
Suatu masa di Tahun 1970.
Semua orang saling teriak, suasana mendadak kacau, pikiran serasa meledak. Bayangkan saja, mereka datang untuk mati.
Ledakan demi ledakan tak kunjung reda. Para sipil terus berlarian ketakutan sembari berteriak minta tolong. Ada beberapa dari mereka ikut berlindung dibalik baju bewarna hijau-kecokelatan.
Rata-rata perempuan dan anak-anak yang lebih diutamakan. Mereka lebih dulu dibawa ke tempat perlindungan, jauh ke selatan Ravengold. Sementara Pria dipaksa atau secara sukarela berdiri di garda terdepan.
Ini adalah perang saudara. Perang antara distrik Lone dan distrik Line. Bermula dari perbedaan pendapat hingga salah satu (oknum) membuat kericuhan luar biasa.
Thomas, salah satu anggota pemerintah daerah Lone, membunuh gubernur distrik Line hanya karena dituduh tidak bisa meredakan masalah.
Padahal, yang terjadi, gubernur distrik Line tengah sakit keras sehingga harus digantikan wakilnya.
Keributan pun mulai terjadi. Dari hanya saling adu mulut, lalu adu fisik, hingga adu kehebatan senjata.
Keluarga bangsawan, mau tidak mau, harus turun tangan.
Dikirimkannya pasukan pengamanan negara terbaik dengan didukung bantuan dari negara persahabatan yaitu Britania Raya, Spanyol, dan Arab Saudi.
Rusia dan Amerika Serikat juga membantu melalui suntikan dana.
Mereka tidak mau kehilangan sumber emas. Ravengold, negara dengan sistem monarki yang memiliki sumber daya alam berupa pertanian, pertambangan, dan juga perikanan.
Selain itu, Ravengold adalah pionir pendidikan dan teknologi eropa bahkan dunia. Semuanya berkembang pesat di sini. Banyak ilmuwan hebat lahir di negara yang tengah dipimpin oleh Raja Raymond.
Ravengold hancur, maka mereka pun terkena imbasnya.
Perekonomian bisa terguncang, redup, bahkan mati.
Tidak, para negara di belahan dunia, tidak akan mengizinkannya.
Seperti Britania Raya mengirimkan pasukan terbaik yang mereka punya.
Ravengold, negara dengan sejuta potensi, harus terselamatkan.
Namun, semua harapan itu belum mencapai puncaknya. Masih dalam suasana perang, tiba-tiba alat komunikasi menangkap sinyal dan memberitahu informasi gila.
Sang pangeran muda diculik!
Luar biasa hebohnya keluarga kerajaan. Bagaimana bisa di tengah kondisi ricuh sempat-sempatnya ada yang memanfaatkan keadaan yaitu kelompok pemilik modal dari distrik Lone mengancam jika tidak mengusir kelompok distrik Line maka pangeran akan dibunuh biar keluarga bangsawan ikut musnah.
Berita tersebut menggemparkan negara sahabat. Tanpa butuh waktu lama, mereka meningkatkan keamanan dan mengeluarkan senjata terbaik yang mereka punya.
"Tim Alpha, berdiri sekarang!" Seorang komandan masuk ke dalam ruangan dengan wajah merah padam. Ia nampak murka. "Misi ditambahkan, selain sipil, pangeran muda pun ikut menjadi korban. Bagaimanapun caranya pangeran harus bisa kalian selamatkan, kalau sampai tidak, kalian akan ku tembak satu per satu. Paham?!"
Tiap tentara terperenjat seketika. Komandan mereka telah kehilangan akal.
Kelompok distrik Lone bersikap sangat brutal dan anarkis. Mereka tidak segan-segan memanggil nenek moyang agar ikut membantu. Mereka pun memainkan perang dengan menggelapkan hatinya secara utuh. Coba bayangkan, siapapun yang masuk ke dalam distrik Lone akan dipenggal kepalanya di depan semua orang. Intinya, mustahil.
"Komandan Chris sudah tidak waras." Keluh Rayn selepas komandan mereka pergi dari ruangan.
__ADS_1
"Semua yang ada disini juga tidak waras. Termasuk aku dan kamu. Buat apa kita ada disini. Kita dilatih untuk mati." Frey menatap hampa.
