
Bagaimana perasaannya saat ini? Apakah itu marah, kesal, benci, atau muak pun gadis itu tidak tahu. Yang ia ketahui hanya ia tidak ingin orang lain membencinya.
Memang, Aleesha tidak menyukai Edmund. Tapi mengingat bahwa semua ini terjadi bukan atas usahanya membuat Aleesha sangat sedih.
Bersyukur pasti, tetapi rasa 'kecewa' tidak mudah untuk diabaikan lagi. Semua kata-kata Edmund benar, mereka bertemu dan mengenal bukan karena 'saling ingin' tapi karena 'terpaksa'.
Dan berlindung dibalik kata 'menghargai'.
Sempat Aleesha muak jika terus berlindung dibalik kata itu, karena bagaimanapun manusia mempunyai hati yang bisa sakit.
Tapi terus memaksa juga tidak tepat.
Maka diam dan menyerahkan semua kepada semesta lebih baik.
Kalau 'ditakdirkan' akan kembali dekat, kalau 'tidak' maka jangankan ingin lekat sekedar mendapatkan izin pun tidak akan dapat.
🌼🌼🌼
"Bagaimana Sha? Adakah hal yang ingin kamu beritahu kepada Ibu?" Tanya Nyonya Clair selepas kepergian Edmund.
Aleesha sudah menebak itu, Nyonya Clair pasti akan bertanya. Beruntung selama di mobil ia telah menyiapkan semuanya. Terutama kesiapan batin.
"Ehm, Ibu mau tahu aja atau mau tau banget?" Goda Aleesha. Mencoba melakukan kejailan untuk menutupi semuanya.
"Mau tahu banget," Beruntung Nyonya Clair tidak menyadari sikap yang ditutupi oleh puterinya. "Sambil makan saja ya jawabnya. Ibu masak udang saos pedas banyak sekali. Karena Ibu pikir dia akan makan dulu disini ternyata dia banyak urusan. Jadi, bantu habiskan ya"
Sungguh, Aleesha sangat berkenan untuk melakukannya. Pasalnya ketika makan tadi pun sama sekali tidak nafsu. "Oke siap Bu, akan aku bantu habiskan sampai tidak ada yang tersisa"
Nyonya Clair tertawa keras. "Kalau gitu nanti yang lain nggak kebagian dong"
"Nanti tinggal masak lagi" Ledek Aleesha. Ia ingin membalaskan semua kesedihan yang baru saja dirasakannya.
Bercanda dengan Nyonya Clair adalah pilihan tepat.
"Yaudah yuk kita ke dalem, kamu mau makan kan?"
Aleesha mengangguk. "Tentu, aku sudah sangat lapar bu!" Nadanya terdengar manja.
Melihat reaksi puterinya membuat Nyonya Clair bertanya-tanya, "Apakah semua baik-baik saja? Mengapa sikapmu seperti menunjukan bahwa kamu habis keluar dari kandang singa. Terlihat bebas dan senang karena kembali ke zona nyaman?"
Deg. Aleesha lupa bahwa Nyonya Clair adalah sosok wanita yang cerdas. Bahkan bakat dokternya pun masih melekat sampai sekarang walaupun tidak seaktif dulu.
"Me-mangnya tidak boleh aku bersikap manja kepada Ibu,?" Aleesha mencoba bersikap normal. "Kalau tidak boleh, tidak papa nanti aku cari pasangan yang memperbolehkanku seperti itu" Sambungnya sambil menatap jail.
"Kalau Pangeran Muda Edmund, bagaimana? Apakah ia membuatmu bisa begitu?"
Deg.
__ADS_1
Ingin rasanya gadis itu mengeluarkan semuanya tapi tidak bisa. Ia telah berjanji untuk tidak membocorkan kepada siapapun termasuk keluarganya sendiri.
"Iya, Edmund membuatku nyaman Bu. Aku juga..."
"Edmund?" Goda Nyonya Clair.
Sungguh, untuk satu itu, Aleesha tidak percaya akan mendapatkan reaksi menggoda seperti itu. "Iya, dia memintaku untuk mengatakannya seperti itu. Katanya biar tidak ada kecanggungan"
Jawaban dari puterinya membuat Nyonya Clair merasa tenang. "Ibu senang jika kamu baik-baik saja. Sekal lagi, kami tidak mau memaksamu. Kalau kamu merasa siap ataupun tidak jangan sungkan untuk terus memberitahunya,"
Dada Aleesha sedikit sesak mendengarnya.
Ketika ada sosok yang bisa mengerti tanpa harus ada kata yang diucap tentu siapapun akan luluh dibuatnya.
Beberapa kali otak Aleesha memerintahkan kepada tubuhnya agar bergerak maju, memeluk tubuh Nyonya Clair, dan menumpahkan seluruh uneg-uneg.
Tapi janji tadi mengurungkannya..
"Terpenting kamu bahagia, Sha" Nyonya Clair mengelus pipi puterinya.
"Aku sayang Ibu"
🌼🌼🌼
Selepas menaruh mobil di basement apartemen, Edmund bergegas masuk ke dalam untuk melepaskan ketegangan yang daritadi merasuki tubuhnya.
Sementara waktu, ia ingin menjauh dari kesibukan yang hampir membuat gila.
Namun, baru saja kakinya hendak masuk ke dalam apartemen sudah ada Tuan Ariel di depan pintu. Entah berapa lama pria itu telah berdiri disana, tetapi Edmund dibuat terkekeh melihatnya. Pasalnya, posisi pria itu sangat tegak seperti selalu siap sedia.
Bagi Edmund itu pasti sangat melelahkan.
"Tuan Ariel?"
