
"lakukan beb"
Tata langsung menarik tangannya dan mundur menjauh dari Dika, air matanya mengalir, jantungnya berdegup kencang, detak jantung kencang yang awalnya terasa nyaman sekarang menjadi terasa menyesakkan.
pergerakannya cukup cepat untuk memungut jilbab yang ia geletakkan sebelumnya, segera mungkin ia membenahi baju yang sudah tidak karuan.
"AKU MAU PULANG" Tata melempar kalimat dengan suara bergetar tanpa bertatap.
Dika menahan pergelangan tangan pacarnya yang sedang beranjak pergi.
"Beb maafin aku, akkk..."
Tata menepis tangan Dika, bahkan kejadian tersebut terjadi sebelum Dika sempat menyelesaikan kalimatnya.
Tata berlari keluar dari kamar Dika sambil menangis.
***
"Mbak Tata kenapa?" Nisa heran dengan Tata yang sedari tadi diam tanpa kata. padahal biasanya Tata yang paling semangat saat mandi bersama di kolam, ia akan berbisik sambil melirik korban pembicaraan, *Nis gunung dia gede banget, padahal badannya kecil, *Nis gunung dia bagus banget ya bulet padet, *Nis gunung dia biasa aja.. semua pembicaraan sering bertopik gunung, bukan karena Tata mata keran**jang tapi dia hanya belum terbiasa dengan suasana mand* bersama begitu. Apalagi banyak pemandangan baru yang di ciptakan para santri nakal yang menurunkan basahan mandinya. note: mandi bermasa hanya antara santri perempuan yaa.
"eh gapapa Nis" tersadarkan dari lamunannya. Rupanya Tata masih belum bisa melupakan kejadian tadi siang, ia sangat ketakutan, wajar saja perasaan seperti ini muncul pada orang yang pertama kali melakukan hal buruk.
"emmm yaudah kalo Mbak Tata ga mau ceritaaa" Nisa mengeluarkan tatapan tidak peduli.
"Mbak Tata nanti malem sholat malem berjamaah di masjid pusat yuk, sekali kali kita nyoba hal baru" sepersian menit ekspresi Nisa berubah menjadi antusias.
Tata hanya memandang Nisa tanpa berniat merespon nya.
"ayolah.... katanya bisa nenangin hati loh" rayu Nisa dengan kalimat manja seperti berbicara pada kakak kandung nya sendiri.
"ya emang ga wajib sih tapi....."
"yaudah ayuk" Tata mengiyakan ajakan Nisa tanpa menunggu iya menjelaskan lebih panjang lagi.
"Mbak Tata ih, aku kan belum selesai ngomong" cemberut seperti pipi ikan buntal.
"biar cepat selesai" jawab Tata singkat.
.
.
"Mbak Tata jangan tidur, inget satu jam lagi kita mau ikut jamaah sholat malem" jika biasanya Tata yang menjadi alarm Nisa maka sekarang Nisa lah yang menjadi alarm Tata, mata tata terasa sangat berat, karena seharian ga tidur.
__ADS_1
biasanya Tata jam 10 malam sudah berangkat rekreasi di alam mimpi tapi kini ia harus menunda keberangkatan nya hingga jam 12 malam.
Hoaaammm "ngantuk banget Nis" sudah tidak terhitung ini uapan Tata yang berapa kali.
"sabar Mbak, pahanya besar loh"
"mulai jam berapa sih?"
"jam 12 malem"
"selesainya?"
"jam 1 malem"
"itu bukan malem Nis itu udah pagiii" mata Tata yang awalnya tidak mampu melek sekarang menjadi melotot lebar, ini terjadi karena ia kaget dan sedikit kesal.
"hmmm coba aja dulu Mbak Ta, siapa tau nagih"
"emang ada hal baik yang bikin nagih Nis? biasanya malah bosen berbuat baik, karena godaan setan sangat kuat"
"ya gimana kita bakal tau kalo kita ga coba dulu Mbak Ta"
"bener juga ya kata Nisa" Tata bergumam dalam hati.
