MENIKAH DENGAN TUAN SEMPURNA

MENIKAH DENGAN TUAN SEMPURNA
NYARIS DICULIK


__ADS_3

Almira sedang berbelanja di salah satu mall terbesar di kota itu. Kebetulan persediaan bahan pangan yang ada di kulkas habis.


Kebetulan. Hari ini ia berbelanja sendiri. Panji, sang suami tengah melakukan dinas di luar kota selama beberapa hari.


Tadinya, Panji mengajak istrinya untuk ikut. Tapi, berhubung mereka lain divisi. Maka Almira tak dapat ikut walau dengan alasan ikut suami.


Tanggung jawab akan pekerjaan menjadi tolak ukur utama bagi Almira. Ia tidak mau aji mumpung.


Mengambil keuntungan atas nama suaminya. Dirinya kini menjadi sorotan para wanita di kota tempat ia tinggal.


Almira memilih beberapa daging, ayam, dan udang yang masih segar. Tak lupa Almira mengambil beberapa sayuran hijau. Bumbu instan, minyak sayur dan lain sebagainya.


Almira berjalan menuju kasir dengan mendorong troli. Selesai membayar. Ia membawa dua kantung besar barang belanjaan. Ia mendatangi mobil barunya.


Ya, setelah sekian lama. Almira akhirnya mendapatkan surat ijin mengemudinya. Setelah meletakkan belanjaannya di bagasi mobil. Ia berjalan menuju kursi kemudi.


Tiba-tiba. Dua orang berpakaian hitam-hitam membekapnya mengenakan sapu tangan. Almira yang sedikit menghirup bau alkohol, langsung menahan napas agar tak terlalu banyak mencium bau yang bisa membuatnya tak sadarkan diri itu.


Almira sengaja mendiamkan dirinya. Kebetulan tempat itu sepi, karena ada di lantai dasar.


Setelah yakin wanita yang dibekapnya tak berkutik. pria berpakaian hitam-hitam itu melonggarkan bekapannya.


Dengan gerakan cepat. Almira menangkap tangan penjajah itu. Memutar kemudian membantingnya.


BRAK!

__ADS_1


"AAKRRGGHH!" teriak penjahat itu.


Mungkin Almira tengah beruntung. Kebetulan dua penjaga tengah berpatroli di situ.


Mendengar suara teriakan. Dua petugas yang berpatroli bergegas menghampiri suara.


Melihat ada yang datang. Dua orang itu langsung mendorong Almira hingga terjatuh.


Gedubrak!


"Aduh!" keluh Mira kesakitan.


"Hei ... siapa itu!" teriak dua petugas.


"Hei ... berhenti!" teriak petugas.


Salah satu petugas mengejar dua penjahat yang menyerang Almira. Sedangkan yang satunya membantu wanita itu untuk berdiri.


"Astaga. Anda tidak apa-apa kan, Nyonya?" tanya sekuriti tersebut.


"Iya, Saya tidak apa-apa," jawab Almira.


"Kalau begitu. Mari kita ketempat pos penjagaan untuk melihat CCTV. Semoga rekan saya tadi bisa menangkap salah satunya," ujar sekuriti mengajak Almira.


Dengan menggunakan mobil yang dikendarai petugas sekuriti. Almira mendatangi pos penjagaan.

__ADS_1


Sayang. Kedua penjahat itu tak bisa ditangkap. Sepertinya mereka sangat ahli. Hingga mampu mengelabui banyak petugas yang mengepung.


"Sepertinya, mereka telah mengamati lokasi. Begini, Nyonya. Apa kita langsung lapor polisi. Kebetulan, CCTV di tempat tadi berfungsi," ucap Ketua keamanan.


Almira mengangguk. Kejadian ini sudah termasuk kejahatan. Almira menelpon suaminya.


"Halo, Mas. Aku tadi hampir diculik. Sekarang aku mau ke kantor polisi untuk melaporkan. Bagaimana menurut mu?" tanya Almira.


".....!" Almira tampak mengangguk.


"Baiklah Mas. Akan aku lakukan," ujarnya kemudian memutuskan sambungan telepon.


Almira langsung melaporkan kejadian yang ia alami di kantor polisi. Kebetulan kantor Polsek tidak jauh dari mall.


Ditemani beberapa petugas sekuriti yang menjadi saksi. Almira langsung memberikan laporannya berikut barang bukti. Selesai melapor. Ia baru diperbolehkan pulang.


Sampai rumah. Almira langsung menyusun semua barang belanjaannya. Ia tak habis pikir. Siapa orang yang hendak menculiknya tersebut.


Almira merasa tidak memiliki musuh. Sepanjang ia berpikir. Ia tidak menemukan apapun untuk dijadikan alsan akan kejadian yang baru saja ia alami.


Sedangkan di tempat lain. Tampak seorang wanita berparas cantik begitu kesal akan laporan yang baru saja ia dapatkan.


"Ah ... dasar tidak becus! Masa menculik wanita lemah saja tidak bisa!" teriaknya sambil menghancurkan semua barang yang tersusun di meja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2