MENIKAH DENGAN TUAN SEMPURNA

MENIKAH DENGAN TUAN SEMPURNA
BABY SHAKA AND BABY AL


__ADS_3

Almira's POV


Aku sangat bahagia sekali. Hari kelahiran telah tiba. Walau aku jl merasakan kesakitan luar biasa melahirkan dua anak secara bersamaan. Tapi, selesai paska melahirkan. Kebahagiaan langsung menyeruak dalam hatiku.


Selama dua hari berada di rumah sakit. Hari ini, aku diperbolehkan pulang bersama dua anakku.


Sampai rumah. Ayah dan papa mertuaku datang menyambut.


"Selamat datang cucu-cucuku sayang!" sambut mereka berdua.


Aku tersenyum bahagia.


Menyambut uluran tangan mereka. Dua bayi dalam keranjang bayi dibawa oleh dua perawat yang dibayar Panji.


"Ayo, kita letakkan dua bayi itu ke kamar mereka!" ujar Papa mertuaku memberi perintah.


Aku dan semuanya masuk. Setelah sampai di kamar bayi, aku begitu terpana.


Dekorasi warna biru dan putih mendominasi. Berbagai gambar karakter pewayangan menghiasi ruangan.


Bahkan hiasan gantung juga menggambarkan tokoh pewayangan itu dalam bentuk boneka. Sangat unik.


"Indah sekali, Mas!" ucapku memuji dekorasi ruangan untuk bayiku.


terdapat dua box, tempat tidur bayi yang diatur berdampingan.


Box bayi yang terbuat dari kayu itu, menampilkan warna asli dari kayu tersebut. Hingga satu-satunya warna yang mencolok di ruangan itu.


Kedua bayi telah diletakkan di boxnya masing-masing. Kedua perawat sudah pergi meninggalkan rumah.


Aku memang hanya ingin mengasuh kedua bayiku sendiri. Untuk itu, aku sudah meminta ijin pada suamiku untuk resign dari pekerjaan.


Mas Panji sangat antusias mengijinkan ajuan pengunduran diriku.


*********


Hari berlalu. Seminggu sudah, usia kedua bayiku. Mereka kini makin bulat dan montok.


Suamiku juga sekarang lebih dekat dengan anak-anaknya. Ia sering menghabiskan waktunya untuk bermain dengan kedua putranya.


Hari ini adalah waktu aqiqah. Sesuai permintaanku. Kami akan mengadakannya dengan mengundang 1000 anak yatim-piatu.


Karena undangan begitu banyak. Kami sepakat mengadakan pesta aqiqah di hotel milik ayah mertuaku.


Pesta dengan suasana berbeda tentu jadi perhatian para publik, terutama wartawan.

__ADS_1


Berita tentang kehadiran dua pewaris tahta Suryo Grup hadir. Siapa yang tidak antusias dengan berita tersebut.


Semua karyawan diundang. Bahkan para kolega. Papa mertua juga mengundang salah satu ustad kondang.


Acara terlaksana dengan baik. Kedua putraku sudah dicukur rambutnya. Aku sangat bahagia.


Terlebih ketika melihat seribu anak yatim-piatu itu tertawa lepas menikmati arena permainan.


Papa mertuaku memang hebat. Dengan kekuatan uangnya. Ia menyulap taman hotel jadi arena permainan anak. Hal itu yang tidak pernah terpikirkan oleh papa mertuaku ketika aku menyampaikan ideku.


"Pa, kenapa Papa tidak membuat arena permainan anak di hotel Papa. Jadi orang-orang tidak akan segan mengajak anak-anak mereka untuk menginap di hotel karena ada permainan anak?"


Papa mertua tercenung mendengar ideku. Kemudian dengan antusias ia menyetujui. Dengan sekejap. Terciptalah arena bermain anak di sana. Bahkan, papa juga berencana akan membangun wahana water park.


"Sayang," suamiku memanggilku dengan lembut.


Aku menatap manja pada suamiku. Entah sejak kapan aku jatuh cinta padanya. Tapi, aku yakin jika aku sangat mencintainya.


Cup!


Sebuah kecupan di darat kan pada bibirku. Aku langsung merona menahan malu.


"Mas!" cicitku memperingatkan.


"Ini tempat umum!" ujarku memperingatinya lagi.


"Jadi kalo tidak di tempat umum, boleh?" tanyanya menggoda.


"Ish ...!" aku merajuk.


"Jangan manyun. Aku akan ********** jika kau melakukan itu!' ancam suamiku.


Aku langsung menormalkan bibirku, spontan. Suamiku terkekeh.


"Aku mencintaimu," bisiknya.


Aku menatap netra yang kini menatapku intens. Tidak ada satu keraguan dan kebohongan di sana.


"Aku juga mencintaimu," jawabku sambil tersenyum manis.


******


Acara telah usai. Kami pulang ke mansion papa mertua. Di tengah perjalanan, aku melihat sosok wanita yang aku kenal.


"Kania?"

__ADS_1


"Siapa?" tanya suamiku melihat arah mataku melihat.


Karena laju mobil, aku sudah kehilangan sosok wanita tersebut.


"Ah ... mungkin aku salah lihat," jawabku singkat.


"Siapa yang kau sangka itu?" tanya suamiku.


"Aku melihat Nona Kania tengah berjualan di pinggir jalan tadi," jawabku.


"Lalu?" tanya suamiku heran.


"Ya, tidak mungkinlah. Dia kan model terkenal, masa iya dia jualan di pinggir jalan seperti orang susah. Apa itu cuma konten ya? Sekarang-sekarang kan banyak artis-artis buat konten aneh-aneh?" tanyaku sendiri.


"Ah, pikiranmu kemana-mana. Sudahlah, nggak usah mikirin orang lain," ujar suamiku mengenyahkan pikiranku yang nyeleneh.


Aku mengendikkan bahu acuh.


******


(Flashback)


Kania terduduk lemas. Setelah ia mendatangi kantor Panji dan hendak menampar istri dari laki-laki idamannya itu.


Kania kini terduduk lemas mendapati semua kontrak kerjanya diputuskan. Ia kebingungan menanyakan perihal itu kepada sekretaris kepercayaannya.


"Ya, benar. Semua kontrak kerja kita dibatalkan, bahkan management kita juga sudah mencoret namamu dari list model mereka!' ujar sang sekretaris. "Mereka langsung membayar pinalti mereka. Tapi ...."


Kania terdiam mendengar lanjutan kalimat sekretaris.


"Uang pinalti itu langsung habis untuk membayar semua kartu kredit mu," lanjutnya.


Kania tak menyadari, jika semuanya adalah ulah dari Panji.


Seminggu setelah hartanya satu persatu habis terjual membayar semua karyawan yang bekerja padanya.


Beruntung ia masih bisa membeli satu kios kecil di pinggir jalan raya besar.


Dengan sedikit uang sisa hasil penjualan apartemen pribadinya. Ia mulai membuka usaha kelontong.


Walau tak seberapa. Kania mulai menjalani babak barunya sebagai orang biasa.


Kini wanita itu tak bisa lagi mendongak dengan sombongnya.


Tamat.

__ADS_1


__ADS_2