
"Itu benar Nyonya Clair." Balas pria berbaju biru. Membuat Nyonya Clair makin tidak bisa berfikir jernih.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Nyonya Clair adalah seorang dokter spesialis jantung. Tahun 1997, dia mendapatkan kesempatan untuk menjadi dokter pribadi keluarga Salim asal Singapura yang menetap lama di Indonesia. Saat itu, kondisi Tuan Salim memburuk dan tidak satupun dokter yang berhasil menanganinya. Hingga, Nyonya Clair memberanikan diri untuk menerima tantangan dari rumah sakit, tempat ia bekerja, untuk menjadi asisten dokter Ronald, dokter pribadi untuk keluarga Salim selama 7 tahun sekaligus pernah menjadi dosenmya selama dia pelatihan.
Namun, ternyata, di luar dugaan keterampilan Nyonya Clair melebihi dokter Ronald. Sampai akhirnya ia ditetapkan menjadi dokter pribadi bagi keluarga Salim. Akan tetapi, tidak bertahan lama, hanya 1 tahun. Karena, ia melahirkan Aleesha lalu memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menetap disana.
Jadi, apakah yang ini sama dengan kejadian kemarin? Pernikahan karena "hasil kebaikan"?
Dan, semua kebaikan itu Aleesha yang mendapatkannya. Masya Allah.
"Ehm, maaf Tuan, tanpa mengurangi rasa hormat sepertinya kami tidak bisa langsung mengatakan iya atau tidak. Bagaimanapun yang akan menjalani ini semua adalah Aleesha." Ucap Tuan Clair meminta pengertian dari keluarga Salim.
Tuan tersebut memahaminya. Ia menganggukan kepala sembari tersenyum maklum. "Baiklah, mohon maaf untuk membahas lebih lanjutnya akan kami teruskan nanti. Mengingat ada hal yang harus segera dilaksanakan. Terima kasih atas sambutan hangat dari Tuan dan Nyonya Clair."
Tuan dan Nyonya Clair sangat bersyukur. Pasalnya, mereka ingin segera melepas ketegangan setelah mendapatkan kabar mengejutkan secara beruntun.
Begitupun dengan Aleesha. Hati gadis itu pasti tak karuan sekarang.
Dihadapkan pada pilihan yang tidak biasa.
Menikahi Pangeran Muda Edmund atau Tuan Muda Emir Salim?
🌼🌼🌼
Keadaan mendadak hening di dalam ruangan. Semua saling pandang-memandang dan bingung menjawab pertanyaan dari Tuan Clair.
'Pilih yang mana'?
Kalau dijabarkan, dua-duanya berasal dari niat yang baik. Keluarga bangsawan merasa ingin membalas kebaikan dan juga menganggap keluarga Clair adalah keluarga yang memiliki kepribadian baik sehingga akan cocok dengan lingkungan kerajaan.
Sementara, keluarga Salim menganggap hal yang sama. Namun, untuk lebih lanjutnya, keluarga Clair belum tahu. Apakah hanya sekedar pemberian hadiah? Atau mereka juga merasa Aleesha memang gadis yang dibutuhkan untuk mendampingi anak dari Tuan Salim yaitu Tuan Muda Emir Salim.
Dan kalau boleh melihat dari faktor latar belakang antar keluarga. Hm, sepertinya akan makin membingungkan. Sama-sama hebat.
Keluarga bangsawan Ravengold. Sebuah negara di eropa dengan sistem pemerintahan monarki, negara dengan sejuta potensi, salah satu negara dengan tingkat kesejahteraan di atas rata-rata, dan negara dengan julukan negeri dongeng karena keindahan alam yang menyebar dipenjuru tempat. Untuk kekayaan, keluarga bangsawan memiliki kekayaan pribadi sebesar ratusan juta Ravendols atau setara juga ratusan juta dolar. Mereka berwirausaha pertambangan dan minyak.
