Mengejar Mimpi & Cinta

Mengejar Mimpi & Cinta
6. Persiapan dan Hukuman


__ADS_3

“Bram tolong siapkan pesawat untuk ke Kalimantan satu jam lagi, sungguh tidak dapat dipercaya dia benar-benar berani bermain kotor di belakangku.” Rama mendengus kesal.


“Baik tuan segera saya siapkan.” Bram menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk segera mempersiapkan apa yang tuannya butuhkan.


“Apa menurutmu gaji yang kuberikan jumlahnya tidak sepadan dengan tugas yang kuberikan Bram?” tanya Rama


“Tidak tuan, gaji yang anda keluarkan untuk para karyawan sudah sangat tinggi sekali, tidak ada perusahaan lain yang dapat menjaga loyalitas kepada karyawannya seperti perusahaan yang anda miliki tuan”


“Lantas kenapa masih ada orang yang melakukan kesalahan seperti dia, apa aku kurang cukup tegas?”


“Tentu tidak tuan, hanya orang bodoh yang mau melakukan kejahatan yang tidak seberapa tetapi mengorbankan masa depan keluarganya dalam jangka panjang. Orang – orang seperti mereka yang tidak bisa mensyukuri apa yang sudah mereka miliki tidak akan pernah merasa bahagia yang sesungguhnya.” orang yang saat ini menyaksikan percapakan mereka pasti tahu, bahwa Bram lebih terlihat menahan emosi dibandingkan tuannya sendiri karena dalam hidup laki-laki bujang itu prioritas utamanya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tuannya.


“*Terimakasih Bram, kau memang luar biasa terimakasih selalu ada di sampingku.”


“Anda terlalu berlebihan tuan*.” senyumnya menahan diri


Beberapa saat kemudian...


“Permisi tuan, pesawat yang akan anda gunakan sudah siap.” Bram menunduk.


“Terimakasih Bram, kamu memang sangat bisa diandalkan.”


Bram tersenyum menganggukkan kepala namun tangannya masih mengepal kuat-kuat tak sabar untuk segera bertemu pria tidak tahu diri itu.


Kurang lebih 45 menit waktu yang dibutuhkan akhirnya pesawat pribadi Rama pun tiba di bandara terdekat dengan perusahaan yang dia tuju. Kepala Rama masih dipenuhi berbagai pertanyaan dan amarah tertahan yang baginya sangat membingungkan. Mungkin alasan karyawannya melakukan tindakan kriminal adalah tidak lain karena dia sendiri masih belum cukup memperhatikan kesejahteraan mereka.

__ADS_1


BRAKKKK...


sesorang membuka pintu dan membantingnya kembali


“Tu-tuan maafkan saya, tolong maafkan saya. Sa-saya benar-benar menyesal dengan a-apa yang sudah saya lakukan.” Seseorang ketakutan bicara terbata-bata


"Silahkan duduk dulu tuan." Bram mempersilahkan Rama duduk di sofa yang sudah dipersiapkan.


“Apa gaji yang ku berikan padamu masih kurang pak?” tanya Rama terduduk sedih bercampur marah.


“Ti-tidak tuan sudah sangat cukup, ga-gaji yang a-anda berikan sangat banyak sekali ga-gaji yang anda tawarkan ti-tidak akan pernah ditawarkan oleh perusahaan lain ta....” belum selesai bicara Rama memotongnya.


“Lalu kenapa kau masih bermain kotor di belakangku?” Nada bicara meninggi. “Bahkan anda adalah salah satu karyawan terbaik tahun lalu, tapi kenapa anda masih....” Rama menggeleng tidak percaya, pria dihadapannya hanya menunduk pasrah. “Sudahlah hentikan!!! semuanya sudah terlambat!! Anda tentu sudah tahu apa hukuman yang akan anda terima. Bram! sisanya aku serahkan padamu, aku pusing butuh udara segar.” Keluar meninggalkan ruangan yang terasa sangat dingin bagi pria yang berlutut itu meskipun tanpa pendingin udara.


