
Ana seperti menyimpan rahasia besar hingga dia terlihat tidak berani bertatapan ataupun berurusan dengan lawan jenis. Sesampainya di toilet pun tidak ada sebuah obrolan yang mereka lontarkan untuk sekedar basa basi. Sedangkan jauh di meja makan sana pembicaraan yang cukup serius sudah mulai dilakukan.
“Oh iya langsung saja ya dek Ratna, sebenarnya ini sudah lama sekali kami pertimbangkan mengingat Riana sudah mau lulus SMA jadi kami putuskan secepatnya untuk mengundang dek Ratna dan membahas ini.” Pak Hermawan berterus terang.
“uhuk uhuk, maksudnya apa ya pak?” Mama terbatuk karena tersedak makanan yang baru saja ia sendok.
“Papa pelan-pelan aja ngomongnya, dek Ratna pasti kaget. Maaf ya dek Ratna bikin adek tersedak dan tidak nyaman.” Ibu Hermawan menengahi.
“Jadi begini dek, dulu sekali sebelum suami kamu meninggal. Ehmm waktu itu setelah terjadi kecelakaan pada Rama saya dan Fadil bersepakat untuk kelak menikahkan anak kita yaitu Rama dan Riana. Saya kurang tahu apa dek Ratna sudah tahu apa belum tapi itulah kenyataannya.”
Pandangan pak Hermawan jauh menerawang kejadian bertahun-tahun lalu bagaimana pertama kali bertemu dengan almarhum papa Riana. Dia masih berpikir jika saja waktu itu tidak ada Fadil mungkin Rama tidak akan bisa tumbuh sampai sebesar ini. Tanpa sadar semua orang ikut merasakan kesedihan karena kehilangan almarhum Fadillah, mama Ratna sendiri matanya sudah berkaca-kaca hampir meneteskan bulirannya namun dia tahan sebisa mungkin. Kecuali sorot mata tajam diujung sana yang hampir tak percaya hal ini terjadi, padahal dia sudah bersusah payah untuk mencegah pertemuan ini terlaksana, ia hanya mendesah kesal menggenggam tinjunya kuat-kuat.
“ah itupun tetap tergantung dek Ratna bersedia besanan dengan kami atau tidak, semuanya kami kembalikan kepada adek tapi memang besar harapan kami itu semua bisa terlaksana. Dengan senang hati kami akan menerima Riana seperti anak kami sendiri.” Lanjut pak Hermawan.
“kalau dengan Rama sendiri insyaa Allah sudah setuju dengan rencana ini dek, beberapa waktu lalu sudah pernah kami bicarakan.” Ibu Hermawan menjelaskan.
“Suatu kebanggaan sekali kalau saja Riana bisa menjadi menantu bapak dan ibu apalagi sudah tidak perlu saya ragukan lagi bagaimana kepribadian dek Rama dan saya bisa menjadi besan bapak dan ibu yang merupakan mimpi semua orang tua dli luar sana. Tapi mungkin saya butuh waktu dulu untuk memutuskan ini semua, saya harus mempertimbangkan perasaan Riana juga apakah dia sudah siap untuk menikah atau belum.”
__ADS_1
“Tentu saja dek Ratna, kami tidak buru-buru kok. Silahkan kalau adek mau menjelaskan dulu pada Riana pasti anak itu akan kaget jika harus dinikahkan di usia muda.” Pak Hermawan menanggapi.
“iya dek, lebih baik pelan-pelan saja palagi sebentar lagi dia ujian akhir. Saya yakin dek Ratna bisa menjelaskan dengan baik ke Riana sebelum acara lamaran resminya kami pastikan Riana akan mendapat pendidikan yang layak jadi dek Ratna tidak perlu khawatir dengan masa depannya.” Ibu Hermawan menenangkan.
“baik ibu bapak, secepat mungkin nanti saya kabari lagi ya. Kalau saya sendiri sudah pasti senang punya menantu seperti Rama. Iya kan Ren suka gak kamu punya kakak ipar laki-laki?” Jawab mama girang meskipun ada sedikit kekhawatiran apakah putrinya bisa menerima permintaan kedua orang di depannya ini.