"Itu benar! Aku baru saja dari distrik Lone. Sungguh, aku disuguhkan pemandangan membutakan mata. Semua kepala seakan tidak ada harga dirinya disana. Kalian kenal Enderson? Dia terkenal pintar berkelahi dan taktik di angkatan. Tapi siapa sangka akhir hidupnya harus berakhir disana. Kepala botak yang tak pernah tersentuh berhasil ku sentuh karena kepalanya tergeletak dan mengenai sepatuku!" Seru Brown, laki itu tak kalah frustasi.
Di tengah suara-suara sumbang dari para tentara, seorang pria berdiri dengan tegak, memisahkan diri dari rombongan, lalu berjalan ke pintu luar.
"Hei Labeeb! Mau kemana kamu? Jangan keluar sendirian!"
Telinga Labeeb mendadak panas. Jemarinya menggenggam kuat gagang pintu lalu membalikan badan. Alis tebalnya berkerut hebat. "KITA INI TENTARA. KITA DIKIRIM UNTUK MEMBANTU BUKAN BERTERIAK SEPERTI BAYI APALAGI BERSEMBUNYI. LEBIH BAIK MATI DILUAR DARIPADA HARUS MATI DI DALAM KARENA KETAKUTAN!"
Bruk!
Sebuah pintu terbanting begitu saja.
Membuat hati, telinga, dan pikiran serasa direbus. Apa yang dikatakan Labeeb benar. Mereka baru saja menjadi pecundang.
Mati memang konsekuensi menjadi tentara dan mereka sudah tahu dari awal. Hanya karena musuh lebih mengerikan dibandingkan yang dibayangkan membuat nyali mendadak ciut.
Cuih. Mereka membuang ludah.
Malu atas hal yang baru diperbuat.
"Yang merasa pria keluar denganku sekarang!"
"Siap!"
Jiwa tentara mereka kembali berkobar, Raut sangar terpancar, enggan menyerah sebelum berhasil terpatri lagi.
Ancaman masih terus bersautan. Membuat keluarga kerajaan makin panik. Raja Raymond tengah diam di dalam kamarnya. Bukan, bukan diam tak melakukan apapun.
Jemarinya tengah terangkat dan menghadap langit. Mulutnya berkumat-kamit. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh.
Semakin agung kekuasaan semakin membuatnya sadar bahwa tanpa campur tangan Tuhan semua tiada artinya.
Senjata telah dikeluarkan, pasukan terbaik telah diberikan, tetapi perang belum kunjung dipadamkan.
Jika usaha telah mencapai titik akhir maka biarlah doa yang meneruskan perjuangan.
"Allah, Tuhan Kami, tolong bantu kami. TanpaMu, kami tidak bisa apa-apa." Lirihnya dalam sujud yang panjang.
Dentuman terdengar kembali. Perang masih belum usai. Raja Raymond, makin merendahkan diri—merasa statusnya tidak berarti apa-apa, menajamkan doanya.
"Semua terjadi atas kehendakMu. Bahkan, anakku belum kunjung terselamatkan. Kalau memang ini yang terbaik tolong kuatkan. Dibalik jubah kebesaranku, aku rapuh."
Aliran air mata menjadi saksi betapa tak berdaya nya Raja Raymond dalam situasi genting ini. Biasanya dia selalu berhasil dalam mengatasi keadaan perang. Namun, sudah lima bulan lamanya, perang belum kunjung selesai.
Bahkan anaknya ikut menjadi korban.
Tok...Tok...
"Permisi Raja Raymond, saya Charlotte, Menteri Luar Negeri Ravengold, membawakan sebuah kabar." Sahut Charlotte dari luar dengan suara samar-samar—alias kalau dari luar pintu, wanita itu sudah berteriak kencang. Maklum, ruangan diciptakan redam suara.
__ADS_1
Raja Raymond bangkit dari sujudnya, membuka pintu, dan menerima surat dari menterinya. "Ada apa?"
"Batalyon QE telah memberitahu kabar baik. Level perang telah turun 70%, dan pangeran muda berhasil diselamatkan."
Sorot mata Raja Raymond terpancar bahagia. Mulutnya mengucap syukur, "Terima kasih ya Allah, terima kasih."
"Silahkan Raja dapat membaca lebih jelas dalam isi surat tersebut. Di dalamnya ada tanda-tangan Vareld, ketua pemilik modal dari distrik Lone. Dia menyetujui perjanjian yang diberikan oleh salah satu utusan tentara dari Britania Raya." Jelas Charlotte.