"sebenarnya saya sangat sekali ingin memukul anda pak, tapi tuan Rima tidak akan senang jika saya melakukannya. Kali ini anda sangat beruntung tidak perlu menerima hukuman fisik dari saya, huh dasar tidak tahu diri."


"*Tuan manajer maafkan saya dan terimakasih telah memberi kesempatan saya untuk hidup."


"Kau kira aku akan mengotori tanganku dengan hal gila seperti itu????"


BRAAAKKKK* BRUKK Bram melemparkan kursi kayu yang ia pakai tadi tepat di depan muka pria itu dan menggores tipis di pelipis kirinya.


Tubuh pria paruh baya itu bergetar hebat menyesali akan setiap ucapannya yang baru saja ia lontarkan dan hampir saja membuatnya babak belur. Kini ia hanya menyisakan rasa sesal yang sudah tentu dia tahu sangat terlambat. Tidak ada kesempatan untuk mengulang, pupus sudah kebahagiaan keluarganya yang selama ini dia prioritaskan. Seperti sudah merusak masa depan anak-anaknya, meninggalkan trauma bagi keluarganya dan hanya bisa berandai-andai kalau saja dia tidak serakah, andai saja dia bisa lebih bersyukur mimpi buruk ini tidak akan terjadi.


... Hotel Majamanis ...

__ADS_1


Ballroom Hotel Majamanis sudah satu pekan ini riuh sekali, para karyawan hotel disibukkan untuk mempersiapkan acara lamaran presiden direktur sekaligus pewaris tunggal tempat mereka bekerja. Tidak ada satupun yang berani melakukan kesalahan sekecil apapun, mereka bersungguh-sungguh mempersiapkan acara tersebut dengan sangat teliti dan hati-hati. Sudah tidak terbayang hukuman apa yang akan ia terima jika terjadi secuil kesalahan dari Sekretaris Bramana orang kepercayaan Tuan Fajar Ramadhan.


Tililililit.... Tililililit


“Permisi pak, Manajer Bram ingin berbicara dengan anda.” Seorang pelayan hotel menyerahkan telepon kepada wakil manajer hotel.


“Ha-Halo selamat sore tuan Bram, apa ada yang anda butuhkan?” tanyanya takut-takut.


“Ba-baik tuan, sekarang persiapan kurang lebih sudah mencapai 85% tinggal menunggu hasil tester makanan apa saja yang akan disajikan tuan.”


“I - iya saat ini saya sedang menunggu utusan yang dikirim oleh Nyonya Besar untuk mencicipi dan menguji kelayakan makanannya tuan.”


“Baik Tuan, akan saya persiapkan sesempurna mungkin tuan anda tidak perlu khawatir.” Katanya meyakinkan.


“Baik, selamat sore tuan semoga hari anda menyenang......tut...tut...tut...” sambungan terputus sebelum menyelesaikan ucapannya.


Wakil manajer merasa sangat lega tidak ada hal spesial yang rumit yang diinginkan oleh tuannya. Benar-benar mengejutkan sekali dan mengingatkannya bahwa biasanya para pasangan pengantin atau siapapun yang menyewa ballroom hotel untuk pernikahan sangat rewel dan melelahkan. Ada berbagai macam permintaan yang kadang tidak masuk akal dan ketika tidak memuaskan akan memaki para karyawan dengan sangat tidak sopan. Sungguh beruntung sekali mereka memiliki tuan yang sangat luar biasa baik dan rendah hati.


-Jangan khawatir tuan besar kami semua disini dengan senang hati akan berusaha membuat acara lamaran anda tidak akan mudah dilupakan oleh perempuan beruntung yang menjadi calon istri anda kelak - Wakil Manajer Hotel.


... di rumah Ana ...


“Mbak Anti, wa’alaaykumsalam mari silahkan masuk mbak kenapa tidak kasih tahu saya dulu pasti akan saya siapkan makanan yang enak.” Mama Ratna mempersilahkan mbak Anti masuk.


“Ha ha ha gak apa-apa mbak Ratna saya disini saja ya saya gak akan lama kok, saya hanya mengantarkan hadiah yang dikirim oleh Nyonya Hermawan mbak.” Tersenyum ramah.

__ADS_1


__ADS_2