Spontan, Tuan Ariel membalikan tubuhnya dan membungkuk setengah badan sebagai rasa hormat. "Selamat malam Pangeran Muda"
"Apakah ada suatu hal yang genting sehingga membuatmu datang kemari? Kalau iya sampaikan saja nanti, aku mau beristirahat dulu" Balas Edmund ramah.
Tuan Ariel tersenyum. "Maaf Pangeran, namun ini perlu disampaikan secepatnya"
"Tentang perjodohan?" Selak Edmund cepat-cepat. "Kalau iya, aku benar-benar ingin membahasnya nanti"
"Tapi Pangeran ini..."
"Om, ku mohon.." Nada Edmund terdengar lelah. Ia merasa kehabisan tenaga saat ini. Jadi, beristirahat sangat diperlukan agar mengembalikan kondisinya.
Dan kata ganti 'Tuan' menjadi 'Om' merupakan sinyal dari Edmund untuk menggambarkan betapa berharapnya ia untuk dimengerti.
__ADS_1
Melihat ekspresi lemas dari Edmund membuat iba hati Tuan Ariel. "Baiklah, beristirahat sejenak jika itu diperlukan" Ujar Tuan Ariel sambil mengatur nafas.
"Terima kasih Om sudah mau mengerti"
Tuan Ariel mengangguk. "Sama-sama pangeran"
Setelahnya, Edmund masuk ke dalam apartemen sementara Tuan Ariel kembali ke kamarnya yang letaknya tidak jauh dari kamar Edmund.
Sengaja agar keselamatan hingga kebutuhan Edmund dapat terpenuhi dengan baik walaupun sedang tidak ada di Ravengold.
"Ya Allah, apakah aku telah melakukan hal yang salah?" Tangannya menutupi kedua mata selepas tubuhnya direbahkan ke kasur. "Ah tidak, aku tidak melakukan hal yang salah. Aku sudah besar dan saatnya aku menentukan pilihanku sendiri"
Kemudian ia terbangun dan mengecek ponselnya, membuka aplikasi WT, dan mencari kontak dengan Nama 'Sharon'.
"Dia baru saja online 30 menit yang lalu" Gumam Edmund. Pikirannya melayang-layang.
Sharon, sahabat sekaligus wanita yang membuatnya jatuh cinta selamat bertahun-tahun. Mereka saling mengenal pada sebuah pertemuan tidak sengaja.
Tepatnya saat acara amal pada tahun 2008. Saat itu, Edmund kecil merasa ketakutan bertemu banyak orang. Maklum, kepribadian aslinya adalah seorang introvert tapi apa daya, sematan pewaris tahta harus dipikulnya.
Gadis itu berhasil menghibur Edmund kecil yang sedang ketakutan dengan memberikannya sebuah kupu-kupu yang tengah terbang di taman. Diambilnya binatang tersebut lalu diberikan kepada Edmund kecil. Dan gadis itu berkata, "Hei, kamu tahu tidak bahwa kupu-kupu itu sebenarnya adalah seorang peri yang tengah mencari anak-anak yang ketakutan. Dan dia datang untuk menghiburmu. Tapi peri itu juga bilang bahwa kalau kamu terus ketakutan maka dia akan membawamu ke dunianya"
Edmund kecil yang takut pisah dengan keluarga bangsawan langsung menangis kejar dan membuat Sharon panik setengah mati. Khawatir jika orang lain melihat dan Sharon dapat dikecam banyak orang.
Alhasil dia mengerahkan kemampuannya untuk menghibur Edmund kecil. Dengan sekuat tenaga akhirnya berhasil membuat Edmund kembali tersenyum.
Lewat aksi konyol Sharon, Edmund kecil juga tertawa geli. Lewat pertemuan itu lah Edmund mulai berani bicara dengan orang asing.
Sharon juga selalu ada ketika Edmund membutuhkannya.
Intinya, mereka berdua adalah dua orang manusia yang saling membutuhkan. Bahkan mereka tidak saling memiliki kekasih.
Sampai suatu masa, tepatnya 2 tahun yang lalu. Baru diketahui bahwa Sharon adalah anak angkat dan orangtua aslinya adalah musuh dari keluarga bangsawan.
Mengetahui hal tersebut membuat Edmund sangat terkejut. Namun, dia mencoba untuk tidak pergi dari Sharon. Bagi Edmund, gadis itu sudah terlalu melebihi ekspektasinya dan akan sulit menemukan duplikatnya.
Akan tetapi, semua usaha Edmund segera terpatahkan begitu saja ketika Sharon dekat dengan pria lain dan mengatakan akan segera menikah.
Edmund tahu bahwa itu bohong. Ia yakin Sharon dipaksa mundur oleh keluarga kerajaan untuk memenuhi janji dari Raja terdahulu.
Apalagi Sharon ternyata berasal dari keluarga yang notabennya saling menebar perang dingin bagi keluarga bangsawan.
Lalu, melihat wajah Aleesha tadi justru membuat dada Edmund makin sesak. Ia merasa semua itu tidak benar. Seharusnya ia tidak di negara orang, bertemu dengan gadis asing, apalagi mendekati untuk menikahinya.
Masih dalam menatap kontak dengan nama 'Sharon', air mata Edmund perlahan jatuh. Ada rasa sakit yang sulit diungkapkan. Seperti saling cinta tapi tidak bisa bersama.
"Apa kabarmu Sha? Hari ini aku bertemu sosok gadis yang pernah ku ceritakan padamu. Ku sangka dengannya bisa membuatku beralih. Ternyata tidak. Aku masih mencintaimu walaupun dia gadis yang menyerupaimu. I still cannot leaving you, please comeback to me, i need you, dear" Tutur Edmund. Nadanya terdengar sumbang dengan air mata kembali jatuh.
__ADS_1