MENGHAPUS LUKA

MENGHAPUS LUKA
4.


__ADS_3

...—"Aku pernah mengaku kalah karena jatuh cinta padamu. Jatuh sejatuh-jatuhnya... Hingga kemudian aku sadar bahwa kita tidak bisa bersama!"—...


...Keanu Felton...


...•••...


Keanu menatap langit kota yang suram dari balik kaca mobilnya. Malam ini dingin karena sepertinya langit yang mendung akan menjatuhkan bulir-bulir air yang deras. Memutuskan untuk menutup kaca disampingnya, kini ia sudah kembali fokus dengan tabletnya di kursi penumpang.


Laporan dari anak buahnya untuk hari ini kacau. Keberadaannya mulai diendus oleh polisi. Itu berarti Keanu harus kembali menyusun strategi untuk pindah ke kota ini... Sama seperti dulu. Ia tidak mau polisi mengetahui keberadaan dirinya dan sang anak buah, lalu mendekam di penjara seumur hidup. Tidak!


Masih banyak hal yang Keanu harus lakukan. Balas dendam demi menuntaskan wasiat mendiang sang ayah. Dan menemui wanitanya...


"Pak, kita harus ke gudang untuk memeriksa persediaan barang. Di sana anak buah kita sudah menunggu sebelum mengirimnya ke pelabuhan..." seru Rommy, pria yang menyetir mobil sedannya dengan tenang.


Lain dari Keanu yang terlihat berpakaian formal dengan jas hitam dan kemeja putih rapi. Rommy terlihat seperti bodyguard dengan wajah yang menakutkan. Sepertinya pria itu memang dilahirkan untuk menjadi tokoh sangar demi melindungi sang majikan, Keanu.


"Gudang besi? Kau sudah pastikan tidak ada yang mengincar kita di sana?" tanya Keanu sembari mengernyit dalam. Ia hanya tidak mau musuh-musuhnya diam-diam mengintai mereka.


Rommy mengangguk mantap. "Saya sudah kirim beberapa orang untuk berjaga mulai kemarin. Anda jangan khawatir!" serunya. "Kita hanya menunggu anda untuk menyetujui pengirimannya. Sisanya akan diurus oleh anak buah kita."


Keanu mengangguk mantap. "Baiklah. Aku percaya padamu. Kita menuju ke sana saja. Lalu antarkan aku pulang."


Rommy melirik Keanu dari spion tengah. "Pulang?! Tumben sekali anda ingin pulang..." tanya Rommy karena biasanya Keanu lebih senang berada di kantornya, di pabrik, gudang, atau manapun asalkan bukan rumah.


Keanu tersenyum miring. "Kau tahu, Rom... Terkadang aku merasa lelah. Aku juga ingin istirahat seperti orang-orang yang lainnya..." katanya nyaris berbisik.


Rommy paham. Menjadi Keanu pasti tidaklah mudah. Ia harus mengorbankan banyak hal  demi menuntaskan dendam untuk menghabisi pembunuh sang ayah. Termasuk cintanya...

__ADS_1


"Pak, apa anda akan mengakhiri semua pekerjaan ini begitu misi anda selesai? Apa anda ingin menemukan kehidupan yang sebenarnya anda cari?"


Tangan Keanu berhenti di udara. Ia tidak lagi menekan layar-layar statis yang membuat kepalanya pening. Mendadak, ia mematikan tabletnya. Lalu menatap ke arah jalanan yang sepi. Ada sebersit harapan konyol yang mampir di benaknya. "Seandainya bisa... Ya, aku ingin mengakhirinya!" pupusnya.


Dan menemukan cinta sejati... bersamanya... Batin Keanu.


Sepanjang perjalanan, Keanu hanya bisa melamun. Memikirkan banyak hal tentang pekerjaannya, masa lalunya, dan kembali ke kota ini sebenarnya bukanlah pilihan yang terbaik. Ia pernah meninggalkan kota ini, pergi ke berbagai tempat di penjuru dunia untuk melancarkan aksinya. Namun kenapa harus kota ini lagi ia harus kembali?


Kota yang mengingatkan masa-masa remajanya yang lugu bersama dengan seorang gadis paling pemberani yang pernah ia lihat dan cintai seumur hidup. Tiba-tiba Keanu bertanya-tanya, masihkah gadis itu ada? Apakah ia masih sepemberani dulu? Dan masihkah ada kesempatan baginya untuk kembali bersamanya mengingat betapa jahatnya Keanu karena telah meninggalkan wanita itu dulu?


