
...—"Mungkin akan lebih sakit ketika kau dikhianati bukan untuk yang pertama kalinya. Meskipun oleh orang yang berbeda."—...
...Andrea Edith...
...•••...
"Aku tidak akan membiarkan anak itu lahir tanpa figur seorang ayah..." kata Andrea kemudian. "Akan kupastikan pernikahanku dan Robin tidak terjadi sehingga dia bisa menikahimu, Amanda!"
"Tidak, Andrea. Aku tidak mau menikahi Amanda. Aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu..." seru Robin. Pria itu kini berjongkok di kaki Andrea. Mengucapkan seribu maaf yang tidak bisa Andrea terima.
Andrea mengibas kakinya yang dipeluk oleh Robin. "Aku harus pergi. Aku tidak punya waktu untuk berlama-lama dengan kalian. Aku harus mengusir tamu undanganku setelah menjamu mereka dengan baik!" Andrea melangkahkan kakinya dengan pasti. Hanya beberapa langkah sebelum ia berbalik lagi. "Ah ya, terima kasih untuk penghianatannya. Hari ini aku belajar hal baru. Bahwa jangan pernah terlalu percaya pada orang lain. Mereka bisa saja menusukmu dari belakang. Sampai jumpa. Ah, tidak. Aku tidak mau bertemu dengan kalian lagi. Jadi, selamat tinggal."
Setelah benar-benar memungkaskan kalimatnya, Andrea berjalan pergi. Saat membalikkan badan, perlahan, air mata yang ia tahan luruh juga. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa hatinya juga koyak dan merasakan sakit.
Andrea tidak menoleh lagi meskipun ia mendengar Robin memanggil-manggil namanya. Hari ini ia patah hati lagi. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Ia terbuang untuk kedua kalinya. Dan dihianati untuk kesekian kalinya.
"Aku tidak bisa bersamamu lagi..." kata seseorang sepuluh tahun lalu. Ia menggenggam tangan Andrea seperti biasa. Mengajaknya ke hutan belakang sekolah seperti biasa. Namun dengan tujuan yang berbeda; berpisah.
Andrea merasa telinganya salah dengar, hingga ia harus memastikannya untuk kedua kali. "Apa katamu? Kenapa tiba-tiba?"
"Andrea, aku harus pergi. Aku tidak bisa melibatkanmu dalam urusan berbahaya seperti ini. Kau harus aman..."
Andrea yang kala itu masih tidak mengerti hanya bisa menatap mata elang itu dengan tatapan penuh tanda tanya. "Sebahaya apa hingga kau harus meninggalkanku sendirian?!"
"Begitu bahaya hingga nyawamu akan terancam jika kita terus bersama..." pria itu memegangi dagu Andrea, memintanya menatapnya. "Begitu urusannya selesai, aku janji akan kembali padamu."
Rasa itu menyakitkan. Dingin dan beku. "Aku akan menunggu. Tapi sampai kapan kau akan pergi?"
Ia menggeleng. "Entahlah."
__ADS_1
Andrea bisa menunggu puluhan tahun dengan kepastian. Tapi tidak adanya kepastian membuat harapannya luruh dari hari ke hari. Hingga ia tidak lagi percaya akan cinta lagi. Dan setelah ini, mungkin akan lebih parah.
Andrea masuk ke dalam mobilnya. Tidak buru-buru pergi. Ia ingin menangis dulu sebentar. Mungkin dengan begitu dadanya bisa lebih lega. Sepuluh tahun lalu ia ditinggalkan dengan kata pamit yang paling tidak masuk akal. Dan sekarang, penghianatan.
Andrea mengusap air matanya. Mungkin Tuhan tidak berbaik hati dengan menyelipkan cinta dalam hatinya. Mungkin Tuhan tidak berniat membuatnya merasakan bahagia. Ia hanya ditakdirkan untuk sakit hati. Dan akhirnya mati karena sengsara. Begitu?
Andrea baru benar-benar bersikap waras ketika mendengar bunyi telepon masuk. Ayahnya. Andrea ingat jika pasti saat ini Ayahnya sedang kelimpungan karena ia mengurus tamu undangan seorang diri. Andrea harus melakukan sesuatu. Ia mengangkat panggilan tersebut.
"Andrea, kau di mana?" tanya Martin dengan nada khawatir. "Semua orang menunggumu, Nak. Bagaimana Robin? Di mana dia?"
Wajar jika begitu banyak pertanyaan yang ayahnya lontarkan. Pasti Martin begitu kerepotan dan khawatir melihat putrinya tidak ada di pelaminan. Mati-matian Andrea menahan tangisnya. "Papa..."
"Ada apa, Nak? Kau terdengar tidak baik-baik saja!"
