MENGHAPUS LUKA

MENGHAPUS LUKA
1.


__ADS_3

...—"Hal paling menyakitkan dalam hidup adalah ketika kau percaya pada seseorang dan dihianati tidak lama kemudian..."—...


...Andrea Edith...


...•••...


Andrea Edith menatap tamu undangan yang kini terlihat memenuhi ballroom sebuah hotel ternama. Gaunnya terlihat begitu menawan hasil rancangan desainer pemilik butik ternama. Bahunya yang sengaja terbuka memperlihatkan lehernya yang jenjang tanpa cela. Rambutnya yang berwarna pirang sengaja disanggul kecil, menambah kecantikan alami dibalik pulasan riasan tipis pada wajahnya.


Semua orang tahu... Ini hari pernikahannya.


Senyumnya menawan. Sebentar lagi ia akan resmi menjadi istri dari Robin Dawson. Pria yang sudah mengisi hari-harinya selama setahun belakangan.


Andrea tahu keputusannya menikah memang mengejutkan. Terlebih ketika ia hanya beberapa bulan saja berpacaran dengan Robin. Bukan hanya itu, semua orang tahu jika sebelum menjalin hubungan dengan Robin, Andrea tidak pernah bisa melupakan cinta pertamanya... Tidak pernah bisa.


Andrea tidak mau mengingat hal itu. Kurang dari sejam lagi ia akan resmi menjadi Andrea Dawson. Apa yang perlu ia khawatirkan? Memikirkan pria yang sepuluh tahun lalu membuangnya bukanlah pilihan yang baik dihari bahagianya ini. Andrea memutuskan untuk tersenyum selebar mungkin.


Beberapa tamu undangan menyalaminya secara langsung. Mengucapkan selamat menempuh hidup baru, dan itu membuat senyumnya semakin lebar.


Ketika ayahnya tadi menemuinya di ruang ganti, Martin Edith tersenyum sembari memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Andrea tidak bisa melupakan tatapan ayahnya yang bahagia. "Aku tidak menyangka putri kecilku akan menikah hari ini."


Ya, semua orang tua akan terus menganggap jika putrinya masih kecil tidak peduli jika Andrea sudah berusia dua puluh tujuh tahun. Hubungannya dengan sang ayah memang begitu dekat. Andrea begitu menyayangi pria yang telah berjasa membesarkannya tanpa prospek istri itu dengan begitu baik. Sejak Ibunya meninggal ketika usianya lima tahun, Andrea hanya punya satu ayah yang merangkap sebagai Ibu dalam satu waktu.


"Apa Papa bahagia?" tanya Andrea. Perias harus kembali menepuk pipinya dengan bedak lagi saat Andrea tanpa sengaja menghapusnya dengan air mata.


"Kau bahagia?" tanya Martin Edith.


Andrea mengangguk.


"Kalau begitu, Papa sangat bahagia. Apapun yang membuatmu tersenyum, itu akan selalu mendamaikan hati Papa," Martin memeluk Andrea. Mengusap punggungnya dengan lembut. "Kau anak yang baik. Papa senang kau bisa melewati masa sulitmu dengan memilih Robin..."

__ADS_1


Andrea mengangguk. Kini, ia semakin yakin jika Robin adalah pilihan paling tepat untuknya. Pria itu baik, romantis, dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkannya. Setidaknya... Robin adalah seseorang yang Andrea yakini akan selalu menemaninya sampai tua. Hingga mereka memiliki anak-anak yang lucu dan menua menjadi cucu-cucu yang menggemaskan.


Sekarang, di sinilah ia berada. Berada di tengah-tengah ratusan tamu undangan, dan menunggu pangerannya datang. Ia sedang menunggu mempelai prianya datang dengan iring-iringan keluarganya.


"Nona, ponsel anda terus berbunyi..." seru pelayan. Andrea ingat ia tadi menitipkan ponselnya pada wanita muda yang bertugas menyuguhkan minuman untuk tamu. Wanita itu tergopoh-gopoh mendekati Andrea. "Saya pikir itu penting, makanya saya memberitahukannya pada anda."


Andrea tersenyum manis. "Ah ya, terima kasih ya..." katanya lembut. "Mungkin ini dari sahabatku yang ingin mengucapkan selamat."


Pelayan tersebut mengangguk. Lalu pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Andrea menatap ponselnya. Ada 14 panggilan masuk. Andrea mengernyit ketika melihat nama Robin. Ada apa? Kenapa pria itu mencoba menghubunginya puluhan kali?