__ADS_1
Keluarga Salim, pemilik utama Tower Group. Sebuah perusahaan multinasional dengan produk properti dan bisnis fashion yang mendunia. Atas keberhasilan dalam berbisnis dari turun-temurun membuat keluarga Salim menjadi keluarga konglomerat selama berpuluh-puluh tahun. Dan sangat disegani di kalangan ekonomi atas.
Sungguh, menjabarkan keduanya benar-benar membuat bulu tangan dan kaki bergidik ngeri. "Jadi, bagaimana? Kita tidak bisa menggantungkan mereka." Tuan Clair kembali bersuara.
"Begini saja," Karena belum ada yang angkat bicara maka Nenek Clair memulainya lebih dulu. "Aleesha yang menjalani lebih baik dicoba dulu saja. Apakah ada salah satu dari mereka ada yang sesuai atau tidak. Kalau tidak bisa, ya tidak perlu dipaksakan. Apalagi kalau membuat Aleesha menjadi tidak bahagia, takutnya tidak ada keberkahan disana. Perihal kekayaan, hanyalah semua angka. Namun, kebahagiaan harus diperjuangkan karena sulit untuk diukur dengan angka."
Betul-betul jawaban dari seorang Nenek Clair. Teduh, bijak, dan menenangkan. Aleesha sangat beruntung memiliki nenek seperti Nenek Clair. "Nek, terima kasih atas pengertiannya. Sungguh aku benar-benar tidak tahu harus apa. Aku baru 18 tahun dan baru saja akan memulai perkuliahan tapi tiba-tiba harus dihadapkan dengan pilihan untuk menikah dengan dua pria yang 'gila nya tidak terkira'. "
Kata kiasan yang digunakan Aleesha membuat gelak tawa. 'Gila tidak terkira' bermakna 'saking luar biasanya sampai bisa membuat menjadi gila yang tidak terkira atau tidak disangka-sangka'.
"Aku tidak menyangka, Kakaku yang sangat bawel, berjiwa petualang, dan teman berantemku dilirik oleh dua keluarga hebat. Apakah kamu ingin membagikan tipsnya kepadaku?" Goda Hans.
Aleesha menoleh lalu menatap kesal. "Hei, aku tidak melakukan apapun. Ini semua berkat kebaikan dari Kakek Clair dan Ibu. Aku jadi kecipratan kebaikan mereka. Bukan karena aku hebat atau melakukan suatu hal yang luar biasa." Nadanya terdengar sendu. Ada kesedihan di balik sorot matanya.
Spontan, Nyonya Clair yang duduk di sebelah puterinya langsung menenangkannya dengan memeluk puterinya dengan hangat. "Tidak Nak, semua ini sudah Allah yang mengatur dan ini memang rezeki Aleesha. Kami memang yang melakukannya tapi kalau ini bukan rezekimu tetap ini semua tidak akan terjadi."
Dagu Aleesha terangkat, menatap mata Nyonya Clair lekat, dan tersenyum haru. "Begitu baiknya Allah kepadaku karena mengirimkan keluarga berhati malaikat seperti kalian. Terima kasih."
"Sama-sama, kami juga sangat beruntung bisa memiliki kalian. Aleesha dan Hans." Timpal Tuan Clair. Kedua anaknya tersenyum lebar.
Ting tong...
Oke, sekarang siapa?
"Apakah itu Pangeran Muda Edmund?" Nenek Clair mencoba menebak. Hati Aleesha mendadak bergemuruh.
"Bu, bagaimana ini?"
"Hei, tenang lah. Disini kami tidak memaksamu hanya cukup jalani saja lalu analisis. Kalau memang dia cocok maka selanjutnya kamu yang memutuskan kalau tidak ya tidak perlu dipaksakan untuk cocok." Jawab Nyonya Clair lembut. Berusaha menenangkan.
Aleesha mengangguk. "Baik Bu."
