
"Maaf, Tuan Ariel, sepertinya Anda telah salah orang. Saya tidak mungkin menikah dengan pangeran muda."Seru Aleesha dengan sorot matanya terlihat yakin.
Tuan Ariel memaklumi perkataan tersebut. Ia tersenyum. "Saya tidak salah orang, Nona Aleesha lah yang kami cari"
"Itu Aleesha yang lain. Ada begitu banyak nama Aleesha di muka bumi ini" Tukas Aleesha. Dagunya nampak bergetar seperti menahan kepanikan teramat hebat.
Tuan Ariel masih dan akan terus memaklumi sikap penolakan dari Aleesha. "Apakah ada banyak orang yang mempunyai nama Aleesha Cantika Clair?"
Lidah Aleesha kelu seketika. Pipinya merona bak ketumpahan jus tomat. "Te-tentu. Pasti banyak dan Anda pasti salah orang" Sambung gadis itu lagi lalu membungkukan badan untuk izin pergi meninggalkan ruang tamu.
Nyonya Clair dan Tuan Clair spontan membungkukan badannya cukup lama ke arah Tuan Ariel. Mereka sangat tidak enak hati apabila ada sikap Aleesha yang menyakiti hatinya.
"Setiap manusia memiliki ciri khasnya masing-masing, begitupula puteri kami. Dia memiliki sikap dan tutur kata yang baik, hanya saja memang di antara keluarga Clair, dia lah yag paling berani mengungkapkan isi hati. Namun, maafkan puteri kami jika ada tutur kata dan sikapnya yang kurang nyaman" Tuan Clair bungkuk lebih lama dibandingkan Nyonya Clair.
"Itu benar, Aleesha memang gadis yang hangat. Dia anak yang periang dan pemberani. Cuman, memang ciri khas Aleesha jika dia tidak nyaman terhadap suatu hal cenderung menarik diri agar tidak semakin jauh menyakitin seseorang. Mungkin ini adalah salah satu caranya" Timpal Nyonya Clair.
Justru dengan situasi semacam ini membuat Tuan Ariel sangat tidak nyaman. Dengan cepat ia meminta orang tua Aleesha untuk bangkit dari bungkuknya. "Tidak perlu sampai sebegitunya Tuan dan Nyonya Clair. Saya sangat bisa memakluminya. Siapa yang tidak terkejut jika di siang hari tiba-tiba didatangi orang berwajah asing yang fasih berbahasa Indonesia dan menyampaikan berita bahwa Pangeran Muda ingin menikahinya. Ku rasa jika itu terjadi pada diriku, aku akan bereaksi aneh dibandingkan Nona Aleesha"
Huft. Syukurlah.
Sifat ketidakenakan keluarga Clair memang sudah mendarah daging.
Mereka sangat takut jika telah menyakiti perasaan orang lain.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengerti," Ujar Tuan Clair lalu kembali ke posisi normal. "Jika diperkenankan sepertinya pembicaraan ini dicukupkan sampai sini. Untuk hal-hal lainnya nanti akan saya coba sampaikan lewat e-mail. Apakah baik-baik saja jika begitu?"
Tuan Ariel menggeleng. "Tidak perlu menggunakan e-mail. Sebenarnya ini adalah misi khusus yang diberikan langsung oleh Raja. Seperti yang sudah diketahui, sudah begitu lama permintaan mendiang Raja belum kunjung ditepati. Maka dari itu, saya belum bisa pulang ke Ravengold sebelum mendapatkan jawaban pasti dari Nona Aleesha"
Tuan dan Nyonya Clair membulatkan matanya. Mereka sangat terkejut. "Seandainya jawaban 'tidak', apakah tidak ada masalah?" Tanya Tuan Clair.
Nampaknya iya. Terlihat dari raut wajah Tuan Ariel yang berubah ekspresi. "Sejak diumumkannya permintaan ini yaitu pada tahun 1999 dan kondisi kerajaan yang tengah naik-turun, Raja Cliff semakin ingin menikahkan Pangeran Muda Edmund dengan Nona Aleesha."
"J-jadi, sejak Aleesha lahir ke dunia, ia sudah ditunggu untuk dilamar oleh Pangeran Muda Edmund?" Nyonya Clair tak yakin dengan informasi yang baru saja diterimanya.
Bagaimana mungkin ia telah melahirkan seorang anak yang sudah diharapkan menjadi pendamping pewaris tahta negara Ravengold. Tempat asal Kakeknya dulu yang mana bertemu mukanya saja tidak.
Tepat setahun sebelum Aleesha lahir, Kakek Clair dipanggil duluan oleh Yang Maha Kuasa.