Bagaimana keadaannya... Apa dia baik-baik saja dan mampu melanjutkan hidupnya sementara Keanu hanya bisa terpaku pada bayangan masa lalu?


"Pak, kita sudah sampai..." seru Rommy memberitahukan kepada Keanu, membuyarkan pria itu dari lamunan panjangnya.


"Ah, ya. Ayo turun!" katanya setelah mengusap wajahnya yang lesu.


Saat Rommy menjelaskan, tanpa sengaja pandangan Keanu menangkap sekelebat bayangan di atap gudang. Seorang wanita berdiri di sana entah melihat apa. Keanu membulatkan mata ketika wanita itu seolah ingin bunuh diri.


Keanu berdecih. Ia pasti sedang melihat hantu. Mana ada wanita berada di atap gedung setinggi itu malam-malam begini? Tidak heran, pengawalnya selalu memilih tempat sepi yang jauh dari pemukiman untuk menghindari kecurigaan masyarakat agar polisi tidak melacak keberadaannya dengan mudah. Pantas saja jika tempatnya suram, angker, atau apalah itu. Semuanya tidak membuat Keanu takut atau malah ragu. Malahan ia bisa merasa tenang. Sejujurnya manusia lebih menakutkan daripada hantu.


Tapi...


Keanu memicingkan pandangannya. Dadanya mencelos ketika wajah wanita itu terlihat samar. Ia yakin itu bukan hantu. Karena perlahan, tangan wanita itu terangkat. Seolah bersiap meluncur.


Apa aku sedang melihat hantu? Tapi kenapa wajahnya mirip sekali dengan wanitaku? Bagaimana aku bisa berhalusinasi di saat begini?


Keanu yakin pandangannya tidak salah. Ia pasti melihat manusia dan bukan hantu. Tapi, kenapa dia di sana? Apa yang ia lakukan?

__ADS_1


"Pak, anda baik-baik saja?" tanya Rommy.


Keanu tidak menjawab. Ia segera berlari dengan cepat, menaiki tangga luar menuju atap dengan segenap kecepatan yang ia miliki. Rommy mengejarnya. Namun kenyataan jika sang atasan lebih cepat daripada dirinya membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


Keanu berhenti di ujung tangga. Napasnya tidak teratur. Rasanya dadanya ingin meledak. Hanya sepersekian detik ketika wanita itu ingin melompat, Keanu menangkap pinggangnya. Memelintirnya ke belakang hingga ia terjengkang. Menarik tubuh mungil itu untuk terjungkal ke belakang. Dengan ketepatan yang ia miliki.


"Ah..."


"Astaga!!!" lirih Keanu ketika merasakan ujung sikunya nyeri karena membentur permukaan yang keras. Dalam hitungan detik saja ia merasakan jasnya basah karena darah. Tapi alih-alih memerhatikan keadaannya, ia malah bertanya pada wanita itu. "Kau... Baik-baik sa—"


Kalimatnya tidak pungkas ketika matanya berpandangan dengan mata almond yang selama ini ia rindukan sepanjang malam selama sepuluh tahun belakangan. Rasa rindunya membuncah ketika melihat sosok yang sama dengan figur wajah yang lebih dewasa detik ini.


"Kau..." cicit wanita itu pelan.


"Kau..." Keanu berusaha mengenyahkan pemikiran untuk memeluk wanita itu dalam keadaan begini susah payah. Ia membuka mulutnya. Mengeja nama yang selama ini nyaris tidak berani ia ucapkan. Nama yang ia kubur dalam ingatan kenangan yang hanya mampu ia doakan dalam sunyinya malam. Dia...


"Andrea..."


"Kean?! Sedang apa kau di sini?" tanya Andrea pelan. Masih sama terkejutnya dengan Keanu yang tidak bisa berkata-kata.


"Kau... Kau baik-baik saja?" tanya Keanu lagi. Ia hanya mencoba memastikan kalau wanita di hadapannya itu tidak terluka.


Apa kau merindukanku? Bagaimana kabarmu? Kenapa kau di sini?


"Bos? Apa kau baru saja menangkap mata-mata?!" sergah Rommy. Dalam hitungan detik, rombongan anak buahnya sudah mendekat ke arah mereka sembari mengacungkan pistol dengan siaga.


Sial!!!

__ADS_1


...•••...


__ADS_2