Menikahi Pangeran Atau Tuan Muda?

Menikahi Pangeran Atau Tuan Muda?
Bab 3: Seperti dihujani meteor!


__ADS_3

Rumah keluarga Clair nampak sibuk hari itu. Semua saling bekerja sama untuk merapihkan rumah sekaligus mendesain agar layak untuk didatangi.


Seorang pewaris tahta Ravengold akan tiba beberapa jam lagi.


Katanya, Pangeran Muda Edmund masih ada urusan membahas rapat G45 yang acara intinya telah digelar kemarin siang.


Sungguh, mendengar kabar tiap menit mengenai sudah sampai mana posisi Pangeran Muda Edmund membuat perut Aleesha mulas.


Karena tidak ingin menambah kecemasan ia memilih untuk menghabiskan setumpuk majalah yang membahas ekonomi.


Barangkali itu semua bisa membantunya dalam berbicara dengan Pangeran Edmund nanti.


"Bu, aku benar-benar cemas. Aku tidak mau, aku tidak mau." Keringat beberapa kali turun membasahi pelipis lalu ke pipi dan berakhir di belakang rambutnya. Alesha menutup majalah dan meletakan di atas meja.


Tuan Clair yang cepat menyadari sedang tidak baiknya suasana hati puterinya segera menyelesaikan potongan bawang lalu berjalan dan duduk di samping Aleesha. "Aleesha cemas kenapa? Apakah ini memberatkanmu?"


"Tentu,!" Seru Aleesha. Bahu Tuan Clair bergetar karena terkejut dengan teriakan Aleesha. "Maaf kalau berteriak terlalu keras, tetapi aku benar-benar tidak sanggup Ayah. Memang, aku mempunyai darah Ravengold tapi aku tumbuh dan lahir di Indonesia. Wajah atau postur tubuhku memang bule tapi hatiku sudah Indonesia. Lagipula, apakah Ravengold kehabisan stock wanita sehingga ia harus repot-repot datang ke Indonesia?" Nada suaranya terdengar parau.


Nenek Clair yang tengah membantu Nyonya Clair memasak ayam bakar tersenyum kecil mendengar rintihan cucuknya. "Hei, anak manis, sini ke nenek."


Aleesha mengangguk lalu berjalan menghampiri Nenek Clair. "Ada apa, Nek?"


Tidak segera merespon, Nenek Clair mengambil 1 buah sayur segar dan menaruh di atas talenan. Kemudian ia menoleh ke arah cucuknya dan bertanya, "Menurutmu sayur ini segar nggak?"


"Segar." Balas Aleesha.


"Layak dimasak dan dimakan?"


Aleesha mengangguk kembali. "Layak dan akan sangat enak kalau dimakan."


Senyum Nenek Clair tersungging sempurna. Kerutan di bawah matanya ikut terbentuk. "Tapi Nenek nggak mau mengolah dan menjadikannya ini ke dalam bentuk masakan."


Alis Aleesha berkerut. "Kenapa?"


Tubuh Nenek Clair menoleh ke arah Aleesha. "Karena Nenek merasa tidak butuh dan ada sayur lain yang mau Nenek masak."


Analogi sederhana dari Nenek Clair segera ditangkap oleh Aleesha. Sepertinya Nenek Clair hendak memberitahu bahwa "bukan seberapa hebat atau layaknya wanita di Ravengold, tetapi ada hal yang lebih dilihat yaitu 'sesuatu yang dibutuhkan' ".


Dan, keluarga bangsawan menganggap Aleesha merupakan 'hal yang dibutuhkan'.


"Tapi Nek, aku tidak menganggapnya demikian. Aku hanya seorang gadis dengan jutaan mimpi yang bingung bagaimana cara mewujudkannya. Aku mendapatkan beasiswa juga atas bantuan Lyodra, karena memberikanku tips. Kalau tidak mungkin semua itu tidak akan terjadi. Aku juga tidak bisa menerima tawaran itu mengingat umurku masih 18 tahun, aku masih mau kuliah dan masih banyak hal yang mau aku capai. Bukan berarti menjadi keluarga bangsawan aku tidak bisa melakukan apapun, hanya saja aku merasa tidak pantas. Kualitasku masih jauh dibandingkan para wanita di luar sana yang telah sukses dengan latar belakang yang jauh lebih hebat."

__ADS_1


"Jadi maksudmu keluarga Clair tidak hebat?"


