan baginya, dia adalah calon pendamping hidup idaman setiap wanita di penjuru kota.
“Selamat pagi tuan.” Bram keluar dari dapur setelah menyelesaikan sarapannya.
“Hei Bram, kau sudah selesai sarapan rupanya kenapa tidak sarapan bersama denganku? Apa saja jadwalku hari ini?” Sapa Rama dengan ramah.
"Maafkan saya tuan, saya kira anda masih belum selesai mandi. Hari ini jadwal anda yang pertama adalah peresmian gedung olahraga bersama ketua dan wakil wali kota tuan, mobil anda sudah saya siapkan tuan." Bram tersenyum hormat.
"Bu Cici saya minta tolong siapkan bekal sarapan saya dan antar ke mobil ya.”
“Baik tuan akan segera saya antar ke mobil anda tuan.” Bu Cici undur diri menuju dapur.
“Bram apa kau sudah dapat info terbaru dari ibuku? Apa beliau tidak menghubungimu beberapa hari ini?" melipat surat kabar yang baru saja ia baca dengan cepat.
"oh ya, apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai kejadian 7 tahun yang lalu? tolong percepat ya Bram aku sudah tidak sabar mungkin saja firasat burukku pada orang itu memang benar, aku khawatir dia akan kembali melakukan kejahatannya jika memang terbukti dia dalang di balik semua ini"
"Baik tuan, akan saya percepat pencarian saya dan segera melaporkannya kepada anda." Bram membuka pintu mobil untuk tuannya." Tuan seperti perkiraan anda tadi pagi saya mendapat telepon dari Nyonya Besar untuk mempersiapkan acara lamaran minggu depan, saya sudah menyiapkan ballroom hotel Majamanis apa ada hal tertentu yang anda minta tuan saya akan persiapkan secepatnya.” Bram menoleh ke belakang.
“hmmm rupanya sudah ditentukan, baiklah Bram tolong persiapkan sebaik dan sesempurna mungkin jangan sisakan celah sedikitpun ya.” Rama terlihat senyum malu-malu.
“Rupanya anda sangat mengharapkan acara ini ya tuan?” Bram menggoda tuannya.
“ha ha ha kau ini bicara apa Bram, tentu saja aku mengharapkannya dia adalah gadis yang baik dan tentunya kau sudah tahu dia sangat cantik kan Bram?” tertawa bangga.
“Iya tuan, sudah tentu Nyonya Besar tidak akan salah memilihkan jodoh untuk anda.”
__ADS_1
“ya ya aku percaya pada ibuku, sudah pasti aku akan dengan senang hati menerima permintaan orang tua ku lagipula dia benar-benar gadis yang menarik dan kau juga segera temukan gadis yang akan kau nikahi Bram.” sindirnya
"Baik tuan, setelah anda menikah saya juga akan menikah tuan." Bram tersenyum kecut.
Meskipun dari luar Rama merupakan sosok yang sempurna tapi sosoknya yang tegas dan disiplin mampu membuat seluruh karyawannya tidak berani berkutik apalagi berani bermacam-macam melakukan pelanggaran. Tidak ada ampun baginya jika sedikit saja melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat atau perusahaan itu sendiri, dia akan benar-benar menghukumnya hingga seseorang akan merasa jera. Hampir-hampir tidak pernah ada kasus seperti korupsi di perusahaannya, mereka pelaku kejahatan lebih memikirkan masa depannya daripada kenikmatan sesaat yang tidak sebanding dengan hukuman yang akan ia terima. Bisa bergabung dengan perusahaan miliknya merupakan impian bagi semua orang, selain dengan gaji yang sangat tinggi tapi juga bergengsi.
**Tilililit... Tililililit...
“berikan informasi dengan tepat jangan ada satupun yang terlewat, hmmm ya baiklah kerjamu cukup bagus kutunggu kau di kantor siang nanti dan jangan terlambat*!” Bram menutup teleponnya.
“Siapa Bram?” telepon Bram membuyarkan lamunan tuannya.
“Maaf tuan sudah mengganggu anda, yang baru saja telepon adalah Rudi dia bilang kepala cabang batu bara di Kalimantan terlihat mencurigakan, beberapa kali melakukan jual beli ilegal dengan beberapa negara lain tanpa sepengetahuan perusahaan.” Bram mengernyitkan alisnya terbawa emosi. “Maafkan saya tuan, saya tidak bisa memilih kepala cabang yang kompeten seperti yang tuan harapkan.” Bram mengepalkan tangannya menyesali dirinya telah mengecewakan.
“Apa kau sudah mendapatkan bukti-buktinya?”
