
...—"Kau tidak akan pernah menemui seseorang yang mencintaimu lebih dariku. Tidak ada selain diriku. Percayalah..."—...
...Keanu Felton...
...•••...
Robin Dawson adalah tipikal pria mapan dengan segudang prestasi di kantor tempat Andrea bekerja. Mereka adalah rekan, hingga kemudian kedekatannya semakin hari semakin intens. Dan ketika Robin mengajaknya makan malam di sebuah restoran, Andrea mendapati dirinya memikirkan hal lain sepanjang pertemuan malam itu. Hingga kemudian ketika Robin mengutarakan perasaannya, Andrea mengangguk.
Dengan harapan bahwa Robin bisa menjadi penyembuh luka batinnya selama bertahun-tahun, Andrea mengatakan bahwa ia menginginkan hubungan serius. Dan Robin menyetujuinya. Dengan waktu singkat, Andrea mulai mempersiapkan pertunangan, rencana pernikahan, dan hingga mereka sampai ada di posisi ini.
Andrea menjalani setiap harinya dengan banyak harapan...
Detik ini ia juga berharap agar Andrea bisa bertemu dengan Robin dan membicarakan lagi semua hal yang terjadi hari ini. Mungkin dengan begitu Robin bisa membuat keputusan yang benar dengan kembali ke tempat pernikahan.
"Aku biasa menyendiri di pabrik tidak jauh dari sini ketika ada masalah. Kau tahu, di sana membuatku tenang," kata Robin kala itu.
"Sejak kapan? Kau tidak takut?"
"Tidak. Dari luar mungkin terlihat menakutkan. Tapi ketika kau naik ke rooftop saat malam hari, kau bisa melihat bintang-bintang di sana dan terpukau."
"Kau akan mengajakku nanti?" tanya Andrea lagi.
"Ya, nanti."
Ingatan itu membawa Andrea kemari. Entah kenapa ia begitu yakin jika Robin Dawson ada di sini.
Andrea menghentikan mobilnya di depan pabrik tua yang sudah tidak terpakai. Tempat ini terlihat menakutkan. Tapi Andrea tidak peduli lagi. Ia menoleh dan mendapati jika mobil Robin ada di samping mobilnya. Dugaannya benar. Robin ada di sini. Pria itu memang terbiasa datang untuk menyendiri ketika dirundung masalah. Andrea memutuskan untuk masuk ke dalam. Menaiki anak tangga pabrik yang terlihat rawan sehingga ia harus hati-hati jika tidak mau tergelincir.
__ADS_1
Permukaan lantainya lembab. Untuk sesaat Andrea merasa nyalinya menciut. Langkahnya membawanya ke lantai atas. Di sana ia melihat bayangan seseorang. Itu Robin. Tapi ada orang lain, suara perempuan. Siapa?
Andrea mengernyit. Langkahnya terhenti. Andrea bersembunyi di balik pilar. Ia tidak buru-buru masuk untuk mendengarkan perdebatan dua orang di sana. Apa yang sedang Robin bicarakan? Kenapa pria itu berteriak-teriak?
"Ini anakmu, Robin! Aku hamil anakmu! Apa yang harus kukatakan pada orang-orang kalau kau menghamiliku dan tidak mau bertanggung jawab?"
Robin mendesah. "Kau tahu, aku hanya mencintai Andrea. Malam itu hanya kesalahan. Kita hanya melakukannya sekali, tidak mungkin kau hamil anakku semudah itu!" teriak Robin.
"Kesalahan?! Apa maksudmu dengan kesalahan? Malam itu kau merayuku untuk tidur denganmu ketika Andrea lebih memilih menyelesaikan pekerjaan konyolnya daripada kau?!"
Andrea merasa kakinya didera rasa lemah pada saat yang bersamaan sehingga tubuhnya nyaris oleng. Pijakannya menjadi tidak kuat sehingga ia harus bersandar pada dinginnya tembok pabrik yang lembab. Apa katanya?
Hamil...
Anak Robin...
Andrea menguatkan kakinya untuk melangkah mendekati dua orang yang sedang terlibat perseteruan di sana. Alangkah kagetnya ia ketika melihat wanita yang sedang bicara dengan Robin adalah Amanda, sahabatnya sendiri.
Tiba-tiba ingatan jika ia sendirilah yang mengenalkan Amanda pada Robin membuat dadanya sesak seperti tersumpal sesuatu. Andrea ingat, tiga bulan lalu ketika Amanda berulang tahun, ia datang bersama Robin. Dan perkenalan mereka dimulai.