Aleesha mendesah. "Bukan itu maksudku Nek, maafkan aku jika telah menyakitimu."


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Nenek Clair untuk bersikap serius. Dengan segera ia tertawa kecil, meminggirkan tumpukan bahan masakan, lalu memeluk cucuknya dengan hangat. "Nenek tahu apa yang kamu khawatirkan. Kami semua tidak mau memaksamu, hanya saja kami memintamu untuk menghargai usaha keluarga bangsawan. Mereka sudah lama mempersiapkan ini semua. Pertemuanmu dengan Pangeran Muda Edmund anggap saja sebagai caramu untuk menghargai, bisa kan?"


Aleesha mengangguk. Dirinya perlahan bisa menerima. "Baiklah, tetapi kalau aku tidak menaruh perasaan apapun, bagaimana? Aku takut makin mengecewakannya."


"Terpenting niatmu Sha," Jemari Nenek Clair diletakan di depan dada Aleesha. "Nenek sangat amat tahu bagaimana perasaannya tiba-tiba didatangi orang hebat seperti Pangeran Muda Edmund. Dulu, Kakekmu seorang tentara Britania Raya yang disegani sementara Nenek hanya seorang pelajar Indonesia yang beruntung bisa mendapatkan beasiswa ke sana. Tapi, Nenek percaya satu hal, apa yang ditakdirkan untuk Nenek pasti untuk Nenek begitupun sebaliknya,"


Nenek Clair terdiam sejenak. Matanya mencari mata Aleesha untuk menelaah lebih dalam. "Seberapa keras kamu menolak ini semua, kalau dia memang jodohmu, kamu pasti akan bersamanya. Memang terlihat mustahil atau sedang hidup di negeri dongeng tapi inilah hidup. Tidak terduga tapi sebenarnya sudah diatur oleh Sang Pencipta. Jadi," Nenek Clair mengenggam tangan Aleesha.


"Jalani dulu, rasakan dalam hati Aleesha, tanyakan padanya 'cocok atau tidak' selepas itu serahkan semuanya melalui doa yang kamu panjatkan. Biarkan semesta yang mengarahkan selanjutnya, apakah berakhir menjadi Aleesha Clair atau Aleesha Leoline." Lanjut Nenek Clair lembut. Membuat air mata Aleesha dengan mudahnya jatuh.


Spontan, Nenek Clair menghapus air mata cucuknya. "Nek, terima kasih sudah mau mengertiku. Aku sayang Nenek." Giliran Aleesha yang memeluk Nenek Clair dengan hangat.


Pemandangan indah yang disajikan membuat hati Tuan dan Nyonya Clair terharu. "Nenek benar Sha, kami tidak mau memaksamu. Hidupmu adalah hidupmu, tetapi setidaknya hargailah seseorang. Karena kita tidak pernah tahu usaha apa yang telah dia lakukan untuk melakukan ini semua." Timpal Tuan Clair.


Aleesha melepas pelukan Nenek Clair, menoleh, dan tersenyum lebar. "Aku sungguh beruntung mempunyai orang tua seperti kalian. Allah begitu baik padaku."


Giliran Nyonya Clair yang memeluk Aleesha lalu tertawa kecil. "Seharusnya Ibu yang beruntung karena menjadi bagian keluarga Clair dan melahirkan puteri yang ternyata diharapkan kelahirannya oleh keluarga bangsawan. Entah kebaikan apa yang telah Ibu lakukan sampai Allah begitu baik memberikan ini semua."


Ah, harmonisnya. Memang beginilah seharusnya sebuah keluarga. Saling mengerti, menghargai, tetapi tetap mengingatkan jika ada hal yang perlu diluruskan.


Spontan, semua saling menoleh ke arah Hans dan tertawa puas. "Dasar adek kecil," Jemari Aleesha mengacak-acak rambut Hans dengan gemas. "Aku belum menjawab 'iya' jadi jangan memanggilku dengan sebutan itu."


"Yah, padahal aku sudah memberitahu teman-temanku." Goda Hans. Bola Mata Aleesha membulat sempurna.


"Apa katamu?!" Rambut Hans makin berantakan setelahnya.


Nenek, Tuan, dan Nyonya Clair saling melempar tawa melihat aksi konyol yang disajikan oleh Kakak-beradik tersebut. Lucu dan manis.