“he he he iya ma Rendra mau.” Jawab Rendra singkat yang sedang asyik menikmati hidangan di hadapannya.
Tidak lama kemudian Ana dan Rama pun sudah kembali ke tempat duduknya, mereka tidak sadar ada mata yang mengawasi sebegitu tidak senangnya keakraban kedua keluarga ini. Acara makan malam pun selesai dan mereka berpamitan.
“iya insyaa Allah secepatnya bu, Ayo anak-anak beri salam dulu sama om dan tante. Terima kasih ya ibu bapak atas jamuan makan malamnya.” Saut mama yang kegirangan.
Mereka pun berpisah jalan, masih ada rasa was was di benak Ana sendiri dan dia sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan. Sesampainya di rumah mereka langsung masuk ke dalam Rumah.
... di rumah ...
“kakak sini dulu sayang mama mau ngobrol sebentar.” Perintah Mama.
__ADS_1
“iya ma, ada apa?” tanya Ana yang sedari tadi merasa tidak nyaman.
“ehmm... jadi gini sayang, kamu tahu kan kak Rama sekarang sudah sukses dia sudah menjadi pemilik beberapa perusahaan besar di luar dan dalam negeri banyak orang yang menginginkan dia menjadi suaminya dan juga dia anak yang baik, sholeh, ramah postur tubuh yang bagus juga wajah yang tampan.....”
“maksud mama apa, kakak gak ngerti ma.” Ana memotong penjelasan mama Ratna.
“Jadi sayang, karena pak Hermawan dan almarhum papa kamu dulu berteman baik jadi beliau ingin menikahkan kamu dan Rama. Apakah kamu bersedia sayang?” mama tampak ragu.
“Mama! Aku kan masih sekolah, aku masih ingin kuliah dan kerja seperti impianku ma.” Ana kaget hampir tidak percaya kenapa mama membujuknya untuk menikah di usia muda meskipun dulu sempat ingin menikah usia muda, sebelum hal buruk terjadi dalam kehidupannya. “aku gak mau ma, aku gak siap.” Air mata Ana mulai membanjiri pipinya.
“sayang, mama tahu kamu pasti terkejut mama jelasin pelan-palan dulu ya. Mama juga baru tahu kalau dulu almarhum papa dan pak Hermawan pernah berjanji untuk menjadi besan. Dan itu seperti menjadi wasiat papa kamu, memang tidak sedikit bantuan yang dulu sudah kita terima dari mereka walaupun saat ini mama bisa menolak lamarannya tapi sejujurnya mama lebih merasa terbebani dengan wasiat papa kamu sayang. Papa kamu begitu menghormati mereka begitu pula dengan mereka menghormati kita, kalo kakak tahu sungguh tidak ada paksaan sama sekali. Mereka bahkan memikirkan masa depan kamu nak.” Mama Ratna ikut meneteskan air mata. ”kakak gak perlu khawatir tentang kuliah, mereka keluarga yang berpendidikan sudah pasti akan sangat mendukung impian kamu nak. Rama adalah anak yang baik, mama percaya dia bisa membahagian kamu kelak nak, mama mohon kamu pertimbangkan kembali sayang, pertimbangkan permintaan papamu.” Mama terisak masih mengenang bayangan almarhum suaminya yang belasan tahun sudah tiada.
Ana masih duduk terdiam membisu sibuk dengan ingus dan air mata yang saling bersahutan, dan tiba tiba...
“Ana masuk kamar dulu ma.” Ana masih sesenggukan.
Belum sempat Mama menjawab, Ana sudah berlari tergesa menaiki anak tangga yang tanpa disadari Rendra mendengarkan percakapan ibu dan kakaknya, meskipun dia masih SD tapi dia sedikit memahami apa yang sedang terjadi dengan kakaknya.
__ADS_1