"Kenalkan, Ini Robin Dawson... Dan sayang, ini Amanda Gultom, sahabatku sejak kecil..." seru Andrea saat itu.
Amanda tersenyum lebar, mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Dengan senyum malu-malu wanita manis itu mendekati Andrea dan membisikkan kalimat yang kini terasa aneh bagi Andrea. "Pacarmu tampan sekali, Andrea!"
Andrea hanya bisa tersenyum. "Ya, dia rekanku di kantor. Oh ya, kapan-kapan aku tidak keberatan kalau kita mengadakan double date..." seru Andrea mencetuskan idenya.
"Double date apa? Aku tidak punya kekasih. Aku baru saja putus dari pacarku. Hidupku sengsara sekali, ya. Tidak sepertimu yang beruntung mendapatkan Robin," keluh Amanda.
__ADS_1
Andrea terkikik. Lalu merangkul Amanda dengan sayang. "Sudahlah. Ini hari ulang tahunmu. Kau jangan sedih, aku yakin sebentar lagi kau akan mendapatkan pria yang baik. Aku juga akan mengajakmu keluar bersama kami..."
Dan Andrea menepati janjinya. Terkadang, tidak jarang Amanda ikut bersamanya dan Robin untuk sekedar makan malam, belanja, dan menemaninya untuk liburan. Ia sama sekali tidak menyangka jika perselingkuhan mereka juga dimulai saat itu dibelakang Andrea.
Andrea merasa dadanya seperti diiris-iris. Membayangkan jika mereka berdua membohongi dirinya dan menganggap jika Andrea tidak tahu apapun tentang hubungan gelap mereka, rasanya menyakitkan sekali. Mungkin ketika dirinya lengah, mereka berpegangan tangan diam-diam, saling mencuri pandang, mengirimkan pesan selamat tidur setiap malam, dan saling bercumbu. Mungkin... Begitu... Di belakang Andrea.
Robin dan Amanda menoleh. Lalu terperangah ketika melihat Andrea di sini. Keduanya hanya bisa membulatkan mata, hingga kemudian Robin mengambil inisiatif dengan mendekatinya terlebih dahulu. "Andrea, ini tidak seperti yang kau pikirkan..."
Andrea mundur ketika Robin melangkahkan kakinya. Rasa muak dan jijik menyatu menjadi sikap antipati yang Andrea tidak duga. "Jangan mendekat..." mohon Andrea.
"Andrea..."
Sekuat tenaga Andrea berusaha tidak menangis di hadapan dua orang menjijikkan ini. Ia tidak mau dianggap lemah dan menyedihkan. "Kalian berdua... Benarkah? Ya Tuhan... Aku tidak menyangka!" kata Andrea terputus-putus. "Jadi kau berniat melarikan diri dari pernikahan kita karena kau sudah menghamili Amanda, begitu?"
Robin mengusap wajahnya yang kusut. Ia menunduk. "Maafkan aku, Andrea..."
"Dan kau benar-benar tidur dengan Robin, Amanda?"
Amanda tidak menjawab. Wanita itu hanya sesenggukan. "Aku... Aku..."
Andrea bersorak dengan tepuk tangan. "Wah, aku tidak menyangka ternyata begini rasanya dikhianati oleh dua orang sekaligus bersamaan..." Andrea mengusap ujung matanya yang basah. "Kalian berdua benar-benar bukan manusia. Apa kalian tidak memikirkan aku ketika bersenang-senang? Apa tidak pernah terbersit di benak kalian bahwa aku ada dan mempercayai kalian berdua sebagai sahabat dan kekasih?"
Robin tidak menjawab.
"Dan kau, Robin! Kau tidur dengan Amanda ketika aku sibuk dengan pekerjaanku, kan? Apa saat itu kau tidak berpikir bahwa aku sedang bersusah payah mencari uang untuk persiapan pernikahan kita? Apa kau tidak memahami jika aku menjaga diriku agar tetap suci hingga pernikahan kita? Saat kau mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri, apa kau... Kau tidak memikirkan perasaanku sama sekali?!" tanyanya histeris.
Samar, ia mendengar Robin menggeleng. "Aku menyesal, Andrea. Aku menyesalinya... Aku mencintaimu, aku sungguh mencintaimu..."
__ADS_1
Andrea menata napasnya sebelum bicara lagi. Lalu berdecih. "Kau benar, Robin. Pernikahan kita memang tidak seharusnya terjadi. Tuhan memang tidak mengizinkanku menikah dengan pria brengsek sepertimu dan buta karena berpikir jika kau hanya mencintaiku!" pupusnya.
...•••...