"Wah, kalau Hans sudah memberitahu berarti keluarga kita akan sibuk didatangi wartawan. Berarti Ayah harus menggunakan kemeja." Tuan Clair tak kalah seru untuk menggoda puterinya.


"Ibu juga dong berarti."


"Nenek juga berarti."


"Kalian!" Seru Aleesha. Wajahnya memerah bak tersiram jus tomat.


"Hahaha." Seketika tawa menggema di seluruh ruangan membuat Aleesha makin menutupi wajahnya akibat menahan malu.

__ADS_1


Ting...tong...


Bel rumah tiba-tiba bunyi. Pertanda ada seseorang di depan rumah. Akibat Hans yang baru saja menggoda Aleesha, ia jadi termakan omongan, dan membiarkan matanya untuk mengintip terlebih dahulu sebelum keluar untuk membukakan pager.


"Bu, Ayah, Nenek, Hans, itu bukan Pangeran Muda Edmund. Sepertinya benar, sudah ada yang tahu, sudah ada yang kesini. Bagaimana ini?!" Aleesha mendadak panik.


Hans yang sebenarnya hanya berbicara omong kosong ikutan panik. "Aku hanya asal, aku belum memberitahu siapapun. Serius Kak." Nadanya terdengar memohon agar Aleesha percaya.


"Sudah-sudah, kalian tunggu disini biarkan Ayah yang mencaritahu itu siapa." Tuan Clair langsung turun tangan dan diikuti Nyonya Clair di belakangnya. Sementara Aleesha dan Hans hanya bersembunyi di balik pintu.


Dua orang lelaki dengan pakaian yang sangat rapih dan ma..hal telah menunggu di depan pagar. "Selamat pagi Tuan dan Nyonya Clair."


Nyonya Clair mencoba menganalisis dalam hati, "Dari bahasanya sangat formal, sepertinya ada pembicaraan serius yang hendak disampaikan."


"Selamat pagi juga, ada apa Tuan?" Tanya Tuan Clair sambil membuka pagar dan mempersilahkan masuk.


Salah satu dari mereka memberikan tangannya untuk dijabat. "Kami dari utusan keluarga Salim," Kemudian ia menoleh ke arah Nyonya Clair. "Anda tentu masih ingat kan keluarga Salim, tempat bekerja Anda beberapa belas tahun lalu?"


Nyonya Clair mengangguk ramah. "Tentu saja aku ingat. Bagaimana kabar Tuan Salim? Kondisinya semakin baik kah?"


"Berkat usaha Nyonya Clair, kondisi Tuan Salim makin baik. Namun, sayangnya hadiah sampai saat ini belum kunjung Nyonya Clair terima."


Tuan dan Nyonya Clair saling berpandangan. Apa maksudnya?


"Maaf Tuan, hadiah dari Tuan Salim sungguh besar dan berharga. Rasanya tidak pantas menerima hadiah itu. Rumah yang sederhana sudah cukup bagi kami. Sampaikan pada Tuan Salim, aku tidak melaksanakan hal apapun kecuali mengupayakan terbaik dan terus memanjatkan doa. Ini semua takdir Tuan Salim, memang dia masih diberikan kesempatan untuk hidup. Jadi bukan aku yang menyelamatkan nyawanya."


"Tetap saja Nyonya Clair, Tuan Salim belum melupakan jasa besar yang diberikan kepadanya. Jadi, inilah alasan kami datang."


"Maksud Tuan?"


"Karena jasa nyonya sangat besar, sepertinya benar, tanah dan kepemilikan gedung tidak mampu menutupi semua kebaikan Nyonya Clair. Maka, Tuan Salim ingin memberikan jauh lebih besar tapi tolong jangan anggap ini berlebihan. Besar harapan Tuan Clair agar keluarga Clair mau menerima yang ini," Timpal pria berbaju rapih yang lainnya.


"Tuan Salim ingin keluarga Clair bergabung ke dalam keluarganya." Lanjutnya kemudian.


"Dengan cara?" firasat Nyonya Clair menyiratkan sesuatu hal yang aneh.


"Menikahkan Tuan Muda Emir dengan anak pertama dari Tuan dan Nyonya Clair, Aleesha."


Deg.


Spontan, Tuan dan Nyonya Clair membulatkan matanya. Sempurna.

__ADS_1


"Be-benarkah?!"


🌼🌼🌼


__ADS_2