Menikahi Pangeran Atau Tuan Muda?

Menikahi Pangeran Atau Tuan Muda?
Bab 5: I Know Where I Belong


__ADS_3

"Takut mencolok? Itu sangat mencolok Bu. Dan mobil mewah itu dibilang kurang layak? Ya Allah berapa banyak harta yang dipunya oleh mereka?" Hans tak habis pikir.


"Hans, kurangi sikapmu seperti itu. Dia bersikap begitu karena tahu tidak sebanding dengan harta yang mereka punya. Pertanda mereka khawatir jika menyakiti hati kita." Tegur Nenek Clair kembali.


Hans kembali mengaku salah. Jiwa muda nya membuatnya sering kali sulit untuk mengendalikan diri sendiri. "Maafkan aku Nek, aku hanya terkejut Pangeran Muda mengatakan seperti itu."


"Iya Hans, tidak apa." Nenek Clair menatap maklum.


"Baiklah, Sha, tolong kamu bersiap-siap ya"


"Aku mau kemana memang Bu? Ibu tahu?"


Nyonya Clair menggidik bahunya, tidak tahu. "Pangeran Muda Edmund hanya meminta buat kamu bersiap."


Ah, jawaban yang membuat perut Aleesha mulas. Dengan raut wajah pasrah ia mengagguk. "B-baik Bu."


🌼🌼🌼


Suasana di dalam mobil tampak canggung. Aleesha dan Pangeran Muda Edmund saling terdiam dan keduanya enggan membuka pembicaraan.


Tubuh Aleesha gerah. Bukan karena panas, hawa ac di mobil Pangeran Muda Edmund adalah yang terbaik dengan ac yang tidak menusuk badan tapi tetap membawa kesejukan.


Namun, ia gerah karena ada begitu banyak pembicaraan yang ingin ia tanyakan tapi entah mengapa lidahnya mendadak kelu.


Sungguh, bukan seperti dirinya yang Aleesha kenal. Aleesha adalah tipikal perempuan yang mudah beradaptasi dan sering mengawali pembicaraan. Dia juga tidak mengalami kesulitan untuk dekat dengan banyak orang.


Tapi dengan Pangeran Muda Edmund—entah mengapa semuanya berbeda. Dan sepertinya pria itu juga merasakan hal yang sama.


Ah, sungguh menyebalkan.


Padahal Aleesha sudah membaca tumpukan majalan ekonomi agar Pangeran Muda Edmund bisa nyaman berbincang dengannya. Tapi, lihat sekarang, semuanya nihil.


Tidak ada percakapan, tidak ada riang tawa, apalagi kehangatan.


Untuk mengusir kejenuhan, Aleesha sengaja melakukannya dengan memainkan bola mata. Digerakannya ke kanan dan ke kiri untuk melihat pemandangan yang disuguhkan di depan mata.


Jujur, sebenarnya, gadis itu tidak tahu dimana tempat yang sedang dilalui. Ia hanya tahu bahwa yang dilewatinya sungguh cantik.


Banyak pepohonan, jalanan yang tidak macet, dan aspal yang halus—atau memang kualitas mobil terlalu canggih hingga getaran sama sekali tidak terasa. Entahlah.


"Aku mau tanya..."


"Apakah itu tentang pertemuan G45 kemarin? Aku sudah membaca beberapa informasi mengenai hal tersebut. Dan terkait hal kemarin, aku setuju dengan pendapat Professor Niel dari Singapura yang mengatakan pertumbuhan ekonomi tidak luput dengan pertumbuhan sumber daya manusia." Cerocos Aleesha begitu saja.

__ADS_1


Ekspresi Pangeran Muda Edmund nampak bingung. Dari ekspresi pria itu sepertinya Aleesha telah salah tangkap.


Oke, keduanya kembali canggung.


Aleesha mengutuk dirinya sendiri. Kesal atas kecerobohan yang dilakukannya padahal itu dapat dicegah dengan mudah.


"Maaf, Pangeran, aku..."


"Terima kasih sudah mau sopan denganku, tetapi kamu tidak perlu menggunakan panggilan tersebut," Koreksi Pangeran Muda Edmund. Aleesha diam seketika. "Aku hanya tidak ingin kecanggungan di antara kita terus berlanjut. Jadi, cukup panggil Edmund."


Belum ada respon dari Aleesha. Gadis itu nampak bingung. Seakan panggilan 'Edmund' terlalu membuatnya terlihat sangat akrab dengan pria pewaris tahta itu. Padahal, kenyataannya tidak demikian.


"Apakah tidak ada masalah?"


Pangeran Muda Edmund menggeleng. "Sama sekali tidak."


Melihat ekspresi Pangeran Muda Edmund, hati Aleesha bergemuruh. Ia membatin, "Tidak ada sama sekali senyuman terukir seperti yang terlihat di media,"


"Apakah Pangeran Muda Edmund tidak merasa nyaman dengannya?" Aleesha kembali bertanya pada dirinya.


Hening...


Kesekian kalinya keadaan kembali hening.


