MENIKAH DENGAN TUAN SEMPURNA

MENIKAH DENGAN TUAN SEMPURNA
KEMARAHAN PANJI


__ADS_3

Seminggu sudah kejadian itu berlalu. Tapi, pihak kepolisian belum bisa mengungkap siapa dalang penculikan Almira.


Almira pun mulai malas untuk datang ke kantor memberikan pernyataan. Karena sang suami belum pulang dari dinas. Almira memilih untuk mencabut laporannya.


Walau demikian. dua penjahat itu tidak semerta-merta dibebaskan. Ternyata, banyak laporan kejahatan yang telah dilakukan keduanya. Hingga mereka harus lebih lama mendekam di balik jeruji besi.


Panji baru saja pulang dari luar kota. Ia pulang dengan wajah lelah. Almira menyambutnya dengan wajah cerah.


"Mas ... baru pulang, capek ya?'


Panji langsung memeluk istrinya. "Aku kangen sayang!"


Dan siang itu, mereka lalui penuh gairah di atas ranjang.


****Keesokan harinya. Panji tengah berkutat dengan laporan-laporan produksi dari anak perusahaannya.


Tiba-tiba pintu terbuka, dan terdengar suara teriakan.


"Nona ... tunggu Nona! Jangan masuk!"


Panji merasa terusik.


"Sayang ...," Wajah Panji merah padam mendengar panggilan itu.


Pria itu menatap wanita yang berdiri di hadapannya. Kania datang mengenakan baju warna merah menyala yang sangat ketat. Hingga semua liuk tubuhnya terpampang jelas. Bahkan daging kembar yang menggantung di dada wanita itu, seakan ingin melompat keluar, karena saking sesaknya.


"Apa kau bilang tadi!" terdengar suara Panji yang menggeram.


Kania menelan saliva. Tapi, segera ia singkirkan semua ketakutannya. Ia sangat yakin, jika pria di depannya ini, masih mengidamkannya.


Dengan penuh percaya diri ia melangkah mendekati Panji. Panji melebarkan matanya. Tapi, ia menunggu apa yang ingin dilakukan oleh gadis itu.


Dengan berani Kania duduk dipangkuan Panji. Spontan Panji langsung berdiri, hingga membuat Kania terjatuh.

__ADS_1


"Kurang ajar!" maki Panji.


"Sebelum aku murka pada mu. Aku minta kau secara baik-baik. keluar kau dari kantor ku!" titah Panji penuh geram.


Kania tertohok mendengar Panji mengusirnya. Ia berdiri dengan wajah menghiba. Kania memulai drama.


"Sayang ...,"


"PERGI KAU!" bentak Panji, mengagetkan Kania.


Tepat Panji mengusir Kania. Pintu kantor Panji diketuk. Panji bergegas membuka pintu. Melihat wanita cantik yang telah menjadi istrinya di sana.


Panji langsung menariknya masuk.


"Kau keluarlah Kania. Sebelum aku benar-benar menyuruh seluruh untuk menyeretmu!" titah tegas Panji kepada Kania.


"Kenapa kau berubah? apa semua ini karena wanita itu!?" teriak Kania tidak terima.


"Ya ... aku berubah karena dia," jawab Panji sambil menatap Almira penuh cinta.


"Tidakkah kau sadar. Dia sudah menghasutmu. Dia wanita siluman bermuka dua ...,"


"Hei ... Nona. Jaga bicaramu!" Almira memotong perkataan Kania.


"Sayang. Dia bilang aku siluman. Ah ... Dia benar, sayang aku siluman," ujar Almira.


Tiba-tiba ide konyol terbesit dipikiran Almira. Ia berdendang ala India kemudian meliuk-liukkan tubuhnya ke badan Panji.


Panji menatap heran tingkah absurd istrinya. Tapi, sejurus kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


Kania yang merasa disindir, marah bukan main. Dengan langkah tergesa, ia menghampiri Almira. Menarik tangan Almira hingga tubuh wanita itu menghadapnya.


Kania melayangkan tangan hendak menampar Almira. Tapi, belum sampai tangan itu mendarat di pipi mulus sang istri. Panji lebih dulu menahan tangan itu dan menghempaskan nya dengan keras.

__ADS_1


Kania terpelanting jatuh ke lantai. Panji menarik lembut tubuh Almira dan disembunyikan ke belakang tubuhnya.


"Berani-beraninya kau!" ujarnya geram.


Wajah pria itu merah padam penuh dengan amarah. Seketika, tanpa ampun, ia menyeret tangan Kania dengan kasar.


Kania yang masih bersimpuh di lantai terseret begitu saja. Wanita itu menjerit minta dilepaskan.


"SEKURITI!" teriak Panji.


Datang dua orang putra berpakaian sekuriti dengan berlari.


"Usir perempuan ini dari gedung ini. Dan pastikan dia tidak bisa masuk selangkah pun ke halaman kantor!" titah Panji sangat tegas.


Kania diseret oleh para sekuriti. Gadis itu berteriak-teriak memanggil nama Panji.


Setelah dipastikan Kania terusir dari gedung yang dikelolanya. Panji langsung melakukan panggilan.


"Halo, Jimy. Hancurkan karier Kania sehancur-hancurnya!" titahnya lagi pada orang di ujung telepon.


Tampa menunggu jawaban. Panji langsung menutup telponnya.


"Mas ... sayang!" panggil Almira lirih dan manja.


Panji yang mendengar panggilan istrinya menoleh. Semua emosi dan amarah Panji musnah seketika melihat paras ayu sang istri yang tersenyum manis.


Panji menutup pintu dan menguncinya.


"Sayang, kok dikunci?" tanya Almira bingung.


"Biar tidak ada yang mengganggu, Sayang," jawab Panji, langsung mencium bibir istrinya penuh napsu.


Siang itu. Mereka melewati makan siang. Panji habiskan waktu istirahatnya untuk mencumbu Almira.

__ADS_1


Bersmbung


__ADS_2