"Aku sudah mengetahui sejak lama. Sejauh pengamatanku, sudah 30 kali pihak kerajaan menawarkan hanya saja terus ditolak oleh Kakek Clair. Segala macam jabatan, kekayaan, dan jaminan hidup nyaman sudah diberikan. Namun, tidak satupun yang berhasil mengguggah hati Kakek Clair. Dia hanya berpesan bahwa semua keinginan yang hendak diberikan tidak perlu untuknya tapi buat kesejahteraan rakyat. Raja menurutinya tapi tetap saja Raja masih belum merasa puas. Alhasil tepat setelah Kakek Clair meninggal, Raja mulai mendekati Nenek lalu aku. Tapi aku meminta mereka untuk menunggu Aleesha berumur matang, setidaknya 17 tahun. Usia yang bisa diajak untuk berdiskusi dengan lebih nyaman. Cuman, di usia ke-17, Pangeran Edmund harus menjalani latihan sebagai tentara selama setahun. Raja khawatir jika Aleesha akan jenuh menunggu Edmund dan menemukan pria lain. Maka itu, setelah semuanya memungkinkan, dikirimkannya Tuan Ariel menemui kita" Papar Tuan Clair secara lengkap.
Mendengar semua yang baru disampaikan membuat bulu tangan Tuan Ariel bergidik. Bagaimana bisa semua informasi yang disampaikan benar-benar valid?
"Memang benar, selain berjiwa sosial yang tinggi, keluarga Clair juga cerdas. Pantas saja Raja rela menunggu jawaban selama ini. Aku sudah tidak ragu lagi. Diluar jabatanku, aku mendukung apabila keluarga Clair menjadi bagian dari keluarga kerajaan" Balas Tuan Ariel sumringah. Nampak bahagia bertemu dan dikelilingi oleh orang baik.
Nyonya Clair menggeleng cepat. "Kami tidak sebaik itu, kami masih sering melakukan kesalahan. Seperti Nenek Clair yang lupa ku jemput dari cek rutin di klinik. Tadi aku tinggal karena harus mengantar barang Hans yang ketinggalan lalu dikabarkan bahwa utusan dari Ravengold akan datang"
"Yaampun, maafkan saya, karena telah membuat Nyonya Clair menjadi lupa. Sampaikan permintaan maaf kepada Nenek Clair atau jika Nyonya Clair setuju akan saya minta kendaraan pribadi untuk mengantar Nyonya Clair kesana"
__ADS_1
"Tidak-tidak perlu," Nyonya Clair merasa makin tak enak hati. Ini sudah diluar nalarnya. "Dan permintaan maafnya, Insya Allah, kami terima" Sambung Nyonya Clair. Bola mata cokelat mudanya terlihat teduh.
"Sebuah kehormatan bisa mendapatkan misi khusus yang membuat jiwaku bahagia seperti ini, hati kalian begitu baik. Masya Allah" Tuan Ariel tak henti-hentinya tersenyum lembut. Sungguh beruntung bisa bertemu dan merasakan langsung kehangatan dari keluarga Clair yang selama ini hanya terdengar di telinga. "Baiklah, saya harus kembali ke apartemen, ada kerjaan yang harus diselesaikan. Sampai disini dulu perbincangannya, besok saya akan kembali berkunjung dengan cara yang lebih sopan. Mohon bantuannya agar memberikan ide dan saran supaya Aleesha mau terbujuk"
Tatapan Nyonya Clair sedikit ragu. Pelan-pelan ia mengeluarkan isi hatinya, "Terima kasih atas kerja kerasmu. Tapi kami benar-benar tidak ingin memaksa kehendak Aleesha dan ku harap jika Aleesha menerima permintaan ini memang atas dasar kemauannya bukan paksaan. Bagaimanapun yang melakukan ini adalah Kakeknya, sedangkan dia tidak tahu apa-apa" Permintaan Nyonya Clair agak 'maksa' karena dia ingin kebahagiaan dan kenyamanan puterinya tetap terjaga.
Nyonya Clair paham betul apa risiko yang akan dihadapi oleh seorang keluarga bangsawan. Pasti tak mudah dan melelahkan.
"Baik Nyonya Clair. Disini keluarga kerajaan hanya ingin mencoba yang terbaik. Lakukan semua ini dengan santai dan mengalir. Saya juga tidak diberikan tenggat waktu secara spesifik, mengingat ini semua benar-benar datangnya dari kekayaan keluarga kerajaan. Yang terpenting Aleesha mau bertemu dulu dengan Pangeran Edmund"
Deg.
Be-bertemu?!
Telinga Nyonya Clair serasa dihantam ledakan berkali-kali. Dari puterinya sudah ditungguh-tunggu, ingin dilamar, dan sekarang Pangeran Muda mau menemui puterinya?
Ah, serasa hidup di negeri dongeng. "Jauh-jauh ke sini hanya untuk bertemu? Rasanya tidak perlu. Nanti kami yang akan mencoba menanyakan lebih lanjut kepada Aleesha lalu kami sampaikan kepada Tuan Ariel" Ujar Nyonya Clair.
"Tapi, Pangeran Muda sudah berada disini. Sekarang sudah jam 2 siang berarti baru saja pesawatnya landing. Karena hari ini ada pertemuan G45 untuk membahas perekonomian negara pasca ketidakstabilan. Paling besok, setelah semua lancar, Pangeran Muda akan menemui Aleesha," Tuan Ariel terdiam sejenak. Sementara Nyonya Clair tidak siap mendengarnya karena tidak habis pikir dengan semua ini.
"Dia ingin memberikan hadiah secara langsung, bukankah Nona Aleesha baru saja mendapatkan beasiswa?"
🌼🌼🌼
__ADS_1