
"Hoooek!" berkali-kali Almira muntah.
Namun hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya. Sungguh hal itu membuatnya tersiksa. Ia sangat yakin dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.
Panji yang masih berada di ranjang, terbangun mendengar suara orang tengah muntah begitu. Pria itu bangkit dengan tubuh polosnya, menghampiri sang istri.
"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Panji khawatir.
Pria itu menatap wajah Almira yang memucat. Kini Panji benar-benar panik.
"Aku akan membersihkan diri dulu. Kita pergi ke dokter!" ujar Panji langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Pria itu langsung menyalakan shower. Menyabuni seluruh tubuhnya, kemudian membilasnya. Almira menyaksikan semuanya secara langsung.
Wanita itu hanya mengenakan bathrope. Sedangkan di dalamnya. Ia sama sekali tak memakai apapun.
Almira hanya menganga. Sungguh ia begitu sangat mengidamkan tubuh kekar yang tengah dikeringkan oleh pemiliknya itu.
Almira menepuk pipi sambil menggeleng. Mengenyahkan pikiran kotor yang baru saja melintas dipikirannya.
'Apakah, aku ini maniak s*x!' racaunya dalam hati.
Panji melilitkan handuk menutupi bagian bawahnya. Ketika berbalik ia baru tersadar jika wanita yang sudah dinikahinya beberapa bulan lalu menyaksikan ia mandi tadi.
Panji tersenyum lebar. Bai wangi shampoo dan sabun menyeruak kepenciuman Almira. Wanita itu masih setia dengan kegemingannya.
Cup!
Almira tersentak. Wajahnya langsung memerah.
"Sungguh. Aku juga masih ingin melakukannya, Sayang. Tapi, kita harus ke dokter dulu, Ya," ujar Panji menggodanya.
__ADS_1
"Ish ... siapa yang ingin itu lagi!" elak Almira dengan bibir merengut.
Panji tertawa, kembali ia mengecup bibir yang membengkak di sana. Sungguh, ia sangat mencintai Almira.
"Bersihkan dirimu. Ini, sudah mau subuh. Kita jamaah dulu. Baru kita ke dokter," titah Panji lembut.
Almira menurut. Setelah ia membersihkan diri. Mereka menunaikan kewajiban yang nyaris tertinggal. Kemudian bergegas ke dokter. Padahal mereka belum sarapan sama sekali.
Almira sempat menawarkan untuk membuatkan sarapan. Tapi, Panji menolak.
Mereka pun pergi ke klinik dokter pribadi mereka. Dengan mengenakan mobil sport terbaru berwarna merah. Mereka membelah jalan raya yang mulai padat.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Panji.
Almira telah bangun dari ranjang periksa. Berjalan dan duduk di sisi suaminya.
Dokter Meliana Spog. tersenyum penuh arti. Almira sangat meyakini senyuman itu adalah berita baik.
Panji terkejut. Wajahnya langsung ceria. Matanya berbinar mendengar berita itu.
"Be-benarkah, Dok?" tanya Panji menyakini.
Dokter mengangguk. Panji langsung menciumi Almira. Hingga dokter terkekeh melihat kelakuan Panji.
Almira yang mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari suaminya. Langsung menghentikan perbuatan Panji.
"Mas ... malu, ih!" cicitnya pelan dengan wajah yang memerah karena malu.
Panji yang tersadar hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf, Dok!" ujar Panji tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti. Selamat sekali lagi, ya!" ujar sang dokter memberi selamat.
Panji menyambut dokter wanita yang berusia tiga puluhan itu. Kemudian mereka pun pergi dengan rasa bahagia yang membuncah.
Masih di halaman klinik. Ia menelpon sang ayah akan berita menggembirakan ini. Tak lupa juga ia memberi tahu pada ayah mertuanya.
Hal tersebut tentu membuat keduanya bahagia. Terutama Suryo. Ia langsung ingin memberi pesta penyambutan. Tentu saja hal itu dilarang oleh Almira.
"Nanti saja, Pa. Jika kandungan Mira sudah menginjak tujuh bulan. Baru kita mengadakan pesta," ujar Almira beralasan.
Mau tak mau, Suryo menyanggupi keinginan sang menantu. Telpon berakhir.
"Sayang ... kita menunda rencana bulan madu kita ya," ujar Panji dengan wajah penuh penyesalan.
Almira tersenyum, kemudian mengangguk. Ia tahu bahaya jika usia kandung masih muda itu berpergian jauh-jauh.
"Iya, Sayang. Kita bisa merencanakan lagi berempat," ucap Almira.
"Berempat?" Panji mengernyit bingung.
"Hmmm ... apakah kau lupa, jika bayi kita kembar, Mas?" tanya Almira lagi.
Ya, tadi mereka juga telah memeriksanya lewat USG. Mereka dikabarkan jika memiliki bayi kembar. Panji teringat.
"Iya, Sayang. Aku baru ingat" jawabnya lalu mengecup pucuk kepala istrinya dengan mesra.
Mereka pun memasuki mobil mereka. Panji kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju rumah mereka. Di sana Suryo dan Anggono menunggu mereka.
bersambung.
hai maaf ya... baru update lagi... maklum lah...
__ADS_1