"Papa, aku baik-baik saja. Papa dengarkan aku, ya..." pinta Andrea. "Tidak akan pernah ada pernikahan hari ini, Papa. Aku tidak akan menikah dengan Robin."
"Dia... Dia menghianatiku. Dia menghamili Amanda dan mengatakannya sebagai kesalahan. Aku yakin Papa akan mendukung keputusanku untuk tidak menikah dengan pria semacam itu, jadi aku membatalkan pernikahannya. Maafkan aku..."
Ayahnya terdengar terpekik. "Astaga... Lalu sekarang di mana kau? Papa bisa menjemputmu. Kau jangan menyetir sendiri!"
Andrea menggeleng. "Aku bisa mengatasinya, Papa. Tapi aku mohon, biarkan aku sendirian dulu. Jangan datang, jangan mencariku... Aku tidak bisa menghadapi Papa dengan keadaan begini. Aku mohon..."
"Andrea..."
Saat itulah tangis Andrea pecah. Air matanya tidak bisa lagi terbendung. "Jangan khawatir! Sekarang Papa hanya perlu mengucapkan permintaan maaf pada tamu undangan dan menyilakan mereka pulang setelah makan. Aku minta maaf karena harus melibatkan Papa dalam hal ini. Tapi bisakah Papa melakukannya untukku?"
"Jangan khawatirkan itu, Nak. Papa akan mengatasinya. Sekarang yang penting adalah, kau tenangkan diri dulu. Papa tidak akan mencari dan bertanya tentang kau. Papa percaya padamu, Andrea."
Andrea mengusap air matanya. Bahunya bergetar karena tangis yang hebat. Demi Tuhan ini terlalu berat untuknya. "Terima kasih, aku menyayangimu, Pa."
__ADS_1
"Papa juga, Nak. Apapun yang terjadi hari ini, percayalah bahwa apapun keputusanmu, Papa akan mendukungmu dan bangga untuk apa yang kau lakukan. Jangan pikirkan apapun. Semua yang membuatmu bahagia akan membuat Papa bahagia juga..."
Andrea mengakhiri sambungan telepon dengan hati yang begitu sakit. Semuanya berakhir. Cintanya. Pernikahannya. Semuanya.
Andrea melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Berbaur dengan kendaraan yang lalu lalang. Pikirannya buntu. Ia tidak tahu harus ke mana. Hingga larut malam, Andrea tetap mengemudi. Membiarkan kaca mobil yang terbuka dan semilir angin dingin membekukan tubuhnya. Andrea tidak peduli.
Hingga kemudian, mobilnya berhenti di depan gedung tua. Nyaris tidak ada kendaraan yang berlalu lalang selarut ini. Andrea turun dari mobilnya dan memutuskan untuk naik ke atap gedung yang tinggi itu. Hujan deras mulai mengguyur tubuhnya yang hanya dilapisi gaun pengantin.
Hujan bukan satu-satunya hal yang ia benci, begitu banyak hal yang sukses membuatnya muak. Termasuk jalan hidupnya. Saat ia pikir pernikahannya akan berjalan sesuai impiannya, tapi malah sebaliknya, ia merasa jiwanya mati. Mungkin Andrea juga harus membunuh raganya sendiri.
Mati. Bunuh diri.
Dulu kalimat itu terasa tidak masuk akal. Baginya, seorang yang mengakhiri hidupnya entah dengan alasan apapun adalah seorang pengecut. Mereka tidak mampu melawan dunia dan berjuang untuk hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak bersyukur saat Tuhan memberinya napas cuma-cuma tanpa perlu membayar sepeserpun.
Tapi kini, semuanya tampak masuk akal. Semuanya tampak nyata...
Mata Andrea menatap nyalang ke bawah entah berapa puluh meter dari tempatnya berdiri. Ia tidak bisa memprediksi. Yang pasti, saat ia melompat ke bawah, ia akan merasa melayang sebentar sebelum tubuhnya menghantam tanah dan hancur berkeping-keping. Lalu ia akan mati.
Semudah itu.
Bayangan jika ia tidak akan lagi mengalami perasaan sedih dan sakit di saat bersamaan membuatnya membulatkan tekat. Mati adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.
Andrea itu membentangkan tangannya. Matanya terpejam erat. Hanya perlu melompat saja, kan? Ia siap!
Aku mencintaimu, batinnya.
Ia merasa tubuhnya hampir melayang sebelum sebuah sentakkan kuat pada pinggangnya menahannya. Lantas melemparkannya ke belakang. Tubuhnya berbalik, terbanting karena tubuhnya menghantam permukaan yang keras. Tapi ia tahu, dirinya tidak mati.
...•••...
__ADS_1