“Bawa Rudi ke hadapanku, aku akan melihatnya sendiri.” Rama mengepalkan tangannya geram. “Jika itu terbukti segera kumpulkan orang-orang yang sudah terlibat dengannya, jangan sampai lepaskan mereka sedikitpun. Mereka harus dibuat jera Bram, mereka harus bisa mempertanggungjawabkan konsekuensi jalan yang mereka pilih.” Rama memejamkan matanya bibirnya getir kecewa, kenapa masih saja ada orang yang berani bertindak bodoh seperti itu, padahal ia merasa tidak kurang memberikan gaji pada karyawan-karyawannya.
Tidak ada orang yang tidak memimpikan untuk dapat bergabung dengan perusahan milik Fajar Ramadhan. Karyawan yang bekerja lebih dari 15 tahun akan mendapatkan rumah pribadi di kompleks perusahaan terdekat tempat mereka bekerja. Gajinya sendiri sudah 3 kali lebih besar dari perusahaan bonafit lainnya, setiap karyawan akan dievaluasi dengan baik dan mereka yang memiliki kemampuan di atas rata-rata akan dipilih menjadi orang-orang terdekat dan terpercaya bagi keluarga Hermawan.
... di tempat acara peresmian gedung olahraga ...
“Terimakasih kepada seluruh para tamu undangan untuk itu mari kita langsung saja untuk meresmikan gedung olahraga ini Bismillahirohmannirrohim.” Pemotongan pita peresmian oleh Tuan Hermawan Bapak Wali Kota disambut dengan tepuk tangan yang meriah.
“Rama bagaimana kabarmu? Kenapa kau tidak pulang ke rumah seminggu ini, mampirlah barang sebentar nak pasti mamamu akan senang nak.” Tuan Hermawan memeluk anaknya rindu.
“Iya pa Insyaa Allah nanti malam aku pulang, hari ini jadwalku cukup padat jika sudah selesai aku akan segera menemui papa dan mama.” Rama membalas pelukan ayahnya.
__ADS_1
“Wah..wah... Mas Rama sudah lama sekali ya kita tidak bertemu?” Sapa wakil wali kota.
“Alhamdulillah saya baik pak Wawali, anda sendiri bagaimana kabarnya pak?” menjabat tangan wakil wali kota.
“Ngomong-ngomong kata bapak mas Rama mau melaksanakan lamaran ya 2 minggu lagi? Jangan lupa undang saya ya mas.”
“Wah rupanya bapak sudah tahu duluan ya, iya pak Insyaa Allah nanti saya undang bapak beserta keluarga, suatu kehormatan bagi saya jika anda bisa hadir pak.” Ucapnya ramah
“iya mas sudah pasti nanti saya akan hadir mas, ya sudah silahkan dilanjutkan saya mau menemui tamu yang lain mas.” Bapak wawali pamit undur diri.
“baik pak, selamat jalan senang bertemu dengan anda.”
... di rumah ...
“*Assalaamu’alaykum ma, kakak pulang.”
“ Wa’alaaykumsalam sayang, sudah pulang rupanya. Ayo ganti banju dan segera makan malam nak, panggil adek kamu di atas ya*.”
“Kakak sudah makan tadi ma di rumah Widya, kakak masuk ke kamar dulu ma.” Ana buru-buru.
“Kak, jangan capek-capek ya sayang ingat acara lamarannya minggu depan sayang.” Mama terlihat bahagia dengan keputusan anak sulungnya tanpa menyadari anak gadisnya menyembunyikan sesuatu darinya.
Kaki Ana terdiam membeku, hampir tidak percaya saat teringat dengan obrolan mamanya semalam bahwa dia akan menerima permintaan mama dan almarhum papanya. Walaupun hatinya sendiri menolak tapi dia tidak sanggup mematahkan hati orang-orang tersayangnya.
*Ya Allah apa ini benar jalan yang harus saya lalui? Bagaimana dengan calon suami saya? Apa dia bisa menerima saya dengan kekurangan saya ini? Saya benar-benar tidak layak ya Allah, saya manusia hina yang bahkan mungkin tidak pantas bahagia - Ana.
Ana menangis pilu, tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika rahasia yang bertahun-tahun ia jaga akan diketahui oleh semua orang terlebih lagi dengan laki-laki yang kelak ia sebut suami. Semenjak kejadian itu Ana bahkan tidak berani sekedar bermimpi untuk menikah, menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Mimpi itu sudah ia kubur dalam-dalam tanpa sisa. Bukan waktu singkat membuat dia menjadi terbuka seperti dahulu, sejak kejadian yang menakutkan itu dia membutuhkan waktu 1 tahun untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain dan mama Ratna tahu alasannya apa sebenernya yang membuat anaknya tiba-tiba berubah.
__ADS_1