MENIKAH DENGAN TUAN SEMPURNA

MENIKAH DENGAN TUAN SEMPURNA
HAMIL DAN MELAHIRKAN


__ADS_3

Almira sangat senang akan kehamilannya. Ia menikmati masa-masa morning sick. Bahkan sang suami, makin memanjakannya.


Anggono, sang ayah memutuskan untuk tinggal bersama putrinya. Panji menyetujuinya. Bahkan Almira sudah dilarang bekerja. Memang kehamilan Almira kali ini sangat payah. Ia tidak sanggup bangkit dari tidurnya jika tidak dipaksakan.


Berbagai treatment dan vitamin untuk menghilangkan morning sick nya tidak ada yang mempan.


Hal ini membuat ayah dan suaminya makin khawatir. Bahkan tak satupun asupan makanan yang masuk dalam tubuh Almira. Hingga membuat tubuhnya menjadi kurus.


Tubuh yang kurus dengan perut sedikit membuncit. Persis orang cacingan. Karena itu. Almira harus diinfus. Dokter khusus kandungan yang langsung merawatnya.


Menurut dokter kandungan Almira baik-baik saja, walau ia tidak makan apapun. Almira hanya mau makan buah-buahan. Almira sama sekali tidak mau makan nasi.


Para ahli gizi mengubah nasi dengan berbagai bentuk hingga tak terlihat seperti nasi. Sebenarnya Almira juga tidak mau karena bau akan nasi tersebut. Tapi, untuk anak kembarnya. Mau tak mau, Almira harus menelan semua makanan yang diberikan.


Trimester pertama kehamilan sudah terlewati. Lambat laun morning sick yang dialami Almira telah usai. ia pun sekarang mulai bisa makan makanan bergizi tinggi.


Perut Almira juga makin besar. Panji sangat antusias akan kehadiran dua jabang bayi yang kini berada di perut istrinya.


Saking senangnya. Panji telah mendekor rumahnya untuk menambah satu kamar untuk kedua anaknya nanti.


Menjelang usia kandungan 7 bulan. Keluarga Santoso menggelar tujuh bulanan. Semua kerabat dan kolega bisnis diundang dalam acara syukuran tersebut. Tak lupa Almira juga mengundang 100 anak yatim piatu yang didatangkan dari panti setempat.


Suasana pengajian begitu sangat khusyuk terlihat. Suara anak-anak mengaji begitu menyejukkan telinga yang mendengarnya.


Usai pengajian. Mereka bersama-sama menyantap hidangan yang disajikan. Para anak yatim-piatu diberi hadiah dan santunan sekedarnya.


Acara syukuran sederhana itu sangat dinikmati oleh pasangan yang berbahagia.

__ADS_1


"Bagaimana Pak, Bu. Apa kalian ingin tahu jenis kelaminnya?" tanya dokter ketika mereka tengah memeriksa kehamilan Almira.


Suami istri itu saling tatap. Kemudian mereka kembali menatap dokter.


"Apapun jenisnya. Kami akan menerimanya dengan ikhlas, Dok," jawab Panji dengan senyum mengembang.


Dokter itu tersenyum sambil mengangguk.


"Apa kalian ingin foto hasil USG nya?" tanya dokter lagi.


Panji dan Almira mengangguk kesenangan. Setiap bulan mereka selalu memantau perkembangan bayi-bayi mereka melalui USG, dan memfotonya.


Mereka mengoleksi foto hasil USG tersebut, dan menyimpannya di sebuah album kecil.


Panji tersenyum lebar ketika dokter menyerahkan sebuah foto 3D. Dilihatnya gambar yang menjelaskan dua wajah yang begitu jelas.


Panji hanya mendengarnya sekilas. Selesai pemeriksaan. Mereka pun keluar dari klinik setempat.


Ketika sampai di halaman parkir. Almira yang tengah berdiri menunggu di teras klinik, tiba-tiba didatangi dua orang berpakaian compang-camping.


Mereka memaksa meminta uang. Almira yang tidak menyukai orang muda yang masih sehat meminta-minta, langsung menghardik mereka.


Terjadi adu mulut antara ketiganya. Almira yang tengah mengandung cepat lelah.


Panji turun dari mobil. Langsung mengusir kedua pengganggu itu.


Melihat wajah dingin dan datar milik Panji. Keduanya pergi dengan rasa ketakutan.

__ADS_1


******


Waktu berlalu. Pasca lahiran sudah diambang batas. Almira telah mengalami kontraksi semenjak pukul 03.12. dini hari.


Panji yang menjadi suami siaga langsung membawa Almira ke rumah sakit ternama.


Ketika sampai di rumah sakit. Ternyata Almira baru pembukaan empat. Dokter menyarankan agar Almira berjalan-jalan untuk memperlancar proses melahirkan.


Tadinya Panji menginginkan operasi caesar. Tapi, Almira bersikeras untuk melahirkan secara normal. Para dokter juga menyarankan hal yang sama, ketika tidak ada masalah sama sekali pada Almira.


Kontraksi yang dialami Almira makin pendek. Ketuban mulai pecah. Para dokter langsung menyuruh Almira melakukan proses melahirkan.


Selama satu jam lebih, Almira bertarung bertaruh nyawa demi kelahiran dua anaknya.


Tepat satu jam, anak pertama lahir. Dokter langsung memberikan penanganan. Lima menit kemudian, anak kedua lahir.


Panji begitu bahagia. Ia menciumi pucuk kepala Almira, sang istri.


Dua bayi tampan kini sudah berada dalam box nya.


"Siapa nama putra-putra kita, Sayang?" tanya Almira dengan suara lemah.


Ia sudah berada diruang perawatan.


"Namanya Muhammad Shaka Putra Laksono dan satunya Ali Sheka Putra Laksono," jawab Panji penuh dengan rasa bangga.


"Assalamualaikum ... Baby Shaka dan Baby Al," ujar Almira memandang dua bayi lucu dalam gendongannya.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2