
Jam menunjukkan pukul 14:00, Tata segera menyelesaikan tugas dari ibu Anggun dengan tergesah-gesah. Setelah Tata selesai menyelesaikan tugas ia pun bergegas pulang ke pesantren dan menitipkan tugas pada temannya untuk dikumpulkan sesuai dengan perintah dari ibu Anggun.
"Rin.. aku titip tugas ku ya, tolong kumpulin bareng sama punya kamu"
"oke, kamu buruan balik, takut keburu ashar"
Rina sedikit khawatir, dia takut temannya akan terkena sanksi ketika nanti telat masuk pesantren.
"iya aku langsung balik ya, makasih Rin"
"sama-sama Ta"
***
Tata berjalan dengan sedikit berlari menuju pesantrennya tersebut.
saat menuju kamarnya Tata tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang terlihat seperti mbak Nurul jika di lihat dari belakang.
"emmbakk Nurul.."
Tata menyapa mbak Nurul dengan sedikit ragu.
seketika seseorang tersebut menoleh dan benar bahwa itu mbak Nurul.
"sudah selesai tugasnya dek?"
"sssudah mbak.. saya permisi mau ke kamar dulu ya mbak"
"oh iya dek, nanti setelah jama'ah sholat ashar dek Tata bisa mampir kekamar mbak Nurul?"
"insyaAllah bisa mbak"
"yasudah mbak Nurul tunggu ya dek"
ketakutan membuat Tata tidak berani menjawab panjang.
bahkan Tata langsung meninggalkan mbak Nurul dengan sopan.
...
Tak lama kemudian setelah Tata sampai di kamarnya, Tatapun membaringkan tubuhnya pada lantai tanpa beralas dengan nafas terengah-engah.
"huft hampir sajaa.."
Tata berguman dengan perasaan lega, ia merasa lolos dari sankksi karna ia datang sebelum ashar.
namun ada sesuatu yang membuatnya takut. alasan apa yang membuat mbak Nurul memintanya untuk datang kekamarnya.
"apa.. aku bakal dihukum secara terpisah..?"
perasaan lega berubah menjadi perasaan khawatir.
***
Rasa khawatir terus mengikuti Tata, bahkan saat berjalan menuju masjid untuk jama'ah sholat ashar pun Tata hanya terdiam.
"mbak Tata... kenapa diam aja sih dari tadi??"
Nisa yang dari tadi berjalan disamping Tata merasa sedikit kesal karna tidak diajak berbicara seakan akan dia tidak ada.
__ADS_1
"uhh maaf Nis"
Tata terlihat kaget, memang benar sedari tadi Tata tidak menyadari keberadaan Nisa.
"ada apa mbak Ta? kayak lagi mikirin utang ajaa"
timpal Nisa dengan nada bercanda.
"lagi mikirin besok nikah mau pakai adat apa"
"haha mbak Tata bisa aja, lulus dulu baru nikah"
Tata satu frekuensi dengan Nisa pun langsung menyambung dengan lelucon recehnya.
***
"Nis kamu duluah gih, aku masih mau mampir ke kamar seksi keamanan"
langkah kaki Tata berhenti dan mengisyaratkan Nisa agar meninggalkannya.
"eh beneran ya tadi mbak Tata lagi mikirin sesuatu.. apa mbak Tata ke kamar seksi keamanan karna ada masalah?"
Nisa sangat terlihat penasaran.
"nanti aku ceritain deh"
Tata memberhentkan pembicaraan lalu menuju ke kamar mbak Nurul.
"dek Tata sudah disini?"
suara mbak Nurul yang berasal dari belakang Tata membuatnya kaget.
"ayo kita ngobrol di taman aja"
"maaf mbak Nurul, apa saya akan di hukum secara terpisah?"
raut wajah Tata terlihat sangat ketakutan.
"apa dek Tata siap menguras got sendirian selama seminggu?"
mata Tata merah dan dipenuhi oleh air mata yang sudah tidak tahan untuk jatuh.
"dek Tata tau kan itu hukuman bagi santri yang keluar tanpa izin"
suara tegas mbak Nurul membuatnya tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah katapun.
Namun dilain sisi Tata juga kecewa, ia merasa telah dibohongi, karna mereka sudah membuat perjanjian bahwa Tata tidak akan mendapat sanksi apabila Tata datang sebelum ashar.
Lagi-lagi Tata tidak menjawab dan membuat mbak Nurul melanjutkan pembicaraannya.
"dek Tataaa... itukan memang hukuman untuk santri yang keluar tanpa izin.. kalu dek Tata kan tadi sudah menjelaskan alasannya dan mbak Nurul memaklumi, jadi kali ini dek Tata ga bakal kena sanksi"
nada bicara yang awalnya tegas berubah menjadi halus, dan membuat air mata Tata yang menggenang menjadi hilang seketika karna terserap kembali.
"Mbak Nurul buat Tata takut aja"
tata tersenyum tipis.
"dek Tata yang terlalu serius, mbak Nurul hanya berniat memberikan contoh referensi teks pembawa acara untuk acara sosiali BEM di panti asuhan tapi dek Tata malah tiba-tiba bahas hukuman, yaudah sekalian mbak Nurul kerjain.. hehe maaf ya dek"
__ADS_1
rupanya mbak Nurul hanya ingin membantu Tata dalam tugasnya menjadi pembawa acara.
"ini beberapa referensinya, dek Tata bisa pilih salah satu buat dipelajari besok bersama Ilham"
Tata mengambil beberapa lembar kertas yang diulurkan oleh mbak Nurul.
"bareng Ilham mbak"
"iya untuk membangun kemistri dan membuat kalian berdua lebih kompak nantinya"
"baik mbak, terima kasih"
mendengar nama Ilham membuat mood Tata jadi buruk, siapa sangka dia akan selalu bertemu denga laki-laki itu.
***
"mbak Tata.. ada apa? katanya mau cerita"
Nisa membisikkan pertanyaan yang mungkin akan membuatnya mati penasaran.
"aku ketauan keluar tanpa izin"
"APAAA..??"
Mata Nisa melotot seperti akan lepas dan suaranya membuat semua orang dikamar itu menoleh dan melihat mereka berdua.
"suttt jangan rame-rame, nanti semua orang tau"
Tata menempatkan jari teruljuknya pada bibir Nisa yang melambangkan untuk terdiam.
"jadi gimana nasib mbak Tata sekarang?"
Nisa kembali memelankan suaranya.
"gapapa, mereka memaklumi karna tadi mbak Tata memang keluar buat ngerjain tugas kuliah"
"jangan ditiru Nis, ini ga baik"
Tata menyebarkan cerita buruknya alih-alih untuk mengingatkan Nisa.
"Tenang aja bentar lagi aku udah kuliah mbak, jadi aku bisa pakai alasan itu buat keluar pesantren tanpa izin"
"HEH sembarangan ajaa!! ga boleh.. yang baik di tiru yang jelek di buang"
"hemmm iya iya mbak Tata yang bawel.."
"janjiiii..?!"
"iya janji"
mereka berdua mengaitkan keua jari kelingkingnya.
"kalau ada apa-apa yang dibutuhkan hanya ada di luar nanti bilang aja sama aku, biar aku yang beliin"
"gratisss?"
"eh enak aja ya bayar lah Nis"
"ih jangan-jangan, mbak Tata sengaja jadikan ini kesempatan aja"
__ADS_1
"ih ya engga lahhh.. "
Tata mencubit kedua sisi pipi Nisa dengan kedua tangannya.. keduanya tertawa sambil berpelukan.