
"Hueek!" tiba-tiba Almira mual bukan kepalang. Padahal belum terbangun secara utuh dari tidurnya.
Panji terkisap. "Sayang, ada apa, apa kau sakit?" tanyanya.
Almira bergegas bangun dari tempat tidurnya. dilihatnya jam di dinding sudah mau subuh.
Almira muntah. Hanya air bening yang keluar dan terasa pahit. Wanita itu mulai berpikir, makan apa ia tadi malam. Perasaan, makan biasa. Hanya mangga muda yang tidak biasa.
Ya, berapa hari terakhir ini. Almira suka sekali makanan asam. Selain itu napsu makannya juga makin bertambah.
Sadar apa yang dialaminya. Almira mengecek tanggal. Ia menghitung terakhir tanggal haidnya. Senyum bahagia terbit dari wajahnya. Tapi, sebelum ia berasumsi lebih jauh. Ia ingin memastikan terlebih dahulu.
'Besok aku cek dengan testpack," gumamnya dalam hati.
"Apa kau tidak apa-apa Sayang?" tanya Panji.
Almira tersenyum sambil menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Sayang."
Panji tersenyum mendengar panggilan tersebut. Baru saja, pria itu ingin menyambar bibir istrinya. Adzan subuh berkumandang. Almira menahan laju bibir aang suami menggunakan jari telunjuknya.
"Kita sholat jamaah yuk," ajak Almira.
__ADS_1
Panji tersenyum. Lalu mengangguk. Selesai sholat. Almira langsung ke dapur untuk membuatkan sarapan.
"Mas, nanti Aku, ke rumah Ayahku ya?" Almira meminta ijin pada suaminya.
"Baiklah, Sayang. Biar nanti aku antar. Kita nginap di sana. Sudah lama bukan kita tak mengunjungi Ayah," ujar Panji memberi ijin.
Almira sangat senang mendengarnya. Memang setelah menikah, ia jarang sekali mendatangi rumah sang ayah, dikarenakan sibuk luar biasa.
"Terima kasih, Sayang!" pekik riang Almira langsung memeluk dan memberi kecupan di pipi suaminya.
Panji tersenyum. Ditariknya tubuh sang istri, dan langsung ******* bibir Almira, yang selalu membuatnya candy itu.
Lima menit mereka berciuman. Sebelum, pria itu merasa terangsang. Panji menyudahi aktifitas ciumannya.
"Ayo, kita berangkat," ajak Panji dengan suara berat menahan gejolak.
Almira bersemu merah. Ia mengangguk. Sebenarnya, ia juga ikut terangsang akibat aktivitas tadi. Tapi, mereka mengingat ada tugas yang menumpuk di kantor.
"Setelah, semua selesai. Aku ingin kita berdua mengajukan cuti untuk bulan madu, Sayang," tiba-tiba Panji member ide.
"Sepertinya menarik," Almira menanggapi..
__ADS_1
"Ya sudah. Habis ini. Kita atur semua jadwal. Jika sesuai. Kita ajukan cuti bersama. Oh ya. Sebentar lagi, anniversary perusahaan mu. Sekalian aku ingin mengenalkan mu sebagai istriku," ujar Panji lagi.
"Apakah itu perlu, Mas?" tanya Almira sedikit tidak enak.
"Apa maksudmu tidak perlu?!" tanya Panji tidak menyukai pertanyaan dari istrinya itu.
Panji, ingat. Jika diawal ia tidak menyukai wanita yang telah menjadi istrinya itu. Tapi, lambat laun..Ia makin tidak ingin Almira jauh darinya. Bahkan, Pria itu mulai cemburu dengan Hadi, Tim HRD Akuntansi dan pengembangan, yang menjadi teman kantor istrinya.
Karena terlalu antusias, ingin menginap di rumah Ayahnya dan rencana bulan madu. Almira lupa membeli testpack di apotik.
Sang Ayah sangat senang didatangi oleh anak dan menantunya. Pria setengah baya itu sudah memesan makanan kesukaan putri semata wayangnya itu.
Almira bermanja-manja pada ayahnya. Panji membiarkan hal itu. Ia sangat senang jika sang istri bahagia dengan segala tindakannya.
Malam berlalu. Kini dua insan itu tengah memadu kasih di atas ranjang. Hentakan dan lenguhan kenikmatan memenuhi kamar Almira.
Entah berapa kali mereka melakukannya. Panji seakan tak habis tenaganya menggempur sang istri.
Hingga pada titik di mana Panji menuntaskan semua kenikmatan. Ia mengerang puas dan tersungkur di samping tubuh Almira yang sudah lemas.
Panji sangat puas. Bahkan Almira juga bisa merasakan kenikmatan yang sama.
__ADS_1
BERSAMBUNG.
hai ... bentar lagi episode terakhir .. boleh dong like dan vote nya.