"oh ya? apa tuh bonusnya??" Tata sangat penasaran dengan bonus yang dikatakan Nisa, karena di otaknya berkata bahwa sesuatu yang bernama bonus pasti suatu hal yang bagus.
"ada deh.. kalo penasaran ikut aja" Tita Nisa pada teman akrabnya itu.
"hmmm iyadeh oke"
.
.
"Nis.. Nisa.. jangan tidur ih" Tata menggoyang goyangkan badan Nisa yang tersungkur setelah mengerjakan sholat jamaah.
Dzikir yang sangat panjang membuat nya tidak kuat menahan kantuk, bahkan ada beberapa santri yang seperti itu juga.
"hemm dia yang ngajak dia juga yang ninggalin tidur, dasar tidak setia" gumamnya dalam hati.
astaghfirullah haladzim.. astaghfirullah haladzim.. astaghfirullah haladzim.. alladzi.....
Rentetan dzikir dibaca bersama sama dengan bimbingan abah yai.
__ADS_1
di karenakan Tata belum menghafal semua maka ia mengikuti pelan pelan dengan membaca buku tuntunan.. dan benar saja di pertengahan dzikir hati Tata bergetar, ia merasa sedang berada diatas awan, semua angin bertiup kearahnya.. semua kenangan tentang perbuatan buruknya muncul di fikirannya, hatinya sakit karena perbuatannya sendiri.. dan tanpa sadar ia meneteskan air mata.. ia berharap ini buka. terakhir ia melakukan hal ini, ia ingin melakukannya di waktu lain, tanpa di sadari alam bawah sadar Tata ketagihan dan ingin melakukannya lagi.
.
.
setelah selesai mereka kembali ke kamarnya masing masing.
"Aduh.. sandal aku mana lagi" Nisa mengobrak abrik tumpukan sandal dengan mata semi merem.
"hmmm mangkanya melek dulu, di lihat bener bener sandalnya" Tata menyenggol pundah Nisa.
"MBAK TATA COBA DEH MBAK TATA LIHAT, INI SANDALNYA EMANG GA ADA" tegas Nisa sembari menunjuk tumpukan sandal.
"atau jangan jangan di ghosop" dengan cepat Nisa menyimpan kecurigaan.
Ghosop adalah memakai barang orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu dari sang pemilik barang. Jika ditanya dosa atau engga maka jawabannya adalah dosa, bahkan lebih dosa dari pada mencuri. Namun beberapa santri juga sering melakukan hal buruk tersebut. ya namanya pondok pesantren ya.. sama hal nya kayak penjara, isinya banyak orang buruk yang ingin memperbaiki diri.
"yaudah nyeker aja gih, kalo udah rejeki bakal balik lagi" saran dari Tata terdengar masuk akal.
"yaudah ayoo" Nisa terpaksa berjalan dengan tanpa alas kaki alias nyeker.
"terus kata kamu bonus itu apa??" ternyata Tata masih mengingat perbincangannya dengan Nisa sebelum berangkat tadi.
"ohh bonusss" jawab Nisa dengan setengah tidak nyambung.
"oh iya bonussssss... aduh aku ga kedapatan bonusnya karena aku ketiduran, yah sayang banget.." sesalnya berbuntut.
"apa sih??" Tata sangat ingin menuntaskan rasa penasarannya.
"Mbak Tata tadi liat ga santri putra di masjid central? yang ada di seberang.."
"iya lihat kenapa emang" memang terlihat ada beberapa santri putra di masjid central, namun Tata tidak terlalu menghiraukan.. selain jauh Tata juga tidak tertarik.
"nah itu bonusnya Mbak" Nisa memberi tahu dengan sangat excited.
"Oalah cuma kaya gitu doang?" kekecewaan menghampiri Tata yang awalnya menaruh harapan yang besar.
"ih Mbak Tata ga tau aja gimana pesona santri putra yang rajin sholat malam.. beuhhh pandangan teduh banget kayak ubin masjid"
"ck dasar bocil pikiran nya cowok mulu" Tata mengecebikkan bibirnya.
"awas aja kalo nanti kesemsem ya" ancam Nisa.
__ADS_1
"GA AKANNN!"