Alis Raja Raymond berkerut. Dagunya terangkat. Matanya membulat sempurna. "Siapa, tentara yang berhasil melakukan ini semua? Bagaimana bisa?"
"Dia adalah Labeeb Clair. Seorang tentara dari Britania Raya yang masih berketurunan dari Ravengold. Saat ini dia sedang di lobby hendak bertemu denganmu dan menceritakan kronologi nya."
Raja Raymond menyingkap jasnya, lalu tersenyum puas. "Tentu saja, aku harus menemui pria hebat itu. Aku harus memberikannya hadiah besar! Kami berhutang padanya!" Tutur Raja Raymond.
Charlotte mengangguk bahagia lalu berkata dalam hatinya, "Dia adalah pria yang akan berbahagia karena membuat Raja Raymond tersenyum lebar. Dipastikan kehidupannya akan baik-baik saja setelah ini!"
Kemudian, Charlotte mengantarkan Raja Raymond kepada Labeeb. Seperti yang baru saja disampaikan, Raja akan memberikannya hadiah besar!
Wah, berapa banyak hadiah yang akan diberikan? Apakah sebuah tanah, emas, atau kemudahan akses keliling dunia? Sulit dibayangkan.
"Atas rasa terima kasihku, aku ingin memberikanmu 3 hal. 200 juta Ravendols, kemudahan akses keliling dunia seumur hidup, dan kepemilikan saham di mitra keluarga kerajaan sebanyak 3 gedung. Tenang saja, ini semua adalah murni kekayaan pribadi keluarga kerajaan. Tidak ada uang sepeserpun dari rakyat."
Labeeb, dengan wajah teduh nan sederhana bercirikan hidung mancung, mata biru, bibir berwarna merah muda, alis tebal, rambut cokelat tua, dengan rahang yang sedikit keras, ia tersenyum lalu menggeleng.
"Terima kasih Baginda Raja. Anda sungguh baik sudah memberikan tawaran luar biasa ini. Namun, maaf, tanpa mengurangi segala hormat saya kepada Anda, saya tidak bisa menerima nya."
Hah?!
Ludah Charlotte tercekat dan tenggorokannya mendadak kering. Baru terdengar di telinganya ada seseorang yang menolak pemberian Raja Raymond.
"Ka-kamu bercanda?" Raja Raymond ternganga. "Atau sebut saja apa yang kamu mau. Mau dibuatkan apa? Kepemilikan pulau? Atau kamu mau sebuah posisi penting di kerajaan? Rakyat pasti akan menerimanya, mengingat kamu juga merupakan keturunan Ravengold."
Senyuman manis itu kembali diiringi gelengan kepala. "Maaf Baginda Raja, saya tidak bisa. Terima kasih atas tawarannya sekali lagi. Biarkan saja semua hadiah yang hendak Anda berikan untuk kesejahteraan rakyat. Saya memang keturunan Ravengold, tetapi tetap saja saya datang atas nama Britania Raya. Saya diutus untuk membantu mendamaikan bukan mengharapkan hadiah."
Tidak. Ini pasti tidak mungkin. Sangat langka ada seorang manusia apalagi mau mempertaruhkan nyawanya. Memang, mungkin, ini adalah misi kemanusiaan, tetapi sepertinya kalau diberikan hadiah seharusnya menerima?
Lalu mengapa tidak terjadi padanya?
"Maaf Baginda Raja, saya disini hendak melaporkan kronologi. Apabila ada yang hendak disampaikan, silahkan, saya akan menjelaskannya seusai Anda berbicara." Balasnya sopan. sangat sopan.
Raja Raymond mati kutu. Dia tidak harus bagaimana. Untuk pertama kalinya, ada seseorang menolak pemberian. Biasanya, semua orang saling merebut untuk mendapatkan harta.
Dia bukan manusia biasa.
Lalu, Raja Raymond mempersilahkan Labeeb untuk bercerita tentang kronologi yang terjadi, sembari otak dan hatinya berpikir keras.
Memikirkan cara lain untuk memberikannya hadiah.
Jujur saja, Raja Raymond masih tidak bisa menerima penolakan itu.
Baginya...penolakan itu sama saja merenggut harga dirinya sebagai Raja.
__ADS_1