Andrea berpikir konyol dengan pemikiran mungkin iring-iringan pengantin Robin sedang terjebak macet di jalan atau apa. Menepis pikiran buruk yang ada di otaknya, Andrea mencoba menghubungi Robin dengan meneleponnya lagi.


Beberapa nada sambung terdengar nyaring. Entah kenapa dadanya berdegup kencang. Ia mencengkeram gaunnya dengan erat. Kenapa ia khawatir begini?


Terdengar grasak-grusuk di ujung telepon ketika Robin menjawab panggilannya dengan suara parau. "Ha-halo, Andrea!"


Ada jeda sejenak. Dan entah kenapa Andrea merasa pias. "A-Andrea... Aku... Aku... Aku tidak bisa menikah denganmu."


Kalimat itu diucapkan dengan nada yang bergetar. Namun begitu jelas di telinga Andrea. Sekuat tenaga Andrea berusaha menguasai diri. Berusaha tidak pingsan atau histeris disaat yang sama. "A-apa katamu?"


"Andrea, maafkan aku. Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku tidak bisa datang ke acara pernikahan kita..."


Tangan Andrea bergetar hebat. Ia menangkap sekelebat bayangan Ayahnya yang kini menatapnya dengan pandangan bertanya. Andrea menggelengkan kepalanya pada sang ayah. Memberikan sinyal bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Andrea kembali memusatkan perhatiannya pada Robin. "A-aku tidak mengerti maksudmu, Robin. Kau di mana? Jangan mencoba bercanda denganku!"


"Aku tidak bercanda, Andrea..."


"Tapi, tamu undangan sudah datang. Apa maksudmu dengan tidak bisa menikahiku? Apa kau mempermainkanku?" Andrea nyaris menjerit ketika mengatakannya.

__ADS_1


"Aku... Tidak tahu, Andrea. Aku tidak bisa menikah denganmu!"


Bagaimana bisa Robin mengatakan hal tersebut semudah itu? Apa selama ini pria itu tidak sungguh-sungguh mencintainya? Atau... Perasaan Robin padanya sudah berubah? "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi, Robin! Apa kau tidak mencintaiku?"


"Aku mencintaimu, Andrea. Aku sangat-sangat mencintaimu. Tapi aku memiliki alasan kenapa aku tidak bisa menikahimu!" Robin mendesah. Suara pria itu benar-benar parau. "Maafkan aku... Aku mohon..."


Maaf? Apa semua ini bisa ditukar dengan permintaan maaf? Tidak, Andrea harus menyelesaikan masalah ini.


"Kita bicara, Robin. Ayo... Kau di rumah, kan?"


"Aku tidak punya keberanian untuk bertemu denganmu. Aku tidak memiliki nyali untuk bicara pada keluargaku. Aku tidak di rumah. Aku... Entahlah..."


"Aku akan menyusulmu. Aku akan menemukanmu. Kita bicara, Robin!" seru Andrea. Lalu menutup panggilan telepon dengan sekali sentuh. Andrea tidak punya banyak waktu. Ia harus bicara pada Robin dan menyelesaikan masalahnya agar pernikahnnya bisa tetap terlaksana.


Andrea menyingsing gaun panjangnya. Lalu berlari. Martin menghentikannya. "Andrea, mau ke mana kau?"


Andrea tidak punya waktu untuk menjelaskan pada ayahnya. "Aku tidak bisa menjelaskan apapun pada Papa sekarang. Tapi aku harus pergi. Papa percaya saja padaku, semuanya akan baik-baik saja..."


"Tapi, apa kau akan meninggalkan tamu undangan kita?" kata Martin cemas.


"Aku janji ini tidak akan lama. Aku akan meneleponmu sebentar lagi, jangan khawatirkan aku. Papa minta saja semua orang untuk menungguku dan Robin. Aku harus pergi sekarang!" tanpa basa-basi lagi, Andrea melangkahkan kakinya untuk pergi. Keluar dari ballroom.


Untung saja barusan ia sempat mengambil kunci mobilnya. Begitu menemukan sedannya, dengan segera, wanita itu masuk dan melesat pergi.


Andrea menginjak gas dengan kekuatan penuh sembari memutar otaknya. Robin tidak ada di rumahnya. Lalu di mana dia? Andrea mengernyit, memfokuskan diri mengemudi dan berpikir waras dalam keadaan seperti ini bukanlah hal yang mudah. Namun Andrea tidak boleh lengah.


Ah, mungkin di sana... Sepertinya Andrea tahu di mana Robin berada.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2