Tuan Clair mengawalinya lebih dulu. Ia membuka pintu dan sepertinya be..nar.
Sudah ada seorang mobil cukup mewah dan seorang pria berwajah bule dengan menggunakan style non formal. Atasan dengan sweater berwarna abu-abu, bawahan dengan celana bahan berwarna hitam, dan sepatu berwana putih. Tidak luput dengan jam tangan dengan merek ternama berwarna hitam.
Kombinasi yang cocok.
__ADS_1
Tuan Clair tidak pernah melihat Pangeran secara langsung hanya melalui televisi saja. Alisnya nampak berkerut, bingung, apakah pria itu memang Pangeran Muda Edmund atau hanya pengawalnya saja.
Mengingat dua utusan sebelumnya juga menggunakan pakaian yang tidak se-formal itu tapi tetap rapih.
"Masya Allah, pria tampan siapa itu?" Nenek Clair yang melihat dari jendela dalam rumah spontan mengucapkan seperti itu.
Aleesha dan Hans saling memandang, terkejut, tapi juga setuju. "Kalau benar dia adalah Pangeran Muda Edmund, aku rasa setelah ini kamu akan mempunyai banyak pembenci."
Aleesha menoleh, bingung. "Aku tidak melakukan hal buruk, mengapa begitu?"
"Kak, kamu didekati dua pria yang memiliki banyak penggemar. Tidak hanya di negara ini tapi juga dunia. Ketika mereka yang berjuang keras untuk mendapatkan hatinya justru gagal, sedangkan kamu yang hanya diam saja dan tidak melakukan banyak usaha, langsung didatangi. Apakah itu tidak membuat mereka iri?" Tutur Hans. Aleesha makin pusing.
"Hei, hei, Hans. Tidak baik mengatakan seperti itu. Sama saja kamu telah berpikiran buruk terhadap manusia. Kan belum tentu mereka akan membenci dan lagipula kalau itu terjadi, biarlah. Yang penting tetap melakukan hal baik." Tegur Nenek Clair.
Mendengar nasehat tersebut membuat Hans tertegun. Ia mengaku salah. "Nenek benar, maafkan aku Kak."
"Santai Hans, aku bisa memahaminya kok. Omonganmu juga membuatku bersiap diri atas kemungkinan buruk yang terjadi." Aleesha menatap maklum.
"Terima kasih Kak." Hans tersenyum lega.
Setelah pertikaian kecil di antara Kakak-beradik. Mereka kembali memandang ke arah luar jendela. Menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Nampak dari luar jendela sedang terjadi perbincangan cukup lama. Entah apa yang dibicarakan.
Beberapa menit pembicaraan, Nyonya Clair memisahkan diri dan masuk ke dalam rumah sementara Tuan Clair masih melanjutkan.
Melihat itu, Aleesha sudah siap-siap untuk bertanya kepada Nyonya Clair. "Bu, dia siapa?"
"Dia Pangeran Muda Edmund," Balas Nyonya Clair tenang tapi membuat Aleesha, Hans, dan Nenek Clair terkejut. Ternyata benar, pria tampan itu adalah Pangeran Muda Edmund. "Dan Ibu diminta tolong buat menyampaikan ini padamu. Sebenarnya ini sedikit aneh, tetapi tidak apa, Pangeran Muda yang memintanya,"
"Katanya, dia minta maaf."
Wajah Aleesha berbinar seketika. "Dia minta maaf karena dia ingin membatlkan pernikahan ini? Alhamdulillah."
"Hei, bukan," Potong Nyonya Clair. Aleesha tidak jadi senang. "Karena takut mencolok hingga tertangkap wartawan, ia minta maaf jika menjemputmu dengan menggunakan mobil kurang layak."
Semua seketika terkejut. Mobil mewah disebut 'kurang layak'?
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan 'mobil mewah yang sesungguhnya'?!
Benar-benar di luar nalar.