
Hujan bukan satu-satunya hal yang ia benci, begitu banyak hal yang sukses membuatnya muak. Termasuk jalan hidupnya. Saat ia pikir pernikahannya akan berjalan sesuai impiannya, tapi malah sebaliknya, ia merasa jiwanya mati. Mungkin ia juga harus membunuh raganya sendiri.
Mati. Bunuh diri.
Dulu kalimat itu terasa tidak masuk akal. Baginya, seorang yang mengakhiri hidupnya entah dengan alasan apapun adalah seorang pengecut. Mereka tidak mampu melawan dunia dan berjuang untuk hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak bersyukur saat Tuhan memberinya napas cuma-cuma tanpa perlu membayar sepeserpun.
__ADS_1
Tapi kini, semuanya tampak masuk akal. Semuanya tampak nyata...
Di sebuah atap gedung, seorang wanita tampak berdiri. Matanya menatap nyalang ke bawah entah berapa puluh meter dari tempatnya berdiri. Ia tidak bisa memprediksi. Yang pasti, saat ia melompat ke bawah, ia akan merasa melayang sebentar sebelum tubuhnya menghantam tanah dan hancur berkeping-keping. Lalu ia akan mati.
Semudah itu.
__ADS_1
Wanita itu membentangkan tangannya. Matanya terpejam erat. Hanya perlu melompat saja, kan? Ia siap!
Aku mencintaimu, batinnya.
Ia merasa tubuhnya hampir melayang sebelum sebuah sentakkan kuat pada pinggangnya menahannya. Lantas melemparkannya ke belakang. Tubuhnya berbalik, terbanting karena tubuhnya menghantam permukaan yang keras. Tapi ia tahu, dirinya tidak mati.
__ADS_1
...***...