Pertanyaan mendadak dari Pangeran Muda Edmund membuat bahu Aleesha spontan bergetar. "Eh, apa saja, aku bebas." Balasnya dengan senyuman untuk mencairkan suasana.


Setelah mengatakannya, mata Aleesha langsung melihat wajah pria itu, sekedar memastikan bagaimana responnya setelah mencoba tersenyum.


Nihil, pria itu masih dengan wajah seriusnya.


Jemari Aleesha meremas bajunya. Ada perasaan berkecamuk.


Batinnya kembali memberontak, "Kalau tidak mau mengapa harus dipaksakan. Sungguh, tidak membuat nyaman."


"Kita pergi ke taman rusa saja ya? Kata Tuan Briel itu bagus."


"Tuan Briel?" Spontan Aleesha bertanya.


"Forgive me, i forgot," Terlihat raut wajah penyesalan terukir. Pangeran Muda Edmund memainkan setirnya untuk belok ke arah kanan sebelum melanjutkan katanya. "Tuan Briel itu asisten pribadiku sejak kecil atau sejak orok."


Tawa Aleesha pecah begitu saja. "Orok? Kamu tahu bahasa itu?"


Walaupun Aleesha mengawali tawa sepertinya Pangeran Muda Edmund tidak begitu terpancing. Pandangannya masih fokus dengan arah depan. "Mungkin ini sekalian menjawab pertanyaan yang ada di isi kepalamu. Untuk memperluas jaringan dan membangun perekonomian, beberapa sekolah di Ravengold telah menerapkan pembelajaran 3 bahasa di negara asia tenggara. Indonesia termasuk di dalamnya. Karena itu, aku juga mempelajarinya, mungkin kamu terkejut mengapa logatku sama sekali tidak aneh seperti kebanyakan bule yang ada, itu karena kami belajar langsung dengan orang tersebut dan pernah tinggal di negara tersebut selama beberapa waktu."

__ADS_1


Aleesha menyimak semua pembicaraan yang disampaikan. Beberapa kali ia mengangguk. "Tapi itu sama sekali tidak disiarkan, wah canggih sekali sistem keamanan kerajaan."


"Tidak seindah yang kamu kira Sha."


Hening..


Ada sesuatu yang janggal. Ada kesedihan yang disembunyikan dibalik pelupuk mata biru itu. Aleesha menatap maklum.


"Maaf, Ed, aku tidak bermaksud untuk membuat kesedihan."


Pangeran Muda Edmund menoleh sebentar lalu tersenyum. "Tidak, sama sekali tidak, ku tahu kamu tidak bermaksud melakukannya. Hanya saja memang itu kenyataannya"


"Apakah perjodohan ini adalah salah satu bentuk 'tidak seindah yang dibayangkan' ?"


Hati Aleesha sedikit sakit sebenarnya mengatakan hal itu.


Tapi ia juga mau mendengar pendapat dari pria mengenai hal ini. "Kalau tidak bisa menjawabnya, nggak papa, aku tidak mau memaksa." Sambung Aleesha.


Pangeran Muda Edmund menggeleng. "Tidak, aku bisa menjawabnya."


"Baiklah." Balas Aleesha. Ia menurut saja.


Beberapa menit Pangeran Muda Edmund belum menjawabnya. Matanya masih fokus menghadap ke jalanan, sepertinya pria itu tengah mencari kata agar tidak menyakiti hati Aleesha.


Mungkin, pria itu hendak mengatakan 'iya'.


"Maafkan aku Aleesha, tetapi pernikahan ini memang menyakitiku. Aku telah mempunyai sosok wanita yang ku sukai, hanya saja, dia juga menyakitiku. Tapi aku ingin mencoba mencari tahu alasan dia begitu, tetapi keluarga bangsawan melarangnya," Pangeran Muda Edmund terdiam sejenak.


"Meski begitu, aku ingin mencoba dulu. Jadi ku harap antara kita berdua santai saja menjalaninya. Karena aku takut jika kamu menyukaiku sementara perasaanmu tidak bisa ku balas, begitu pun sebaliknya. Maaf sekali lagi jika ini terkesana menyakiti. Aku hanya ingin menghargai permintaan Kakek, ku rasa kamu pun begitu."


Deg.


Tidak, bukan karena Aleesha telah menaruh perasaan. Hanya saja jawaban yang baru terdengar sangat menggambarkan jelas posisi Aleesha.


Gadis itu bisa duduk bersebelahan dengan pewaris tahta yang digemari banyak orang, bukan karena pria itu menyukainya, tetapi karena—tidak lebih dari sebuah keberuntungan.


Kalau bukan karena Kakek Clair, ia tidak akan di posisi ini.


Dengan bersusah payah, senyuman coba ia perlihatkan. "Aku bisa mengertinya Ed, terima kasih atas pandanganmu terkait ini. Insya Allah aku akan mengingatnya dengan baik,"


"Jalani saja hubungan ini dengan santai dan tidak perlu menaruh perasaan berlebih, begitu?"


Tanpa menoleh, pria itu mengangguk. "Iya, sekali lagi maaf dan tolong rahasiakan ini. Terima kasih Sha."

__ADS_1


"Sama-sama Ed."


__ADS_2